Handi harus meregang nyawa akibat kecelakaan, meninggalkan Lisa dan kedua anak mereka.
Haris yang hidupnya diselamatkan Handi dan menyaksikan kematian Handi secara tragis mengalami trauma dan hampir gila. Dia menutup diri selama 1 tahun sejak kepergian sahabatnya.
Dini dan Bu Nani sudah kehilangan akal untuk memaksa Haris mendapatkan perawatan. Hingga akhirnya, Dokter Van Heerdt memberikan ide kepada Dini untuk mendekatkan Lisa dan anak-anaknya kepada Haris.
Di sela-sela usaha Lisa membantu Haris mendapatkan pengobatan atas traumanya, Arga hadir dengan menjanjikan cinta tulus kepada Lisa dan anak-anaknya. Saat itulah Haris menyadari bahwa dia jatuh hati kepada Lisa.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?
Akankah usaha Lisa membantu Haris berhasil?
Apakah Haris tega mengkhianati Dini dan beralih hati kepada Lisa?
Baca sampai tamat ya 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PELUK AKU SETIAP HARI
Haris sedang membaca laporan bulanan keuangan perusahaannya di laptop. Willy sedang duduk di hadapannya, membantunya meneliti laporan satu per satu. Sudah dua bulan ini, Haris tidak mengawasi keuangan perusahaannya karena kondisinya yang tidak stabil. Dulu ketika masih ada Handi, Handi yang akan memimpin dan memberi keputusan bila Haris terpuruk. Dia akan mengambil alih semua pekerjaan Haris dan membiarkan Haris beristirahat atau refreshing. Itulah sebabnya Handi sangat dipercaya oleh Haris. Andai saja masih ada Handi.
Memikirkan Handi, Haris berusaha mengingat kembali apa yang terjadi tadi malam. Sejujurnya, dia terkejut dan tidak menyangka Lisa akan memeluknya sedemikian erat. Ah, pasti tangannya sakit sekali mengingat Haris sedemikian berontak dan meronta-ronta. Apa yang membuat Lisa berbuat demikian? Tetapi, saat Lisa memeluk dirinya, perasaan hangat yang tidak dapat dijelaskan menyusup ke dalam hatinya. Sudah bertahun-tahun sejak dia sekolah, dia tidak pernah dipeluk sehangat itu. Bahkan ibunya sekalipun tidak pernah memeluknya lagi. Dini memeluknya, hanya saja rasanya berbeda. Entahlah, apakah karena Dini belum menjadi istrinya atau karena Dini belum mempunyai anak. Belum pernah Haris merasakan nyaman ketika dipeluk seorang wanita seperti ketika dirinya dipeluk Lisa semalam. Selain itu, dia juga merasa tubuhnya sangat ringan seolah beban di pundaknya telah dicabut semua. Dan yang lebih mengejutkan dirinya adalah visual Handi yang berdarah-darah lenyap saat Lisa memeluknya. Dia sempat membuka matanya segaris kala itu. Dia takut menghadapi bayangan Handi bila dia membuka matanya lebar, namun dia tidak menemukan monster Handi. Siluet mengerikan itu menghilang. Ketika Lisa menyentuh dirinya, monster Handi tidak ada di sekelilingnya. Apa yang terjadi? Bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Apakah dia harus mencobanya lagi?
Perasaannya berkecamuk. Lisa adalah istri sahabatnya. Lisa adalah istri Handi yang meninggal karenanya. Dan karena peristiwa itulah dia jadi begini. Bagaimana mungkin Lisa menjadi tameng bagi dirinya bila justru Lisa lah yang menjadi korban atas kecelakaan Handi? Haris juga tidak mungkin meminta Lisa terus-terusan memeluknya. Apa kata Lisa nanti? Lisa akan berpikiran bahwa dia mesum. Ya Tuhan, berpacaran saja baru sekali, ya dengan Dini ini, dan paling jauh yang mereka lakukan adalah berciuman. Bagaimana perasaan Dini nanti? Dini berpikiran dia mesum atau Lisa yang pengin? Dini pasti berpikiran bahwa Lisa memanfaatkan situasi ini untuk memperdaya Haris. Dia juga pasti berpikiran bahwa Lisa tidak tahu malu.
" Bos?," Willy menepuk tangan Haris yang dia topangkan di dagu.
Haris tersadar dari transnya. Dia geragapan menjawab Willy, " Ya, ada apa?"
" Ya ampun, Bos, melamun apa sih sampai serius begitu? Aku sudah memanggilmu sepuluh kali, tapi Bos ngga dengar."
" Maaf...," jawab Haris. Willy langsung berjengit dan menaikkan alisnya.
" Kenapa?," tanya Haris.
" Biasanya Bos ngga pernah minta maaf," jawab Willy terkekeh.
