Dewangga tak menyangka di usianya yang menginjak 42 tahun, dia harus menikahi sahabat putrinya karena kesalahan pahaman. Pernikahan mereka pun harus dirahasiakan dari sang putri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Escendol94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13~ Apakah sedang jatuh cinta?
Sudah banyak baju yang berserakan di tempat tidur, tapi Nura belum juga menentukan pilihan.
"Ra, aku pakai apa saja bisa kok." Melihat banyaknya baju yang berserakan membuat kepalanya pusing.
"No! Kamu harus tampil beda dari biasanya. Malam ini Om Dirga ajak kita nonton." Nura mengambil satu gaun, menempelkan ke tubuh Riri. "Bagus, tapi masih kurang." Gaun itu melayang ke tempat tidur. Nura kembali mengobrak-abrik isi lemari mencari baju yang pas untuk dipakai Riri.
"Nura, aku bisa pakai baju aku sendiri." Meksipun bajunya tidak semahal baju Nura, tapi dia masih punya beberapa yang layak dipakai untuk jalan.
"Untuk malam ini kamu tidak diizinkan untuk protes!" Malam ini dia ingin membuat Riri tampil beda. Walaupun Riri bilang sudah punya pria lain, tapi Nura masih berharap Riri bisa bersama Omnya Dirga.
Riri menghela napas, kali ini dia tidak membantah lagi. Membiarkan Nura mendandaninya sesuka sahabatnya itu.
"Nah, ini baru perfect! Kamu cantik banget, Ri. Aku yakin Om Dirga pasti bakal klepek-klepek lihat kamu." Nura merasa puas dengan hasil karyanya. Riri terlihat begitu cantik dengan riasan natural.
Nura menatap penuh kagum. “Sumpah, kamu cantik banget. Harusnya kamu sering dandan kayak gini."
Dress cotton linen midi berwarna cream terlihat sederhana namun elegan. Saat dikenakan, dress itu mengikuti bentuk tubuh Riri dengan manis. Potongan A-line membuat pinggangnya terlihat ramping, sementara panjang midi yang jatuh sedikit di bawah lutut memberi kesan anggun tanpa terlihat berlebihan.
Warna cream yang lembut membuat kulitnya tampak lebih cerah, seperti diselimuti cahaya yang hangat.
Dalam hati Riri juga mengagumi tampilannya malam ini. Selama ini dia tidak pernah memakai makeup, hanya skincare rutin.
"Ayo kita turun. Om Dirga sudah nunggu di bawah." Nura menarik tangan Riri untuk mengikutinya ke luar kamar.
Sampai di lantai bawah, Dirga sudah menunggu. Pria itu terlihat tampan dengan kaos polo shirt fit badan warna hitam, celana jeans slim fit, rambut gaya Side Part Volume, membuat Dirga terlihat karismatik.
Nura menyenggol lengan Riri lalu berbisik, "Omku sangat tampan. Apa cowok kamu juga setampan Om Dirga?“
Bayangan Dewangga melintas di kepala saat Nura berbisik demikian. Otomatis dia mengangguk. "Keduanya sama-sama tampan," sambung Riri.
Dewangga pria matang, tampan, karismatik, berwibawa. Sedangkan Dirga, pria dewasa, tampan, karismatik serta mempesona. Keduanya Sama-sama tampan dengan porsi masing-masing.
Jika boleh Riri ingin memilih keduanya. 'Issh! Apa yang aku pikirkan!' Riri merutuk dalam hati.
"Om Dirga. Bagaimana penampilan Riri? Cantik, kan?" Nura berkata penuh semangat.
Dirga yang mulanya fokus pada ponsel, kini tatapannya terkunci pada sosok Riri yang berdiri di depannya. Tanpa sadar dia berkata, "Cantik."
Nura tersenyum lebar seraya menyenggol lengan Riri. "Tuh, kan. Apa aku bilang. Om Dirga terpesona sama kamu sampai nggak kedip," bisiknya.
Kedua pipi Riri merona, dia segara berdehem pelan guna mengusir perasaan aneh yang tiba-tiba menyerang hatinya. Bagaimanapun dia bukan lagi Riri yang dulu. Meksipun pernikahannya dengan Dewangga entah akan berlanjut atau tidak, tapi tidak boleh memiliki perasaan apapun pada Dirga selama masih berstatus istri.
"Om, sudah belum natap Riri-nya?" Nura kembali berkata memecah keheningan.
Dirga tersenyum tipis. "Kita jalan sekarang." Jantungnya sejak tadi berdebar, kedua netra tak ingin lepas menatap Riri. 'Dia sangat cantik,' pujinya dalam hati. Driga lalu berjalan lebih dulu.
