Fero Alexander pria tampan namun sedikit kejam jatuh cinta pada seorang gadis berhati dingin bernama Fani Anindita.
Jatuh cinta pada pandangan pertama membuat pria yang biasanya dikejar oleh wanita kini beralih dia yang mengejar wanita.
Bagaimana cara ia meluluhkan hati gadis yang terlanjur mati akibat pengkhianatan dari cinta pertamanya.
Ikuti kisahnya apakah Fero berhasil meluluhkan hati gadis yang ia cintai
Yuk simak ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi Zoviza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
makan siang
Fani melihat email yang baru dikirim oleh Kayla.Dia begitu sana sibuk sekarang karena sahabatnya juga ingin membuat kebaya sendiri.Sudah dipastikan jika Devan takkan membiarkan sang kekasih mengerjakannya.
"Kayla ...Kayla dapat calon laki tajir melintir kenapa gak pesan kebaya di butik ternama aja sih",gerutu Fani yang tak habis pikir dengan sahabatnya itu.
Fani melihat jam dinding sudah memasuki jam makan siang itu artinya sebentar lagi Fero akan menjemputnya untuk makan siang bersama.Ia sudah terlanjur janji pada pria itu dari ia tak mau mengingkari janjinya karena itu bukanlah sifat.
Tring
081210*******
Aku dalam perjalanan
by Fero
Fani segera merapikan pekerjaan dan segera bersiap untuk pergi.Ia segera keluar dari ruangannya dan mencari Susi memberitahukan ia akan keluar sebentar.
"Sus...aku keluar sebentar ya,kalau ada apa apa telfon aja", ucap Fani.
"Baik Mbak...",jawab Susi tersenyum tipis.
Fani melangkah keluar toko berencana menunggu Fero didepan toko.Namun baru saja ia keluar sebuah mobil mewah berhenti didepan tokonya.Tak lama seorang pria yang tak lain adalah Fero turun dari mobil mewahnya dan tersenyum tipis pada Fani.
Fani segera menghampiri Fero dengan langkah anggunnya.Pria itu segera membukakan pintu mobilnya untuk Fani dan mempersilahkan gadis itu masuk.Dan ia pun ikut memasuki mobil dan duduk dibalik kemudi.
"Mau makan siang dimana?",tanya Fero yang sedang memasang sabuk pengamannya.
"Terserah anda saja Tuan,bukan kah anda yang yang mengajak ku makan siang",jawab Fani dengan ekspresi datarnya.
"Oke...kita makan di salah satu restoran seafood yang tak jauh dari sini",ujar Fero menjalankan mobilnya.
"Hmmm",Fani berdehem pelan.
"Gue pikir gue aja yang bersikap dingin ternyata nih cewek hampir sama sifatnya dengan gue",batin Fero menatap Fani dari sudut matanya.
Tak lama mobil yang mereka terparkir di sebuah restoran seafood.Keduanya turun dan memasuki restoran dengan langkah beriringan.
Saat memasuki restoran semua mata tertuju kepada mereka berdua lebih tepatnya pada Fani.Para pria yang ada di restoran itu menatap Fani tak berkedip.Sontak membuat Fero mendumel dalam hati melihat kelakuan para pria itu.
Seorang pelayan menghampiri mereka dan tersenyum ramah.
"Selamat datang Tuan dan Nyonya,silahkan duduk",sapa pelayan itu dengan senyuman ramah.
"Saya mau ruangan VIP",ucap Fero dengan datar.Ia tak mau semua orang memperhatikan gadisnya.Bisa bisa ia makan dengan tidak tenang.
"Baik Tuan".
"Tuan...lebih baik kita makan disini saja",tunjuk Fani pada salah satu meja yang kosong.
"Tidak...kita makan di ruangan VIP.Apakah kamu tak risih dengan tatapan para pria hidung belang itu padamu?",ujar Fero dengan hati dongkolnya.Ingin rasanya ia mencongkel mata pria yang menatap Fani tak berkedip itu.
"Aku sudah terbiasa dengan tatapan seperti itu Tuan,selagi tak mengangguku terserah mereka toh mereka punya mata untuk melihat",jawab Fani dengan entengnya.
"Kita akan tetap makan diruangan VIP",putus Fero melangkah mengikuti pelayan yang sudah mendahuluinya.
