NovelToon NovelToon
Kisah Yang Belum Tuntas

Kisah Yang Belum Tuntas

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nuryanthi Sudarma

Pertemuan tak di sengaja di sebuah pesta menjadi jalan dua anak manusia menyelesaikan masalah yang pernah terjadi di antara mereka. Sayangnya pihak perempuan alias Luna merasa enggan untuk berurusan kembali dengan Adnan. Dia berusaha menjauh tapi Adnan tidak pernah membiarkan itu terjadi. Sebab apa yang ada di tangan Luna adalah sebuah anugerah yang dia tunggu selama ini.

Akankah kisah mereka berkahir manis atau tragis? Silahkan baca dan kasih komentarnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuryanthi Sudarma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

"Na, coba pikirkan lagi. Ada hal yang lebih penting dari sekedar kita. Vano. Dia berhak merasakan kasih sayang penuh dari kita. Saya ingin selalu bersamanya, kamu juga begitu. Menurut saya ya memang kita harus bersama. Harus sama-sama menekan ego demi Vano," lanjut Adnan.

Meskipun Luna tidak lagi menatapnya, saat itu Adnan yakin kalau ucapannya masih didengarkan dengan baik. Dan diamnya perempuan itu adalah sebuah penolakan. Terbukti Luna pergi tanpa mengatakan apa pun saat melihat anak-anak mulai berdatangan menghampiri orangtua masing-masing. Di sana juga ada Vano yang celingukan entah mencari Luna atau mencari Adnan.

"Vano!" Luna mendekat namun ternyata anaknya itu masih celingukan. "Nyari siapa, Nak?"

"Enggak ada," jawab Vano berbohong. Dia masih mengingat jelas bagaimana ibunya marah kemarin dan melarangnya bertemu Adnan lagi.

Mereka langsung pulang. Luna benar-benar tak memberi kesempatan Adnan dan Vano untuk bertemu. Di rumah pun dia meminta anaknya agar tidak main di luar.

"Vano, kenapa, Na?" tanya Aas saat perempuan itu datang berkunjung. "Tumben dia gak main di luar?" Aas duduk di sofa tunggu di ruangan yang di sulap manjadi tempat kerja Luna.

"Aku larang dia main di luar."

"Pantes dia murung begitu."

Saat Aas datang dia memang melihat Vano yang tak seceria biasanya. Menyapanya saja seperti malas serta lebih banyak bersikap acuh.

"Lebih baik dicegah dari sekarang kan dari pada nanti terlanjur?" tanya Luna membuat Aas mengerutkan kering tanda tak mengerti.

"Na, ada masalah apa sih? Cerita sama aku."

Luna menatap Aas antara ingin cerita tapi juga ragu.

Aas yang bisa membaca dan memahami sikap Luna pun mendekat. Dia sentuh pundak Luna dan mengangguk, meyakinkan bahwa dia akan menyimpan rahasia Luna dengan baik seperti yang sudah-sudah.

"Pria itu datang lagi," ucap Luna pada akhirnya. Nada bicara terdengar malas.

"Dan dia tahu kalau Vano putranya?" tebak Aas yang mendapat jawaban berupa anggukan.

"Lebih parahnya dia ngajak kita hidup bersama, As."

"Dan kamu ragu. Tidak yakin bisa hidup tenang dengan dia. Begitu?" Lagi-lagi tebakan Aas mendapat jawaban berupa anggukan. Aas tarik kursi hingga mereka duduk berdekatan. Dia genggam tangan Luna yang terasa lemas. Berteman sejak lama sedikit banyak membuat Aas bisa memahaminya.

"Aku bingung, As. Di sisi lain ada Vano yang memang benar membutuhkan sosok ayah. Namun kamu juga pasti tahu gimana perasaan aku. Berat banget, As." Luna menunduk tak ingin melihat wajah Aas yang pasti tengah memasang wajah simpati. "Aku harus gimana, As?"

Aas masih menahan untuk bicara, dia biarkan sahabatnya menumpahkan keluh kesahnya lebih dulu. Kadang mereka yang mengeluh bukan hanya sekedar ingin mendapat rasa simpati juga kalimat mutiara. Mereka kadang hanya ingin didengarkan keluh kesahnya saja.

"Dia benar-benar mendekati Vano. Membuat Vano nyaman, memberikan apa yang tidak bisa aku berikan. Dan sekarang Vano sudah terlihat berat saat harus berjauhan dengan dia. Aku benar-bear benci keadaan ini, As."

Aas mengangguk saat Luna menoleh, memberikan senyum hangat meskipun itu tidak membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi sahabatnya.

"Aku egois kan, As?"

