Demian tidak pernah diberi tahu jika tender yang berpeluang untung milyaran itu hanya diperuntukkan bagi perusahaan-perusahaan dengan seorang Direktur yang sudah berkeluarga.
Tanpa pikir panjang, dia pun menarik Sarah, sekretarisnya, ke depan altar Gereja untuk dijadikan sebagai istri sah di detik-detik terakhir tender itu ditutup.
Sarah yang saat itu sedang mumet dengan urusan pekerjaan dan kekasihnya tidak diijinkan untuk protes dan mengelak. Dalam sekejap sebuah cincin berlian sudah melingkar di jari manisnya yang ia takutkan akan merusak semua mimpi-mimpi indahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gerakan awal Grasian.
Kembali ke kantor, itu artinya profesionalitas pun harus kembali ditegakkan. Kini Sarah sudah duduk di belakang mejanya dan Demian sudah pergi untuk urusannya di luar. Tadi mereka berangkat secara terpisah ke kantor. Awalnya mereka pulang ke rumah Sarah untuk berganti pakaian dan ikut sarapan sebentar dengan Martin dan Yola. Setelah itu Sarah memutuskan membawa mobilnya sendiri agar tidak mengundang perhatian orang-orang.
Demian sudah memberitahu Sarah kalau hari ini dia akan keluar untuk urusan pribadi, seperti yang dia katakan tadi malam. Oleh karena itu Sarah akan menangani pekerjaan yang masih bisa dia handle tanpa Demian. Sarah sama sekali tidak tahu Demian kemana dan ada urusan apa, dia tidak bertanya. Meskipun tadi pagi mereka menghabiskan waktu dengan bercumbu, tidak serta merta membuat Sarah langsung merasa se dekat itu dengan pria itu. Dia sadar penuh tadi mereka hanya saling menyalurkan kebutuhan biologisnya lewat ciuman panas.
Sementara itu, Demian dan kuasa hukumnya sedang mengurus kelanjutan proses yang sudah mereka mulai tadi malam. Menyelesaikan proses perpindahan nama asset di kantor Pak Endru. Mereka juga memanggil pihak Bank untuk mengurus rekening Sarah. Hanya karena Demian adalah orang penting, bahkan Sarah si empunya rekening pun tidak dibutuhkan di sana. Uang dan kekuasaan benar-benar mempermudah segalanya.
Demian sudah lega. Urusan Sarah sudah beres. Grasian tidak akan bisa menyentuh gadis itu untuk rencana busuknya. Setidaknya status 'suami sah' itu sangat membantu Demian dalam hal ini. Kalau tidak, pihak Bank mana mungkin akan percaya padanya.
Kembali ke Sarah yang saat ini sedang berbicara dengan supplier material mereka lewat telepon kantor.
"Empat hari lagi kebetulan saya ada urusan pribadi ke Aceh, Bu Sarah. Apa pertemuannya tidak bisa diundur, Bu?" Sandi, perwakilan Business Relation perusahaan material itu rupanya sudah ada jadwal di hari yang sudah disepakati Sarah dan sekretaris Pak Halim.
"Oh, begitu ya, Pak. Hm ... bagaimana ya? Karena kita harus segera memulai proyek itu, meeting untuk membicarakan kebutuhan dasar juga harus segera dilaksanakan, Pak. Pak Sandi pasti tahu, proyek membangun lima puluh rumah sakit bukan perkara setahun dua tahun. Atau jika Pak Sandi berhalangan, saya bisa menghubungi partner kita yang lain, Pak," Sarah sengaja memprovokasi. Dia yakin siapa pun akan tergiur dengan proyek besar Gottardo ini. Apalagi seseorang yang alasannya tidak bisa ikut pertemuan hanya karena sebuah urusan pribadi.
"Oh, baik baik. Saya pastikan akan datang pertemuan itu, Bu. Saya dan tim akan hadir," see? Pak Sandi memang tau membuat keputusan yang benar.
