Perjalan cinta seorang Elsa yang sangat rumit, berawal dari dendam orang tua angkatnya, Elsa yang harus jadi umpan untuk membalas dendam kepada keluarga Ayu, Elsa di paksa untuk mendekati anak Ayu dan di paksa pura pura mencintai anak Ayu yang bernama Leo, tapi sayang Elsa terjebak dengan cinta palsunya, ia benar benar mencintai Leo, di saat hari pernikahan Elsa dengan Leo, Elsa di paksa pergi meninggalkan Leo, hal itu membuat Leo marah dan membenci Elsa, tapi mereka di pertemukan kembali di saat Leo sudah menikah dan Elsa melamar kerja jadi pembantu di rumah Leo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yunia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 13
Hari ini Elsa bangun pagi sekali, ia segera membereskan rumah dan membuat sarapan. Setelah selesai semuanya, ia pun pergi ke rumah Bu Miftah.
"Assalamualaikum," kata Elsa setelah didepan pintu rumah bu Miftah.
"Wa,allaikumsalam." jawab Bu Miftah dari dalam.
"Masuk Elsa!" kata bu Miftah.
"Iya, Bu." Lalu Elsa masuk, sesampai di dalam, Bu Miftah memperkenalkan anak juga suaminya kepala Elsa.
"Ini loh Pa, yang Mama ceritakan kemarin."
Lalu Elsa menyalami suami bu Miftah, tapi suami Bu Miftah menggenggam erat tangan Elsa. Elsa segera menarik tangannya. Sedangkan suami bu Miftah yang bernama Fahrul tersenyum manis kepada Elsa tanpa rasa bersalah. Elsa segera membuang mukanya ke lain arah menghindari tatapan mata Fahrul.
"Elsa." kata Elsa saat berjabat tangan dengan anaknya Bu Miftah.
"Deni." ujar Deni.
"Ya sudah, ayo ibu antar ke dapur!" lalu Bu Miftah membawa Elsa ke dapurnya. Bu Miftah memberitahu apa saja yang harus dikerjakan Elsa. Elsa sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah jadi ia tidak canggung lagi mengerjakannya pekerjaannya di rumah bu Miftah, bu Miftah salut melihat Elsa yang cekatan membereskan rumah.
"Kamu sangat pintar memasak, masakanmu juga enak, ibu suka masakanmu," kata bu Miftah memuji Elsa. Ia menang penasaran dengan rasa masakan Elsa karena itu ia segera mencicipi masakan Elsa setelah Elsa selesai memasak, ternyata masakan Elsa sesuai dengan lidahnya.
"Syukurlah kalau ibu suka masakanku, tadinya aku sempat ragu, takutnya ibu tidak suka masakanku."
"Besok kamu lagi yang masak ya! Soalnya ibu tidak terlalu pintar masak, suami ibu dan Deni pasti suka masakanmu."
"Iya, Bu."
**
Sedangkan di rumah sakit tempat Melly dirawat, saat ini ramai, pasalnya keluarga Leo datang menjenguk Melly. Saat ini mereka berdiskusi bagaimana kelangsungan hidup Melly kedepan.
Ayu menyarankan kalau Melly tinggal di rumahnya, bukan tanpa alasan Ayu menyuruh Melly tinggal di rumahnya, karena Ayu tidak tega melihat Melly kalau tinggal di kontrakkan sendirian, itu akan membuat melly susah melakukan aktivitasnya sendirian, kalau Melly pulang kampung ia tidak bisa kuliah, karena itu Ayu menyarankan tinggal bersama mereka agar ia bisa membantu merawat Melly.
Setelah mereka berdiskusi, mereka memutuskan kalau Melly tetap tinggal di kota, tepatnya di rumah Ayu sampai Melly sembuh, sedangkan ayahnya kembali pulang ke kampung.
**
Sorenya Elsa pulang membawa sayur yang ia masak di rumah Bu Miftah, Bu Miftah yang memaksa ia membawa sayur itu, agar ia tidak lagi memasak sampai rumah.
"Bawa apa kamu?" tanya Mawar. Ia penasaran dengan apa yang dibawa Elsa di tangannya.
"Sayur Nek, Bu Miftah memaksa aku bawa sayur ini."
"Mana, sini coba Nenek lihat!" Mawar tidak sabaran ingin melihat sayur apa yang Elsa bawa. Lalu Elsa memberikan kantong plastik yang ia bawa kepada Mawar. Mawar segera membukanya.
"Wah, kalau seperti ini tiap hari bisa gemuk kamu."
"Aku mandi dulu Nek." ujar Elsa. Ia malas menanggapi perkataan neneknya, padahal ia tau neneknya yang rakus kalau ada makanan.
"Kamu ambil dulu nasi sekalian air minum! Setelah itu baru kamu mandi." kata Mawar. Elsa menurut, ia mengambil air minum dan nasi lalu menyerahkannya kepada Mawar, setelah itu ia pergi ke kamarnya untuk membersihkan badannya.
