Seroang mafia masuk ke dalam novel poligami yang sangat dia benci, dia terjebak dalam raga seorang wanita lemah yang merupakan korban poligami dari suami materialistis.
Alina masuk saat ke dalam raga Alya saat dia meregang nyawa setelah didorong ke kolam renang oleh Monica yang merupakan istri kedua.
Alina membatu Alya untuk membalaskan dendam, dengan tau alurnya tentu sangat mudah untuk balas dendam namun Alina malah terjebak dalam jerat cinta CEO penikmat wanita yang merupakan partner bisnisnya.
Akankah Alya(Alina) dan Albert akan bersama? yuk ikuti ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Heran
Alya mengepalkan tangannya, kesabarannya seakan dipermainkan oleh Radit. Belum selesai masalah dengan Albert kini ada masalah baru.
"Aarrrrrgggg kalian semua brengsek, memang brengsek," umpat Alya dengan berteriak.
Tak ingin terus diinjak dan diintimidasi Alya pergi ke kamar Ibu Mery, Alya yakin kalau Radit dan Monica ada di sana.
Tanpa ketuk pintu Alya langsung masuk, dia mendekati Radit, Monica dan ibu Mery yang tengah berdiskusi terkait kompensasi.
Alya tersenyum sinis, kompensasi apa yang dimaksud sedangkan ibu Mery saja terlihat sehat.
"Kalian mau memeras aku ya," kata Alya dengan nada yang tinggi.
"Kalau masuk kamar orang ketuk pintu dulu," maki Monica dengan menatap Alya.
"Nggak perlu lagian ini adalah rumah aku," sahut Alya yang membuat semua kesal.
"Meskipun ini rumah kamu tapi kamu tidak boleh bersikap seperti itu," timpal Ibu Mery dengan berpura-pura memegangi kepalnya.
Alya menatap ibu Mery yang berakting sakit sehingga membuat Alya muak.
"Aku yakin piala Oscar akan jatuh ke tangan anda," sindir Alya.
"Apa maksud kamu Alya?" tanya Ibu Mery.
"Kan anda sedang berakting pura-pura sakit kan?" jawab Alya dengan penuh penekanan.
Radit tak terima ibunya diejek Alya seperti itu.
"Jaga sikap kamu Alya!" bentak Radit.
"Ya ya," sahut Alya.
"Mau apa kamu kemari? belum puas membuat mama seperti ini," imbuh Radit.
"Mangkanya kamu sebagai anak diingatkan mamanya, bilangin tuh mama kamu jangan macam-macam sama yang lebih muda kalau nggak mau begini," sahut Alya.
Radit dan Monica sungguh kesal tapi mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa karena di sini sudah berubah, dulu mereka yang berkuasa namun sekarang Alya lah yang berkuasa.
"Sebenarnya aku kemari untuk memperingatkan kalian, jangan pernah macam-macam denganku," ancam Alya dengan menatap mereka satu persatu.
"Aku sudah tau semua perilaku buruk kalian, berani mengancam aku siap-siap terhempas dari sini," imbuh Alya.
Radit mengepalkan tangannya namun Monica segera menenangkan suaminya karena melawan Alya akan kembali ke dirinya sendiri.
"Kalau pun kami semua harus pergi dari, aku minta harta Gono gini Alya," kata Radit.
Mendengar kata-kata Radit membuat Alya tertawa keras, bagaimana bisa ada pria yang tak tau diri seperti Radit yang terang-terangan meminta harta gono gini padahal jelas-jelas Radit tidak membawa apa-apa saat masuk rumah Alya.
"Kamu ini sinting atau gimana, harta gono gini nenek moyang kamu," ucap Alya kesal.
"Aku akan suami kamu jadi berhak atas harta kamu," sahut Radit.
Alya memijat pelipisnya yang pening karena mendengar ucapan Radit, ingin rasanya membenturkan kepala Radit ke tembok supaya dia sadar dan ingat bagaimana dia masuk ke dalam rumahnya dulu.
"Aku tanya sekarang, kamu kesini membawa apa? selain tubuh kamu itu dan dua benalu ini," tanya Alya dengan sinis.
Radit hanya diam, dia tidak bisa bicara apa-apa begitu pula dengan Monica dan juga Ibu Mery.
Memang dari awal pak Brata yang meminta Radit untuk tinggal bersamanya mengingat Alya adalah anak tunggal.
Radit saat itu langsung menyetujuinya karena inilah yang ditunggu-tunggu Radit bisa tinggal di rumah mewah.
"Nggak bisa jawab kan? masih untung aku nggak ngusir kamu dari sini," kata Alya.
"Dan untuk anda mertuaku tercinta, udah nggak usah lebay nggak usah akting epik, ini tu real life bukan sinetron," imbuh Alya lalu pergi meninggalkan Radit, Monica dan Ibu Mery dengan raut wajah yang tak biasa.
Monica memijat kepalanya, alih alih ingin dapat kekayaan Alya kini malah dirinya jadi pembantu yang tidak digaji.
"Rugi aku di sini mas, mending jadi pembantunya bisa gajian la ini apa, aku persis seperti budak," gerutu Monica.
"Iya Radit kalau gini terus mama bisa mati berdiri, sudah nggak punya uang di sini seperti budak," imbuh Ibu Mery.
Radit mengusap rambutnya kasar, dia sungguh bingung harus bagaimana lagi. Setiap kali dia mengancam Alya, dia sendiri yang akhirnya diancam.
"Entahlah aku sendiri juga bingung bagaimana melawan Alya, dia sungguh kuat berbeda dengan Alya yang dulu," ucap Radit.
"Dia seakan mengetahui semuanya, apa dia memiliki ilmu sehingga tau semuanya," imbuh Radit.
Monica dan ibu Mery sama-sama menggelengkan kepala, mereka juga tidak tau bagiamana Alya mengetahui semuanya? perasaan tidak ada CCTV di rumah Alya.
"Entahlah Radit, mama juga tidak tau," kata mama Radit.
"Untuk sementara kita bertahan dulu nanti kalau ada kesempatan kita buat siasat lagi," sahut Radit.
"Kamu benar mas, hanya itu yang bisa kita lakukan," ucap Monica.
Karena hari sudah larut, mereka memutuskan untuk tidur berharap besok kembali seperti sedia kala dengan Alya yang seperti dulu lagi.
Bossss...
😀😀😀❤❤❤
😁😁