Nadeo Gibran Erlangga berniat untuk melamar Arzela Kayzel Atharva, yang selama ini dia klaim sebagai jodohnya.
Namun Nadeo terpaksa harus mengubur impiannya itu demi membalas budi pada keluarga yang sudah merawat dan membesarkannya selama ini.
Nadeo harus menikah dengan Sabrina Eleazar menggantikan sang adik yang kabur di hari pernikahannya.
Arzela hancur dan patah hati, namun ia harus tetap mengikhlaskan cinta pertamanya itu menikahi Sabrina yang tak lain adalah sahabatnya sendiri.
Akankah Nadeo bertahan dengan pernikahannya setelah tahu kebenaran yang selama ini tersembunyi?
Ataukah justru takdir mempersatukan Nadeo dan Arzela kembali?
Sekuel Belenggu Cinta Pria Beristri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kikan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13
"Siapa yang bilang aku mau membunuh?" Tanya Arzelo sambil menyipitkan matanya. "Itu pil penunda kehamilan bukan penggugur kandungan," ucap Arzelo dengan penuh penekanan.
"Tetap aja, Kamu mau melenyapkan calon kecebong-kecebongku," ucap kesal Nadeo sambil mengusap sudut bibirnya yang sedikit berdarah karena pukulan Arzelo. "Apalagi tadi keluar banyak, aku yakin tidak lama lagi pasti kecebongku berkembang," ucapnya bangga.
Dewa mengacungkan jempolnya pada Nadeo. Ia juga yakin seperti dirinya dulu, dengan satu kali tembakan mampu menghasilkan bibit unggul.
Arzela yang berada di belakang Arzelo tidak sanggup lagi menunjukkan wajahnya, gadis cantik itu benar-benar malu dengan ucapan frontal Nadeo.
"𝘈𝘴𝘵𝘢𝘨𝘢, 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘮𝘦𝘴𝘶𝘮 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶?" 𝘉𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘈𝘳𝘻𝘦𝘭𝘢 𝘧𝘳𝘶𝘴𝘵𝘢𝘴𝘪.
Berbeda dengan Arzelo, pria itu menatap tajam Nadeo, bersama dengan rasa khawatir yang tiba-tiba menyeruak.
"Justru karena itu Zela harus meminum pil ini," ucap Arzelo kembali mengambil botol pil dari tangan Arzela. Arzelo mengeluarkan satu butir pil dari botol itu lalu menyerahkannya pada Arzela. "Minum, Zel!"
Dengan ragu-ragu Arzela hendak mengambil pil itu. Namun Nadeo dengan cepat merampas pil beserta botolnya dari tangan Arzelo.
"Kamu sudah gila, Arzelo!" Nadeo menatap sahabat sekaligus sepupunya itu dengan tatapan penuh kecewa.
"Justru karena aku masih waras, aku tidak mau anak kalian nanti mendapat predikat anak haram, sepertiku," ucap Arzelo dengan nada sedikit bergetar. Kalimat sederhana yang Arzelo katakan itu berhasil membuat Arzela tertegun.
Gadis cantik yang berada di samping Arzelo itu menggenggam tangan abangnya, lalu ia mendongakkan wajahnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Rasanya sangat sakit, Dek. Abang gak mau siapapun mengalaminya. Terutama calon keponakan Abang, hmmm?" Arzelo mencoba meyakinkan Arzela, pria itu benar-benar tidak sanggup andai keponakannya nanti mendapat predikat anak haram, sama sepertinya.
"Aku tahu rasanya seperti apa. Tapi itu bukan alasan untuk melenyapkan calon anak-anakku, Arzelo!"
"Kak, anak yang mana yang Kamu bicarakan? Tidak ada yang aku lenyapkan, aku hanya mencegah. Aku tidak mau andai keponakanku benar-benar ada, dia harus terlahir dalam keadaan seperti ini."
Arzelo tetap bersikukuh, begitu juga Nadeo tetap mempertahankan keyakinannya.
"Aku akan menikahi Arzela."
Satu kalimat yang berhasil membuat Arzela menatap tajam Nadeo.
"Sudah kubilang, Kak. Aku gak mau nikah sama Kakak. Dan Kakak tahu alasannya," kesal Arzela. Gadis cantik itu mencebikkan bibirnya.
Nadeo yang melihat itu mengepalkan tangannya, bukan karena marah, tapi karena tidak tahan melihat wajah menggemaskan Arzela. Setelah percintaannya dengan Arzela beberapa waktu lalu, entah kenapa tubuh Nadeo selalu bereaksi aneh setiap melihat Arzela.
