Hidup dalam sebuah kepura-puraan membuat dirinya begitu sangat tersiksa, biasanya orang-orang yang memiliki keluarga lengkap justru bisa membuat hidup sang anak menjadi bahagia.
Tapi berbeda dengan dirinya, ia memiliki kedua orang tua yang lengkap sama seperti anak lainnya, tapi yang membuatnya berbeda adalah, ia hanya mendapatkan cinta kasih dari sang ibu, sedangkan sang ayah justru sangat membenci dirinya.
Hidup ibu dan anak itu sangatlah sulit, dan setelah kepergian ibunya sang ayah bahkan terus-menerus menyiksa serta mengurung nya sampai ajal menjemput.
Disisa kehidupan nya, ia berdoa agar bisa melihat sang ibu kembali.
Kini mata yang tertutup rapat itu mulai terbuka dengan perlahan, terlihat sebuah ruangan yang sangat luas, mata indah itu perlahan-lahan mulai menyusuri ruangan, dan tatapan nya terhenti di sebuah kalender yang bergantung di dinding.
"Tahun 1998?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aozyrin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teriakan Mahasiswa
Seketika saja ruangan kantin itu pun hening, lalu salah seorang mahasiswa mulai mengeluarkan pendapatnya.
"Apa yang di katakan Valia memang benar, seharusnya dia bisa menerima persyaratan yang di ajukan itu, lagipula syarat nona itu jauh lebih berat dari yang di berikan oleh Valia" ucap mahasiswa itu.
Para mahasiswa lainnya pun mengangguk setuju dengan pendapatnya.
"Terima!"
"Terima!"
"Terima!"
Para mahasiswa berteriak secara bersamaan, sehingga membuat suasana kantin begitu sangat riuh, bahkan suara mereka telah menembus sampai keluar gedung, dan membuat para mahasiswa yang berada di luar gedung langsung berlari ke kantin.
Mereka yang berada di luar gedung begitu terkejut mendengar teriakan para mahasiswa. Bukan hanya bisa memanggil para mahasiswa, tetapi teriakan itu mampu mampu membuat para dosen juga ikut berlari ke kantin.
Jian terkejut mendengar sorakan para mahasiswa itu, ketiga orang itu bahkan sudah berkeringat dingin.
"Jian, bagaimana sekarang?" tanya Asra yang sudah benar-benar panik.
Sedangkan Rila, ia tidak sanggup berdiri dan hanya bisa menahan sakit itu saja, ia ingin langsung pergi dari kantin, tapi suasana di kantin tidak memungkinkannya untuk pergi.
Jian sungguh tidak bisa berbuat apapun, ia terlihat kebingungan di sertai panik.
Walaupun memiliki kekuasaan yang besar di kampus itu, tapi Jian tidak bisa melawan para mahasiswa itu semua, karena ketika mahasiswa semua sudah bersatu maka tidak ada yang bisa melawan mereka, termasuk Jian dan ayahnya.
Kampus itu benar-benar sangat terkenal, sembilan puluh persen para mahasiswa itu berasal dari kalangan atas, ada juga beberapa dari mereka yang berasal dari kalangan bawah, yaitu mahasiswa yang hanya menerima beasiswa, dan populasi mereka bisa di katakan hanya sepuluh persen saja.
Setelah tidak menemukan jalan keluar apapun, Jian hanya memilih untuk menerima syarat yang di berikan oleh Valia.
"Jika sudah seperti ini, maka jalan satu-satunya adalah menerima syarat itu" batin Jian dengan keringat dingin di dahinya.
Jian menghirup udara dalam-dalam, lalu ia menghembuskan ya secara perlahan "Baik, aku setuju" ujar Jian dengan sangat mantap.
"Bagus, sekarang panggil para polisi itu" ucap Valia pada Jian.
Jian pun segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi para polisi.
Lalu, diantara kerumunan itu para dosen mencoba menerobos masuk, setelah berhasil keluar dari kerumunan, para dosen terkejut melihat Rila dan Asra berjongkok dan sedangkan Jian dan Valia tengah berdiri.
