NovelToon NovelToon
First Sight

First Sight

Status: sedang berlangsung
Genre:Militer / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa-Teen school / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Kehidupan Tentara / Persahabatan / Cintamanis / Romansa
Popularitas:28.6k
Nilai: 5
Nama Author: Intertwine

Cinta pada pandangan pertama? Sepertinya sudah biasa ya. Tapi bagaimana kalau sampe deja vu setelahnya? 😯😊

SINOPSIS

Nindy dan Hasan dipertemukan di sebuah event Paskibra. Dari pertemuan pertama mereka, Hasan sangat terkesima pada Nindy. Demikian juga dengan Nindy, dia penasaran siapa Hasan, yang bisa memandangnya sedemikian intensnya.

Dari kejadian itu juga yang membuat Nindy sampai mengalami mimpi selama 3 minggu berturut-turut secara berkelanjutan, yang membuat dia insomnia dan sempat mengalami gangguan belajar. Semua mimpinya tentang Hasan, lengkap seperti alur cerita, dan seperti kejadian nyata.

Ketika mereka bertemu kembali, Nindy seperti mengalami deja vu ketika bersama dengan Hasan. Dan ketika diingat-ingat, ternyata kejadian itu semua ada di dalam mimpinya.

Penasaran gak kira-kira bagaimana jalan cerita mereka? Apakah hubungan mereka berdua akan berakhir bahagia? Ataukah hanya sekadar bertemu, menjadi teman, dan berakhir disitu saja?

Simak terus kisah mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intertwine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Debat Dengan Mas Okta

“Siapa sih, Dek? Kalau cuma ganggu ngapain diladenin? Matiin aja.” Kata Mas Okta yang sedari tadi memperhatikan percakapanku.

“Tapi ini nomernya Hasan Mas, tadi dia ngasihi aku nomor ini. Masa iya dia ngasihi aku nomor yang salah. Padahal tadi dia yang misscall aku pake nomor ini.”

“Ehemm… Udah dulu ya, Nin. Aku nggak bisa telfon lama-lama. Ini nomornya si Hasan pulsanya mau habis. Pesennya Hasan cuma nanti hari Minggu, stikernya suruh bawa. Udah, gitu aja.”

“Eh… Bentar-bentar. Katanya tadi dia udah dapat? Kamu gimana sih kalau ngomong. Yang bener dong!”

“Enggak. Aku cuma becanda aja kok tadi. Eh, udah dulu ya. Daa… Assalamualaikum.”

Belum sempat aku menjawab salamnya, dia sudah menutup telfonnya.

Jadi aku menjawab salam tersebut tidak ke siapa-siapa, sambil menatap hampa ke arah Mas Okta yang sama-sama bertampang begonya sepertiku. Aku tak mengerti dengan semua ini.

“Hasan? Temen kamu yang tadi kan?” Tanya Mas Okta sambil tiduran dan makan kue coklat.

“Se-Seharusnya gitu, sih.”

“Kok seharusnya?”

“Habisnya ini tadi ngakunya bukan Hasan. Tapi suaranya mirip dia. Hah, benci banget deh aku. Masa iya nomorku dikasihkan ke cowok lain sama Hasan.” Kataku cemberut.

“Emmm…” Kata Mas Okta tanpa ekspresi.

Entah dia mau ngomong ataukah hanya menikmati keenakan kue coklatnya saja. Aku nggak tahu. Kupandang saja dia. Lalu dia melanjutkan.

“Biasanya suara orang di HP jadi berubah lho, Dek. Siapa tahu emang bukan Hasan beneran.”

Ahh… Mas Okta nih, memperburuk keadaan aja. Tak tahu kah dia kalau aku itu sebenarnya pengen yang barusan telfon beneran si Hasan?

Tapi bagaimana aku tau kalau dia Hasan, aku juga tidak tau. Begitu juga dengan Mas Okta.

Tapi setidaknya dia bisa bilang untuk menentramkan hatiku saja, jika orang misterius yang barusan nelfon aku tadi adalah beneran Hasan, hanya saja dia bohong.

Sayangnya, Mas Okta tidak berkata seperti itu. Aku semakin cemberut saja. Dan Mas Okta menangkap ekspresiku.

