Hai dukung ceritaku ya.
SETELAH MEMBACA BIASAKAN LIKE.
LIKE, KOMENTAR, FAVORIT JUGA.
Cerita ini hanya kehaluan author saja ya.
Cerita ini kelanjutan Benih Tuan Muda Kejam.
Menceritakan kisah cinta anak ketiga Abraham dan arin.
Ya Andra harus menikah dengan seorang wanita cantik bernama Syafi yang ternyata anak dari pak Andi dan Veli. Arin yang sudah suka dengan Syafi pun meminta pak Andi untuk menjodohkan keduanya. Apalagi Syafi baru saja putus dengan sang tunangan karena penghianat.
Bagaimana serunya rumah tangga keduanya, apalagi Andra ternyata musuh bebuyutan Syafi selama di kampus.
Yuk kepoin ceritanya 🙏.
Setelah membaca biasakan like ya🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ismiati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
"Ha ha ha ha ha ha lihatlah mereka sayang, sungguh cocok," kata Arin menarik tentang Abraham menuju jendela untuk mengintip sang anak.
"Hmmm.... Sudah jangan lihat mereka terus, cepat kamu pijat punggung ku sakit," pinta Abraham kepada sang istri.
"Maka nya, ingat umur sudah tahu kalau sudah tua jangan sok-sok'an mau gendong aku segala," ledek Arin kepada sang suami.
"Apa kamu bilang aku tua," kesal Abraham karena dikatain tua.
"Ck kenyataan nya begitu, lihatlah rambut mu itu yang sudah beruban," ledek Arin.
"Sudah jangan bahas uban maupun tua. Cepat pijit aku," perintah Abraham.
"Iya-iya..... Cepetan buka tuh baju biar ku urut punggung mu," kata Arin.
Sedangkan di kamar ruang tamu.
Pak Andi memandang foto wanita cantik yang masih belia.
"Sayang lihatlah anak kita sudah besar, andai kamu ada di sini," lirihnya sedih.
☘️☘️☘️
Kembali ke dua orang yang sering sekali berantem tak jelas.
"Ck sudah tampan, wangi malah kena ingus," guman Andra kesal membuat Syafi mendongak.
Deg...
'Ternyata dia begitu tampan,' batin Syafi.
'Matanya begitu polos rasanya ingin aku melindungi nya, haisss apaan sih yang ku pikirkan,' batin Andra.
Keduanya pun sadar dengan posisi mereka, buru-buru mereka melepaskan diri satu sama lain.
"Ih ngapain kamu peluk-pelukan aku," kata Syafi membersihkan bajunya dengan bayangan seolah ada kotoran yang menempel.
"Ha..." Andra binggung harus menjawab apa karena dirinya lah yang pertama kali merebahkan kepala Syafi.
Mau mengelak juga gak mungkin.
"Aku cuma cumaaaa..." Andra binggung mencari alasan.
"Ha cuma apa? Cari kesempatan dalam kesempitan kan," sinis Syafi memandang ke arah Andra.
"PD banget sih, lha aku cuma menghibur kamu lagian siapa yang mau sama cewek kayak kamu, apalagi nih lihat ingusan kamu nempel di bajuku," jawab Andra sambil menunjukkan baju nya yang terkena ingus Syafi.
Andra geli sendiri sendiri melihatnya.
"Aku mau ganti baju, mandi lagi semua gara-gara kamu," Andra pun berbalik hendak menuju kamarnya lagi. Namun dia berbalik menatap syafi dari atas ke bawah.
Syafi pun menutup tubuhnya dengan kedua tangannya karena melihat mata Andra menelisik tampilan nya.
"Hei ngapain kamu lihat aku seperti itu," kesal Syafi.
"Pffffff....." Andra menahan tawanya saat melihat mata syafi.
"Cepat mandi sana terus ganti baju, serem banget lihatnya," ledek Andra berlari meninggalkan Syafi.
"Kenapa tuh anak kabur? Apa ada yang aneh yang dengan tampilan ku," tanya Syafi pada dirinya sendiri.
"Ah sebaiknya aku mandi," kata Syafi.
Dia pun bertanya kepada salah satu pelayan yang ada di sana, di mana kamar tamu untuk dia. Syafi merasa aneh saat melihat pelayan tadi menahan tawa.
Syafi pun cuek sampai dia berbelok menuju lorong, dia pun melihat cermin besar di ruang tamu membuat dia berbelok.
"Astaghfirullah," Syafi kaget melihat dirinya.
Rambut panjang nya sedikit kusut, maskara nya pun luntur membuat wajahnya menyeramkan.
