Seorang Pria tua yang di sebut sebagai Manusia Terkuat di dunia Kultivasi, Kekuatan Pria tua itu tidak perlu di tanyakan lagi, Musuh - musuhnya takut hanya mendengar namanya saja. Hal tersebutlah yang membuat dia tidak memiliki satu seorang teman ataupun keluarga.
Hanya kehampaan yang Pria tua rasakannya sekarang, Kerena hal itu Pria tua tersebut meminta kepada Dewa untuk memberikan sebuah dunia menarik untuknya, Dewa mengabulkan dan Mereinkarnasi Pria tua tersebut ke sebuah dunia Baru.
Apakah Pria tua tersebut dapat berdirii puncak dunia di dunia yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EON, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 13 - Mencari Sebuah Kalung.
Arthur selesai berlatih dan berjalan ke arah sebuah kursi yang sedang di tempati oleh ibunya.
“Ibu membuat sebuah minuman teh herbal untuk kamu, Coba kamu minum.” Eva memberikan sebuah cangkir kepada Arthur.
“Baik ibu.” Arthur mengambil cangkir tersebut dan meminumnya.
“Ibu, aku tidak menyangka ibu bisa membuat minuman seperti ini.” Setelah Arthur meminum teh herbal, Tubuh Arthur menjadi hangat dan nyaman.
“Ibu belum pernah memberi tahu kamu iya?”
“Maksud ibu?”
“Ah, Lupakan saja perkataan ibu tadi, Bagaimana kamu masih belum baikan dengan Clara.”
“Kenapa ibu tiba-tiba mengganti pembicaraan.” Batin Arthur.
“Masih belum, Aku sudah mencoba banyak cara.”
Arthur sudah mencoba untuk berbaikan kepada Clara ketika berlatih dengannya, Namun perkataan Arthur seperti angin lewat.
Ketika Arthur berbicara dengan Clara, Clara hanya membalasnya dengan mengangguk yang berarti iya dan menggelengkan kepala yang berarti tidak.
“Kamu belum mencoba meminta maaf sambil memberikan hadiah permintaan maaf? Ayahmu sering melakukannya ketika kami sedang bertengkar.”
Arthur langsung ingat kejadian ketika Clara melihat sebuah kalung di sebuah Toko perhiasan.
“Ibu aku akan pergi, mungkin aku akan kembali sore hari.”
“Tunggu dulu, Ambil ini.” Eva melemparkan sebuah kantong kecil.
Tanpa melihat Arthur sudah mengetahui isi kantong yang di berikan ibunya “Tidak perlu ibu, aku masih memiliki uang.
Arthur kembali memberikan kantong yang berisi koin emas kepada ibunya. “Pakai uang ini dan beli hadiah yang bagus.” Eva pikir uang Arthur cukup untuk membeli sebuah hadiah yang biasa-biasa saja.
Eva mungkin terkejut, jika mengetahui bahwa sebenarnya kekayaan anaknya melebihi dirinya, Arthur mendapatkan keuntungan dari Pil Hijau yang di jual oleh Assosiasi Naga Api.
“Baiklah ibu, Aku akan pergi sekarang, ibu siapkan saja makanan kesukaannya.” Arthur bejalan menjauh.
Setelah 1 jam Arthur berkeliling Arthur belum menemukan sebuah kalung yang membuatnya menarik.
Arthur terus mengitari seluruh kota untuk menari toko perhiasan yang belum pernah Arthur kunjungi.
“Aih, sudah mau sore tapi aku belum menemukan kalung yang cocok untuknya.” Arthur duduk di sebuah kursi.
“Apakah gelang ini saja yang aku berikan.” Setelah Arthur mencari dan tidak menemukan Kalung yang cocok, Arthur melihat sebuah gelang yang Arthur rasa sangat cocok untuk Clara dan membelinya.
“Kenapa kamu begitu murung.” Ketika Arthur sedang menundukkan kepalanya, Arthur mendengar sebuah suara perempuan.
