Ada yang lo pengen banget, itu bisa lo liat, tapi gak bisa lo gapai, itu gimana sih rasanya?
***
S1—
Diary Of Jane.
Jane terpaksa kok buat sama Ares, karena dia Ares cuma punya dia. Bahkan sama sekali gak cinta dengan Ares, tapi Ares selalu berusaha, selalu ada di samping Jane, berharap cewek itu pada akhirnya akan jatuh cinta sama dia.
Pahit di awal, manis di akhir. Pada akhirnya Jane jatuh cinta dengan Ares.
S2—
I love you Bramasta.
Kisah bagaimana Bramasta juga ingin di cintai.
——— 🌟
ig. @sindipaulia_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sindi putri aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#13. Ketinggalan Bus (2)
Semangat buatku🤗
Makasih yang selalu mendukung ku.
I love you all
Happy reading
Diary of Jane 13
"Ekhem." Sebuah dehaman membuat Jane menoleh, Arka lah yang membuat dehaman itu, "mimpi." Saking malesnya Jane, dia insecure, mungkin fatamorgananya Arka, ya maybe like that's, Jane mengangguk.
"Lo kenapa lama?"
Gak perlu jawabin fatamorgana, yang ada nanti orang lewat ngira Jane gila karena ditinggal pak Juki a.k.a supir bus. Cup. Jane melotot selebar mungkin lalu secepat cahaya menoleh ke Arka yang baru saja mencium pipinya.
"Sadar, gue nyata." Arka tertawa, sadar Jane menganggapnya fana, sementara Jane gak percaya sama apa yang barusan itu, hidung Arka mendarat di pipinya.
Canggung.
Jane gak tau harus ngapain, baterai Hp nya habis, dan disampingnya ada Arka yang bersandar sambil mendengarkan lagu lewat hans-free, ingin terbang tapi gak punya sayap, akhirnya bus yang mereka tunggu sampai dan perderitaan jantung Jane berkurang.
Jane naik setelah Arka naik ke bus, sampai di dalam bus, Jane tidak mendapat tempat duduk karena sudah penuh, sementara Arka, dengan modal tampang, ia bisa duduk dengan leluasa.
Good looking emang enak ya, bisa duduk, gue ngelayut macam monyet, dia? gak usah di tanya, udah duduk manis sambil di kelilingi cewek cantik.
"Bang, boleh minta nomor telepon nya bang." Tiga bocah SMP itu mengikuti sampai Jane dan Arka turun dari bus.
"Sorry gak bisa, gue takut cewek gue marah."
"Abang udah punya cewek yah," muram para gadis itu, bahkan Jane percaya, gimana gak percaya, Arka itu ganteng, sempurna luar dalam, putus semenit, dalam tiga puluh detik udah dapat yang baru. Kalo Jane mah, gak mungkin, hiks.
"Ya, udah deh bang, moga langgeng." Doa para anak SMP itu, Arka tersenyum, "thanks, bye." Kemudian pergi menyusul Jane yang sudah jalan duluan.
📝📝📝
Lo ganteng.
Tapi lo udah punya.
Kita deket.
Tapi cuma temen.
Dari awal, gue udah niat.
Kalo lo udah punya pacar sendiri gue bakal nyingkir bagaikan asap yang terhempas angin.
📝📝📝
"Physical distance aja deh, gue gak mau kena sleding sama cewek lo." Jane mundur beberapa langkah dari Arka.
"Hahahaha." Arka ketawa, apa yang lucu? Jane melipat kedua tangannya, "gue gak bercanda, gue takut di sleding sama cewek lo, terakhir kali gue kena sial bertubi tubi gara-gara deket sama cogan, jadi gue kapok, gue gak mau berurusan dengan orang yang udah berpunya, gue gak mau di anggap orang ketiga." Jelas Jane.
"Gue bohong sama anak-anak tadi, lo ikut percaya ternyata, haha." Ketawa terooz, ketawa aja, kalo lo bukan cogan udah gue tampol. Jane mecebik.
"Hahaha, gue bercanda, lo jangan marah sama gue dong!" Arka merangkul pundak Jane.
"Hmm." Jantung gue astaga, Jane meremas bajunya.
📝📝📝
Sempat kecewa.
Sempat juga menyesal.
Kenapa tak bisa kukuh pada pendirian?
Apakah semudah itu?
Merelakan dia?
—Arka Bramasta Hardikha
📝📝📝
Lupain segala-galanya, hidup yang tentram.
Udah gitu aja. —Jane Radista.
"Gue gak cantik, tapi gue bahagia, gue selalu kena sial, gak apa-apa, hidup gue emang gini." Arka tertawa mendengar Jane mengucapkan sebuah kalimat itu.
