Namaku Indira.
Karena kesalahan satu malam yang tidak aku sadari, aku harus melahirkan bayi kembar di usia yang masih sangat muda. Akan tetapi, aku lagi-lagi harus menelan pil pahit saat mengetahui bahwa satu diantara kedua anakku meninggal dunia beberapa detik setelah dilahirkan.
Dukung novel baru aku ya kak.
Bismillah, semoga kalian semua suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kopii Hitam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13.
Tepat pukul tujuh malam, Indira terbangun dan terperanjat mendapati Nala yang tengah duduk di sisi brankar dengan kaki ditekuk ke atas, tangannya terlipat di atas dengkul dengan wajah tersembunyi diantara keduanya.
Indira menghela nafas panjang dan beringsut, dia segera duduk dan meraih lengan pria itu. "Hei, bangun!"
Seketika Nala tersentak dan segera menurunkan kakinya dari kursi lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Nala sontak tersenyum sambil berkata. "Ma-maaf, aku ketiduran."
"Tidak apa-apa, aku tau kau lelah. Lanjutkan saja tidurnya, aku harus segera pulang." Indira berusaha turun dari brankar, Nala pun lantas bangkit dari duduknya.
"Hati-hati!" ucap Nala sembari merentangkan tangannya hendak membantu Indira.
"Tidak usah, aku sudah baikan. Kalau begitu..."
"Bolehkah aku mengantarmu pulang? Ini sudah malam, aku tidak mungkin membiarkanmu menyetir dalam keadaan seperti ini." tawar Nala.
"Tapi..." Indira hendak menolak namun Nala dengan segera melingkarkan tangannya di lengan sang dokter.
"Anggap saja aku ini adalah temanmu, jangan berpikir yang bukan-bukan!" Nala memapah Indira menuju pintu.
Indira sebenarnya merasa tidak enak hati tapi setelah dipikirkan, ucapan Nala ternyata ada benarnya juga. Dia rasanya tidak sanggup menyetir mobil menempuh perjalanan yang cukup jauh.
Sebelum pergi, Nala menitipkan Nasya pada Sumi yang baru saja tiba dan meminta pelayan itu menunggu di dalam. Kemudian Nala menghubungi Rudi untuk datang menjemputnya di kediaman Indira. Dia akan menaiki mobil sang dokter, setelah itu kembali ke rumah sakit bersama sang sopir.
Setelah membantu Indira duduk di mobil, Nala segera menyusul dan duduk di bangku kemudi. Pria itu menyalakan mesin dan melajukan kendaraan itu meninggalkan gerbang sesuai arah jalan yang Indira katakan. Sambil menyetir, Nala mengeluarkan ponselnya dan meminta Rudi menjemputnya ke alamat yang Indira sebut barusan.
Selang beberapa menit, mobil yang dikendarai Nala masuk ke dalam sebuah pekarangan rumah yang cukup megah. Nala mengerutkan keningnya, dia tidak menyangka bahwa Indira ternyata tinggal di tempat itu bersama orang baik yang sudah menampungnya sebagai anak. Indira benar-benar beruntung bisa bertemu dengan Hendri dan keluarganya, berbeda dengan dirinya yang sudah tinggal seorang diri sejak berumur belasan tahun, dia bahkan harus banting tulang hingga menjadi orang seperti saat ini.
"Sudah sampai, kalau begitu aku..."
"Ibu..." seru Isa yang tiba-tiba muncul dari balik pintu utama, bocah itu berlarian menyambut kedatangan Indira yang baru saja turun dari mobil.
Seketika Nala menyipitkan matanya, dia sontak terkejut mematut Isa dari ujung kaki hingga ujung rambut. Nala pun lantas tersenyum melihat Isa berhamburan ke pelukan Indira.
"Ibu dari mana saja? Kenapa pulang telat lagi?" tanya bocah itu seraya bergelantungan di paha Indira kemudian memutar leher ke arah Nala dan menatapnya dengan raut bingung.
"Sayang, maafkan ibu ya. Tadi ibu..."
"Anda siapa? Kenapa Anda..."
"Isa, jangan bicara seperti itu!" selang Indira, dia merasa Isa tidak sopan berbicara seperti itu pada orang yang lebih tua.
"Tidak apa-apa, namanya juga anak-anak." ucap Nala, dia tidak keberatan karena bocah itu sama sekali tidak mengenal dirinya sebelumnya.
Namun dari lubuk hati yang paling dalam, Nala merasa tersentuh melihat kepolosan bocah itu. Ditambah tatapan matanya yang membuat jantung Nala berdegup kencang tak karuan. Dia seperti pernah melihat bocah itu sebelumnya, tapi dimana?
"Kenalkan, nama saya Nala. Kamu bisa memanggil om Nala jika kamu tidak keberatan." imbuh pria itu dengan pandangan berkabut.
