Mendaki adalah napas bagi Evan, pria berjiwa bebas yang tak pernah gentar menantang puncak tertinggi. Bersama teman-temannya, ia nekat menjelajah hutan perawan yang dikelilingi sungai berarus deras tempat yang bahkan penjaga hutan pun melarang untuk dimasuki. Satu per satu temannya menyerah pada ganasnya medan, hingga Evan harus melanjutkan perjalanan sendirian, tersesat di tengah belantara yang belum pernah dijamah manusia.
Di dunia yang berbeda, ada Sierra, gadis manja pewaris konglomerat, yang lebih sering membakar uang di pusat perbelanjaan. Liburannya ke pulau eksotis berubah menjadi mimpi buruk ketika pesawatnya dihantam badai. Dengan parasut gagal terbuka, Sierra terhempas ke rimba misterius dan hanya pohon yang menyelamatkannya dari maut.
Dua jiwa yang bertolak belakang kini terperangkap di dunia liar tanpa jalan pulang. Saat mereka bertahan hidup bersama, hutan mulai mengungkap rahasia gelap yang selama ini terkubur..., mampukah mereka menemukan jalan keluar?
Ig deemar38
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Adra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HHM 13
Setelah hening sesaat, ia memberanikan diri bertanya. “Vik, gua mau nanya sesuatu.
Selama gua dan Sierra tersesat di hutan belantara ini, gua tiba-tiba diserang oleh makhluk aneh. Wujudnya bikin bulu kuduk merinding sekilas mirip manusia, tapi jelas bukan manusia. Kalau dibilang binatang pun, bentuknya jauh dari hewan yang pernah gua lihat. Tatapannya kosong, gerakannya kaku tapi cepat, seolah haus memangsa.
"Gua masih nggak percaya, mencoba mencerna apa yang terjadi kemaren itu. Lo... lo pernah nggak? Ketemu, ngeliat, atau bahkan dikejar sama makhluk kayak yang baru aja gue ceritain itu?”
Mata Victor sedikit menyipit. Ia menunduk sejenak, lalu menghela napas berat, seakan pertanyaan itu membangkitkan ingatan yang ingin ia kubur. “Ya,” jawabnya akhirnya. “Gua pernah bertemu dengan mereka. Bahkan... lebih dari satu.”
Sierra mengerutkan kening, menoleh cepat ke arah Evan, seakan ingin memastikan apakah ia mendengar jawaban yang sama. Evan menahan reaksinya, hanya menatap Victor dengan sorot tajam. “Maksud lo... lebih dari satu?”
Victor mengangguk lambat. “Awalnya ada tiga. Mereka berkeliaran, mencari sesuatu. Entah apa. Tapi... dua di antaranya sudah tidak bertahan.” Suaranya melemah di akhir kalimat, seakan masih teringat pada sesuatu yang mengerikan.
Evan merasakan bulu kuduknya meremang. “Tidak bertahan... maksud lo mereka mati?”
Victor mendongak, menatap Evan lurus. “Ya. Mereka mati karena tidak mendapatkan penawar.”
Sierra spontan menarik napas pendek. Ia hampir bersuara, tapi Evan cepat melirik ke arahnya, memberi isyarat agar ia tetap diam. Evan lalu kembali menatap Victor. “Penawar? Lo bicara tentang apa?”
Victor terdiam sesaat. Pandangannya menerawang, seperti menimbang-nimbang seberapa jauh ia harus menjelaskan. “Makhluk itu... bukan sepenuhnya asing. Mereka hasil sesuatu... yang gagal. Tubuh mereka terus memburuk, rusak dari dalam. Tanpa penawar, mereka kehilangan sisa-sisa kemanusiaan yang ada.”
Sierra memeluk dirinya sendiri, tubuhnya bergetar halus. Dalam bisikan nyaris tak terdengar, ia berucap pada Evan, “Kayak film horror, Ev... jangan-jangan dia juga...”
Evan meremas pelan tangannya, menegurnya halus agar tidak melanjutkan.
