Meyra merasa sangat aneh karena kini dia berada di sebuah pulau yang dia tidak tahu entah di mana, sejauh mata memandang hanya ada lautan saja.
Setelah dia mencari tahu, ternyata Meyra terdampar di dunia lain. Demi bisa kembali ke bumi, dia rela menerima tawaran untuk menikah dengan siluman singa jantan yang dia temui di sana.
"Apakah aku bisa pulang ke bumi jika menikah denganmu?"
"Tentu saja, aku juga bisa membantumu untuk mengungkapkan kejahatan yang menimpa ayahmu."
Bagaimana kisah selanjutnya?
Langsung kita kepoin yuk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi Ke Mall
Lion dan juga Meyra terlihat makan dengan sangat lahap, mereka seperti orang yang sudah satu harian penuh tidak makan atau pun minum.
Bagaimana mereka tidak makan dengan lahap, jika mereka kini menggabungkan antara makan pagi dan juga makan siangnya.
Ditambah lagi dengan mereka yang sudah menghabiskan waktu untuk bercinta, hal itu membuat banyak energi yang terkuras.
Hal itu membuat mereka merasa sangat lelah dan juga lapar, bi Onah yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Sebenarnya dia ingin sekali segera pergi dari sana, karena Lion dan juga Meyra terlihat begitu mesra.
Mereka terlihat saling menyuapi, terkadang Lion akan mengusap-usap bibir
Meyra dan mengecup bibir istrinya itu.
Walaupun bibir Meyra penuh dengan makanan, tapi Lion seolah tidak segan dan juga jijik.
Hal itu membuat bi Onah menjadi salah tingkah, apalagi suaminya bi Onah bekerja tidak satu tempat dengan dirinya.
Tentu saja bi Onah merasa ingin sekali izin untuk tidak masuk bekerja, dia ingin menemui suaminya yang sedang bekerja sebagai sopir pribadi di tampat lain.
Awalnya Lion terlihat lagu untuk memakan makanan yang disediakan oleh bi Onah, tapi setelah mencoba semua makanan yang dimasak bi Onah, ternyata lidah Lion sangat cocok dengan masakan yang dibuat oleh asisten rumah tangga istrinya tersebut.
Mungkin karena kini Lion sudah menjadi manusia seutuhnya, padahal biasanya Lion hanya akan memakan daging saja.
"Coba yang ini deh, pasti kamu suka," kata Meyra seraya menyodorkan satu sendok tumis pare ke mulut suaminya.
"Ini makanan apa?" tanya Lion.
"Coba saja, ini makanan kesukaan Bi Onah," kata Meyra. Setelah mengatakan hal itu, Meyra terlihat mengatupkan mulutnya menahan tawa.
Melihat gelagat istrinya yang menurut dia sangat aneh, Lion langsung menggelengkan kepalanya. Dia takut jika dirinya akan dikerjai oleh istri kecilnya tersebut.
"Makan dong suamiku, Singa jantan kesayanganku," kata Meyra dengan nada menggoda.
Lion terlihat begitu senang kala Meyra mengatakan hal itu, dia bahkan tidak ragu untuk menngecupi setiap inci wajah istrinya dan terakhir melabuhkan ciuman yang begitu mesra di bibir istrinya tersebut.
Berbeda dengan bi Onah, mendengar apa yang dikatakan oleh Meyra bi Onah terlihat kaget. Dia benar-benar takut jika yang dikatakan oleh Meyra itu benar adanya, jika suami dari Meyra adalah seorang Singa jantan.
"Ma--maksud, Nona bagaimana? Suami Nona itu Singa begitu?" tanya Bi Onah tanpa ragu.
Karena jika benar adanya suami dari anak majikannya tersebut adalah seorang Singa, dia akan memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya.
Meyra seakan tersadar dari kesalahannya, dia sudah salah berucap. Padahal, tidak seharusnya Meyra mengatakan hal itu. Dia langsung bangun dan menghampiri bi Onah.
"Maaf, Bi. Suamiku bukan Singa dalam arti yang sebenarnya, tapi Singa jantan itu adalah sebutan kesayanganku untuk suamiku tersayang yang tampan dan juga rupawan itu," jawab Meyra beralasan.
Bi Onah terlihat bisa menghela napas lega dengan apa yang dikatakan oleh Meyra, itu artinya dia tidak perlu takut dan tidak perlu berhenti dari pekerjaannya yang sudah puluhan tahun dia jalani itu.
"Bagaimana aku tidak menyebut suamiku dengan panggilan Singa jantan, coba bibi perhatikan suamiku itu. Dia terlihat tampan dan juga gagah, bahkan tubuhnya terlihat begitu... uuh, seksi," bisik Meyra.
