Fredella Dominique tidak menyangka harus menikahi pria yang usianya lebih tua. Dia dijodohkan oleh ayahnya yang bekerja sebagai salah satu orang kepercayaan keluarga calon suaminya.
Tapi siapa sangka, calon suaminya sangat perhatian dan mencoba memulai hubungan yang baik diantara mereka. Tidak seperti rumor beredar bahwa pria itu dingin, datar juga kejam, melainkan sikapnya sangat manis pada Fredella.
Hingga keduanya menikah atas dasar cinta. Fredella jatuh cinta pada suaminya, kegigihan dan ketulusan pria itu meluluhkan hati.
Tapi siapa sangka suatu hari badai datang mengusik bahkan menghancurkan kehidupan manisnya bertubi-tubi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maciba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 - revisi
BAB 13
Fredella menundukkan kepala, dua insan yang baru kenal dalam waktu singkat itu memutuskan menjalin kasih. Mengikat hubungan layaknya para remaja, apalah arti status kalau pada akhirnya mereka juga akan menikah. Tapi bagi keduanya, ini pertama kali.
Sesekali ekor mata Fredella melirik pada calon suaminya, Dariel tetap tenang mengemudi. Kedua matanya pun fokus ke depan, padahal mobil ini bisa setting auto pilot tetapi urung dilakukan, karena selain menghindari gugup, jalan berlapis salju sangat licin.
“Tadi itu..... apa semuanya nyata? Ciuman pertamaku diambil, huh ternyata perempuan yang dijodohkan dengan Mr Bradley itu aku. Bagaimana bisa?.” Batin Fredella, rasa bahagia, dan terkejut melebur jadi satu.
Sampai seperti itu kah perjuangan Dariel demin mendekati Fredella. Yang gadis ini tahu, kakak Denna adalah pengusaha lalu Fredella mengenalnya sebagai Dosen Fakultas Kimia. Dunia memang tidak bisa ditebak hanya dengan melihatnya saja.
“Kenapa kamu menunduk? Tidak takut pegal?.” Tanya Dariel yang juga merasa canggung setengah mati. Hanya dengan Fredella ia merasakan sesuatu, akhirnya setelah hidup selama 28 tahun bisa merasakan jatuh cinta.
“Tegakkan kepalamu Fredella !! kelak menjadi istriku jangan menunduk begini, dunia mu semakin luas dan menemui semua orang baru.” Papar Dariel, sukses membuat Fredella menelan saliva yang kelat.
Fredella sedikit berani mengangkat kepala, menoleh pada calon suaminya dan tersenyum kikuk. Kerah mantel Dariel yang dipakainya sedikit menyenggol hidung bangir wanita cantik ini, aroma parfum maskulin pria memanjakan hidung Fredella. Ia meremat kedua tangan karena dingin, padahal dalam mobil suhu telah diatur menjadi hangat.
Dariel menyadari gadisnya kedinginan, langsung menggenggam tangan itu sangat erat, menyalurkan rasa hangat tubuhnya pada tangan Fredella.
“Lebih nyaman? Atau kita beli sarung tangan dulu.” Tanya Dariel.
“Ah tidak perlu, seperti ini cukup nyaman. Terima kasih Mr Bradley.”
**
Tiba di area parkir apartemen, suara nyaring terdengar memalukan bagi Dariel. Perutnya yang tidak tahu malu dan kondisi, meraung menagih makanan. Seharusnya tadi Dariel makan tetapi karena daya tarik Fredella sangat kuat, menghempaskan rasa laparnya.
“Aku buatkan sup.” Fredella mengulum senyum. Pria di sampingnya ini sangat lucu, ketika yang lain menjaga image, Dariel sebaliknya, kurang beruntung.
Memasuki apartemen, dua manusia yang dimabuk asmara ini saling menautkan jemari meskipun rasa gugup masih ada. Dariel duduk di sofa memandangi paras manis Fredella yang membuka lemari es, mencari bahan makanan. Perempuan itu mengingat betul selera makan calon suaminya berbeda dari pria kebanyakan, Dariel sangat menyukai makanan Asia.
Fredella mengupas kentang dan wortel, tapi ia bingung tidak ada nasi putih untuk sumber karbohidrat yang disukai Dariel, hanya menggunakan kentang rasanya tidak mungkin. Ia menggigit bibir bawahnya, bingung. Kenapa harus menawarkan membuat sup untuk Dariel?.
Dariel mengerti dari bahasa tubuh Fredella, ia memeluk gadisnya dari belakang, menggenggam erat satu tangan Fredella, menciumi ceruk leher beraroma buah-buahan tropis yang sangat memabukkan. Membisikan satu kalimat yang berhasil membuat wanitanya menoleh hingga dua pasang bola mata mereka beradu.
“Apa saja Fredella selama bersamamu aku suka.”
“Tapi kamu terbiasa makan nasi putih, maaf aku......”
“Sssstt.” Dariel menempelkan satu jari telunjuknya pada bibir merah delima yang begitu manis. “Kita masak berdua.” Tersenyum hangat.