Gairahnya meningkat dan rasanya ingin kembali melakukan kesalahan ternikmat yang baru saja ia lakukan.
"Aku tidak menerima alasan apa pun, aku mau kita menikah," ucap Nadeo tanpa bantahan.
"Kapan?"
Hah
Satu pertanyaan yang keluar dari mulut Arzelo membuat semua orang nyaris tak percaya. Apalagi Arzela, ia nyaris tersedak ludahnya sendiri saat abangnya itu dengan mudah menanyakan pertanyaan itu.
Sementara Nadeo tersenyum puas, ia tahu Arzelo tidak akan sekejam itu. Menikah adalah satu-satunya cara supaya calon kecebongnya tidak dilenyapkan.
"Secepatnya, setelah bertemu dengan Gentala aku akan menikahi Arzela," ucapnya dengan yakin.
"Kamu gila, Kak. Aku gak mau. Aku gak mau jadi pelakor. Lagipula belum tentu aku mengandung anak Kamu. Jadi, Kamu gak perlu nikahin aku," ucap Arzela tetap bersikukuh dengan pendiriannya.
"Kamu meragukanku, Arzela?" Tanya Nadeo. Ia sedikit tersinggung dengan ucapan Arzela yang terdengar meragukan kemampuannya. Secara tidak langsung Arzela mengatakan jika ia tidak akan hamil hanya dengan satu kali tembakan. "Aku sangat yakin benihku itu sangat premium, cukup dengan satu kali tembakan, kecebongku sebentar lagi akan tumbuh di rahim Kamu."
"Apasih Kak? Jangan mulai deh!"
Arzela semakin kesal dengan tingkah Nadeo. Ia tahu arah perkataan Nadeo itu menjurus ke mana. Arzela ingin sekali melempar granat ke kepala Nadeo, supaya pria itu kembali waras, benak Arzela.
"𝘈𝘬𝘶 𝘩𝘦𝘳𝘢𝘯, 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘮𝘦𝘴𝘶𝘮 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶."
"Kapan Kamu akan menemui Gentala?" Tanya Arzelo. Ia sampai lupa, niat Arzelo pun setelah menjemput adiknya adalah menemui Gentala.
Arzelo baru ingat beberapa kali ia menelpon Nadeo, namun tidak mendapatkan respon. Karena rupanya orang yang sudah membuat Arzelo kesal itu sedang melakukan kesalahan membawa nikmat bersama adiknya.
"𝘚𝘪𝘢𝘭𝘢𝘯!"
"Hari ini juga. Aku sudah mengetahui keberadaan Gentala."
"Aku ikut."
Nadeo tidak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya. Matanya beralih pada Arzela yang sejak tadi menundukkan kepalanya. Nadeo mendekati gadisnya itu dan membawa Arzela ke dalam dekapannya.
"Semua akan baik-baik saja. Aku selalu ada bersamamu," ucap Nadeo sambil mendekap Arzela.
Tangis Arzela pecah. Kalimat yang biasanya ia ucapkan saat Nadeo sedang tidak baik-baik saja, kini Nadeo yang mengucapkan kalimat itu untuknya. Terdengar sederhana memang, tapi memiliki arti yang begitu mendalam.
"Kakak antar Kamu pulang, ya."
Arzela hanya mengangguk. Bahkan saat Nadeo menggendongnya ala bridal style, gadis cantik itu hanya diam. Tenaganya benar-benar terkuras, yang Arzela ingin lakukan saat ini hanyalah mengistirahatkan tubuhnya yang terasa remuk.
"𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘳𝘴𝘪𝘢𝘱𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘳𝘶𝘴 𝘱𝘶𝘵𝘳𝘢 𝘏𝘢𝘳𝘭𝘦𝘺𝘢 𝘪𝘵𝘶," 𝘶𝘤𝘢𝘱 𝘋𝘦𝘸𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘶𝘩 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵. "𝘚𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘶𝘣𝘶𝘯𝘨𝘪 𝘤𝘢𝘭𝘰𝘯 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘯."
...----------------...
Setelah mengantarkan Arzela ke rumahnya, dan memastikan gadis cantiknya itu istirahat, Nadeo dan Arzelo kini bergerak menemui Gentala. Keduanya tidak memperdulikan waktu yang hampir dini hari, saat ini juga keduanya ingin segera mendapatkan penjelasan dari si penyebab kekacauan.
"Kakak, Abang, kalian...."