"Baiklah, Pak. Saya sangat senang mendengarnya. Sampai bertemu di kantor kami, Pak Sandi. Selamat siang," Sarah menutup teleponnya dengan puas. Namun belum sesaat lamanya, kini berganti ponselnya yang berbunyi. Grasian menelepon.
"Halo, Gras?" Sarah berusaha membuat suaranya normal seperti biasa. Kejadian kemarin melintas lagi di benaknya, membuat dia sangat membenci pria itu sekarang.
"Halo sayang? Tadi malam kenapa tidak menghubungiku? Jadinya kau pulang jam berapa?" tanya Grasian sedikit khawatir di seberang sana. Sarah berdecih dalam hati. Sandiwara.
"Oh, maaf, aku kelelahan. Aku pulang sendiri, Sayang. Kau menungguku ya? Jadi bertemu Desty? Bagaimana obrolan kalian?" sumpah, rasanya Sarah ingin muntah saja menyebutkan nama perempuan simpanan Gras itu.
"Oh, iya sayang, jadi. Yahh, begitulah sayang. Kasus ini terlalu rumit. Kami masih harus bekerja keras. Tapi tadi malam aku menunggu teleponmu, i miss you," suara lemah Grasian biasanya mampu membuat Sarah berdebar. Namun kali ini berbeda. Mungkin dia sepenuhnya sudah percaya Demian.
"You need me? Aku sudah bilang kau bisa meminta batuanku, Gras," Sarah memulai kartunya. Jika benar Grasian ingin memanfaatkannya, dia sudah tidak sabar melihat bagaimana itu akan terjadi.
"Hm ... sebenarnya aku ingin meminta bantuanmu, Sayang. Namun aku takut merepotkan."
"Hey, kau anggap aku ini siapa? Aku kekasihmu. Aku akan membantumu."
"Really ? Kalau begitu maukah kau bertemu denganku malam ini? Aku sangat merindukanmu," Demian semakin menggoda. Umpan Sarah berhasil?
"Sebenarnya aku punya banyak pekerjaan yang belum selesai. Tapi baiklah. Nanti setelah makan aku akan kembali ke kantor. Kau mau dimana? Jam?"
"Bagaimana kalau di restoran Korea di dekat kantormu? Jam tujuh. Aku tidak akan terlambat," jawab Grasian penuh semangat.
"Wah, biasanya kau tidak suka makanan Korea. Tapi baiklah, aku akan ke sana nanti," janji Sarah. Dia sangat yakin Grasian begitu bersemangat karena kantornya dekat dengan apartemen Desty. Sudah pasti dia akan ke sana lagi setelah bertemu dengannya. We will see.
"Deal. See you, Sayang. I Love You ..."
"I love you too, Gras."
*****
Demian belum kembali ke kantor hingga jam enam sore. Sarah juga tidak menerima teleponnya sepanjang hari. Berhubung sebentar lagi dia akan bertemu dengan Grasian, Sarah sudah menghentikan pekerjaannya. Dia memilih masuk ke ruangan Demian dan masuk ke ruangan dalamnya lagi. Kamar khusus untuk Demian melepas lelah.
Sarah mengecek ulang keperluan Demian yang sudah dipacking rapi dalam koper. Sarah tidak mau ada yang tertinggal yang akan membuat Demian mengamukinya. Biasanya bosnya itu tidak senang jika saat dia ingin memakai sepatu kets terbarunya tapi Sarah kebetulan lupa membawanya. Oleh karena itu, Demian selalu membuat list barang yang ingin dia pakai selama di luar kota dengan sangat detail. Contohnya, jika selama di Surabaya nanti mereka akan bertemu Pak Joseph sebanyak tiga kali, maka dia akan membawa tiga jam tangan mahalnya yang berbeda. Amazing!
"Sar?"
