Cinta yang tak kunjung menemukan tempat berlabuh kian lama kian meredup dan menyerah pada sang takdir.
Hati yang kini diantara ingin menyerah dan kalah semakin terpuruk karena segala prasangka yang datang. Akan kah Indira akan tetap diam menerima segala takdir yang di berikan pada nya? Atau dia akan mulai mencari jalan takdir nya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak UPe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#13
Seminggu sudah Indira dan bang Anggara di rumah orang tua Indira untuk mengurusi jenazah sang ayah..
Bang Anggara bahkan sampai meninggalkan tugas nya di kantor demi menemani Indira selama masa berduka.
Selama menemani Indira di rumah keluarga Indira, Bang Anggara makin mengerti seperti apa kesulitan yang keluarga Indira jalani.
Uang lima ratus juta yang dia serahkan kepada ibu Indira sewaktu membawa Indira pergi ternyata di pergunakan oleh ibu nya Indira untuk mengobati penyakit jantung ayah Indira yang selama ini ayah dan ibu Indira sembunyikan dari anak- anak nya.
ibu Indira lebih rela diri nya di cap matre dari pada anak- anak nya tahu kalau ayah mereka sebenarnya sedang sakiit keras.
Belum lagi keadaan pabrik yang belum kunjung membaik membuat tekanan yang di pukul oleh sang ayah menjadi semakin berat.
Hingga di akhir nafas nya, sang ayah masih tetap menyembunyikan keadaan nya yang kritis dari anak- anak nya,
"Buk, maafkan aku yang sudah salah duga pada ibuk." Ucap Anggara dengan penuh hormat pada wanita yang berstatus ibu mertua nya itu.
"Tidak apa- apa nak Anggara. Ibuk tidak pernah membenci mu atau berprasangka buruk pada mu. Kau sudah menerima apa ada nya sudah syukur sekali. Kau membantu aku dan ayah nya tanpa sepengetahuan Indira dan istri pertama mu, aku juga sangat berterima kasih untuk itu. Aku dan ayah nya Indira tahu kau lah yang diam- diam menyelesaikan masalah hutang piutang kami dengan para rentenir. Dan itu jumlah nya jauh lebih besar dari uang lima ratus juta yang kau berikan sewaktu membawa Indira dulu." Ungkap ibu nya Indira.
"Kau juga yang bolak balik membantu pabrik untuk bangkit kembali hingga berhari- hari meninggalkan kantor mu, aku juga harus berterima kasih soal itu. Aku, mewakili suami ku mengucapkan banyak- banyak terima kasih pada mu nak Anggara. Kami tidak pernah menyesal memaksa Indira menikah dengan mu. Bahkan andaikan hal ini kembali terulang, kami tetap akan memilih mu." Sambung ibu mertua nya itu.
"Maafin aku bu, saat bapak masuk rumah sakit aku tidak bisa datang." Ucap Bang Anggara.
"Mana mungkin kau bisa datang nak, aku tahu kau pun sedang sakit keras kan? Apa Indira sudah tahu soal ini?" tanya ibuk pada menantu nya itu.
"Dari mana ibuk tahu kalau aku-?"
"Dokter yang menangani mu adalah dokter yang sama yang sebulan terakhir menangani bapak sebelum bapak meninggal. Dia banyak bercerita tentang mu tanpa tahu kalau ternyata aku dan bapak adalah mertu mu nak Anggara. Dia bertanya apakah bapak bersedia melakukan cek kecocokan sumsum tulang belakang dengan mu. karena sampai sekarang kau belum mendapatkan pendonor yang cocok sedang kondisi mu semakin memburuk." ibu menatap iba pada menantu nya itu.
"Tapi sayang nya setelah bapak melakukan tes kecocokan sum sum tulang belakang dengan milik mu, hasil nya tidak cocok. Andaikan cocok, bapak pasti sudah akan mendonorkan sum sum tulang belakang nya pada mu. Tapi takdir belum mengizinkan hal itu terjadi nak." Suara ibu pun terdengar terisak.
