Tahun pertama pernikahanku bersama mas Abim kehidupan kami sangat harmonis dan bahagia, manakala diriku sudah mengandung buah hati dari cinta kita.
Tapi siapa sangka, tahun kedua pernikahanku di landa badai yang amat dasyat saat aku melahirkan seorang putri cantik yang justru di benci oleh ibu mertuaku yang menginginkan seorang penerus berjenis kelamin laki-laki.
Siapa sangka, diam-diam suamiku telah menikah dengan mantan sahabatnya. Yang merupakan wanita pilihan ibunya. Dan ibu mertuaku memintaku untuk menerima pernikahan kedua suamiku dan madunya itu.
Apakah yang harus aku lakukan? Bertahan atau melepaskannya? Ikuti kisahku..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AniitaLee_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Godaan Jenita
Kini Abim sudah berada di rumah Jenita. Rumah bergaya vintage itu pun nampak asri dengan berbagai tanaman bunga yang di tanam serapi mungkin di halaman rumah bercat perpaduan putih abu-abu itu.
Abim masih mengingat dengan jelas, bahwa Jenita sangat menyukai bunga. Ya saking sukanya dengan bunga, hampir seisi rumah wanita itu di penuhi bunga. Entah bunga asli atau bunga palsu yang menghiasi setiap sudut rumah Jenita.
Abim memasuki rumah Jenita dengan mudah karena tidak terkunci.
“Mas Abim!” teriak Jenita memecah lamunan Abim yang langsung menatap ke arah Jenita yang baru turun dari kamarnya yang berada di lantai atas.
Semenjak menikah panggilan Jenita berubah kepada Abim. Seperti halnya Inara istri sah Abim, Jenita juga memanggil Abim dengan panggilan ‘mas’.
“ Mas Abim! Akhirnya kamu datang juga!”
Jenita langsung berlari dan memeluk tubuh tegap Abim, namun Abim berusaha menolak dan melepaskan pelukan Jenita. Apalagi Jenita saat ini hanya memakai dress mini. Entah apa maksudnya, Abim tak begitu menyukai Jenita yang selalu berpakaian terbuka. Sangat berbanding terbalik dengan Inara yang selalu berpakaian sopan.
“Jaga sikapmu Jenita! Lebih baik kamu ganti pakaian, aku tak suka caramu berpakaian terbuka seperti ini!” ketus Abim.
“Kenapa? Kamu takut tergoda ya?”
Abim pun membuang wajahnya ke arah lain dengan raut wajah memerah menahan marah. Bagaimana tidak marah? Tadi Jenita benar-benar mengadukan sikapnya kepada sang ibu. Akibatnya, Bu Retno memarahi Abim. Jika ibunya sudah bersuara, Abim tidak bisa bertindak lagi.
“Cepat katakan! Apa maumu Jenita? Jangan buang-buang waktuku, karena aku ingin segera pulang dan berkumpul dengan anak istriku!” tekan Abim.
“Mas Abim apa kamu lupa? Aku sekarang juga sudah jadi istri kamu. Aku juga ingin di perlakukan seperti Inara.”
“Kalian berbeda Jenita. Aku menikahi Inara karena cinta sedangkan denganmu, aku hanya memenuhi keinginan ibu saja.”
Jenita mengepalkan sebelah tinjunya karena tak terima saat Abim membedakan ia dengan Inara.
”Baiklah, kalau begitu demi ibu. Ayo kita makan siang bersama, setidaknya mas kesini harus mencicipi masakanku dahulu. Kebetulan aku habis masak cap cay dan cumi balado. Bukankah itu makanan kesukaanmu mas?” bujuk Jenita sambil merayu.
“Ya kamu tahu itu, baiklah hanya makan saja selepas ini aku langsung pulang.”
Saat ini Jenita hanya tinggal sendirian di rumah itu. Kedua orang tua Jenita sudah bercerai dan menikah lagi. Dan Jenita pun memilih tinggal seorang diri di rumah kedua orang tuanya dahulu.
“Setidaknya kamu sudah mencicipi masakanku, itu cukup membuatku senang mas. Selama ini aku sudah berusaha ikut les memasak karena aku tahu kamu menyukai wanita yang pintar masak bukan?”
Abim pun mengangguk. Memang dulu Abim pernah mengatakan kepada Jenita bahwa kriteria wanita idamannya seperti apa.