"Eh, Pak Demian," Sarah sejak tadi sedikit berjongkok membetulkan kunci koper, lalu melihat ke arah sumber suara dan mendapati Demian sudah berdiri di ambang pintu kamar.
"Kau ngapain? Masih ada yang belum masuk?" Demian berjalan masuk ke dalam kamar, mendekati gadis itu.
"Sudah kok, Pak. Hanya mengecek ulang," jawab Sarah lagi sembari memperbaiki posisi tubuhnya. Kini dia sudah berdiri dengan tegak di hadapan Demian.
"Hm, bagus. Bagaimana hari ini? Ada yang genting, urgent atau apa pun yang harus aku ketahui?" Demian berbalik, berjalan cepat menuju luar, dan menghampiri meja kerjanya. Sarah mengekor dari belakang sambil mulai menjawab.
"Tidak ada, Pak. Semua berjalan sesuai agenda. Demo buruh yang ada di Manado sudah berhasil ditangani oleh Head Project kita di sana. Tadi laporan resminya sudah sampai di saya. Divisi HR juga sudah merampungkan proses seleksi calon asisten lapangan yang kita. Semuanya bersedia untuk ditugaskan di luar kota. Daftar nama-namanya sudah ada di map yang ada di atas meja Bapak. Bapak tinggal tanda tangan SK-nya saja. Kemudian pihak Maju Jaya sudah bersedia ikut hadir di meeting perdana kita dengan Gottardo Group sekembalinya kita dari Surabaya," Sarah menyebutkan intisari laporan pekerjaan yang diminta Demian. Mendengarnya, Demian mengangguk-angguk.
"Bagus. Tidak ada cela seperti biasa," puji Demian tanpa melihat ke arah gadis itu. Dia sudah membuka salah satu map yang berisi proposal kerja sama dari salah satu perusahaan retail yang cukup terkenal di kota ini.
"Ini baru masuk?" maksudnya pengajuannya.
"Iya, Pak. Mohon review-nya. Jika Bapak setuju, perusahaan kita juga akan dipakai untuk membangun toko-toko mereka. Prospeknya juga tidak kalah bagus dengan proyek Rumah Sakit."
Demian membaca sekilas lembaran tersebut sambil memijit dahinya. Tak lama kemudian dia mengangguk-angguk.
"Oke, coba bawa yang ini ke Surabaya. Aku akan pelajari di sana dan ... hm, aku akan cek proposal yang lain juga. Kau boleh keluar, Sar. Atau kau masih ada keperluan di sini?" kini pria itu memandang wajah Sarah. Wajah yang sudah mencuri fokusnya sepanjang hari ini. Apalagi setiap kali mengingat ciuman mereka tadi pagi. Membuat Demian selalu bergidik mengingat sensasinya.
"Tidak ada, Pak. Saya permisi dulu," Sarah berpamitan dengan menundukkan sedikit badannya, lalu berbalik.
Sepeninggal Sarah, Demian kembali membuka map-map lain yang sudah diletakkan gadis itu di atas mejanya. Sebelum dia tenggelam bersama kertas-kertas itu, dia menelepon Diana untuk membuatkan kopi.
Namun beberapa saat kemudian, yang datang membawa kopi itu bukan Diana, melainkan Sarah. Demian cukup terkejut.
"Perasaan aku meminta Diana yang membuatkannya," kata pria itu sedikit penasaran. Dia memang sengaja menyuruh Diana yang membuatkan minumannya, mengingat sikap Sarah setelah mereka menikah. Gadis itu seakan-akan tidak ingin berurusan terlalu lama dengannya. Oleh karena itu dia sengaja mengurangi satu pekerjaan Sarah demi meminimalisir pertemuan mereka.
"Iya, tadi saya cegat di depan, biar saya yang antar. Sekalian mau ijin keluar sebentar," jawab Sarah dengan nada kesal. Entah kenapa dia jengkel sekali sewaktu melihat Diana akan masuk ke ruangan Demian.