Fani memutar mata jengah dengan tingkah sahabat Devan ini.Kekasihnya saja dulu lebih senang ia ditatap para pria lain itu berarti dirinya cantik itulah pendapat Alvian waktu itu.
"Kenapa aku tiba tiba memikirkan pria brengsek itu",batin Fani mengikuti langkah Fero yang mulai menjauh.
Akhirnya mereka makan siang bersama diruangan VIP yang dipesan Fero.Suasana makan siang itu terasa spesial bagi Fero namun tidak bagi Fani.Gadis itu merasa ada niat lain dari maksud Fero mengajaknya makan siang.
Diam diam Fero memperhatikan Fani yang sedang lahap memakan makanan siangnya.Bibir pria itu membentuk bulan sabit karena gadisnya begitu sangat cantik.Baru kali ini dia jatuh hati seperti ini pada seorang wanita.Baginya Fani tidaklah membosankan jika dipandang.Gadis itu memiliki wajah campuran Asia dan Eropa dengan kulit kuning langsat namun sangat bersih dan mulus jika dilihat dari tengkuk lehernya dan kaki jenjangnya.
Fani menyudahi ritual makannya saat Fero masih memandanginya tak berkedip.Pria itu sungguh-sungguh terpesona dengan kecantikan yang dimiliki Fani.
"Tuan...apakah anda sudah selesai?",tanya Fani menyadarkan Fero dari lamunannya.
"Ah...ada apa?",tanya Fero yang sedikit salah tingkah karena ketahuan sedang memperhatikan gadis itu makan.
"Hmmm...apakah anda sudah selesai Tuan,aku harus kembali ke toko karena pekerjaan ku sangat menumpuk",ucap Fani milirik sekilas jam tangannya.Ditatap seperti itu sudah sudah biasa baginya.
"Oh...Ya aku sudah selesai,boleh aku meminta sesuatu?",tanya Fero menatap Fani dengan serius.
"Tentu....jika anda tidak meminta yang macam macam Tuan",jawab Fani.
"Sebelumnya saya sudah memintamu melakukannya tapi sepertinya kamu lupa.Jangan panggil aku tuan lagi Fani,kamu bisa panggil aku dengan Mas atau apalah yang membuatmu nyaman",tutur Fero.
Fani sedikit terkejut dengan permintaan Fero, memanggilnya dengan sebutan Mas membuatnya ragu kalau ada maksud lain dari pria yang duduk dihadapannya ini.
"Bagaimana? apakah kamu keberatan?",timpal Fero.
"Ti-tidak...Tuan eh...Mas maksudnya",ujar Fani tersenyum canggung.
"Baiklah...ayo kita pergi.Aku akan mengantarmu kembali ke toko",Fero segera berdiri dan meletakkan uang dibalik buku menu.
Fero mengantar kembali Fani ke toko,selama dalam perjalanan keduanya tampak saling diam.Fani sibuk dengan ponselnya membalas chat dari beberapa pelanggannya yang menanyakan pesanan mereka.
Saat Fani akan menyimpan kembali penselnya kedalam tas benda itu kembali berdering.Nampak disana nama sang mantan yang menghubunginya.
Fani membiarkan saja ponselnya terus berdering tanpa berniat mengangkatnya.Fero sekilas melihat ke layar ponsel Fani mengumpat
dalam hati karena pria bajingan itu masih saja menganggu gadisnya.
"Kenapa tidak diangkat?",tanya Fero yang masih fokus pada jalanan menenangkan hatinya yang bergejolak menahan rasa cemburunya.
"Tidak penting....",jawab Fani datar.
Fani yang sudah jengah dengan sang mantan yang terus menghubunginya menekan tombol blokir lalu memasukkan ponselnya itu kedalam tas dengan wajah yang terlihat kesal.
Tanpa Fani sadari Fero tersenyum tipis melihat apa yang dilakukan Fani.Pria itu bahagia kalau gadisnya melakukan hal yang sangat tepat untuk yang namanya mantan.Dari tadi tangannya sudah gatal untuk memblokir nomor pria bajingan itu.
...****************...
cemburu mu Fero...
yang lain dari yg lain gitu
semangat mba💪
Aku biasa nya sebelum baca novel tuh baca komentar para riders yg udah baca,Kalo ada komentar sang peran utama nya TEH CELUP aku langsung skip dan cari novel lain aja...Yang ini aku mampir ya thor..