Gleni terkejut melihat Valia masih berkeliaran di kampus, ia bahkan tidak menyangka bahwa Jian tampak terintimidasi oleh Valia.
Gleni pun terlihat tidak membiarkan Jian tertindas, ia pun melangkah maju "Ada apa ini?" teriak Gleni sambil menatap Valia dengan tajam.
Valia tidak memperdulikan teriakan itu, ia tengah asik menatap wajah ketakutan Jian, baginya menatap wajah orang yang tengah ketakutan adalah hal yang sangat menyenangkan.
Gleni terlihat kesal karena Valia telah mengabaikan perkataannya, lalu setelah Gleni sudah berada di antara mereka, tiba-tiba saja Gleni melayangkan satu tangannya.
Plakkk
Tangan Gleni kini mendarat di pipi Valia, sedangkan Valia tidak terkejut sama sekali, ia justru memilih memegang pipinya yang terasa panas.
Jian yang sedang menghubungi polisi bahkan tersenyum puas melihat Gleni menampar Valia. Begitu juga dengan Rila dan Asra, mereka benar-benar tampak sangat bahagia melihat Valia terdiam di hadapan Gleni.
"Kau mengabaikan perkataanku?!" teriak Gleni dengan kesal.
Gleni bahkan lupa bahwa dirinya tengah di kelilingi para mahasiswa, para mahasiswa itu sendiri pun terkejut melihat Gleni mendaratkan tamparan di pipi Valia.
"Apa kau sudah selesai mengoceh?" tanya Valia dengan tatapan tajam.
Gleni seketika mematung, ia yang awalnya berlagak superior kini menciut sedikit demi sedikit, bagi Gleni, tatapan yang di berikan Valia padanya adalah tatapan membunuh.
Tubuh Gleni bahkan gemetar ketakutan, dan kedua kaki Gleni juga seolah tidak bertenaga.
"Kenapa tatapannya begitu menyeramkan?, bahkan tubuhku juga ikut bergetar ketakutan" batin Gleni yang masih menatap Valia dan begitu juga Valia yang masih menatap Gleni.
"Aku tanya sekali lagi, apa kau sudah selesai mengoceh?" tanya Valia dengan tatapan tajam.
Setelah mendapat pertanyaan itu, Gleni pun merasa kesal, dan ia pun mencoba memberanikan dirinya, "Apa kau berani melawan dosenmu?," tanya Gleni dengan menggunakan jabatannya.
Valia mengernyitkan dahinya, ia tidak menyangka bahwa ada orang yang tidak tau malu yang mengancam orang lain dengan menggunakan profesinya.
"Lalu bagaimana dengan mu?, apa kau hanya berani pada mahasiswa saja?" tanya Valia sambil menatap Gleni dengan remeh.
Gleni terkejut mendekat perkataan Valia, para mahasiswa mulai berbisik, sontak saja hal itu membuat Gleni melihat ke sekelilingnya.
"I-ini?" gumam Gleni yang sempat lupa jika dirinya sedang berada di tengah-tengah mahasiswa.
"Atau ibu dosen ingin bertaruh dengan ku juga?" tanya Valia dengan santai.
Gleni terkejut mendengar perkataan Valia, ia baru saja tiba, jadi ia sungguh tidak mengerti apa yang di katakan Valia, "apa maksudmu?," tanya Gleni dengan mengernyitkan dahinya.
Valia tengah tersenyum tipis, "Lihat lah semua, ibu dosen ini tiba-tiba menghampiriku dan menampar wajahku, padahal dia sendiri justru tidak atau akar dari permasalahannya. Apakah dia pantas disebut sebagai seorang dosen?" tanya Valia dengan meninggikan suaranya.
Mendengar perkataan itu, membuat Gleni kembali tampak sedikit gemetar ketakutan, ia menoleh ke kanan dan ke kiri, ternyata seluruh mahasiswa yang ada di sekelilingnya tengah menatap ke arah dirinya dengan tajam.
Gleni pun menggelengkan kepalanya, "Ti-tidak, bukan seperti itu" ucap Gleni yang ketakutan karena melihat tatapan para mahasiswa itu.