“Kau melihat mereka semua?” tanya Evan lagi, lebih hati-hati kali ini.
Victor menunduk, lalu mengangguk. “Ya. Dan gua bersembunyi selama hampir setahun dari mereka. Bertahan dengan sisa-sisa makanan, air hujan, apa pun yang bisa gua temukan. Gua bukan lagi orang yang sama, Evan.”
Hening menyelimuti mereka. Hanya suara hutan yang terdengar, serangga dan dedaunan yang digerakkan angin. Evan memandang Victor lama, mencoba mencari tanda apakah temannya itu masih bisa dipercaya.
Di dalam hatinya, keraguan mulai muncul, tapi ia tidak menunjukkannya di depan Sierra.
Evan memperhatikan gerak-gerik Victor. Langkahnya kaku, seperti orang yang sedang sakit encok. Punggungnya sedikit membungkuk, matanya memerah seolah menahan sesuatu yang tak bisa ia ceritakan, rambutnya berantakan tak terurus. Suara Victor terdengar berat ketika berkata bahwa dirinya bukan lagi orang yang sama. Kalimat itu menggantung di udara, menyisakan tanda tanya besar di benak Evan.
Sierra yang sejak tadi memperhatikan, menajamkan pandangannya ke tangan Victor. Ada bekas luka panjang di sana seperti cakaran. Bukan cakaran beruang, bukan juga singa. Bentuknya lebih lebar, lebih dalam, seolah sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar hewan liar telah menggoreskan kukunya.
Sierra merinding. Ia mendekat ke telinga Evan dan berbisik dengan gaya khasnya, lirih namun terdengar panik.
“Ev... jangan-jangan dia udah kena cakaran makhluk itu?”
Evan menoleh sekilas, lalu cepat-cepat mengangkat jarinya ke bibir.
“Diam, Sierra,” bisiknya tegas.
Hari mulai gelap. Bayangan pepohonan semakin pekat, seakan menelan cahaya terakhir. Suasana hutan berubah mencekam, dan keberadaan Victor di depan mereka kini terasa lebih misterius.
Evan menghela napas panjang, pikirannya masih berkecamuk setelah mendengar pengakuan Victor tentang makhluk-makhluk itu.
Victor memandang Evan dan Sierra bergantian, sorot matanya serius. “Kalian nggak boleh berada di luar terlalu lama. Begitu malam benar-benar jatuh, makhluk itu akan keluar lebih sering. Dia akan berburu dalam gelap.”
Sierra menelan ludah, matanya melebar. “M-maksud lo, dia aktif di malam hari?” bisiknya dengan nada panik.
Victor mengangguk singkat. “Ya. Aku tau satu tempat. Gua sempit, tidak bisa dimasuki mahluk itu. Itu tempat aku bersembunyi selama ini.” Ia kemudian menatap Evan penuh makna. “Ikut gua sekarang kalo lo semua masih mau selamat.”
Evan sempat menimbang, matanya memperhatikan wajah lama temannya itu. Ada rasa ragu yang menekan di dadanya, tapi logika mengalahkan semua pertanyaan. Malam di hutan ini terlalu berbahaya untuk dilalui tanpa perlindungan.
“Baiklah,” kata Evan akhirnya, tegas namun masih menyisakan nada waspada. “Tunjukkan jalannya.”
Victor mengangguk sekali lalu berbalik, melangkah dengan gerakan yang agak tertahan. Punggungnya terlihat sedikit bungkuk, berbeda jauh dari Victor yang dulu selalu tegap. Evan memperhatikan dengan seksama, alisnya berkerut samar.
Sierra, yang berjalan di samping Evan, mencondongkan tubuhnya dan berbisik lirih, “Kenapa jalannya kayak orang sakit? Ev, lo nggak ngerasa aneh?”
Evan meliriknya sekilas dan memberi kode halus agar Sierra tidak bersuara keras. “Nanti kita bicarakan,” balasnya singkat.
