Permainan hidup mengoyak semua orang yang datang ke desa Sambayang untuk tinggal disana.
Darah, Tumbal, Keserakahan bahkan intrik manusia menghalalkan segala cara demi kesenangan sementara.
Waktu bukanlah teman melainkan lawan, hidup di desa Sambayang tidak seperti yang terlihat oleh mata.
Dasa mengetahui bahwa untuk bisa bertahan lebih lama di desa Sambayang haruslah berkompromi dengan cepat demi mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya. Iapun menyerahkan nyawanya demi semua warga desa dan keluarganya keluar dari desa. Namun, aura mistis desa Sambayang tidak puas maka tangan-tangan tak terlihat mulai menarik pulang satu persatu warga desa termasuk keluarganya.
Apa yang akan dilakukan oleh Dasa, saat tahu ia tahu? Bagaimana caranya melawan ganasnya aura mistis desa Sambayang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wish0430, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13
Cuaca hari ini sangat cerah, Gani dan teman-temannya bermain di sawah milik juragan Suteja yang berbatasan dengan hutan keramat.
Gani berteriak senang ketika layangan miliknya terbang tinggi. Ia terus bergerak berlari mengikuti gerakan layangan hingga tanpa disadarinya masuk kedalam hutan keramat desa Sambayang.
Walau usianya baru menginjak 3tahun, kepandaiannya sudah banyak, mungkin dikarenakan adanya percampuran dua dunia yang berbeda. Dasa seringkali merasa khawatir dan takut kalau sewaktu waktu desa Sambayang meminta tumbal.
Detak jantung dasa mendadak berpacu cepat, perasaan gelisah dirasakan olehnya. Dasa berlari kencang mencari Gani disetiap sudut desa.
"Gani! Gani! Gani!" teriaknya kencang sekuat tenaga berulangkali sehingga nyaris putus, penduduk desa mendekati dirinya. Dasa menanyakan kepada semua penduduk desa dan meminta tolong untuk membantunya mencari putranya. Kakinya merosot dilantai dekat perbatasan hutan keramat yang sudah lama tidak dikunjunginya.
Matanya menatap kosong kearah hutan keramat, warga desa mulai panik begitu melihat dasa memandang hutan.
"Jangan Bu"
"Ya Bu, kita cari tempat lain"
"Hari sudah mulai gelap, sebaiknya kita cari lagi esoknya"
Hutan keramat perlahan-lahan memancarkan aura yang tidak dapat dibayangkan jika berani masuk kedalam tanpa ijin.
Sebagian warga desa memilih pergi secepatnya begitu melihat perubahan warna hutan keramat yang menakutkan.
Telinga dasa tuli, bibirnya bergetar hebat dan perasaan takut bertambah kuat. Warga desa berusaha memapahnya pergi meninggalkan tempat itu.
Di rumah, pembantu rumah tangga cepat-cepat membawakan air putih untuk diminum oleh dasa. Di teguk air itu hingga tak bersisa. Air mata dasa mulai turun, isak tangisnya terdengar pilu, siapapun yang mendengarnya.
"Suteja, anak kita, anak kita"
Dasa terus menerus mengucapkan kalimat yang sama dengan harapan juragan Suteja mendengarkan. Dipukulnya dadanya pelan meredakan emosi dan sesak yang mulai menyiksanya.
"Kembalikan anakku Suteja! apa ini yang bisa kamu lakukan untuk kami" teriaknya disela sela tangisannya. Pembantu rumah tangganya merasakan kesedihan mendalam yang dirasakan oleh majikannya tetapi iapun tak tahu harus mencari kemana. Juragan Suteja hilang 3tahun lalu dan sekarang Gani anak satu-satunya turut hilang, ia benar-benar turut simpati.
"Gani! Suteja! jangan diam saja, cari anakmu! Suteja!"
Dasa menangis tersedu-sedu tidak berhenti-henti sepanjang hari. warga desa dan pembantu rumah tangganya sibuk menenangkan dasa dengan mengajak dasa untuk bersembahyang minta petunjuk Yang Pemberi Hidup.
Sementara itu di dalam hutan keramat, Gani terus berjalan menyusuri jalanan didepannya. Ia sangat kesal gara-gara layangan miliknya putus, tanpa disadari, ia sudah masuk terlalu jauh kedalam hutan.
Perasaan tidak nyaman datang, Gani memicingkan mata menatap goa didepannya. Suteja berdiri di depan goa melihatnya dengan jelas dan marah. Bagaimana tidak sudah diingatkan berkali-kali lipat untuk tidak masuk kedalam hutan, Gani putranya tetap masuk walau hanya karena layangan.
Tenggorokannya kering menelan ludah yang tidak ada. Aura mistis hutan keramat perlahan-lahan memancarkan kabut tipis. Suteja ingin berlari menuju Gani. Namun, kakinya tidak dapat digerakkan seakan ada yang menahannya untuk mendekati Gani.
Mulutnya terasa sulit untuknya mengucapkan kalimat peringatan terhadap Gani. Gani memiringkan kepalanya sejenak untuk menganalisa ayahnya yang diam saja seperti patung.