Valia semakin bersemangat untuk memprovokasi para mahasiswa itu, ia ingin memberi pelajaran.pada Gleni yang selalu membantu Jian dalam keadaan apapun.
"Lalu, kenapa kau menamparku?, aku tidak memiliki urusan dengan mu, tapi kau dengan mudah menampar wajahku, apa karena kau seorang dosen maka kau bisa berlaku sesuka hati mu pada mahasiswa?" tanya Valia yang semakin memojokkan Gleni.
Kini mata Valia tertuju pada Jian, Rila dan Asra, mereka bahkan diam tak berkutik, jelas saja mereka bahkan tidak berniat untuk membantu Gleni.
Tiba-tiba saja para polisi itu datang mereka memotong para kerumunan itu "Apa nona yang memanggil kami?" tanya polisi itu sambil menatap Jian.
Jian yang tadinya terdiam, kini tengah tersenyum sombong, ia pun mulai menjelaskan apa yang telah terjadi pada mereka, "Benar, aku ingin mengajukan keluhan, Valia menendang meja ini sampai mengenai perut Rila. aku ingin kalian menangkap wanita ini" ujar Jian sambil tersenyum.
Kedua polisi itu menatap Valia dan mereka pun melangkah dan ingin meraih tangan Valia untuk di bawa ke kantor polisi.
Melihat hal itu, Valia pun tidak tinggal diam, ia yang tengah berdiri dengan kedua tangan di lipat melirik kearah dua polisi itu, "Apa kalian tidak bertanya padaku?," tanya Valia yang mulai menatap polisi itu dengan tajam.
Polisi yang mendengar itu pun mengerutkan dahinya, "Tidak perlu, kami akan melakukan nya di kantor polisi" ujar polisi itu dengan santai.
Valia yang mendengar itu pun mulai tertawa geli, "Haha ... apa-apaan ini, apa mereka orang mu juga Jian?" tanya Valia sambil menatap Jian yang tengah tersenyum padanya.
Walau dirinya tau bahwa kedua polisi itu ada hubungannya dengan Jian, tapi Valia dengan sengaja menyebutkan hal itu secara lantang.
Jian mendengar perkataan itu serta ia melihat lirikan dari Valia, lalu senyum yang telah mengembang di bibirnya kini sirna.
"Tidak" jawab Jian dengan tegas.
Valia juga sudah menduga jika Jian akan menjawab seperti itu, "Baiklah, sebelum membawaku, aku akan bertanya pada kalian berdua. Apa hukuman bagi orang yang melakukan pembunuhan berencana?" tanya Valia sambil menatap kedua polisi itu.
Sang polisi yang mendengar itu memiringkan kepalanya sambil berpikir, "Hukuman maksimal 20 tahun penjara, atau bisa juga hukuman mati" jawab polisi itu dengan tegas.
Valia yang mendengar itu justru tengah tersenyum, "Kalau begitu bagaimana dengan ini?" tanya Valia sambil mengeluarkan bolpoinnya dan langsung memutarnya.
Jian sedikit heran dengan bolpoin yang di keluarkan oleh Valia, tapi ia juga memiliki firasat buruk tentang bolpoin itu.
Tiba-tiba saja, sebuah suara keluar dari bolpoin itu, orang-orang yang ada di sana terkejut mendengar suara berat yang mengatakan bahwa Jian menyuruhnya untuk membunuh Valia.
Jian, Asra, Rila, Gleni tampak membulatkan mata mereka, bahkan kedua polisi itu juga ikut terkejut.
"Aku tidak melakukan itu!" teriak Jian secara tiba-tiba.
Bersambung ....
btw Thor...dh 2 bln lebih gk up....skrg Bru up....kmna aja lo Thor???
btw next Thor 😃...jgn kelamaan up Thor 😃
hehe kayak aku juga sering up aja hehe
aku juga sama thor dah lebih sebulan gak up karena kesibukan yg benar2 suwibuk hahaha
lanjuy thor tetep semangat up ya
btw next Thor 😃