Laura Evelyn menyusun rencana untuk balas dendam kepada mantan suaminya. Karena mantan suaminya telah menelantarkan dirinya dan ketiga anak-anaknya kala itu.
Laura kemudian menyewa seorang pemuda yang umurnya jauh lebih muda darinya untuk ia jadikan suami bayaran.
Apa jadinya jika Laura tertarik dengan suami bayarannya.
Saat Laura telah jatuh hati pada pria lain. Sang mantan suami, Bimasena datang kembali dalam kehidupan Laura dan berjuang untuk meluluhkan hati Laura kembali.
Apakah Laura akan menerima cinta sang mantan suami kembali?
Ataukah Laura lebih memilih bersama suami bayarannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Watilaras, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyesalan Bima
"Katakan pada ku Bim. Alasan apa yang membuat mu bisa sampai di Swiss. Jika tidak ada alasan yang kuat. Kau tidak akan sampai di sini." cecar Laura pada malam hari itu. Ketika mereka berdua berada di kamar.
"Anak anak dan diri mu, tentu saja. Kalianlah yang menjadi alasan ku datang kemari." jawab Bimasena tegas. Seolah-olah ia sangat yakin dengan perkataannya dan ia merasa yakin jika ia bisa mendapatkan kembali anak-anak dan juga istrinya.
Mendengar jawaban itu, Laura terlihat frustasi.
Bagaimana tidak frustasi. Kka apa yang dilakukan Bima pada dirinya saat itu seolah-olah menunjukkan jika semua kesalahan Bima selama ini tidak berarti apa-apa bagi Laura dan juga anaknya. Padahal semuanya itu meninggalkan rasa trauma yang mendalam bagi dirinya dan juga anak-anak.
Laura saat itu duduk di kursi riasnya dengan sudah mengenakan pakaian tidur, langsung berdiri dan melipat kedua tangannya sambil menatap tajam ke arah Bima.
Sedangkan Bimasena yang tengah berada di atas ranjang di samping Gavin membalas tatapan tajam sang istri dengan tatapan mata lembut.
"Aku bingung dengan sikapmu Bim. Sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan kepada kami?"
"Jangan bigung Laura. Kedatanganku kemari untuk niat dan tujuan yang baik."
"Baik menurut siapa?"
"Untuk kita, dan anak anak."
Mendengar kata-kata yang barusan Bimasena ucapan membuat dada Laura bergemuruh.
Bagaimana tidak. Pria yang saat ini sedang berada di kamarnya terasa enteng bicaranya. Seolah-olah semua luka yang pernah ia torehkan tidak ada bekasnya.
"Kenapa baru sekarang kamu menyadari itu? Aku tidak melihat rasa penyesalan di wajah mu. Atas semua perbuatan yang pernah kamu lakukan pada ku Bim." ucap Laura tatapan mata yang tak bersahabat yang masih terus Laura perlihatkan kepada sang suami.
Bimasena kemudian berinsut dari tempat tidur dan berjalan mendekati sang istri.
"Besok kita pergi ke suatu tempat ya. Aku ingin kita bisa bicara lebih tenang dan kau bisa tumpahkan semua rasa kekesalan mu pada ku. Agar aku tau seberapa besar luka yang sudah aku goreskan pada mu. Di sini ada Gavin. Aku tidak ingin dia mendengar sesuatu yang kita bicarakan. Aku ingin kau meneriaki ku, memaki ku ataupun memukul ku. Kau bebas melakukannya." jelas Bimasena, yang saat itu sudah berdiri tepat di hadapan Laura.
"Aku semakin tidak mengerti diri mu." Kemudian Laura berlalu dari hadapan Bimasena dan naik ke atas ranjang.
"Maafkan aku Laura."
"Tidak semudah itu Bim, kau mendapatkan kata maaf dari ku. Aku mau tidur, aku cukup lelah hari ini."
Laura kemudian menaikkan selimutnya sampai ke dadanya dan kemudian ia memejamkan kedua matanya.
Bima yang saat itu masih berdiri tegak di tempatnya hanya bisa diam menatap ke arah Laura yang sudah berbaring di tempat tidur itu.
Perlahan, Bimasena berjalan ke arah Laura. Dan, tiba tiba saja ia membungkukkan badannya lalu ia mengecup pelipis Laura.
Laura yang saat itu belum benar-benar tidur merasakan kecupan yang di berikan sang suami.
Tapi ia cuek dan tak mau menanggapi.
"Selamat beristirahat Laura, ibu dari anak anak ku. Selamat malam." Imbuh Bima lagi, dan kembali melabuhkan ciuman kedua ke kepala Laura.
Setelah itu, Bima berjalan ke sisi ranjangnya yang lain dan ia merebahkan tubuhnya di sana.
Sambil tiduran miring, Bimasena tersenyum memandangi wajah sang istri yang sudah terpejam itu.
Dan di tengah-tengah mereka, ada Gavin yang sejak tadi sudah larut dalam mimpi indahnya.
Dalam hati, Bima merasakan ketenangan saat ia sudah berada dekat bersama anak-anaknya. Sungguh kini ia telah menyesali untuk semua sikap yang telah ia lakukan terhadap keluarganya.
Terima kasih utk ceritanya kak Wati🙏.Semoga selalu sukses utk karya2nya..
Langsung cus ke karya kak Wati yg baru😊
heran Thor kok gak ada karma² sama Bima sedang Kinanti kena vonis sakit rahim 🤣🤣🤣
Bima mau ngapain