“Udahlah, nggak usah dipermasalahin. Gitu aja kok dibikin besar.” Katanya seraya bangun dan berdiri di lantai.

Selanjutnya dia membersihkan bajunya dari rontokan kue-kue coklat yang sudah dimakannya.

“Jadi belajar nggak? Bab apa sih?”

“Trigonometri.” Kataku putus asa. “Tapi hatiku tetep nggak enak kalau dia bukan Hasan, Mas.” Kataku masih membicarakan hal tadi.

Kusadari sekarang betapa aku sangat keras kepala. Mas Okta menarik nafas panjang.

“Nggak enaknya kenapa? Urusan dia kan, dia bohongin kamu apa nggak. Kamu nggak ikut nanggung dosanya aja kok.” Katanya sambil mencoba untuk sabar kesekian kali.

“Bukan masalah dosanya, Mas. Tapi… Oh… Apa maksud dia coba? Dia ngasihkan nomor cowok lain? Atau dia pakai nomor cowok lain? Kenapa dia gak memberikan nomornya yang asli sih?"

Aku sampai ngos-ngosan menahan emosiku yang memuncak.

"Atau kalau emang bener itu nomornya dia, terus kenapa dia memberikan HPnya ke SRB, atau entahlah siapa tadi yang nelfon aku. Kenapa nggak dia aja sendiri yang ngomong?” Kataku masih berapi-api.

“Mungkin si Hasannya lagi sibuk. Atau lagi ke kamar mandi. Dan dia ngasih HPnya ke si SRB. Dan kebetulan si SRB jahil. Jadi dia nelfon kamu dan ngaku si Hasan.”

Pertimbangan yang bagus dari Mas Okta. Tapi…

“Tapi, tadi si SRB itu bilang pesen Hasan kalau aku suruh bawa aja stikernya hari Minggu besok.” Kataku seraya mengingat-ingat apa saja yang tadi sudah dikatakan oleh si SRB.

“Berarti dia udah ngerti tentang Hasan yang nitip stiker ke aku kan? Dan… Dia juga ngerti kalau aku danton, Mas. Dia tau kalau aku rivalnya Hasan pas Gelegarr kemarin. Nggak lucu kan semua ini? Siapa si SRB itu sebenarnya? Apa dia juga anak Paskibra?” Tanyaku penuh selidik.

“Emmm… Pastinya aku nggak tau. Tapi kalau dari cerita kamu yang gitu sih, bisa aja si SRB ini deket sama si Hasan. Jadi Hasan cerita banyak ke dia. Tentang dia punya temen kamu, tentang stiker itu, termasuk juga tentang saat Gelegarr, jadi dia tau semuanya."

Aku mencerna setiap kata-kata Mas Okta. Tapi tetap saja semua ini tidak bisa aku terima secara akal sehat. Entah kenapa ini sangat mengganggu pikiranku sekarang.

“Nggak harus jadi seorang paskibra untuk mengerti bagaimana kehidupan, kebiasaan, dan etika mereka. Banyak temen kamu yang bukan anggota paskibra, tapi karena kalian deket, mereka juga mengerti etika kalian. Kedekatan semacam itu, nggak terpungkiri bisa terjadi juga antara Hasan dan si SRB.” Katanya masuk akal.

Mas Okta memang mengerti beberapa teman-temanku yang biasanya main ke rumah. Mereka semua secara resmi bukan anggota paskibra sekolahku, tapi karena circle pertemanannya juga sama-sama dengan kami, jadi mereka mengerti seluk beluk tentang paskibra kami juga.

“Iya, Mas. Aku ngerti.”

Tapi dalam hati, aku tak benar-benar mengerti.

“Ya udah. Ayo kita mulai belajarnya.” Katanya mengingatkan.

“Belum. Aku belum sepenuhnya mengerti."

Dan Mas Okta menghembuskan nafas pasrah lagi.

"Oke, lupakan si SRB bukan anak paskib. Terus, dia siapanya Hasan kalau gitu? Kedekatan mereka lucu kan?”

“Ya mana aku tahu lah. Kenal Hasan aja baru tadi. Ya mungkin semacam sepupu. Atau teman.” Kata Mas Okta sambil tak acuh.