"Oh ya? Padahal aku sengaja mengalihkan tugas itu padanya, Sar."
"Boleh saya tau kenapa Bapak mengalihkannya?" akhirnya Sarah tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.
"Karena aku tau kau malas berlama-lama denganku di ruangan ini."
Dan jawaban yang dia terima cukup membuatnya terkejut. Ternyata pria itu menyadari sikap dinginnya setelah pernikahan paksaan itu. Meskipun Sarah berusaha bersikap biasa saja, namun ada saja yang memang tidak bisa disembunyikan, seperti raut wajah, gesture natural tubuh. Mungkin Demian menyadarinya.
"Oh. Baiklah. Saya izin keluar sebentar, Pak. Jam delapan balik lagi."
"Kau mau kemana?"
"Bertemu Grasian."
Sorot mata Demian sedikit berubah mendengar Sarah menyebutkan nama Grasian. Ketakutan seketika merayap dalam dirinya.
"Oh, baiklah. Ingat pesanku, kau harus hati-hati, Sar. Kalau ada yang mencurigakan, kabari aku," namun Demian tidak bisa dan tidak mungkin menunjukkan ketakutannya itu dengan sikap protektif yang tiba-tiba. Takut Sarah akan membencinya.
"Iya. Saya tau, Pak."
Mereka saling tatap sebentar. Seakan ingin menyampaikan sesuatu, tapi saling urung. Namun sangat jelas jika sorot mata keduanya masih ingin mengatakan sesuatu tapi ditahan.
"Kau takut? Perlu ku temani?" Grasian memecah kesunyian.
"Ng ... tidak perlu, Pak. Selamat malam," ah, Sarah pun bingung apa yang diharapkannya akan diucapkan Demian sampai dia menunggunya tadi. Akhirnya dia berbalik saja.
*****
Satu setengah jam kemudian, Demian masih duduk di kursi kebesarannya. Tidak bekerja. Dia melamun. Menebak-nebak bagaimana pertemuan Sarah dan Grasian malam ini. Apakah Grasian sudah memulai aksinya? Apakah Sarah akan gegabah dengan mengungkit kejadian tadi malam? Apakah Sarah akan kembali termakan rayuan pria busuk itu? Apa yang mereka bahas? Kenapa makan malam harus sampai se lama ini? Apa Sarah lupa kalau besok mereka harus flight pagi?
Demian yang tidak sabaran itu pun meraih ponselnya. Dia tidak peduli jika sekarang Sarah masih bersama Grasian.
"Halo, Pak?
"Kau dimana, Sar? Kopiku habis."
"Bukannya ada Diana, Pak?
"Kau dimana?! Ck!"
"Ini sudah di lift, Pak. Sebentar lagi sampai."
Klik!
Demian bergegas keluar dari ruangannya dan berdiri di depan pintu lift dengan sikap tidak sabaran.
Ting!!
Pintu lift terbuka perlahan, menampakkan tubuh mungil Sarah yang sedang memandangi ponselnya dengan bingung karena Demian tiba-tiba memutuskan telepon.
"Pak?"
"Kau lama sekali," entah kenapa Demian langsung menarik tangan Sarah dari dalam lift dan menuntunnya ke ruangannya. Sarah yang masih kebingungan hanya bisa mengikuti langkah Demian.
Setelah Sarah masuk, Demian menutup pintu ruangannya dengan cepat, lalu mendorong tubuh sarah hingga merapat ke pintu tersebut. Sarah belum sempat berbicara saat bibir Demian tau-tau mendarat di bibirnya. Menciumnya dengan tergesa-gesa seperti orang yang kelaparan.
Sarah terkejut dan sama sekali tidak siap. Ciuman Demian terkesan sangat kasar sekarang. Berbeda dengan ciuman mereka tadi pagi. Sarah tidak bisa menikmatinya.