" Kamu jangan lebay deh," seloroh Haris. Bibirnya manyun seketika.
Willy tertawa terbahak-bahak. " Hahahaha...Bos lucu deh."
" Hush, aku geli dengar kalimat itu keluar dari mulutmu," kata Haris sambil bergidik. " Ada apa? Kembali ke pekerjaan kita."
" Bos, kenapa aku merasa laporan ini ada yang ganjil ya?"
" Apanya? Menurutku biasa aja. Kita juga untung besar."
" Ah, si Bos, uang mulu yang dipikirkan!," keluh Willy. " Ada pos-pos pengeluaran yang menurutku tidak masuk akal, Bos."
" Masa?," kata Haris.
" Coba Bos lihat ini," Willy menyodorkan nota dan kuitansi pembayaran yang setumpuk gunung ke hadapan Haris. " Biaya servis mesin tidak pernah setinggi ini, tapi selama setahun, tiba-tiba biaya servis naik seratus persen. Pembelian onderdil juga gila-gilaan. Ini apa-apaan, Bos?"
Haris membaca semua catatan, nota dan kuitansi pengeluarannya dan Willy memang benar. Kenapa semua biaya dan pengeluaran membengkak? Tanpa sadar Haris mengeluh. Dia kehilangan masa konsentrasi kerjanya selama setahun sehingga dia tidak pernah benar-benar mengecek lapangan. Dia tidak sempat. Dia tidak bisa membagi waktunya antara pekerjaan di kantor dengan di lapangan sehingga beginilah jadinya. Dulu sewaktu ada Handi, Handi yang melakukan semua pekerjaan lapangan untuknya. Dia tinggal memberi keputusan final, atau bahkan Handi sendiri yang melakukannya bila dia merasa perlu.
" Bos, Bos perlu mengecek sendiri perihal ini di pabrik. Kita tidak bisa membiarkan ini berlanjut. Aku yakin Bos ngga akan merugi. Tapi jangan pernah memberi kesempatan sama tikus-tikus buat menggerogoti kita," kata Willy serius.
" Tumben kamu benar, Wil," kelakar Haris.
Willy kehilangan wajah seriusnya seketika. " Ah si Bos... Aku serius nih!"
" Iya, baiklah! Akan aku agendakan ke pabrik. Cek jadwal kerjaku, Wil," kata Haris.
" Baik, Bos," jawab Willy.
****
Haris pulang ke apartemen pukul sepuluh malam. Lingkungan apartemen sudah sepi. Dia memutuskan langsung naik ke unitnya. Dia sudah membeli salep otot. Tangan Lisa pasti sakit. Dia akan membutuhkannya.
Haris membuka pintu unitnya dan mendapati Lisa sedang memijat pundak dan lengannya di dapur. Lisa buru-buru menghentikan kegiatannya saat Haris masuk dan tersenyum. " Kamu sudah pulang."
Haris pun buru-buru menundukkan kepalanya karena monster Handi berada di sebelah Lisa lagi. Dia hanya menjawab sambil mengangguk. Lisa melihat Haris melirik sebelah kanannya dan dia tahu bahwa visual mengerikan Handi ada di sebelahnya lagi. Lisa melangkah dengan terburu-buru menuju Haris, menghalangi langkah Haris dan memeluk tubuh Haris. Dia mengalungkan lengannya ke leher Haris. Pelukan yang sama seperti yang kemarin diberikannya kepada Haris.
" Kamu melihatnya lagi?," bisik Lisa di telinga Haris.
Haris mengangguk. Dia memejamkan matanya rapat-rapat. Dia belum berani membuka mata bahkan segaris saja. Lisa mengelus rambut Haris dengan lembut. Seketika itu tubuh dan hati Haris langsung meleleh. Menerima perlakuan yang begitu lembut dan hangat membuatnya lupa dengan keadaannya.
Lisa kembali berbisik," Tenangkan dirimu! Ngga usah takut! Aku akan membantumu!"
Haris memberanikan diri membuka satu matanya, hanya segaris sebatas dia bisa melihat sekelilingnya. Hasilnya, dia tidak melihat monster Handi. Setidaknya berdasarkan penglihatan depan, kanan dan kirinya, bayangan mengerikan itu tidak ada. Amazing! Pelukan Lisa benar-benar mujarab. Haris memejamkan matanya lagi. Dia bersyukur. Dalam hati dia tersenyum bahagia. Haris membalas pelukan Lisa dengan lembut.
" Terimakasih," ucap Haris penuh syukur. Perlahan dia menitikkan air mata saking bahagia hatinya.
Lisa tersenyum. " Syukurlah!"