Dengan polosnya Isa menjauh dari Indira kemudian mengulurkan tangan mungilnya ke arah Nala. "Saya Isa, Om."
Nala lantas tersenyum kembali, perasaan di hatinya semakin tak menentu saat menyambut uluran tangan bocah itu.
"Baiklah, sekarang ibu kamu sudah pulang, kalau begitu om pamit dulu, sampai ketemu di lain hari." ucap Nala meminta izin, namun saat hendak pergi tiba-tiba Hendri menyusul keluar dan menyambut kedatangannya dengan sopan. Pria itu bahkan tidak membiarkan Nala pulang sebelum masuk terlebih dahulu.
Nala sudah berusaha menolak, tapi bukan Hendri namanya jika tidak bisa meluluhkan hati seseorang. Terpaksa Nala menurut dan mengikuti langkah pria itu menuju pintu utama, Indira dan Isa pun menyusul di belakang seraya bergandengan tangan.
Di dalam, kebetulan sekali keluarga itu hendak menyantap makan malam, Hendri pun mengajak Nala makan bersama sebagai jamuan pertama untuk tamunya yang tidak diduga.
Berkali-kali Nala menolak karena merasa tidak enak hati, akan tetapi kini giliran Ulfa yang mendesaknya. Menurut wanita itu tidak sopan seorang tamu menolak ajakan tuan rumah untuk makan bersama. Apalagi yang bisa dilakukan Nala selain menurut dan hanya menurut.
Setelah semuanya duduk, makan malam pun dimulai. Nala mengambil makanan sedikit demi menghargai keluarga tersebut. Namun entah mengapa, hati Nala kembali terenyuh melihat Isa yang makan dengan lahap. Nala benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya.
Pandangan pertama dengan bocah itu membuat hati Nala terasa sangat damai, sekilas ada beberapa kemiripan diantara mereka berdua.
"Om Nala makan yang banyak ya, lihat saja tubuh Om sangat kurus." celetuk bocah itu mencairkan suasana. Tidak hanya Nala, bahkan Indira dan kedua orang tua angkatnya ikut terbahak mendengar ucapan Isa yang mengejutkan.
Benar kata Isa, beberapa hari belakangan Nala memang kehilangan nafsu makan. Pikirannya selalu tertuju pada Nasya yang sampai saat ini membuatnya kerepotan, meskipun begitu dia tidak pernah marah karena tau inilah resiko membesarkan anak orang lain tanpa seorang pendamping di sisinya.
Usai makan, Isa mengajak Nala duduk di taman. Bocah itu juga tidak mengerti kenapa bisa secepat ini lengket dengan pria itu. Mungkin karena hati anak sekecil itu masih bersih, dia bisa menilai siapa yang baik atau tidak untuk didekati.
"Sebenarnya Om ini siapa sih? Selama ini Isa belum pernah melihat ibu pulang dengan pria manapun. Apa Om..."
"Tidak, Isa. Jangan berpikir sejauh itu! Om dan ibu hanyalah teman, ibu Isa itu dokternya anak om." terang Nala memotong perkataan bocah itu.
Isa manggut-manggut mendengar penjelasan Nala, sedetik kemudian matanya membulat menatap pria itu dengan seksama. "Anak om yang mana? Bocah perempuan yang diceritakan ibu itu?" tanyanya penasaran.
"Ya, Isa benar. Sekarang anak om sedang dirawat di rumah sakit, ibu Isa lah yang sudah membantunya." angguk Nala seraya mengacak rambut Isa gemas, lagi-lagi dia merasa jantungnya berdegup semakin kencang.
"Hmm... Ibu memang baik, tapi..."
"Tapi kenapa?" tanya Nala dengan kening mengernyit.
"Tidak apa-apa, tidak usah dipikirkan!" jawab Isa menggelengkan kepala.
Sejenak Nala bergeming menelaah kata-kata Isa barusan, bocah itu juga terdiam dan larut dalam pemikirannya sendiri.
Pada akhirnya, Nala memilih pamit karena tidak bisa berlama-lama di sana, dia harus kembali ke rumah sakit menemani Nasya yang dia tinggal dalam keadaan tidur. Dia sangsi bocah itu akan mencarinya saat terbangun, Sumi tidak akan bisa menjinakkannya.
"Sudah malam, om pulang dulu ya. Isa juga masuk dan istirahat, jangan sampai sakit seperti anak om!" setelah mengatakan itu, Nala mengantarkan Isa ke dalam rumah, dia pun berpamitan pada Indira, Hendri dan juga Ulfa. Kebetulan Rudi sudah datang dan menunggu di luar pagar.
lanjut Thor 💪💪💪🥰
makin seruu
tapi Alhamdulillah semua sudah jelas
buat indira semoga selalu bahagia setelah ini
untuk othornya sukses selalu sama karya-karya nya selalu ditunggu
terimakasih sudah menghibur 🙏🫰😘😘😘