Gentala sampai susah payah menelan ludahnya sendiri saat melihat dua orang yang paling ia takuti kini berdiri di hadapannya.
"Kenapa? Kamu kaget kita bisa menemukanmu, pengecut?" Kesal Nadeo. Rahangnya mengeras, ia hampir kehilangan kesabaran jika Arzelo tidak menahannya.
"Kita bicara di tempat lain."
Gentala tidak bisa mengelak selain menurut. Ia kini pasrah mengikuti Nadeo dan Arzelo ke manapun akan membawanya.
Ketiga orang itu kini berada di sebuah cafe yang buka 24 jam. Ketiganya duduk saling berhadapan menanti penjelasan.
"Cepat katakan, apa alasanmu kabur di hari pernikahanmu? Bukankah Kamu sangat mencintai Sabrina? Kenapa Kamu malah meninggalkannya?"
Pertanyaan bertubi-tubi itu datang dari Nadeo. Ia ingin mendengar penjelasan dan alasan kenapa Gentala melakukan semua ini.
"Sebenarnya..." Gentala sedikit ragu mengatakannya, namun saat melihat tatapan tajam Arzelo ia tidak memiliki pilihan lain selain mengatakan yang sejujurnya. "Selama ini aku hanya pura-pura mencintai Sabrina, karena Mommy yang memintaku," ucap Gentala.
Arzelo nampak terkejut dengan perkataan Gentala. "Kenapa?" Pertanyaan andalan yang selalu Arzelo layangkan.
"Mommy ingin aku menikah dengan Sabrina, supaya aku bisa menjadi menantu Om Rako. Karena suatu hari nanti Om Rako akan mewariskan semua kekayaannya padaku dan Sabrina jika kami menikah."
Arzelo melongo sambil mengerjapkan matanya. "Kenapa aunty bisa terobsesi seperti itu dengan harta?" Tanya Arzelo bingung. Arzelo benar-benar tidak paham dengan pemikiran aunty-nya itu.
"Aku tidak tahu, Bang."
Gentala menggelengkan kepalanya. Ia juga merasa muak dengan sikap otoriter Harleya.
"Jangan berbohong, Gentala. Kalau Kamu tidak mencintai Sabrina, kenapa Kamu melakukan hubungan suami istri dengannya?"
Deg
"𝘋𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘒𝘢𝘬𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘩𝘶?"
"Kakak tahu dari mana?" Tanya Gentala. Pasalnya tidak ada yang mengetahui satu orang pun, hanya dia dan Sabrina yang tahu. Gentala kini heran karena Nadeo justru mengetahuinya.
"Tidak penting Aku mengetahuinya dari mana, sekarang jelaskan!"
"Aku diberi obat perangsang."
Jawaban yang membuat Arzelo mengerjapkan matanya. Trik yang sama seperti apa yang Sabrina lakukan pada Nadeo, dasar tidak kreatif, benak Arzelo.
"Satu hal yang membuatku penasaran, kenapa Kamu memilih kabur tepat di hari pernikahan mu? Kenapa nggak di hari sebelumnya?" Tanya Arzelo sangat penasaran.
Sejauh ini tidak ada jawaban Gentala yang membuat Arzelo puas.
"Sebenarnya... di hari itu aku melihat sesuatu yang menjijikkan. Aku melihat Sabrina dan Om Rako sedang melakukan hubungan yang tidak seharusnya mereka lakukan."
Nadeo melebarkan bola matanya, sementara Arzelo terlihat biasa saja karena sudah lebih dulu mengetahuinya.
"Setelah itu Kamu pergi seenaknya, dan membuatku harus menggantikan posisimu," ucap Nadeo tersenyum getir.
"Maksud Kakak apa?"
𝘛𝘰 𝘣𝘦 𝘤𝘰𝘯𝘵𝘪𝘯𝘶𝘦𝘥
gtu jwbnya kl kthuan sm istrinya....🤮🤮🤮.....
jgn cm omong doang y deo...km msti bnrn ngsih pljrn sm tu nnek shir....
thoooorrrr....lo bs yg rekan klakuan duo iblis mnjijikkan viralkan videox biar seruuuuu
krna jalang spertix tu su g py malu jd klakuan" bejadx hrs d viralkan, biar d hujat byk nitizen
bc d bab ni z lgsg muntah 🤮🤮🤮
sngat....sngaaàaatttt mnjijikkan
bner" jalaaaaangggg😠😠😠
ga sbr nunggu emaknya tau,abs tu kuruk aja anknya jd kodok....🤣🤣🤣