Entah berapa lama mereka berpelukan. Haris masih menangis tersedu-sedu. Lisa membiarkan Haris memuntahkan semua kegundahan hatinya. Ketika Haris terdengar tenang, Lisa melepaskan pelukannya perlahan-lahan. Mata Haris masih terpejam.
Lisa meletakkan kedua telapaknya tangannya di pipi Haris, mengusap air matanya pelan. " Haris, buka matamu!," katanya lembut.
Haris membuka matanya. Samar-samar dia melihat wajah Lisa. Kenapa dia baru sadar kalau Lisa juga cantik?
" Apa dia masih ada?," tanya Lisa.
Haris menggeleng.
" Benarkah?," tanya Lisa lagi.
Haris mengangguk.
Bayangan monster Handi benar-benar hilang. Ternyata pelukan Lisa yang menjadi obatnya. Haris tidak bisa berpikir jernih seketika. Bagaimana mungkin?
Lisa tersenyum bahagia kemudian dia memeluk Haris lagi. " Baguslah! Aku akan memelukmu setiap hari sampai dia benar-benar pergi dari hidupmu."
Haris tersentak. Memeluknya setiap hari? Dia akan mendapatkan pelukan hangat seperti ini? Setiap hari pula? Jantung Haris berlompatan di dalam dadanya. Dia akan sembuh. Monster Handi tidak akan menghantuinya lagi. Dia memeluk pinggang Lisa, sambil berkata," Terimakasih."
****
Pagi-pagi sekali Lisa sudah bangun dan masak. Kali ini dia masak nasi goreng jamur kesukaan Hamza. Dia menambahkan telur ceplok sebagai lauknya. Lisa sudah menata nasi goreng di piring, mengambilkan segelas susu dan air putih dan meletakkan mereka semua di nampan. Lisa hendak meletakkan nampan berisi sarapan pagi di depan pintu kamar Haris ketika Haris keluar kamar dengan menyembulkan kepalanya saja.
Lisa meletakkan nampannya di meja dan berjalan ke kamar Haris sembari merentangkan tangannya lebar-lebar. Lisa mendorong pintu kamar Haris dan meraih tubuh besar Haris dalam pelukannya. " Selamat pagi."
" Lisa.." Haris terkejut sekaligus senang.
" Aku tidak akan membiarkanmu melihatnya terlebih dahulu," kata Lisa.
" Ya ampun, Lisa." Haris tertawa. Dia balik memeluk pinggang Lisa.
" Bukankah dia pergi setelah aku memelukmu?," tanya Lisa.
" Iya," jawab Haris tersenyum.
" Kalau begitu aku akan memelukmu setiap kita bertemu," kata Lisa.
Haris tertawa kecil. Lisa tersenyum senang. Lisa mengelus rambut Haris dengan sentuhan keibuan yang menyenangkan. Haris terbuai. Dia merasakan kehangatan lagi-lagi menyesapi hatinya, membuatnya sesak. Tapi dia menikmati kesesakan ini. Setiap sentuhan Lisa membuatnya nyaman. Mungkin karena inilah Handi sangat mencintai Lisa. Handi pernah bilnag kalau Lisa orangnya cuek, cuek dalam arti bahwa Lisa membebaskan Handi kemana pun dia pergi, apa pun yang dia lakukan dan dengan siapa asalkan jelas. Tapi Lisa juga memiliki sisi romantis yang tak dapat dijelaskan. Lisa bisa tiba-tiba memeluk, mencium dan mengelus Handi tanpa aba-aba. Handi pernah bilang tidak ada yang bisa memeluknya sehangat Lisa, tidak ada yang pintar memijat tubuhnya sepintar Lisa, tidak ada yang bisa melayaninya segairah Lisa dan tidak ada yang bisa menciumnya seromantis Lisa. Haris pernah iri mendengarnya. Bukankah sisi tak terduga seperti itu yang membuat penasaran? Dini memang romantis dan manja, tapi dia juga cemburuan. Haris tidak suka. Jangankan ketahuan selingkuh, baru tahu Haris melirik ke perempuan cantik yang lewat saja, Dini sudah mengomel. Lisa bisa dengan santai mendengar cerita Handi yang baru saja bertemu mantan pacarnya, atau Handi yang pulang dari club malam karena harus menemani kolega, atau Handi yang harus menemani klien wanita yang minta ditemani mencari hotel untuk bermalam. Lisa tidak pernah cemburu. Dia selalu bilang," Itu kan sudah masa lalu," atau " Itu kan karena pekerjaan," atau " Selama Ayah bisa dipercaya, apapun tak masalah." Handi sering sekali menggoda Lisa supaya kecemburuannya muncul, tapi hati Lisa sekuat baja. Candaan Handi hanya ditanggapi dengan tawa geli oleh Lisa.