Nura tersenyum lebar kemudian menggandeng Riri. Keduanya berjalan mengikuti Dirga dari belakang. Nura kembali berbisik, "Ri, kamu nggak mau berubah pikiran buat ganti cowok? Om Dirga sangat tampan. Kamu nggak bakal rugi jadian sama dia. Aku jamin seribu persen, Omku sangat setia. Nggak pernah aneh-aneh. Selama ini Om Dirga cuma punya satu mantan."
Riri tersenyum tipis sembari menggeleng membuat Nura kecewa. "Baiklah."
Sampai di depan mobil Dirga sigap membukakan pintu untuk kedua gadis tersebut. Nura masuk terlebih dulu disusul Riri.
Setelah keduanya duduk di tempat masing-masing, Dirga segera masuk ke dalam mobil. Malam ini dia akan menemani kedua gadis seperti permintaan Nura tempo hari.
Tujuan mereka Marina Bay Sands Shoppes, mall termewah yang ada di Singapura. Dirga sebagai supir hanya mendengarkan celotehan keduanya terkadang akan menimpali jika Nura melontarkan pertanyaan. Namun, diam-diam akan memperhatikan Riri dari kaca spion di atasnya.
Dalam hati memuji betapa cantiknya Riri malam ini. Entah sejak kapan jantungnya berdebar untuk Riri, hatinya gelisah jika tak berjumpa dengan gadis manis itu.
Mungkin sejak awal sudah menaruh perasaan hanya saja selalu ditampiknya. Beberapa Minggu terakhir Riri bersikap acuh. Tidak pernah mengirim pesan, bahkan jarang membalas pesannya. Seolah gadis itu sedang memberi jarak.
Mungkinkah Riri sudah bosan menyukainya? Atau sudah mempunyai pria lain yang disuka?
Memikirkan itu membuat dada Dirga sesak. Hatinya tak terima Riri menyukai pria lain. Padahal dulu saat Nura memintanya untuk memberi Riri kesempatan dengan lantang mengatakan hanya menuruti Nura dan tidak akan jatuh cinta.
Namun, tanpa sadar Riri sudah mengambil tempat dihatinya.
Mereka sudah sampai di mall tujuan, Dirga kembali membukakan pintu mobil untuk keduanya. Riri dan Nura ke luar dari dalam mobil.
"Terimakasih, Om." Riri berkata tanpa melihat wajah Dirga.
Lelaki itu sedikit kecewa melihat Riri memberi jarak. Dulu, Riri selalu mencuri pandang, tapi sekarang melirik saja tidak.
"Mau makan dulu apa nonton?" tanyanya Dirga setelah mereka masuk ke dalam mall.
"Makan dulu Om, aku sudah lapar," jawab Nura.
Dirga mengangguk kemudian mengajak keduanya untuk turun ke basement lantai 2 di mana Rasapura Masters berada, food court besar dengan banyak pilihan makanan Asia. Di sana ada stall halal seperti nasi lemak, makanan India, dan Melayu.
Setelah Nura dan Riri berunding keduanya memutuskan untuk makan di salah satu stall. Sedangkan Dirga mengikuti apapun pilihan kedua gadis.
"Ri kamu nggak mau duduk di samping Om Dirga?" bisik Nura.
Riri menyenggol lengan Nura gemas. "Apasih! Nggak usah mulai, ya."
Nura terkekeh mendengar Riri menjawab dengan nada ketus. Dirga yang duduk di depan Riri menatap gadis itu lekat.
Kenapa semakin ditatap Riri semakin cantik dan jantung semakin tak terkendali?
Apa dia benar-benar jatuh cinta pada sahabat keponakannya ini?
'Tapi usiaku dan usianya terpaut sangat jauh. Sepuluh tahun,' gumam Dirga dalam hati.
Yang ditakutkan Dirga hanya satu: setelah mereka bersama, bagaimana jika mereka ternyata tidak bisa saling menyesuaikan?
Perbedaan usia yang terpaut sepuluh tahun membuat Dirga ragu untuk memulai hubungan. Ia hanya takut jika setelah bersama mereka justru tidak menemukan kecocokan dan akhirnya harus berpisah. Dirga khawatir hubungan di antara mereka bertiga—dia, Nura, dan Riri—akan menjadi canggung.
"Lho, Papa? Kok bisa ada di sini?"
Suara Nura membuat Riri dan Dirga mengalihkan perhatian mereka pada sosok yang sudah berdiri di samping meja.
'Om Dewangga?' batin Riri terkejut melihat suaminya.
*,*