NovelToon NovelToon
CINTAKU MENTOK Di WANITA MALAM

CINTAKU MENTOK Di WANITA MALAM

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:26.7k
Nilai: 5
Nama Author: Aquarius97

YANG SUKA ROMCOM... MERAPAT SINI✨

PLAGIAT, BISULAN SEUMUR HIDUP YA ! 👊🏻

Restu Anggoro Wicaksono selalu menjadi bahan tertawaan ketiga sahabatnya lantaran di usianya yang hampir tiga puluh tahun, pria itu belum pernah menyentuh seorang wanita.

Jangankan menyentuh, menjalin hubungan asmara saja Restu belum pernah.

Karena itulah, ia mendapat julukan si pria beku tak tersentuh.

Sampai suatu malam, ketiga sahabatnya menyusun rencana gila. Mereka kesal melihat hidup Restu yang terlalu flat.

Akhirnya, mereka bertiga nekat mengirim Restu ke kamar VIP di sebuah klub malam.

Malam itu seharusnya hanya menjadi kenangan singkat Restu bertemu wanita sewaan ketiga sahabatnya. Tapi anehnya, wanita itu justru terus memenuhi pikirannya.

Sayangnya, wanita itu tiba-tiba menghilang tanpa jejak.

Sementara Restu terjebak dalam pencarian panjang di tengah tekanan keluarga yang terus menuntutnya untuk segera menikah.

Apakah Restu bisa menemukan wanita malam itu kembali? Yuk, ikuti terus kisahnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aquarius97, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 CMDWM

"Pak Restu?" Min-min mengulang pelan sambil menatap Pak Ujang, lalu beralih ke arah Restu.

"Iya, Min," angguk Pak Ujang, satpam yang tadi membantunya. "Beliau ini putra Tuan Ardhan. Mungkin kamu belum tahu, karena Pak Restu adalah CEO di kantor pusat."

"Oh begitu..." Min-min mengangguk cepat. "Salam kenal, Pak. Maaf kalau tadi sikap saya kurang sopan," ucapnya sembari menundukkan kepala.

Entah kenapa, tatapan Restu yang terus mengarah padanya membuat Min-min sedikit canggung.

Pak Ujang yang menyadari suasana mulai kikuk segera mencoba mencairkan keadaan.

"Pak Restu kapan tiba di Jakarta?"

Restu akhirnya mengalihkan pandangan dari Min-min ke arah Pak Ujang.

"Saya baru sampai kemarin. Pak Ujang sendiri bagaimana kabarnya?"

Di balik sikap dinginnya, Restu memang selalu perhatian pada hal-hal kecil. Ia tak pernah sungkan menanyakan kabar para karyawan dan memastikan keadaan orang-orang di sekitarnya dengan baik.

"Alhamdulillah baik, Pak. Pak Restu sendiri bagaimana?"

"Saya juga baik."

"Oh ya, Pak. Kenalkan, ini Min-min. Yang biasa ngantar catering ke perusahaan kita," ujar Pak Ujang.

Restu sempat terdiam sesaat, dadanya terasa sedikit sesak. Ternyata Azalea-nya sekarang bekerja sekeras ini.

Pagi mengantar nasi box, malam berjaga di Indomaret.

"Salam kenal, Pak. Semoga Bapak selalu diberi kesehatan," ucap Min-min sekali lagi karena tadi belum mendapat tanggapan.

"Amin. Kamu juga," jawab Restu singkat. "Terima kasih sudah bekerja sama di perusahaan ini dengan baik."

Pak Ujang kemudian berpamitan untuk membawa troli masuk ke dalam gedung. Namun baru beberapa langkah berjalan, Restu menghentikannya.

"Tunggu, Pak. Boleh saya minta satu?"

Pak Ujang dan Min-min langsung menoleh bersamaan. Min-min tampak sedikit terkejut.

"Bapak... mau makan nasi box?" tanyanya ragu.

Restu mengangguk datar. "Memangnya kenapa?"

"E-eh, nggak kenapa-kenapa sih, Pak..." Min-min langsung menggaruk hidungnya yang sebenarnya tidak gatal.

Dalam hati ia sedikit kagum. Seorang CEO sekaligus anak pemilik perusahaan ternyata tidak gengsi menyentuh makanan sederhana seperti ini.

"Saya antar ke ruangan Bapak saja ya," sahut Pak Ujang cepat.

"Baiklah, boleh. Terima kasih."

"Kalau begitu saya juga pamit, Pak," ujar Min-min sopan. "Setelah ini saya juga harus lanjut kerja. Permisi."

Restu hanya mengangguk kecil. Wajahnya tetap datar, namun matanya tak lepas mengikuti langkah Min-min hingga wanita itu masuk ke dalam mobil box putihnya dan perlahan menghilang dari pandangan.

