NovelToon NovelToon
Cinta Seorang Ustadz

Cinta Seorang Ustadz

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis
Popularitas:724k
Nilai: 4.9
Nama Author: RA_TMYHU

Hidup tanpa orangtua memang sulit. Adea adalah gadis yatim piatum yang di tinggal mati oleh kedua orang tuanya. Hingga membuat Dea menjadi hidup bebas.

Suatu hari, paman dan bibinya datang ke kota untuk menjemput Dea. Mereka mengajak Dea tinggal bersama.

Dea terpaksa tinggal bersama paman dan bibinya. Yang ada di lingkungan pesantren. Gaya hidup Dea sangatlah bertentangan dengan masyarakat sekitar.

Walau demikian, Dea di lamar oleh seorang ustadz. Yang mencintai Dea.


Bagaimana perilaku Dea setelah menikah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RA_TMYHU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Marah

بسم الله الرحمن الرحيم

▪︎▪︎▪︎

Kini sudah tiga hari ustadz Azmi tidak pulang ke rumah. Tiap hari pula Dea uring-uringan tidak jelas, terkadang ia memarahi Yuli. Walau Yuli tak bersalah, tapi dengan sabar Yuli menghadapi tingkah laku kakak iparnya. Yang begitu kasar dan juga kekanakan.

Begitu pun pagi ini, Dea memarahi Yuli hanya karena membangunkan dirinya saat solat subuh.

“Adea, kamu sudah punya suami. Jangan seperti anak kecil, solat tidak akan membuatmu mati karena bangun pagi.” Tutur Yuli lembut.

“Apa katamu? Kau menyumpahiku agar cepat mati?” Dea melototkan ke dua matanya.

Tampang galak Dea hanya membuat Yuli terkekeh, ia merasa gemas dengan kakak ipar nya.

“Bukan seperti itu maksudku, aku hanya ingin kau tak perlu marah jika di bangunkan. Itu adalah kewajiban kita sebagai umat islam.”

“Serah kamu, aku buat sarapan dulu.” Dea berjalan menuju dapur.

Yuli memperhatikan punggung Dea yang sedang membuat sarapan. Ia kagum dengan Dea, walau Dea seperti anak yang tidak terdidik, tapi ia rajin membersihkan rumah. Dan juga pintar memasak.

Yuli menghampiri Dea yang sedang membuat sarapan, ia membantu Dea. Setelah itu mereka berdua sarapan bersama.

“Kamu rindu sama kak Azmi?” tanya Yuli di sela-sela makannya.

Mendengar nama ustadz Azmi, ada rasa bersalah yang di rasakan Dea.

“Gak kok, jangan ngaco kamu.” Jawab Dea tersenyum kaku.

“Adea, kamu itu tak pandai berbohong. Aku tau kamu pasti merindukan kakak. Tapi kamu menyembunyikan rasa rindu kamu,” Yuli menatap wajah Dea sekilas, lalu ia kembali fokus pada sarapannya.

“Yuli kok bisa tau ya, kalau aku merindukan kakaknya? Apa keluarga mereka punya indra ke-6? Sampai bisa membaca pikiran orang lain? Tidak Umma, Abah, Azmi, dan Yuli sama aja.” Umpet Dea dalam hati.

“Dea, kok malah bengong sih?” Yuli melambaikan tangannya ke arah Dea.

“Ohh, iya aku merindukan kakak mu.” Ucap Dea tanpa sadar.

“Tuh kan, benar dugaan aku. Kamu tuh uring-uringan karena kak Azmi tak pulang rumah.”

“Buset malah keceplosan lagi, dasar mulut gak bisa di ajak kerja sama.” Gerutu Dea kesal.

“Ayo cepat habiskan sarapan kamu, kita pergi ke pesantren.” Ujar Yuli, seraya beranjak dari duduknya membawa piring kotor dan menyucinya.

“Mau ngapain kesana?” tanya Dea pura-pura bodoh.

“Mau nyamperin suami kamulah, udah aku mau siap-siap dulu ke rumah sebelah.” Pamit Yuli.

Dea hanya mengangguk, lalu ia membersihkan meja makan.

▪︎▪︎▪︎

Dea dan Yuli berjalan kaki menuju pesantren, letak pesantren tidak jauh. Hanya melewati beberapa rumah saja.

Tiba di pesantren Yuli mengajak Dea duduk di salah satu bangku di bawah pohon. Karena ustadz Azmi sedang mengajar, jadi mereka menunggu sampai jam pelajaran selesai.

“Cowok di sini ganteng-genteng semua ya,” Dea menatap sekumpulan pria yang sedang membaca sholawat di depan kelas mereka.

“Astagfirullah, jaga pandangan kamu.” Yuli menutup mata Dea dengan ke dua tangannya.

“Apaan sih kamu? Aku hanya memandang bukan menggoda.” Dea menepis tangan Yuli kesal.