Dalam hati Meyra tertawa dengan apa yang dia ucapkan kepada bi Onah, tapi pada kenyataannya memang suaminya itu sangatlah gagah dan juga begitu pandai saat mengajak dirinya untuk bercinta.
Bi Onah langsung tersipu malu mendengar apa yang dikatakan oleh anak dari majikannya tersebut, karena menurutnya apa yang dikatakan oleh Meyra cukup vulgar.
Dulu Meyra selalu diam dan tanpa banyak bicara, tapi kali ini Meyra sangat berubah. Dia lebih terbuka dan juga lebih ceria, juga otaknya sedikit terkontaminasi.
"Oh ya Tuhan, bibi kira---"
Bi Onah tidak meneruskan ucapannya, dia hanya tersenyum seraya mengelus dadanya. Dia benar-benar merasa lega dengan apa yang sudah dia dengar.
"Ya sudah, kalau begitu Bibi ke belakang saja, sudah tidak ada yang diperlukan lagi, kan?" tanya Bi Onah.
Sebenarnya alasan dia ingin segera pergi adalah tidak ingin melihat terus-menerus kemesraan yang diperlihatkan oleh Meyra dan juga Lion.
Karena semakin lama dia melihat kemesraan dari nona mudanya tersebut, bi Onah merasa semakin merindukan suaminya. Suaminya yang jarang dia temui.
"Tidak ada, Bi. Bibi boleh pergi, oiya, Bi. Setelah selesai makan aku mau langsung ke Mall, mau beli baju buat Lion. Mungkin aku akan pulang malam juga, soalnya mau ngajak Lion jalan-jalan juga," kata Meyra.
"Ya, Bibi paham. Kalian pengantin baru, pasti masih ingin bermesraan berdua saja. Pergilah, Bibi akan menjaga rumah dengan baik," kata bi Onah.
"Terima kasih, Bi," kata Meyra.
"Sama-sama," jawab Bi Onah. Akhirnya setelah berpamitan, bi Onah terlihat pergi untuk mengerjakan hal yang lainnya.
Berbeda dengan Meyra, setelah mengatakan hal itu akhirnya Meyra dan juga Lion segera menyelesaikan makan siangnya. Dia yang awalnya ingin mengerjai suaminya malah tidak tega.
Setelah selesai makan siang, mereka pun langsung pergi ke sebuah pusat perbelanjaan yang ada di pusat kota. Selama perjalanan menuju pusat perbelanjaan, Lion terlihat mengedarkan pandangannya.
Dia begitu kagum, saat melihat gedung-gedung pencakar langit yang terlihat berdiri dengan sangat kokoh di sisi kanan dan kiri dari jalan yang Lion lalui.
Melihat akan hal itu Meyra terlihat tersenyum, lalu tangan kirinya terlulur dan menggenggam tangan suaminya.
Awalnya Meyra merasa tidak suka saat dirinya harus menikah dengan Lion, tapi kini dia merasa sangat senang karena mempunyai seorang suami yang bisa diajak untuk berbagi bajagia dan juga berkeluh kesah.
"Kamu senang?" tanya Meyra dengan tatapan matanya yang lurus ke depan, dia terus fokus menyetir.
"Sangat aku sangat senang," kata Lion. Lion langsung memeluk Meyra dan menyandarkan kepalanya di pundak kecil istrinya.
Saat tiba di pusat perbelanjaan, Meyra langsung mengajak Lion menuju butik langganannya.
Namun, ada satu hal yang membuat Meyra ingin tertawa saat dia mengajak suaminya naik eskalator. Lion terlihat kesusahan bahkan dia terlihat akan jatuh, pada akhirnya Meyra mengajak suaminya untuk naik lift saja.
Hal serupa pun terjadi, saat pintu lift tertutup Lion terlihat panik. Dia bahkan langsung memeluk Meyra dengan erat, ingin sekali Meyra menertawakan suaminya itu. Namun, dia tidak tega.
"Mau model baju seperti apa?" tanya Meyra.
"Terserah kamu saja, kalau kata kamu aku pantes makenya, aku mau," jawab Lion.
"Oh ya ampun, kamu tuh semakin hari semakin manis saja," kata Meyra seraya mencubit gemas pipi Lion.
Lion tersenyum senang, karena akhirnya Meyra bisa menerima dirinya. Bahkan kini sikapnya terasa sangat manis, menurut Lion.
"Me--Meyra, apakah itu kamu, Sayang?"
****
Selamat sore kesayangan, selamat beristirahat. Semoga kalian sehat selalu dan murah rezeki. Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan juga komentarnya, sayang kalian semua.