"Tidak apa- apa buk. Aku sudah bersiap untuk hal yang terburuk yang mungkin terjadi. Semua nya sudah angsur- angsur aku urus. Aku tidak ingin ada yang terlantar setelah kepergian ku nanti. Termasuk Indira dan anak kami. Aku sudah mempersiapkan semua nya untuk mereka. Tapi bu, sebelum nya aku mohon maaf dan sekaligus mohon ijin untuk suatu hal pada ibu..." bang Anggara menatap lekat - lekat ibu mertua nya itu.
"Bu, aku akan.................."
*********
Beberapa hari pun telah berlalu. Indira dan bang Anggara telah kembali ke rumah mereka.
Indira sedang menonton tik tok sambil berbaring di tempat tidur saat Anggara masuk dengan ekspresi yang menyiratkan sesuatu hal mustahak yang ingin dia bicarakan pada Indira.
"Kamu belum tidur Indira??" kata Anggara yang terdengar janggal di telinga Indira. Seingat Indira, suami nya ini selalu memanggil nya sayang, bukan nama. Apa jangan- jangan kali ini ada hal penting yang suami nya ingin katakan.
Kalau memang benar, hal penting apa? Apa jangan- jangan ini masalah anak? Apa ini adalah saat nya dia membujuk Indira untuk menyerahkan anak yang Indira kandung pada nya dan juga pada mbak Silvia.
Indira pun menjadi was- was..
"Belum." sahut Indira, menjawab pertanyaan tersebut tanpa mengalihkan pandangan nya dari layar hape nya.
"Aku mau bicara serius nih. hape nya di singkirkan dulu ya Ra." secara halus Anggara memaksa Indira untuk fokus bicara dengan nya.
Indira pun mengalah, dan menyimpan hape ke nakad lalu Indira merubah posisi tubuhnya, duduk dengan bersandar bantal di belakangnya.
Ingin rasanya Indira menghindar dari kondisi seperti ini karena dia sudah bisa menebak apa yang akan suami katakan.
Pasti pembicaraan suaminya tidak terlepas dari permohonannya kepada Indira agar bermurah hati memberikan bayi yang sedang dikandung Indira demi kebahagiaan istri pertama- nya, Silvia.
"Ra, kok rasa nya semakin hari abang merasakan hubungan kita bukan nya semakin membaik? Abang malah merasa kan kita semakin jauh Ea." suara Anggara terdengar sedih.
"Apa maksud nya berkata begini? Bukan nya dia ingin membicarakan soal hak atas anak yang ada di dalam perut ku ini?" Batin Indira.
"Maksud Abang apa??" tanya Indira dengan perasaan penuh tanda tanya.
"Abang sering memerhatikanmu Indira. Banyak sekali perubahan yang terjadi dalam dirimu. Tapi tidak satu pun yang merangah pada perasaan mu pada ku. Apakah kau masih mencintai Dikta?"
Kepala Indira bagaikan di pukul sebuah palu yang sangat besar saat mendengar nama DIkta keluar dari mulut bang Anggara dengan konteks yang seperti ini. Indira kaget. Dia berpikir apa bang Anggara bisa membaca apa yang di pikir kan?
Indira tidak menjawab membuat pembicaraan itu akhir nya terhenti sampai di situ.
Bang Anggara tidak ingin melanjut pembicaraan ini karena ia melihat ekspresi Indira tampak dingin dan kaku.
Anggara menghela napas, kemudian dia berpikir mungkin saat nya masih belum pas untuk bicara ini dengan Indira.
Bang Anggara bangkit dan meninggalkan kamar untuk kembali ke ruang kerja.
Dalam hati bang Anggara sungguh ingin memberikan kebahagian pada kedua istri nya. Silvia dan juga Indira.