“Lancang banget si Hasan itu! Bisa-bisanya ngasihkan HPnya sembarangan.” Kataku ngedumel.

“Hemm... Mungkin nggak sepenuhnya bermaksud lancang. Tapi… Ya, dia hanya bangga sepertinya punya teman kayak kamu. Jadi dia cerita.”

“Tapi nggak harus cerita detail dia belum makan tadi disini kan? Hal semacam itu bagi cowok bukan hal penting kan, Mas? Walaupun dia dekatnya seperti saudara sendiri. Coba pikirkan. Iya kan??” Kataku tetap keras kepala.

“Emmm… Iya juga sih!!”

Mas Okta mulai kelihatan ikut bingung. Atau pura-pura aja bingung?

“Nah… Jadi siapa dia? Si SRB itu?”

Mas Okta menggigit bibir. Ikut berfikir.

“Yang pastinya aku nggak tahu, Dek. Dan nggak mau tahu.” Katanya kembali menghadap bukuku. Tak acuh. Mengisyaratkan agar aku melupakan saja semua ini.

“Kalau aku jadi kamu, aku nggak akan mengurusi ini semua terlalu jauh. Anggap aja kamu banyak penggemarnya.” Katanya enteng sambil menyeringai.

“Dan… Satu pesenku. Jangan mengambil untung dari apapun yang dipercayakan kepada kita. Itu nggak baik. Apalagi harus menaikkan harga barang sampai 100%. Belum PPN dan entah apa lagi tadi—"

Aku hanya menguap mendengarkan ceramah Mas Okta yang membosankan tentang buruknya menaikkan harga barang seenak jidat.

Mentang-mentang dia kuliah jurusan Ekonomi Syariah.

“Emang kamu pikir aku seperti itu apa? Hahaha… Aku cuma bercanda Mas. Nggak mungkin lah aku mengambil untung sampai 100%.” Kataku tertawa sambil memakan kue coklatku.

“Ternyata kamu juga bisa dibohongi oleh hal yang mudah. Hahaha…” Kataku masih mengejek.

“Oh... Jadi bohong?! Oke. Apakah kamu masih bertanya-tanya kenapa SRB membohongi kamu dan kamu tidak terima diperlakukan seperti itu?”

Aku hanya tersenyum kecut. Dia selalu punya counter attack yang pas. Sialan!!

“Tapi dia yang bohongi aku duluan!!” Kataku cemberut, membela diri.

“Dan kamu ikut bohongi dia juga??”

“Habisnya aku sebel!!”

“Hah… Baiklah, baiklah. Tapi jangan diulangi lagi. Kalau gak mau dibohongi sama si SRB lagi.”

“Oh… Please deh, Mas. Stop nyebut dia SRB. Dia itu Hasan!! Aku masih nggak percaya kalau dia orang lain. Kamu mungkin nggak tau, Mas. Hasan itu aneh jadi orang. Jadi pasti akan sangat mudah bagi dia untuk bohongi aku.”

“Jangan ngatain orang sembarangan ya. Apalagi orang yang baru kamu kenal." Peringat Mas Okta dengan agak galak.

"Dan kalau kamu emang nggak niat belajar, cepet keluar dari kamarku. Aku mau tidur.”

Lalu dia pun menguap dan berbaring memunggungiku. Penutupan masalah yang sangat tidak mengenakkan. Tapi Mas Okta tak gampang untuk dibelokkan. Maka akupun menyerah saja.

“Yaudah, oke-oke. Kita belajar sekarang.” Kataku dengan cemberut.

Dan dia dengan senyum kemenangannya kembali bangun dari tidurnya dan mulai berceramah panjang lebar tentang Trigonometri dan seabrek tetek bengeknya itu.

Aku sekali lagi menguap.

1
TripleAdorable
Aku belum bisa move on dari bab sebelumnya.. tapi aku nungguin bab baru.. gimana dong..
Intertwine: Author usahakan bisa update lebih sering ya kak...
Terima kasih sudah menyukai First Sight, tunggu update.an kisah selanjutnya ya...
XOXO :)
total 1 replies
Devy Faiz Chalik
ManTap Thor👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!