Mengisahkan seorang perempuan yang bernama Alea, dengan pekerjaan sebagai seorang tukang parkir. Alea, tomboy dan pemberani serta tukang rusuh, seperti layaknya lelaki. Tiba-tiba menyukai Aliando yang seorang kondektur Bus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shizi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. ALI DI SELINGKUHI (MARI ADU JOTOS.
Apa ada yang bisa dijelaskan." Dengan wajah merah padam. Ali meremas kotak cincin yang berada di genggamannya. Hadiah yang sudah disiapkan, namun ternyata justru dirinya yang mendapatkan kado, dari Lula terlebih dulu.
"Ini temanku sayang, kita hanya berteman tidak lebih." Lula mengelak akan tuduhan yang diberikan oleh Ali, dan menyakinkan kekasihnya itu. Bahwa dirinya dan laki-laki yang semula tengah memeluknya hanyalah sebatas teman, dan itu pengakuannya pada Ali.
"Jika teman, kenapa kalian bermesraan huh. Jawab!" Lula sedikit gemetar karena bentakan dari Ali, karena selama dua tahun ini. Lula untuk pertama kalinya melihat kekasihnya itu marah hingga membentaknya.
"Oh, ini yang kamu bilang lelaki miskin itu. Yang hanya seorang kondektur?" tanya laki-laki yang diperkirakan adalah selingkuhan Lula, dengan tampang mengejeknya ia berkata, dan dengan keadaan mata yang melirik ke arah Ali.
"Aku tahu sekarang. Bahwa kalian adalah pasangan penghianat," ujar Ali.
"Maaf, Ando. Kamu sudah bangkrut dan aku tidak bisa tetap bersamamu dan memilih lelaki yang bisa memenuhi kebutuhanku." Jawab Lula dengan lantang, dan Ali yang mendengar pernyataan itu sudah tidak sanggup lagi. Untuk melepaskannya, saat tangan Ali sudah berada di atas dan siap untuk dilayangkan namun tiba-tiba, sebuah tangan menghentikannya.
"Tahan, dan berhenti!"
Alea yang kala itu belum pergi, dan masih mengamati pertengkaran yang ada di hadapannya. Memutuskan untuk menghampiri Ali yang sudah lepas kendali karena emosi.
Melihat Ali yang ingin menampar kekasihnya itu, dengan sigap Alea langsung mencekal tangan Ali dengan cepat, agar tidak melayangkan pukulan hingga mengakibatkan kegaduhan yang berlarut.
"Kalau elo masih berani macem-macem sama cewek gue. Gue gak akan ngebiarin elo pulang dengan keadaan utuh," ancam selingkuhan Lula pada Ali.
"Elo hanya seorang yang miskin, dan tidak dibutuhin lagi. Jadi, sekarang buang jauh-jauh impian elo sama Lula." Selingkuhan Lula terus saja mengejek Ali, hingga membuatnya geram. Lalu, tanpa aba-aba sebuah pukulan melayang di pipi orang yang berada di depannya.
Bukh.
Satu bogeman meluncur dengan bebas di wajah pria yang bersama dengan Lula.
"Kau–."
"Silahkan kalau elo tidak terima," kata Ali yang langsung memotong ucapan dari pria itu.
Sedetik, pria itu mundur dan terlihat layaknya tidak peduli dengan pukulan Ali. Namun, siapa sangka jika itu adalah senjata yang digunakan untuk melemahkan lawan.
Wuuus.
Bukh.
Pakh.
Sssst.
Keduanya saling adu jotos, namun tanpa disangka-sangka jika Ali kalah dan tergeletak di tanah. Dengan keadaan yang sudah tidak berdaya, dan.
Slep.
Auww.
Suara kesakitan terdengar melengking di telinga.
"Apa elo sudah tidak waras! Apa elo juga buta, dengan keadaan yang sudah tidak berdaya elo masih ingin menghajarnya!" pekik Alea yang sekarang sudah mengunci kedua tangan selingkuhan Lula.
"Kamu siapa, ikut campur urusan saya! Sekarang lepasin tangan pacar saya," ucap Lula yang tidak terima jika kekasihnya dihajar oleh Alea.
"Cih, kalian memang pasangan serasi. Satunya penggila harta dan satunya lelaki payah–,"
"Tutup mulutmu gadis jalanan," bentak Lula pada Alea.
Plak.
"Satu tamparan ini cocok karena kamu berani menghinaku," ucap Lula lagi.