"P ... Pak!" dia mendorong tubuh Demian dengan sekuat tenaga sampai pria itu mundur dua langkah.
"Kenapa, Sar? Apa Grasian baru menciummu juga makanya kau tidak rela aku menciummu sekarang?"
Sarah menatap jengkel pada Demian. Apa pria itu cemburu? Cemburu pada siapa? Dia kan punya Amber juga?
"Ck ..." Sarah tidak menjawab, malah berdecik kesal sambil bersikap ingin membuka pintu.
"Eh, malah mau pergi!" Demian menahan tangannya lagi.
"Saya nggak suka Bapak main kasar!"
Demian melongo. Kasar? Maksudnya? Apa maksudnya ciumannya barusan?
"Jadi, kau mau yang bagaimana? Yang seperti tadi pagi?"
"Tauk!"
Senyum Demian terkembang melihat wajah Sarah yang ditekuk. Dengan cepat dia menarik tangan gadis itu menuju kamar rahasianya. Menidurkan Sarah di atas kasurnya, lalu menciumnya seperti yang Sarah mau.
Benar saja, gadis itu tidak berontak, malah membalas ciuman Demian dengan sangat terampil dan membuat keduanya tidak bisa berhenti.
"Tadi Grasian ngomong apa aja?" tanya Demian yang kini tidur menyamping, bertopang di satu siku di sebelah Sarah.
"Ya, seperti yang Bapak bilang. Dia minta bantuan saya."
"Bantuan apa? Kau berhati-hati kan?"
"Iya, tenang saja, Pak. Terimakasih sudah mengingatkan saya kemarin."
"Memangnya dia minta bantu apa, Sar?"
"Minta nitipin duit di rekening saya. Katanya karena lagi ada kasus korupsi di kantor, dia takut ada pemeriksaan rekening pribadi, jadi dia mau ngurangin saldo ATM nya sementara."
Demian mengusap wajahnya, "Trus kau mau?"
"Saya kasih nomor rekening saya saja. Toh Bapak sudah kasih limit kan?"
"Bagus. Setelah ini kita lihat, apa pihak bank akan meneleponku."
"Kalau nanti dia sadar ada kendala dan dia tanya sama saya, saya harus jawab apa Pak?" Sarah benar-benar tidak tahu apa yang sedang dia hadapi. Dia tidak ingin salah melangkah dan membuat dirinya terlibat jauh dalam hal ini.
"Tenanglah, feeling-ku sih dia tidak akan melakukannya sekarang, agar kau tidak curiga. Tapi kalau pun dia tanya, bersandiwaralah sedikit, katakan saja dulu kau memang membuat limitnya dan harus minta izin walimu. Katakan saja Om Martin. Dia pasti tidak berani."
Sarah terdiam. Mengingat lagi bagaimana Grasian terlihat sangat mempercayainya tadi tanpa menyadari jika Sarah sudah mengetahui kebusukannya. Sarah tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Grasian saat semuanya ini terungkap nanti. Apakah Sarah akan tega melihat Grasian dihakimi semua orang?
"Kenapa? Sedih?" seakan bisa membaca raut wajahnya, Demian membelai pipinya dengan lembut.
"Saya hanya merasa seperti sedang menjahati dia, Pak. Rasanya lebih baik tidak terlibat sama sekali."
"Sar ... maafkan aku ya? Ini serba salah. Tidak melibatkanmu itu mustahil, karena di sini kau yang sedang ingin kulindungi. Aku janji tidak akan menyentuh Grasian dengan tanganku sendiri jika kau takut dia tersakiti. Biar proses hukum yang berjalan. Aku hanya akan mengawasinya sebagaimana seorang investor yang sudah berinvestasi banyak di perusahaan mereka dan tidak ingin uangnya dikorupsi. Bagaimana?"
Kau masih mencintainya, Sar? Tanya Demian dalam hati.