**
Hari ini Melly sudah bisa dibawa pulang. Leo membawa Melly kerumahnya, setelah Melly diantar kerumah Leo, Faisal pamit pulang, Leo pun mengantar Faisal keterminal.
Ayu menyambut Melly dengan hangat begitu juga anak anaknya. Mereka menyambut Melly dengan ramah, hal itu membuat Melly tidak terlalu canggung.
"Kakak tidur di kamarku saja! biar aku bisa bantu Kakak kalau ada perlu, Kakak tidak usah sungkan menyuruhku kalau ada perlu." kata Adela.
"Iya."
"Ade, bawa Melly ke kamarmu! biar dia istirahat!" kata Ayu.
"Iya, Ma, yuk ke kamarku Kak!" kata Adela. Melly menganggukkan kepalanya. Lalu Adela mendorong kursi roda Melly menuju kamarnya.
"Ini kamarku Kak, bagaimana apa Kakak suka?" tanya Adela.
"Iya, Kakak suka."
"Sini, aku bantu Kakak naik ke tempat tidur!" kata Adela. Lalu Melly naik ketempat tidur di bantu Adela.
"Ya sudah kakak istirahat! Aku keluar dulu, kalau ada apa-apa panggil saja! aku akan datang." kata Adela.
"Iya."jawab Melly, lalu Adela keluar dari kamarnya, sedangkan Melly termenung memikirkan nasibnya kedepan.
"Ya Allah mau sampaikan aku terus menumpang di rumah mereka."gumam Melly. Ia sebenarnya tidak setuju kalau ia tinggal di rumah Ayu, karena ia tidak kenal mereka, tapi melihat kesedihan ayahnya saat ia menolak tinggal di rumah Ayu membuat Melly terpaksa setuju tinggal di rumah Ayu.
Faisal takut kuliah anaknya berantakan kalau Melly ikut pulang kampung. di tambah lagi keuangan mereka tidak akan cukup untuk membiayai perobatan Melly, karena itu pak Faisal menyetujui permintaan Ayu agar anaknya bisa kuliah dan berobat.
**
Melly mulai terbiasa dengan lingkungan barunya. Ia juga sekarang sudah masuk kuliah, walau ia memakai kursi roda ia tetap kuliah, Leo juga selalu siaga mengantar jemput Melly pergi dan pulang kuliah kuliah.
Perhatian yang Leo berikan membuat Melly merasa nyaman. Seiring jalannya waktu timbullah rasa cinta di hati Melly untuk Leo, tapi Melly hanya memendam dalam hati rasa cintanya, ia tidak berani mengutarakan isi hatinya kepada Leo takut cintanya bertepuk sebelah tangan. Sedangkan Leo hanya menganggap Melly sama seperti adiknya yang lain, perhatian yang Leo berikan hanya kerena ia merasa bersalah telah membuat kaki Melly tidak bisa berjalan.
"Mell, kamu sudah selesai berkemas?" tanya Leo.
"Sudah Kak."
"Ya sudah, ayo kita sarapan!" kata Leo sambil mendorong kursi roda Melly. Sesampainya di meja makan Leo juga bertanya mau sarapan apa, perhatian seperti itu yang sering Leo berikan membuat Melly nyaman Leo. Setelah selesai sarapan Leo mengantar Melly kuliah. Leo fokus mengendarai mobilnya, sedangkan Melly curi curi pandang kepada Leo tanpa Leo sadari.
"Ya Allah pantaskah aku bersanding dengan Kak Leo? maafkan diri ini yang tidak tau diri mencintai Kak Leo." gumam Melly.
"Mel, sudah sampai," kata Leo. Leo melambaikan tangannya di depan wajah Melly karena dari tadi Melly melamun terus sampai Melly tidak sadar mereka sudah sampai di depan kampusnya. Melly jadi gugup karena ketahuan melamun.
"Iya, Kak."
"Apa yang sedang kamu pikirkan? apa ada masalah di kampus?" tanya Leo. Ia penasaran melihat Melly dari tadi melamun terus.
"Tidak Kak."
"Kamu tidak usah sungkan, Kakak siap mendengar ceritamu." kata Leo.
"Aku cinta Kakak." kata Melly keceplosan. Melly segera menutup mulutnya.
"Kamu itu pagi pagi sudah bercanda, ya sudah ayo kita turun!" kata Leo. Melly bisa bernafas lega karena Leo menganggap perkataannya hanya bercanda. Leo menurunkan Melly dari mobil dan mendorong kursi roda Melly sampai ke kelasnya. setelah itu Leo pergi ke restoran tempat kerjanya.
padahal PP y Elsa adalah PP sambung Elsa
kesian nasib mu Elsa, seperti y sulit mendapatkan jodoh dirimu Elsa
ingat leo km dah Puy anak & istri 🤭
yakinlah klo yg km ambil adalah jodoh yg terbaik untukmu