Angin berhembus kencang, Gani terus memperhatikan wajah ayahnya.
"Apa yang kamu lihat?"
Gani menolehkan kepalanya ke arah belakang dan tertegun melihat sosok perempuan yang sangat cantik mengunakan pakaian transparan. Keningnya mengerut. Ia berfikir wanita aneh, cuaca sangat dingin di dalam hutan, mengapa memakai pakaian seperti itu.
"Kamu tidak ingin menjawab?"
Gani menggeleng kepala. wajah wanita itu berubah menjadi gelap, tidak suka.
"Aku memiliki permen, kamu mau?"
Gani memperhatikan tangan wanita itu yang membuka perlahan. Tampak sebuah bungkusan permen kesukaan Gani, matanya melebar mengetahui itu, tangannya bergerak untuk mengambil tapi belum sempat ia mengambilnya, tangan wanita itu menutup.
"Aku ingin berteman denganmu, siapa namamu?"
"Aku Ganindra Suteja"
"Wow nama yang kuat dan keren"
"Tentu saja, ibuku ingin aku menjadi anak yang kuat dan keren"
"Kamu mau menjadi temanku? nanti aku bagikan permen, aku tidak punya teman"
"Baiklah"
Permen itu diserahkan kepadanya, Gani merasa senang dan mulai memakannya. Mata wanita itu mencerminkan kesenangan yang tidak pernah dirasakannya.
"Aku suka padamu, mau menikah denganku?"
"Eng...aku masih kecil"
"Yahh kita bertunangan terlebih dahulu, bagaimana"
"Tidak tidak ibu pasti tidak akan senang kalau tahu"
"Ibumu tak perlu tahu"
"Tapi.."
Tangan wanita itu menyentuh Gani dan memberikan permen kedalam tangannya.
"Aku akan membawamu keluar dari sini tapi aku ingin kita bertunangan"
"Apa itu tunangan, aku tidak mengerti dari tadi apa yang kamu ucapkan"
"tunangan itu kita berteman seumur hidup sampai kematian menjemput"
"O begitu, kalau begitu ayo kita tunangan"
Gani memberikan jari kelingkingnya ke arah wanita itu yang disambut jari wanita itu, mereka tertawa kecil melihat itu.
"Janji?"
"Ya janji!"
Suteja merasa lemas terjatuh di tanah melihat itu semua, Gani tidak tahu apa yang terjadi. Mereka berdua sudah mengikat janji sehidup semati, air mata Suteja meleleh keluar tidak terima tapi ia tidak berdaya.
Wanita itu berjalan disamping Gani meninggalkan hutan keramat menuju perbatasan desa. Sesekali diciumnya Gani karena tingkahnya yang menggemaskan. Gani tidak keberatan karena menganggap ibunya pun sering menciumnya tapi wanita itu berkali-kali berhenti untuk mencium bibirnya.
"Cium itu bukan disini tapi disini"
Gani menunjukkan apa yang dimaksudnya tapi wanita itu hanya tertawa geli.
"Aku bukan ibumu, tentunya bukan disitu seharusnya aku mencium"
Gani diam saja melanjutkan langkahnya menuju perbatasan sebelum wanita itu mengatakan hal-hal yang membingungkan dirinya. Postur tubuhnya yang tidak seperti anak lain, memang seringkali membuat Gani kesulitan. Untuk anak usia 3tahun tapi pertumbuhan badannya seperti anak 5tahun.
Hutan keramat perlahan-lahan membuka jalannya untuk Gani dan wanita itu. Tak ada lagi percakapan keduanya. Begitu sampai diperbatasan wanita itu berhenti, Gani menolehkan kepalanya menatap wajah wanita itu yang membuat dirinya terpesona dengan kecantikan alami yang dimilikinya.
"Aku hanya bisa sampai sini, besok kita bertemu lagi"
Gani mengangguk pelan. wanita itu membuka telapak tangannya dan terlihat sebuah cincin yang sangat indah. iapun memakaikan cincin itu ke jari Gani.
"Ini tanda kita sudah bertunangan, jangan khawatir tidak akan ada yang bisa melihat kalau di jarimu ada cincin"
Setelah mengatakan itu wanita tersebut berbalik badan meninggalkan Gani yang masih menatapnya dan hilang di telan kegelapan malam hutan keramat.
Gani berlari kencang menuju rumahnya, ia nyakin ibu pasti sudah menunggunya, ia tidak sabar ingin menceritakan tentang wanita itu dan ia menginginkan ibunya ikut senang.
jangan lupa like nanti ku feedback
biar lebih nyambung lagi
...
jadi gak banyak tipo ..biar gak susah juga pemahaman ceritanya
mampir ya kak di tulisanku Putih Abu-Abu 2010 kasih like dan vote
mampir ya kak di tulisan ku Putih Abu-Abu 2010 like dan vote
mampir ya kak di tulisan ku Putih Abu-Abu 2010 like dan vote
Jangan lupa baca juga cerita aku judulnya 'BUTTERFLY EFFECT'