"Lo cantik kok." Ucap Arka, ya untuk menghibur Jane yang selalu insecure.
Lo sebenarnya cantik kok.
Lo gak seburuk apa yang lo bilang tentang diri lo. Arka melirik gadis di sampingnya.
Dari awal Arka ketemu Jane dia bingung sendiri sama Jane, sampai insiden pertengkarannya dengan Devano, ia memutuskan untuk nge-kost di kediaman tante Hana.
Segala ke konyolan tentang gadis itu, selalu membuat Arka tertawa, bahkan Arka yang dulu jarang tersenyum menjadi lebih ceria. Tapi ia takut gadis itu akan meninggalkan dirinya. Seperti mantannya.
***
Arka gak ngerti sama cewek di sampingnya ini, fokus ke layar laptop tapi pikirannya kayak di tempat lain, "Jane."
"Hmm?" Jane mengerjap, "ngelamun lo?" Arka tersenyum, "ah, enggak, siapa juga yang ngelamun, gue cuma mikirin poster yang mau gue buat kok, itu aja, hehe." Kilah Jane.
"iya, terserah lo." Arka melirik Jane dengan tatapan sinis, bukannya respon takut atau apa, makhluk disampingnya justru bodo amat seakan Arka gak ada.
"Hhh." Hela Arka, ia kembali menatap layar ponselnya.
Ares: Gue mau datang ke kos lo
Arka: *N**gapain*?
Ares: *Ga**k, gue pengen ketemu lo aja*.
Arka: *K**angen lo*?
Ares: *N**ajis*!
Setelah itu banyak notifikasi yang bermunculan dari nomor yang sama —nomor Ares. Arka pura pura tidak tau dan mengaktifkan mode pesawat nya, seketika ponselnya heuning.
Ares Junior, akhirnya tiba dan masuk ke rumah Arka, ralat, rumah tante Hana. Gaya cool nya yang khas, serta parfum cowok menyebar di sekitar tubuhnya.
Arka paling sensitif kalau masalah bau, karena itu saat Jane lewat di sampingnya setelah sesaat insiden penyiraman oleh Ares, ia langsung mengenali bau Jane. Sekali ia mengira hidungnya yang agak konslet, tapi ketika Jane meninggalkan wangi itu di buku tulisnya, Arka tidak salah lagi.
"Hai sayang," Arka langsung menoleh, sayang? Ia memelototi dua orang yang sedang berpelukan, tidak, sebenarnya hanya Ares yang memeluk Jane, dan Jane tidak, sama sekali tidak membalas pelukan itu.
"Nye, nye, nye." Jane menekankan setiap katanya, "sayang bapak lo! Gue bukan sayang lo! Gue gak akan sayang sama lo, lebih baik gue jomblo sampai nikah dari pada sama lo! Dasar playboy!" maki Jane beranak pinak.
"..." bisa gitu yah. Arka tersenyum tipis.
"Udah deh, lebih baik lo pulang ke planet Saturnus, gue males liat lo!" Jane melempar sendalnya pada Ares.
***
Arka bersama dua orang lainnya, yaitu Ares dan Noval lewat ke kantin untuk makan, ya iya lah makan, ngapain di kantin kalo gak makan? Mau main basket?
Lupain masalah tadi, sekarang mata Arka tertuju pada seorang gadis, gadis dengan rambut panjang, bulu mata lentik, bibir kecil serta sebuah lesung pipi yang membuat gadis itu tambah manis.
"Jeara Anindya." Ucap Ares tanpa kendali.
"Hmm." Sinis Arka dan Noval bersamaan, dasar buaya.
"Apa?!" bentak Ares.
***
Jane udah nyesek banget gan, dia rasanya seperti terkena ISPA akut melihat kemesraan dua pasang kekasih di depannya —Raya dan Gian, "Gue nyamuk, gue diem, gue pergi, babay." Kesalnya sambil menghentak hentakkan kakinya ke lantai.
"Jane!"
"Dah mati!" balasnya cepat.
"Duit ... lo ketinggalan." Telat, Jane udah meluncur. dan melesat ke koridor loker, gak tau kenapa dia ke sana. Dia cuma buka pintu loker, terus liat kanan dan kiri kayak mau perang, "TAEHYUNG! Huh... Untung masih ada." Jane mengambil foto Taehyung.
Pokoknya aib mu gak boleh di ketahui banyak orang, aib mu terjaga oleh ku.
"Hatchim!" Taehyung yang lagi konser tiba-tiba bersin.