Sepasang kekasih itu tertawa bersama, membersihkan sayuran bersama, saling menyemprotkan air satu sama lain layaknya anak kecil. Musim terasa hangat di dalam apartemen ini. Karena cukup banyaknya air membasahi lantai keduanya sama-sama terpeleset sampai saling memegang dan memeluk erat.
**
Sejak saat itu hubungan Fredella dan Dariel semakin dekat tak berjarak, pria berusia 28 tahun itu tidak sungkan menunjukan sikap manjanya pada sang kekasih. Apalagi Rico yang selalu datang dengan dalih memberi referensi sastra, jelas membuat hati Dariel panas tak karuan. Dengan gagah, Dariel mengumumkan tegas hubungannya bersama Fredella.
Sesuai permintaan Dariel untuk mengikat Fredella lebih dulu, digelar pertunangan mewah setelah Fredella selesai penelitian untuk tugas akhirnya. Acara yang berlangsung di mansion utama Bradley tidak banyak mengundang tamu, hanya beberapa kenalan dan kerabat dekat. Semua sepupu Dariel hadir, formasi mereka lengkap memberi selamat dan semangat pada pria yang akhirnya bisa merasakan jatuh cinta.
Sosok Fredella disambut hangat keluarga besar Bradley, semua berjalan lancar tanpa halangan apapun. Cincin berlian sengaja Dariel pesan hanya satu untuk Fredella, wanita pertama dan terkahir yang akan menemaninya seumur hidup.
“Tidak ku sangka akhirnya kalian meresmikan hubungan ini juga, ah Fredella kita akan semakin dekat dan sering bertemu.” Bahagia Denna, tentu saja sahabatnya akan menjadi kakak ipar, ia pastikan kakaknya tidak menyakiti Fredella seujung kuku pun.
Hari-hari Fredella sangat manis, Dariel selalu mengantar dan menjemput gadisnya ke apartemen. Keduanya lebih cocok disebut sepasang suami istri, karena tidak terpisahkan sedikitpun. Ketika di Universitas bayang-bayang Dariel berada di dekat calon istrinya, semua pria yang pernah mendekati Fredella mundur teratur mengetahui siapa pemilik wanita bermata hazel itu.
Meskipun Dariel selalu menempel tapi ia memberi ruang kebebasan untuk Fredella.
Fredella mendapat jutaan perhatian dan cinta, tak pernah sekalipun luput dari pengamatan Dariel. Ketika ia perjalanan bisnis masih tetap menjaga calon istrinya dari tangan-tangan jahil di luar sana, membayar beberapa tenaga keamanan, tentunya mereka semua wanita. Dariel sangat posesif tidak mengizinkan gadisnya disentuh setitik pun oleh lawan jenis selain dirinya. Termasuk Fredella yang memeluk Tuan Dominique, cemburu menjalar dalam dada Dariel.
“Tugas akhir kamu ada sedikit revisi, lakukan hari ini dan kirim malam ini juga atau paling lambat ku tunggu besok pagi. Cepatlah lulus sayang, aku ingin menjadikanmu milikku seutuhnya.” Ucap Dariel pada layar laptop yang dipenuhi bidadari cantiknya.
Dia benar-benar mendorong dan membantu Fredella, syarat dari Tuan Dominique cukup berat bagi Dariel tapi semua harus dilewati.
Kendati harus merelakan waktu istirahat demi menyelesaikan tugas, Fredella tidak mengeluh, dosen pembimbing sekaligus kekasihnya setia menemani.
Terpisah jarak bukan masalah, teknologi sekarang sangat canggih, kapanpun rindu bisa langsung melihat seseorang yang kita sayangi tapi tidak bisa memeluk dan menciumnya, itu yang tidak Dariel sukai.
Bagaimanapun tugasnya sebagai pimpinan utama RB Group Hotel tidak bisa ditinggalkan. Dariel tidak sabar membawa Fredella dalam perjalanan bisnisnya, singgah dari satu hotel ke hotel lainnya.
“Dariel ada bagian yang sulit aku mengerti, bisa bantu menjelaskan?.” Pinta Fredella.
“Sure, ayo. Dimana yang membuatmu tidak paham?.”
Jika malam minggu muda mudi dihabiskan dengan bepergian ke tempat romantis, berbeda pada sepasang kekasih ini.
Semalaman Dariel dan Fredella tersambung panggilan video, untuk menyelesaikan tugas akhir, walau masih jauh dari deadline tidak apa, semakin cepat selesai maka hubungan keduanya tidak akan terpisah oleh apapun.
“Semangat baby.” Dariel tidak sungkan menghibur Fredella yang mulai mengantuk.
*Flashback Off*
“Dariel, nak Dariel bangun sayang bangun, operasi Fredella sudah selesai. Dokter meminta kamu menemuinya sekarang juga.” Suara mama Nayla mengalun memasuki telinga Dariel yang terpejam menyandar pada dinding dingin rumah sakit.
...TBC...
TAMAT 😍😍😍😍