Begitu Min-min benar-benar berlalu, barulah senyum tipis muncul di bibir Restu. Ia bahkan tertawa kecil, karena jika dipikir-pikir, rasanya semesta seperti sedang mempermainkannya.

Lima tahun sudah ia mencari, tanpa sekalipun menemukan titik terang.

Namun entah kebetulan atau memang takdir, di kota yang tak pernah ia bayangkan ini, Restu justru tanpa sengaja berkali-kali dipertemukan kembali dengan Azalea.

Restu menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.

"Ya Allah... ternyata memang aku yang kurang bersabar. Terima kasih, karena akhirnya Engkau mengabulkan doaku," gumamnya lirih sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam kantor.

...🕊️🕊️🕊️...

Sejak pagi, suasana Grand Vista terasa berbeda dari biasanya. Seluruh karyawan diminta berkumpul di aula utama karena kabarnya, CEO pusat dari Surabaya akan datang.

Tak lama kemudian, Restu muncul dengan langkah tenang dan wajah datar yang sulit ditebak. Kali ini, Niko berjalan beberapa langkah di belakangnya.

Sebagian karyawan lama memang sudah mengenalnya. Namun bagi para pegawai baru, Restu adalah sosok asing. Restu melangkah naik ke podium dengan tenang. Tatapannya menyapu seluruh ruangan sebelum akhirnya ia membuka suara.

"Selamat pagi semuanya," sapanya datar. "Saya berdiri di sini hanya untuk memperkenalkan diri. Mungkin sebagian dari kalian sudah mengenal saya, tapi saya lihat di sini juga ada cukup banyak karyawan baru."

Restu berhenti sejenak, lalu kembali melanjutkan.

"Perkenalkan, nama saya Restu. Saya di perintahkan langsung oleh Tuan Ardhan untuk mendampingi CEO Grand Vista selama beberapa waktu ke depan."

Tatapannya kembali menyapu seluruh aula.

"Saya harap kita semua bisa bekerja sama dengan baik. Itu saja yang ingin saya sampaikan. Terima kasih."

Tanpa basa-basi lain, Restu langsung menuruni podium. Tak ada senyum, tak ada basa-basi. Restu pergi begitu saja, meninggalkan tekanan yang masih terasa di seluruh ruangan.

Suasana aula yang tadinya hening perlahan berubah ramai begitu sosoknya menghilang dari pandangan. Bisik-bisik kecil mulai terdengar di berbagai sudut.

"Astaga... Pak Restu ganteng banget, tapi aura itu lho dingin banget ya ampun."

"Bener! Aku tadi sempat papasan sama dia. Rasanya badan gue langsung kaku."

"Aku malah sampai keringat dingin. Tatapannya tajem banget, bikin deg-degan."

Berbeda dengan para karyawan baru yang sibuk membicarakan ketampanan Restu, beberapa staf lama justru terlihat tegang.

"Nggak biasanya CEO pusat turun langsung kayak gini," bisik salah satu staf senior pelan.

"Betul. Kalau sampai Pak Restu diminta turun tangan, berarti ada sesuatu yang terjadi, tentunya masalah serius," sahut yang lain dengan wajah cemas. "Kita harus lebih hati-hati."

Sementara itu, seseorang di sudut ruangan tampak paling gelisah.

Sugandi, CEO Grand Vista saat ini.

Tubuhnya menegang, bahkan kedua tangannya mulai berkeringat dingin setelah mendengar sendiri ucapan Restu tadi.

* *

Begitu keluar dari aula, Restu tidak langsung menuju ruangannya. Langkahnya justru berbelok menyusuri lorong perusahaan, memperhatikan detail di sekelilingnya.

Tatapan tajamnya sesekali menyapu meja kerja, kursi, hingga para karyawan yang berpapasan dengannya. Raut wajahnya berubah saat melewati lobi utama.

Meja resepsionis tampak kosong, tak ada seorang pun di sana. Restu segera menghentikan salah satu staf yang kebetulan melintas.

"Ke mana resepsionis kalian?" tanyanya datar.

Meski nada suaranya tidak tinggi, tetap saja membuat jantung orang yang ditanya langsung berdetak tidak karuan.

Andira, staf HRD itu, langsung gelagapan. "Be-belum datang, Pak," jawabnya gugup. "Tapi biasanya dia nggak pernah terlambat kok, Pak. Baru kali ini."

Restu menatapnya beberapa detik, hingga Andira tak berani mengangkat kepala.

"Kalau dia sudah datang, suruh dia ke ruangan saya!" titahnya tegas.

"B-baik, Pak."

Restu memang sangat menjunjung tinggi kedisiplinan. Bahkan untuk hal kecil sekalipun, ia tidak pernah memberi toleransi. Baginya, jika ia sendiri mampu datang tepat waktu, maka orang lain pun seharusnya bisa melakukan hal yang sama.