“Adea, gak bisa memandang orang yang bukan mahram kita, itu namanya zina mata. Dan kamu sudah punya kak Azmi.”

“Kamu tuh ya, pake gengsi segala. Kalau suka tinggal semperin,” ketus Dea.

“Dea, kok kamu malah nuduh aku suka sama mereka sih? Gak nyambung bangat,” balas Yuli heran.

“Aku gak nuduh kamu,” ujar Dea dengan nada sewot.

Di tengah-tengah perdebatan Yuli dan Dea, ustadz Azmi keluar dari kelas. Tapi langkahnya terhenti ketika seorang perempuan menghampirinya.

“Ada apa?” tanya ustadz Azmi.

“Saya mau nanya ustadz,” jawab perempuan tersebut.

Ustadz Azmi menjelaskan materi tersebut, agar si penanya paham. Lalu ia melanjutkan langkahnya menuju ruangan.

“Ayo keruangan kakak,” ajak Yuli.

Dea tak menjawab, ia hanya mengikuti langkah kaki Yuli dari belakang. Tiba di depan ruangan ustadz Azmi, Dea langsung menerobos ke dalam tanpa mengucapkan salam. Yuli mengerti dengan kakak iparnya, ia memilih menunggu di luar ruangan.

Ustadz Azmi yang baru saja menaruh lembaran kertas ke atas meja, kaget dengan keberadaan istrinya yang tiba-tiba saja sudah di dalam.

“Astagfirullah, Dek salam dulu kalau masuk.” Ustadz Azmi mengelus dadanya.

Dea tak berkutik, ia menghampiri ustadz Azmi dengan raut wajah yang begitu menyeramkan. Tak ada senyum sama sekali.

“Jadi ini alasan kamu pergi dari rumah? Kamu malah dekat sama perempuan lain iya?” tanya Dea dengan wajah yang memerah.

“Dek jangan suudzon, itu dosa. Mas sudah punya Adek, jadi itu gak mungkin. Walau mas belum punya istri mas tak mungkin dekat sama yang bukan mahram.” Jawab ustadz Azmi tegas, berharap Dea akan mengerti.

Namun, jawaban ustadz Azmi malah membuat Dea bertambah murka. Ia melempar semua buku dan juga kertas yang ada di atas meja ke arah ustadz Azmi.

“Istigfar Dek, jangan seperti ini. Tahan emosi,” ustadz Azmi menahan tangan Dea yang memberontak di ruangannya.

“Brengset, kamu pikir aku buta? Kamu ninggalin aku di rumah. Tapi kamu malah senang dekat sama anak-anak pesantren,” Dea mendorong kuat tubuh ustadz Azmi. Dan akhirnya cekalan tangannya terlepas.

“Dek bukan seperti itu—”

“Bukan seperti itu, apa kamu pikir aku gak lihat kamu tersenyum saat perempuan itu mendekatimu.” Potong Dea.

“Dek tenang dulu, beri mas waktu untuk menjelaskan.”

“Aku gak mau mendengar penjelasan dari kamu.” Ketus Dea, seraya membuka jilbabnya dan melempar ke wajah ustadz Azmi.

“Astagfirullah Dek, asal Adek tau, mas menginap di asrama hanya untuk menenangkan diri. Mas butuh waktu, saat mendengar perkataan Adek waktu itu mas benar-benar kecewa.”

Dea terdiam, ia mencerna perkataan ustadz Azmi. Helaan napas terdengar, ia memalingkan pandangannya ke arah pintu. Ada Yuli yang berdiri di balik pintu dengan tatapan sendu.

1
Wasmi Jamal
tokoh-tokohnya sangat pas dengan watak yang di perankan
Widodo Mojogedang
Luar biasa
Mamah Kekey
setuju...👍🥰❤️
Mamah Kekey
lanjutkan kk tambah seruu
Mamah Kekey
sehat selalu kk
Mamah Kekey
setuju Habil dan ulma ..namanya bagus pas cocok.
Mamah Kekey
baby Mon...
Mamah Kekey
istri yg berselingkuh wajib d cerai...
Mamah Kekey
syafakillah buat kk author nya...
Mamah Kekey
iya setuju minta visualnya dong kk ottor...
Mamah Kekey
apakah Andre orang baik atau ada maksud tertentu...
Mamah Kekey
td minta sekarang malu Dea...😂
Mamah Kekey
lanjut
Mamah Kekey
jauhkan dari pelakor thor
Mamah Kekey
sy kecewa dengan pemahaman ustadz Azmi...kenapa harus pergi dari rumah sampai gak pulang 3 hari..istri perlu bingbingan pemahaman agama nya kurang.
Mamah Kekey
rumah minimalis isinya lengkap
Mamah Kekey
lanjut kk tambah seruu
Mamah Kekey
Alhamdulillah mampir kk
Mamah Kekey
assalam mualaikum 🙏
Roya Pasole
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!