Lisa melepaskan pelukannya dan Haris tersadar dari ingatannya. " Ayo kita sarapan," kata Lisa sambil tersenyum lebar. Dia mengandeng tangan kanan Haris dan membimbingnya ke meja makan.
Haris sempat menahan tangannya, membuat Lisa menambahkan," Anak-anak sarapan di dalam kamar. Kamu ngga akan bertemu mereka."
Haris melangkah mengikuti Lisa yang menggandengnya. Lisa membantu Haris duduk di kursi dan menyorongkan sarapan Haris.
" Kamu mau susu, teh atau kopi?," tanya Lisa. Tangannya masih menata sepiring nasi goreng, sendok, garpu, dan segelas air putih di depan Haris. Haris lagi-lagi terdiam. Baik Dini, ibunya atau pun Bi Nah tidak pernah menanyakan apa yang dia mau makan atau minum. Selalu Haris yang minta lebih dulu.
" Susu aja," jawab Haris singkat.
Lisa meletakkan susu yang sudah dia buat tadi di hadapan Haris. " Aku ngga tahu kamu suka apa. Menurutku sarapan pagi itu harus dengan susu untuk menambah tenaga. Makanya setiap pagi aku, membuatkan susu untukmu."
" Iya, ngga apa-apa," jawab Haris.
" Haris."
" Ya."
" Dia benar-benar sudah pergi kan?," tanya Lisa, matanya melirik ke sekeliling 360 derajat.
" Iya, sudah tidak ada." Ketika Haris menyembulkan kepalanya di pintu kamar tadi, dia melihat monster Handi berada di dekat Lisa. Monster itu sedang mengawasi Lisa bekerja di dapur. Namun, dia langsung pergi sewaktu Lisa memeluk tubuhnya.
" Lalu kenapa kamu lesu begitu?," tanya Lisa. " Apa kamu sakit?" Lisa menyibak sedikit rambut Haris dan memeriksa dahinya.
Haris terpaku mendapatkan perhatian Lisa sekian kalinya. Kenapa Lisa bisa dengan santainya menyentuh tubuhnya?
" Suhu tubuhmu normal kok. Kamu ngga akan pingsan kan?," kata Lisa.
" Lisa, aku ngga apa-apa."
" Baiklah. Katakan padaku kalau kamu butuh sesuatu."
Lisa hendak pergi dari sisi Haris tapi Haris menangkap tangannya, membuat Lisa otomatis berhenti. Lisa menatap Haris hendak bertanya ketika Haris bilang," Duduklah di sini. Makan bersamaku."
" Oh...," kata Lisa," Baiklah." Kemudian dia mengambil tempat duduk di sebelah Haris dan mengambil cangkir kopinya.
" Kamu ngga sarapan?," tanya Haris sambil mengunyah nasinya.
" Nanti. Aku biasa sarapan jam sembilan. Kalau jam segini minum kopi dulu."
" Apa yang akan kamu lakukan hari ini?," tanya Haris.
" Tentu saja banyak," kata Lisa," Aku harus bersih-bersih, mengantar jemput anak-anak ke sekolah, bertemu dengan Dini....,"
" Bertemu Dini?," sela Haris. " Untuk apa?"
" Aku bertemu dengannya setiap hari."
" Untuk melaporkan setiap gerak-gerikku?," tanya Harus tanpa perasaan.
Lisa mendadak gagap. " Bu...Bukan...Bukan begitu."
" Kamu juga bilang kalau dua hari ini kamu memelukku?," tanya Haris. Pandangannya tajam kepada Lisa.
" Aku..aku belum..."
" Jangan ceritakan hal itu!"
" Apa?"
" Jangan pernah cerita kalau sekarang kamu selalu memelukku! Dini tidak akan suka!," kata Haris.
" Tapi...kan...,"
" Lisa, percayalah kata-kataku! Kamu boleh berbicara apa pun kepada Dini tentang aku, tapi kamu ngga boleh bercerita kalau kamu memelukku. Dini tidak suka ada wanita lain yang menyentuhku."
Lisa terbelalak. Dia jadi salah tingkah. " Lalu aku harus bagaimana? Aku ingin membantumu sembuh. Kamu bilang kalau aku memelukmu, kamu tidak melihatnya lagi...."
" Maka kamu harus memelukku setiap hari." Pipi Haris mulai memerah. " Dan kamu harus menyembunyikan kenyataan ini kepada Dini."
" Kalau Dini ada disini..."
" Maka kamu yang harus pergi dari ruangan ini."
Lisa menatap wajah tenang Haris lekat-lekat. " Baiklah, aku paham."
" Bagus," kata Haris. " Terimakasih untuk sarapannya. Aku akan berangkat kerja."
/Angry//Angry/
kadang kondisi kesehatan ga memungkinkan buat up tiap hari 😄
terimakasih sudah setia membaca 🥰