Mereka bertiga pun melangkah menembus semak dan kabut menuju gua yang Victor maksudkan. Suasana semakin sunyi, seolah hutan ikut menahan napas bersama mereka.
Udara di dalam gua terasa lebih berat dan lembap Obor kecil yang dibuat Victor dari lumut kering dan serpihan kayu memantulkan cahaya temaram ke dinding batu yang licin. Bayangan mereka bertiga menari-nari, seolah ikut hidup, menyeringai dengan bentuk yang tak jelas.
Victor duduk di atas batu rata, seakan sudah terbiasa berada di tempat itu. Gerak-geriknya tenang, bahkan terlalu tenang untuk seseorang yang katanya hampir setahun hidup sendirian di hutan. Ia menarik napas panjang, lalu menoleh kepada Evan dan Sierra dengan sorot mata redup, tapi penuh misteri.
“Kalian beruntung bisa masuk ke sini,” ucapnya pelan, suara serak bergema di langit-langit gua. “Kebanyakan orang tidak pernah bertahan sejauh ini.”
Sierra yang duduk agak rapat pada Evan, menyipitkan mata curiga. Ia menggenggam lengan Evan dengan erat, seakan takut jika sewaktu-waktu Victor berubah menjadi sesuatu yang lebih menakutkan dari makhluk-makhluk di luar sana. Tapi Sierra tidak berkomentar frontal. Ia hanya menunduk, lalu berbisik ke telinga Evan. “Dia ngomongnya bikin merinding, Ev...”
Evan menepuk pelan tangan Sierra, mencoba menenangkan. Tapi dalam dirinya sendiri, perasaan tak nyaman mulai merayap. Ia menatap Victor, mencoba mencari kepastian di wajah penuh jenggot dan rambut gondrong acak-acakan itu.
“Victor,” Evan akhirnya bersuara. Makhluk itu...” Evan terhenti, teringat jelas suara parau dan tubuh bengkok menjijikkan yang mereka lihat. “Apa lo juga pernah lihat?”
Victor tidak langsung menjawab. Ia menurunkan obornya ke dekat tanah, membiarkan api kecil itu menyala stabil. Cahaya berkedip-kedip, memperlihatkan bekas luka di lengannya garis panjang yang tampak seperti cakaran. Evan sempat melihatnya, begitu pula Sierra. Tapi Victor tetap tenang, seakan sengaja membiarkan mereka memperhatikan.
“Gua lebih dari sekadar melihatnya,” jawab Victor akhirnya, suaranya pelan tapi menusuk, seolah setiap kata punya bobot yang berat.
Sierra menahan napas, menoleh cepat ke Evan, lalu berbisik cemas, “Maksudnya apa, Ev? Kok serem banget...”
Evan hanya menggeleng, menatap Victor lebih tajam. “Apa maksudmu dengan itu?”
Victor tersenyum tipis, hampir tidak terlihat dalam redupnya cahaya. “Gua bagian dari itu semua.”
Kata-kata itu bergema di gua, menyisakan keheningan yang panjang. Api obor bergetar seakan terpengaruh oleh kalimatnya.
Evan merasakan jantungnya berdetak kencang. Sierra makin erat memegang lengannya, matanya membesar ketakutan. Tapi Victor hanya duduk santai, seakan ia baru saja mengucapkan hal yang biasa, bukan sesuatu yang penuh ancaman.
“Bagian... dari itu semua?” ulang Evan dengan hati-hati. “Lo harus jelasin.”
Tapi Victor tidak menjawab. Ia hanya menatap ke dalam api obor, bibirnya bergerak seolah ingin berkata sesuatu, namun tertahan.
Keheningan itu makin menekan, seolah gua menutup rapat-rapat rahasia gelapnya.
ayoo kita sama² ke rumah sierra van..bikin sierra sadar akan kehadiran dirimu setelahnya langsung akad nikah ..than kita bawa sierra tinggal di hutan konservasi cinta..peduli setan dengan bisnis pak konglo..😛🤣🤣
semangat💪