Jenita pun mengambil secentong nasi beserta lauknya di atas piring kosong milik Abim begitu juga dengannya. Tak lupa menuangkan, es jeruk kesukaan Abim ke dalam gelas besar di samping pria itu.
Sebagai orang lama tentu Jenita sangat mengenal siapa Abim, dan apa saja kesukaan Abim. Semua itu tersimpan rapi dalam memori Jenita. Wanita yang mencintai Abim sedari lama. Bahkan kini takdir pun sudah menyatukan mereka meski sebagai istri kedua pria manis itu, Jenita tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini begitu saja.
Abim mulai menyuapkan sendok demi sendok makanan itu ke dalam mulutnya. Rasanya memang enak dan pas di lidah Abim. Sehingga makanan di atas piring miliknya pun tandas tak tersisa.
Abim pun mulai meminum es jeruknya hingga habis. Karena merasa masih kepedesan, Abim pun berniat mengambil air putih tak jauh dari meja makan itu. Sementara itu Jenita merapikan piringnya dan piring Abim membawanya ke westafel untuk di cuci.
Begitu Jenita memutar kran westafel itu, rupanya krannya patah dan air pun mengucur deras dari pipa yang terbuka. Jenita yang tak mampu menghindar pun tersiram air yang mengucur deras dari pipa kran.
“Mas Abim! Mas! Tolongin aku!”
Abim yang terpanggil pun bergegas ke arah Jenita yang tubuhnya sudah basah kuyup karena air.
“Jen? Apa yang terjadi?”
“Krannya patah mas! Cepat cari sesuatu yang bisa nutupin lubangnya!”
Abim pun mulai mencari sesuatu yang bisa menutupi lubang kran itu. Namun Abim tak kunjung menemukannya. Hingga pandangannya melihat ke arah gorden kecil yang menutupi kolong dapur. Abim memutuskan tali dan mengambil gorden itu.
Setelah itu Abim langsung berlari ke arah Jenita yang masih berusaha menutupi lubang kran yang patah itu.
“Sudah dapat?”
“Sudah!” Abim pun mulai menyumpal pipa kran itu dengan kain yang ia bawa hingga semprotan air itu mulai berkurang.
“Gara-gara kran patah, aku jadi basah gini!” gumam Jenita sambil menarik-narik bajunya yang basah.
Sedangkan Abim hanya terdiam melihat pemandangan di depannya itu. Bagaimana tidak, melihat tubuh Jenita basah kuyup begitu membuat sesuatu dalam tubuhnya merasa kegerahan.
Karena di sana tercetak jelas, noda hitam yang menonjol menandakan Jenita tidak memakai pakaian pembungkus lain. Bahkan titik noda hitam itu terlihat jelas mencuat tegak karena kedinginan. Membuat sesuatu dalam diri Abim mulai mengeras.
“Mas Abim, ayo ganti pakaian dulu. Bajumu basah. Ikut aku ke kamar!” Tanpa persetujuan Abim, Jenita pun menarik lengan Abim dengan paksa.
“Akh! Iya!”
Sedangkan Abim menurut saja. Bagai kerbau yang di cocok hidungnya. Abim nampak mengekori Jenita dari belakang sambil memperhatikan lekuk tubuh Jenita yang begitu padat dan berisi dan sangat terlihat jelas karena basah. Bahkan buah melon tak bersarung wanita itu ikut bergerak kanan dan ke kiri setiap Jenita berjalan berlenggak lenggok.
Ada rasa ingin menjamah tubuh indah itu dalam diri Abim. Tapi Abim takut, namun sesuatu di balik celananya semakin mengeras sempurna hingga Abim merasakan sesak di sana.
Bersambung..
Selamat buat Inara dan Indra pny anak kembar dan jelita
DinDut itu Pacarku ngasih iklan
DinDut Itu Pacarku ngasih iklan
Inara hrs mengusut sampai tuntas
DinDut Itu Pacarku ngasih iklan
DinDut Itu Pacarku ngasih iklan
klo indra tidak selamat malas lanjut baca nya
DinDut Itu pacarku ngasih iklan
Buk Retno bnr2 pembuat masalah nih
DinDut Itu Pacarku ngasih iklan
DinDut Itu Pacarku ngasih iklan