Aas menggelengkan kepala, menolak pernyataan Luna. "Enggak, enggak sama sekali, Na. Kamu juga punya sebab yang membuat kamu ingin menolak. Mereka yang mengalami hal yang serupa dengan kamu kemungkinan akan berpikir sama. Memangnya siapa yang mau hidup dengan orang yang memberikan trauma sama kita. Itu sama saja dengan menyiksa diri secara sadar. Aku paham, aku mengerti tapi pahamnya aku belum tentu sama dengan apa yang kamu rasakan. Makanya semua keputusan kembali pada kamu. Kamu berhak menolak jika kamu tidak menginginkan. Jangan apa-apa menyerah pada keadaan. Ingat, kamu punya, hak, Na."

Luna mengangguk, perasaannya mulai sedikit lega ketika apa yang tadi memenuhi pikirannya dia bagikan pada Aas.

***

Luna beres dengan pekerjaannya sekitar pukul sepuluh malam. Saat memasuki kamar dia melihat Vano yang tidur memeluk salah satu mainan yang diberikan Adnan. Ada rasa bersalah yang menyeruak, namun dia juga tidak mau terus mengalah pada Adnan. Sudah cukup banyak luka yang diberikan pria itu, dan sampai saat ini lukanya belum benar-benar sembuh.

Baru saja berbaring di sebelah Vano dan menarik selimut hingga ke dada, ponsel di atas nakasnya berdering. Gegas Luna bangkit kembali dan melihat nama Aas yang memanggilnya.

Tidak sempat bertanya-tanya Luna langsung menggeser ikon warna hijau dan menempelkan ponselnya ke telinga. Seketika matanya melotot hingga menimbulkan titik-titik bening yang merambat di pipi.

Tidak ada lagi rasa kantuk setelah panggilan terputus. Yang ada hanya ingin malam cepat berlalu. Menunggu pagi yang masih lama, Luna memutuskan mengemas beberapa pakaiannya juga pakaian Vano ke dalam tas berukuran sedang.

Ketika hari mulai merangkak menuju pagi, Adzan subuh mulai bersahut-sahutan, Luna gegas membangunkan Vano.

"Kita mau kemana, Ibu?" tanya Vano yang piyama-ny sudah diganti dengan pakaian casual khas hendak bepergian.

"Hari ini izin dulu sekolahnya ya. Kita akan pergi ke Bandung untuk beberapa hari." Luna menyerahkan susu hangat agar Vano segar.

Dan ketika matahari masih malu-malu menampakan kagagahannya, masih bersembunyi di balik bukit-bukit yang menjulang, taksi online yang Luna pesan sudah datang.

"ke stasiun ya, Pak," kata Luna ketika dia menutup pintu dan duduk di samping Vano. Begitu juga dengan bawaannya yang sudah dipastikan tidak ada yang ketinggalan.

Stasiun sudah di depan mata, beberapa waktu lagi dia akan sampai di rumah orang tuanya. Rumah yang menyimpan banyak kenangan semasa ia tumbuh di sana. Sekaligus rumah yang menyisakan pahit saat enam tahun yang lalu dia meninggalkannya.

Dia menolah pada Vano saat sudah duduk di kabin yang nomornya sesuai dengan yang tertera di tiket. Tangannya mengusap puncak kepala Vano. Dari kemarin anaknya masih merajuk dan mogok bicara. Luna berusaha memahami itu dan tidak memaksa Vano bicara. Dia akan memberikan pengertian saat Vano sudah baik-baik saja.

Ada rasa yang menyeruak di dalam dada saat kereta yang di tumpangi perlahan bergerak meninggalkan kota jakarta. Perasaan itu semakin menjadi kala mendengar pengumuman yang mengatakan sebentar lagi akan tiba di stasiun Bandung.

Luna menolah saat Vano menggenggam tangannya, wajahnya tidak lagi terlihat kesal. Justru sekarang Vano tengah tersenyum menunjukan deretan gigi-gigi kecilnya yang rapih.

"Jangan takut, Ibu. Aku akan menjaga dan melindungi Ibu," ucapnya seakan bisa membaca kegundahan yang tengah dialami ibunya.

"Ibu percaya, Nak." Luna kecup puncak kepala Adnan beberapa kali. Memang hanya Vano lah yang bisa menjadi obat untuknya.

Turun dari stasiun Bandung, Luna kembali memesan taksi online yang akan mengantar mereka ke rumah orang tuanya. Hamparan padi yang masih hijau menyapa saat mobil yang ditumpangi mulai memasuki pedesaan. Dan rumah yang bentuknya masih sama serta beberapa cat yang mengelupas itu menyapa saat mobil yang ditumpangi berhenti di halamannya yang masih asri.

"Luna?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!