"Tidak apa-apa, Pak. Saya hanya butuh waktu," ucap Sarah pelan. Matanya sedikit berair. Tidak bisa dipungkiri dia masih menyimpan cinta untuk Grasian meskipun jelas-jelas pria itu telah bermain di belakangnya. Hubungan mereka sudah berjalan empat tahun. Mustahil semuanya bisa hilang dalam sekejap. Semuanya butuh waktu.
"Stay strong, Sar. Kalau kau dan dia jodoh, pasti akan kembali sekali pun jalannya harus seperti ini dulu," Demian mengusap pipi Sarah lagi dengan penuh kelembutan. Entahlah kenapa dia masih bisa mendukung gadis itu dengan pria lain disaat dia sendiri mulai terobsesi padanya.
"Bapak gimana dengan Mba Amber?"
"Kenapa kau bertanya?"
"Nggak kenapa-kenapa. Hari ini ketemuan?"
Demian bangun dari tidurnya. Malas menjawab pertanyaan soal Amber, "Enggak. Besok kan dia ikut. Kami masih punya banyak waktu," katanya sambil merapikan jasnya. Sarah juga ikut bangun.
"Hm ... dasar playboy ," gumam Sarah namun masih bisa didengar jelas oleh Demian.
"Apa kau bilang? Playboy ?"
"Iya. Bapak playboy. Sudah punya pacar tapi masih cium-cium cewek lain. Huuuu!" Sarah melewatinya sambil mencebikkan bibir.
"Kau juga masih pacaran dengan Grasian mau-mau aja saya cium."
"Kan Bapak yang maksa."
"Tapi kau suka kan?"
"Enggak! Awas saja ya kalau di Surabaya nyosor-nyosor juga. Saya nggak mau Mba Amber mikir macem-macem," Sarah berjalan menuju pintu kamar, disusul Demian yang menahan senyumnya mendengar pembicaraan konyol mereka.
"Kalau aku mau gimana?"
"Bodo amat! Pokoknya saya nggak mau dikira pelakor."
"Kan kau istriku. Pelakor dari mananya?"
"Tapi Bapak cintanya sama Mba Amber kaannn?" entah kenapa pertanyaan itu keluar dari mulut Sarah. Membuat Demian mendadak salah tingkah dan tidak bisa menjawabnya dengan spontan.
"M ..." begitu saja. Dia langsung berlalu dari hadapan Sarah untuk membuka pintu kamar, "saya sudah mau pulang. Kau juga pulanglah, nggak usah lembur."
"Saya mau ke apartemen Bapak juga kok."
"Ngapain? Mau nginap lagi?"
"Enak aja! Mau lihat Grasian. Mau memastikan dia ke apartemen Desty lagi atau enggak. Karena tadi kita makannya dekat-dekat sini," jelas Sarah agar Demian tidak salah paham. Tapi kalau menginap di tempat Demian lagi, tidak buruk juga.
"Kau mau jadi spy ? Biar kutemani."
"Nggak usah, saya sendiri saja, Pak."
"Berisik! Ku temani!"
"Ya udah. Saya nebeng kalau gitu."
"Nggak bisa. Kau jalan kaki sana."
"Bapak tega banget sama saya?"
Demian tertawa. Sarah benaran punya banyak mood juga banyak ekspresi wajah. Kali ini dia tiba-tiba membuat wajahnya memelas seperti anak kucing yang minta dikasih makan.
"Baiklah, tapi kau menginap ya?"
"Ih, nggak ada ya!"
"Pengen tidur sambil meluk, Sar. Ayolah."
"Tapi kan besok kita flight pagi "
"Kau kan biasanya bikin alarm. Bangunkan aku," jawab Demian lagi asal. Yang penting Sarah mau menginap di apartemennya dulu saja.
"Liat nanti. Tapi ga janji."
"Oke istriku."
Hey, mengapa Sarah tiba-tiba merasa melayang mendengar panggilan itu?
*****