"Ngapain sih lo bersin waktu konser!" maki Jungkook dalam bahasa Korea.
"Gak tau anj*r, kayak ada yang ngomongin gua." Taehyung menggosok hidungnya.
"Kita terkenal, jadi wajar dong di bicarain." Jimin meletakkan tangannya di pinggang —gaya sombong.
Skiiip—
Jane menyimpan foto itu dengan baik, kemudian berjalan, berjalan, melambat, "Apaan tuh?" Jane mengintip dari balik tembok, "Arka?!" jeritnya pelan.
Yang bikin Jane menjerit bukan si Arka yang tambah ganteng, tapi sesosok gadis super imut dan manis di depan Arka.
KRHAAAAK. Sesuatu rasanya, ada yang hancur, retak, berkeping keping.
Oke, gue udah pernah bilang ke diri gue sendiri, gue bakal menyingkir sendiri, Jane cengeng, liat Arka sama cewek yang cantiknya gak ketulungan, dia langsung mewek
"Eh, cengeng!" udah, Jane gak mau di ganggu, dia mau sendiri, dia bahkan gak balas celotehan dari Ares.
Telinganya udah gak mau denger apa pun lagi, dia terdampar di taman sekolah, duduk sendirian, liat lalat lewat, gue kok gak rela.
📝📝📝
Mungkin bener, gue terlalu menikmati peran gue sebagai peran sampingan sampai gua gak sadar kalo ada peran utama yang akhirnya bakal muncul,
Tentunya buat menemani pemeran utama lainnya.
Lalu cerita akan lengkap,
Bahkan jika pemeran sementara gak ada.
Gue mau bilang.
Jangan terlalu. Biasa aja.
Cinta jangan terlalu, cemburu jangan terlalu, posesif juga jangan terlalu.
Semuanya harus di jalani apa adanya.
Sesuai takaran yang pas dan gak berlebihan
Jodoh gak kemana.
📝📝📝
"Jin, lo nangis kenapa?"
"Gara gara lo!" Ares jadi pelampiasan Jane, dia gak mungkin marah marah sama kucing lewat, lebih baik dia marahin Ares yang sama-sama makhluk sejenisnya, yang ngerti bahasanya.
"Gue?" Ares menunjuk dirinya sendiri, "sorry, gue marah." Sesal Jane, ya kadang Ares membuat dirinya kesal, tapi di saat seperti ini Ares justru terlihat cemas. Atau pikiran Jane saja yang tiba tiba menganggap Ares sebagai kucing kecil yang polos dan lugu, padahal Ares adalah sosok brandal SMA yang katanya udah merokok sejak SD.
"Udah, gak apa-apa, gue disini." Kata kata yang sangat mengharukan, tapi Jane gak ngaruh, pasalnya Ares adalah seorang playboy. Jane mencebik.
"Gue gak apa-apa kok." Seratus delapan puluh derajat Jane auto berubah jadi periang lagi. Udah biasa di sakitin.
Ares mengembangkan kedua tangannya, Jane hanya mengerutkan dahinya, dia ngapain sih? Mau terbang kah? Tiba tiba badan Jane terasa sesak, hidungnya menempel pada dada Ares, bau rokok dan parfum bersatu.
Nyaman. Sejenak Jane berfikiran begitu, "Apaan sih lo!" Setelah itu ia mendorong tubuh Ares menjauh darinya, "lo bau rokok, pasti lo ngerokok lagi kan? Gue aduin lo sama kepala sekolah biar di hukum keliling lapangan sampai mamp*s."
"Terserah, gue gak peduli, gue udah kebal." Jane sejenak tersadar perkataan Ares barusan mirip sekali dengan kata-katanya dulu.
"Thanks," Jane tersenyum, sementara Ares cuma kebingungan, "proklamasi, hari ini tanggal 2 Agustus, gue Jane Radista Belva Adiya, menyatakan tidak akan baper lagi! Titik!" ujar Jane keras-keras.
Belva Adiya? Ares mengernyitkan dahinya, gue pernah denger di mana yah, ia melihat gadis kecil itu sedang berjalan gembira. DEG, gue kenapa? Ares memegang dadanya yang tiba-tiba berdebar, tenggorokannya terasa aneh, "Oh iya, gue belum makan dari pagi."
.
.
Dikit aja yah :) Hehe
salam dari aku dan mantan kekasih suamiku
aku tunggu feedbacknya y
sebulan ga buka noveltoon, ceritanya dah end🥺🥺🥺🥺
di tunggu karya barunya thor
maaf ya aku lm baru mampir, dh boom like smua_<
akhirnyaa
selamat thir karyamu kereen
feedback to yokk ka🤗