Seketika Alea melepaskan kekasih, tepatnya selingkuhan Lula, terkejut itulah yang dirasakan oleh Alea karena tiba-tiba mendapat serangan mendadak.
Bukh.
"Jangan sakiti Alea!" teriak Ali saat melihat selingkuhan dari kekasihnya langsung memukul tepat di perut Alea.
Alea seketika meringis kesakitan karena sudah dua kali mendapat serangan dengan cara curang.
"Elo cuma seorang wanita, itu balasan karena elo sudah menyakiti tangan gue." Dengan senyuman penuh kemenangan karena sekali tepuk dua lalat sekarat.
"Sayangnya gue bukan cewek lemah seperti yang kalian bicarakan," kata Alea dengan langkah mulai mendekati Lula. Tatapan tajam seakan dirinya adalah singa yang siap menerkam mangsanya.
"Jangan pernah membangunkan singa yang sedang tidur dengan maju mundur cantik, dan sekarang terima akibat keberanian kalian."
Stttt.
"Auh … Sakit, lepaskan." Lula merengek meminta dilepaskan dari cengkraman Alea.
Sedangkan Ali yang sudah tidak berdaya hanya bisa diam. Padahal dalam hatinya ia ingin tertawa, di saat keadaan seperti ini Alea masih saja berlaku konyol.
"Lepaskan pacarku, atau gue akan menghajar elo lagi!" gertak selingkuhan Lula.
"Cih, berani elo ngebentak gue?"
"Sepertinya elo perlu diberi pelajaran lagi.
Alea melepaskan cengkramannya di pipi Lula. Dengan senang hati Alea meladeni pria brengsek itu dan.
Bukh.
Bukh.
Pakh.
Jlep.
Dubrak.
" Ampun."
"Tolong lepasin."
"Pergi kalian, kalau tidak gue bakal ngelumpuhin kalian!" gertak Alea.
Hahahahaha.
Setelah kepergian Lula dan selingkuhannya. Ali tertawa bagai orang gila.
Alea langsung mendekati Ali yang sudah babak belur. Lalu meletakkan tangannya di kening Ali, karena Alea pikir pria itu tengah mengalami demam akibat diselingkuhi oleh kekasihnya itu.
"Tidak panas," gumam Alea saat memegang kening Ali.
"Hye lepas. Apa elu kira badan gue seketika panas saat dikhianati oleh gadis murahan itu? Rasanya sungguh memalukan jika seperti itu," kata Ali.
"Siapa tau elo panas, terus mogok makan karena frustasi. Akhirnya lama-lama bunuh diri di pohon sawi, iyakan."
"Huh." Ali melongo dan tak habis pikir dengan sosok wanita yang ada di depannya, bisa-bisanya dia mengatakan kalau Ali akan bunuh diri di pohon 'Sawi'.
"Itu muka udah jelek, jangan di tambah semakin jelek." Alea menatap wajah Ali layaknya buah yang berwarna ungu sedang memenuhi wajahnya.
"Pria sialan itu saja yang ngebuat wajah gue binyok," kata Ali yang tidak mau dibilang jelek oleh Alea.
"Alah elo saja yang jadi laki cemen. Di bogem satu kali saja sudah ka'o. Bagaimana kalau ada yang nantangin tinju di ring. Yang ada elo masuk liang lahat," ejek Alea pada Ali karena yang ia tahu untuk sekarang. Ali tidak bisa berkelahi.
"Sadis amat itu mulut, mentang-mentang bisa gelut. Sedangkan gue bisanya cuma nangkep nyamuk," ujar Ali yang memang tidak bisa berkelahi.
"Bilang saja kalau elo gak bisa berantem, jangan muter-muter seperti tong edan." Jawab Alea dengan senyuman mengejek.
"Sudah deh, jangan bacot mulu. Itu muka minta di kompres biar gak infeksi dan sekarang gue anterin elo pulang. Jangan lupa buat latihan adu jotos biar nantinya gak sekarat kek gini," kata Alea dengan membantu Ali berdiri.
"Sepertinya mak elo dulu makannya gak pakai nasi kali ya," kata Ali dengan keadaan yang di tuntun oleh Alea.
"Maksud elo?"
"Karena mulut elo seperti cabe nyakitin banget."
Brukh.
"Woy, kenapa elo lepasin. Ini sangat sakit," teriak Ali.
"Al, elo tega bener ninggalin gue dengan keadaan seperti ini."
"Alea!"
Ali terus berteriak memanggil nama Alea.