Raya Adha gadis manis berambut panjang dan hidup sebatang kara karena orang tua dan adiknya meninggal karena kecelakaan. Raya kemudian terusir dari rumahnya sendiri oleh adik tiri ayahnya.
Tak ingin terpuruk raya memilih pergi ke Jakarta menyusul temannya untuk melanjutkan hidup dan bekerja.Namun karena sebuah kejadian raya harus terikat sebuah pernikahan dengan laki-laki yang tidak ia cintai bahkan tidak di kenalnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13.Itu rumah ku
Pagi ini, Raya sudah di perbolehkan dokter untuk pulang, saat berkemas beberapa barang milik dirinya tanpa mengetuk pintu Tian datang dan langsung masuk. Di tatapnya sejenak wajah raya ada rasa kecewa saat ini yang di rasakan Tian, perempuan yang sejak dulu ia cintai selalu menolak dirinya bahkan hanya menganggap nya sebagai sahabat.
"Udah sehatan?"tanya Tiaan sembari membantu Raya.
"Alhamdulilah." jawab Raya "Masih marah soal kemaren?" tanya Raya.
"Udah biasa kali Ray."Jawab Tan datar "Kalau udah selesai ayo aku antar pulang."
"Gak ngerepotin ?? Kamu gak kerja??"
"Demi kamu Ray..apa pun akan aku lakukan."Jawab Tian lesu
Raya dan Tian akhirnya pergi meninggalkan rumah sakit, hanya ada keheningan di dalam mobil Raya sangat paham betul suasana hati sahabatnya itu,entah bagaimana lagi cara Raya menjelaskan perihal persaannya terhadap lelaki di sampingnya saat ini. Bahkan Raya sudah menceritakan bahwa ia sudah Menikah namun Tian bersikukuh akan tetap mencintai Raya dan menunggu nya.
"Tian ...aku tau kamu kecewa." ujar Raya membuka pembicaraan "Bukankah sejak dulu ku katakan aku hanya menganggap mu sebagai sahabat tidak lebih."
"Huuuh..."Tian mendengus kesal "Ray apa kamu tidak memiliki rasa suka, rasa sayang dan cinta terhadap ku kamu tau kita saling kenal udah lama banget?"
"Tian...rasa sayang ku ada tapi hanya sebagai sahabat, tapi maaf kalau rasa cinta sedikit pun tidak ada maafkan aku."Jawab Raya dengan sedih.
"Sudahlah Ray...jangan di teruskan aku sudah tau selanjutnya apa."
"Ku harap kamu mengerti Tian, carilah perempuan yang baik di luar sana aku yakin Tuhan sudah mempersiapkan yang terbaik untuk mu."
"Aku akan tetap nunggu kamu."
Tidak ada jawaban dari Raya, saat ini hanya ada kesunyian di antara kedua nya. Raya membuang pandangannya ke luar jendela mobil pikirannya melayang mengingat Rendy laki-laki yang sudah menjadi suaminya. Di dalam hati kecil Raya ada sebuah kerinduan jika mengingat Rendy namun ada juga rasa benci bila mengingat nya.
"Udah nyampe Ray."
"Eeeh...iya."
"Aku langsung balik kerja kalau kamu butuh sesuatu telpon aja aku."
"Makasih Tian."
Matahari sudah menampakan sinarnya, suara-suara kesibukan sudah mulai terdengar Raya yang sudah bersiap untuk pergi bukan bekerja namun pergi kerumah om dan tantenya atau lebih tepat rumah Raya sendiri. kerinduan terhadap orangtuanya membuat Raya memberanikan diri untuk datang.
Tok...
Tok...
Tok...
Perempuan paruh baya membuka pintu dengan tatapan sinis dan tidak suka menyambut kedatangan Raya, di pandang nya perempuan paruh baya itu yang tega mengusir Raya dari rumahnya sendiri dengan wajah angkuh dan sombong Dina langsung mengusir Raya.
"Pergi kamu...."bentak Dina "Ngapain kamu kesini hah?"
"Tante gak berhak ngusir aku ini rumah ku."
"Hahaha...rumah kamu? iya kalau dulu ya rumah kamu sekarang ya rumah saya."Jawab Dina dengan sombong.
"Tante jahat ..bukankah keluarga ku sangat baik baik terhadap om dan tante?" tak terasa air mata raya jatuh membasahi pipi.
"jahat kamu bilang...Hahaha iya kami memang jahat sekarang juga pergi kamu"..Bentak Dina dengan menunjuk wajah Raya.
"Gak aku gak akan pergi." Teriak Raya dalam tangisnya.
Karena mendengar suara keributan Andri yang merupakan suami Dina keluar saat melihat Raya,Andri langsung mencengkram tangan Raya dan menyeretnya menuju gerbang rumah.
"Lepaskan om.."pinta Raya menahan sakit.
"Pergi kamu ini bukan rumah kamu lagi."
"Gak...ini rumah Raya om, Raya di besarkan di rumah ini tolong om hanya rumah ini kenangan papah dan mamah."
"Tidak ada kenangan kalau kamuau kenangan sana susul orangtua kamu'."
Raya sangat sedih, tangisnya semakin deras satu-satunya saudara yang ia miliki dengan tega mengusirnya tanpa berkata-kata Raya pergi meninggalkan rumahnya. Hidupnya kacau saat ini di tinggal pergi kedua orangtuanya adalah pukulan terberat dalam hidup raya di tambah Raya harus menikah secara paksa dengan laki-laki yang tidak ia kenal bahkan sekarang sudah mengabaikannya saudara yang seharusnya saat ini mendukung dan memberi semangat juga mengabaikannya.
Di bawah teriknya matahari Raya menyusuri jalan selangkah demi selangkah tanpa tujuan tangis di matanya mungkin sudah berhenti namun tidak dengan hatinya.
Panasnya matahari pun tidak ia rasakan tatapan mata kosong seakan menggambarkan keputusasaan, namun Raya sadar hidup akan terus berlanjut yang ada di otaknya saat ini hanya sebuah pertanyaan sederhana kapankan kebahagiaan itu datang?