Beberapa menit kemudian, suara langkah tergesa terdengar dari arah pintu masuk. Seorang wanita muda berseragam rapi berlari kecil menuju meja resepsionis dengan napas memburu.

Belum sempat ia menyentuh buku absensi di mejanya, Andira sudah lebih dulu menghampiri.

"Qia, kamu kenapa? Kok tumben terlambat?" tanyanya khawatir.

"Anu, Mbak... si Butet tiba-tiba rewel. Bannya pecah, harus diganti dulu," jawab Qiana sambil mengerucutkan bibir.

Andira langsung memijat pelipisnya frustasi.

"Kamu tahu nggak sih, CEO pusat datang hari ini! Dan beliau minta kamu ke ruangannya sekarang juga!"

Mata Qiana langsung membesar. "Hah?! Mampus..." refleks ia menepuk jidatnya pelan.

"Mampus tenan kamu, Qi. Kamu belum tahu kan? Orangnya dingin beudd. Auranya tuh bikin ngeri! Hiiiii..." Andira semakin mengompori.

"Mbak, jangan gitu, aku takut," rengeknya lemas.

"Makanya sana cepat temui beliau, keburu ngamuk loh, Qi!"

"Baiklah, Mbak."

Dengan langkah ragu, Qiana berjalan menuju lift. Sepanjang perjalanan naik ke lantai atas, jantungnya terus berdegup kencang.

Ting

Pintu lift terbuka.

Qiana menarik napas panjang, menyiapkan diri untuk di maki-maki. Setelah tenang, akhirnya ia mengetuk pelan pintu ruangan CEO.

"Masuk."

Suara berat itu langsung terdengar dari dalam. Qiana membuka pintu perlahan lalu melangkah masuk.

Saat itu, Restu masih menunduk fokus memeriksa beberapa laporan di atas meja.

"Selamat pagi, Pak. Anda memanggil saya?" tanyanya hati-hati, berusaha terdengar tenang.

"NONA QIANA, ANDA-"

Restu mendongak tajam. Namun kalimatnya langsung terhenti begitu melihat wajah wanita di hadapannya.

Tatapan mereka bertemu sesaat. Udara di ruangan itu seolah ikut menegang.

Qiana buru-buru menunduk, tak sanggup menahan sorot mata Restu yang terasa begitu tajam.

"Maafkan saya, Pak. Saya memang salah," ucapnya lirih, mengakui kesalahan.

Restu perlahan meletakkan kacamatanya di atas meja, lalu mengembuskan napas pelan. Dari luar, wajahnya tetap datar seperti biasa.

Namun di dalam hati, pikirannya justru kacau.

"Astaga..." batinnya frustasi. "Sebenarnya dia ini siapa?"

...ΩΩΩΩΩΩΩ...

Wah, siapa Qiana ini? Saingannya Min-min kah?

1
Miu.Nuha
masa lalu gk usah dibuka lagi...
Miu.Nuha
ber oh ria /Facepalm/
oh ah oh eh oh uh...
Miu.Nuha
akal2an Oma 😅
Miu.Nuha
ih kenapa pula ini Oma 🤭
apa oma kecewa Restu gk nikah2, hehe...
Miu.Nuha
hahaha ngelawak mulu neneknya 😭😭
Miu.Nuha
hilih, giliran nama cucuny aja gk mau nyebut, lupa apa niat ngelupa lagi nih 😫
Miu.Nuha
apa itu mendiang suami 🤔
Miu.Nuha
Omamu tau2 ketemu sama qiana, Res...
entah apa yg terjadi sama Oma, malah jadi akting jadi nenek pikun 😭
Miu.Nuha
mahal pak beli susu 😭😆
Miu.Nuha
mungkn saatny pk restu tampil 👍
gk mau kalah sama Angga
Miu.Nuha
calon istriku sholihah bngt, batin restu ❤
Miu.Nuha
stalker cucunya donk 😆😆😆
Miu.Nuha
takut ketauaann 😭
astagaa... bestiemu msh setia bngt Res smpe inget sama gadis yg bikin kamu gk bisa mupon...
Miu.Nuha
siap2 jadi Angga terus kamu Res kalo smpe nikah sama Qiana 😆😆
Miu.Nuha
untung bisa boong
Mingyu gf😘
heh justru itu bagus, karena se*s bebas sarang penykit
Mega Siregar
janganlah dipaksa...
jika buru2 tanpa mengenal baik pasangan yang ada hanya menimbulkan ketidakbahagiaan dalam rumah tangga
⋆.ೃ࿔ִֶָ🪽་༘*:・݁ ˖Ი𐑼⋆ ‎ꫂ᭪݁⋆˚
100 milyar kek bukan apa2 aja ke kamu, res😌
Rain Aricia
Nadine gatal ihh ga sukaa
Rain Aricia
Dah deg2an luan ya Res😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!