"Ha kenapa muka ku kayak gini, pantas tuh anak nyuruh aku mandi dan tuh pelayan tadi pasti mau ngetawain aku,"
"Ih malu banget," kata Syafi merasa malu.
Syafi pun berlari menuju kamarnya malu takut ketahuan yang lain.
Hos hos hos hos hos...
Ceklek...
"Fyuuuhhhh akhirnya,"
Syafi pun melihat di atas tempat tidur sudah tersedia gaun untuknya.
"Ck kenapa nih baju feminim banget, gak ada celana sama kaos gitu ya," protes Syafi yang tak suka dengan dress berwarna cream itu apalagi tanpa lengan.
"Ah biarlah daripada tidak ada, nih baju juga dah bau asem,"
Setelah itu Syafi pun menuju kamar mandi, dia berendam untuk memulihkan tenaga nya.
"Kenapa ya tubuh ku pegal-pegal, apa karena baru pertama kali naik motor," guman Syafi.
Syafi pun memejamkan mata nya menikmati air hangat yang merendam tubuhnya tak lupa dia menyalakan musik kesukaan nya.
Tanpa terasa Syafi sudah berada di kamar mandi satu jam.
Semua sudah berkumpul di meja makan, mereka bukan menikmati makan malam, namun cuma berkumpul sambil menikmati makanan ringan seperti kue, puding , sate, martabak dan menu lainnya.
Sebelum Syafi dan pak Andi pulang ke rumah.
"Sayang Syafi mana?" Tanya Arin kepada sang anak.
Rumah besar itu terasa sepi karena Aurel masih bertugas di pedalaman, tugasnya sebagai dokter tak bisa menemani sang mama setiap hari. Sedangkan Abrian sedang berada di luar negeri mengurus bisnisnya maka dari itu Abraham yang mengurus bisnis di sini.
"Entahlah ma mungkin dia mandi," jawab Andra cuek masih memakan martabak manis kesukaan nya.
"Cepat kamu panggil Syafi ajak ke sini sekalian kita bahas acara pertunangan kalian dulu," kata Arin membuat Andra berhenti mengunyah martabak tadi.
"Tunangan ma," Andra melotot kaget.
"Iya, nanti biar om Bimo dan tante Esta yang urus semua sedangkan kalian undang teman dekat kalian saja," jelas Arin.
Andra semakin lesu, entah kenapa sang mama bisa kekeh menikahkan dia dengan Syafi, apakah cuma sekedar tanggung jawab untuk menjaga Syafi atau ada yang lain lagi.
Dengan langkah malas, dia melangkah menuju kamar Syafi.
Tok tok tok tok tok
"Syafi di tunggu mama," berkali-kali Andra memanggil namun tak ada jawaban membuatnya kesal.
Ceklek....
Andra mengerutkan kening saat menyadari pintu tak terkunci, dia membuka sedikit dan memunculkan kepala dulu.
"Kemana nih anak,"
Andra pun masuk ke dalam kamar karena Syafi tak terlihat.
Mendengar suara musik di kamar mandi membuat Andra tahu Syafi berada di sana.
"Ha tuh anak dari tadi belum keluar," kaget Andra saat melihat jam yang ada di pergelangan tangan nya.
"Wah jangan-jangan tuh anak tengelam," pikiran buruk itu muncul.
Dor dor dor dor.
"Syafi buka pintu nya,"
"Buka,"
Dor dor dor... Andra masih menggedor pintu kamar mandi.
"Buka atau ku dobrak pintunya," teriak Andra cemas.
Karena tak mendapat jawaban, Andra pun mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu.
1 2 3 Andra mengambil aba-aba untuk mendobrak pintu.
Brak brak bruuuuuakkk... Akhirnya pintu pun terbuka.
Syafi yang awalnya terlelap pun terbangun.
Sedangkan Andra terdiam kaku, mulutnya menganga melihat pemandangan di depannya.
Deg deg deg deg... Andra gugup ternyata Syafi baik-baik saja.
"Dasar mesuuuum ngapain kamu dobrak tuh pintu, mau ngintip ya," teriak Syafi.
Andra melongo melihat Syafi yang masih di dalam bathtub, untung air masih di penuhi busa jadi dia tak bisa melihat tubuh Syafi.
"Keluuuuuuaaaaarrrrr," teriak Syafi.
Andra pun langsung berlari menuju keluar kamar tak lupa menutup pintu kamar.
Andra bersandar di depan kamar Syafi menormalkan detak jantungnya.
B E R S A M B U N G...
Hadeh Abraham dari dulu gak berubah, masih aja posesif sama cemburuan🤣🤣