Arthur mengangkat kepalanya dan melihat seorang perempuan dan seorang pria berdiri di depannya. “Pergi sana jangan menggangguku.”
“KAU!! Apa kamu tidak mengetahui identitas Tuan putri ini.” Pria tersebut menjadi kesal atas apa yang di katakan Arthur.
“Aku tidak peduli dengannya, Jangan menggangguku.”
“KAU!” Karena kesal dengan perkataan Arthur, Pria tersebut mengayunkan tangannya untuk memberikan pukulan kepada Arthur.
Perempuan tersebut mengangkat tangan untuk memberhentikan Pria tersebut yang sudah bersiap menyerang Arthur.
“Tapi tuan putri, dia sangat tidak sopan kepada anda.”
“Ah maaf Tuan putri.” Pria tersebut ketakutan setelah perempuan itu melihatnya dengan tajam.
“Apa yang kamu lakukan kenapa kamu malah duduk disini.” Arthur melihat Perempuan tersebut duduk di samping dirinya.
“Inikan kursi umum, apa kamu ingin mengusirku.” Tanya perempuan tersebut.
Arthur tidak memperdulikan perkataan perempuan tersebut dan mulai berdiri untuk kembali mencari kalung.
“Tunggu kenapa kamu malah mau pergi.”
“Aku mau pergi atau tidak, Aku yang menentukannya.”
Langkah arthur terhenti ketika perempuan tersebut berkata kepadanya. “Kamu mencari sebuah kalung bukan?”
Arthur langsung memasang kuda-kuda siaga. “Bagaimana kamu bisa mengetahuinya.”
“Tuan Putri berlindung di belakangku.” Ujar Pria yang dari tadi bersama perempuan tersebut.
“Jika kamu ingin mengetahuinya kemari dan duduk bersamaku.” Ucap Perempuan tersebut sambil tersenyum.
“Cih, Seharusnya aku tidak meladeni dia, AH! Sudahlah.”
Arthur kembali duduk ke tempatnya sebelumnya karena ingin mengetahui bagaimana perempuan tersebut mengetahui apa yang sedang di pikirkan Arthur.
“Tidak perlu basa-basi, Kenapa kamu bisa mengetahui jika aku sedang mencari sebuah kalung.” Tanya Arthur sambil menatap perempuan tersebut dengan tajam.
“Bisa tidak kamu berbicara sedikit lebih lembut dengan perempuan.” Perempuan tersebut tersenyum lembut.
“Aih kamu ini, baiklah aku akan memberi tahu kamu.” Perempuan tersebut melihat pandangan Arthur tidak berubah sedikitpun.
“Bagaimana jika aku bisa membaca pikiran seseorang.” Jawab Perempuan tersebut.
“Bagaimana bisa?.” Di pikiran Arthur timbul banyak pertanyaan kenapa seorang Pendekar Awal bisa melakukan hal tersebut.
“Ada alasan kenapa aku bisa membaca pikiran seseorang.”
“Tuan Putri.” Pria tersebut berbicara dengan nada khawatir.
“Tidak apa, laki-laki ini orang baik.”
Perempuan tersebut mulai menjelaskan alasan kenapa dia mempunyai kekuatan untuk membaca pikiran seseorang.
Perempuan tersebut mendapat sebuah berkah yang luar biasa, Berkah tersebut bernama Pikiran Dewa, dan salah satu Kekuatan dari Pikiran dewa adalah dapat membaca pikiran seseorang.
“Tidak perlu, aku akan mencari sendiri.” Arthur tidak ingin berhutang budi kepada orang apalagi seorang yang belum kenal.
“Hei, bisa tidak menerima kebaikan aku.” Perempuan tersebut menggembungkan pipinya.
“Aih baik-baik, Tapi aku akan membelinya darimu Sebelum itu aku ingin lihat dulu kalung yang kamu sebutkan tadi.”
Perempuan tersebut mengeluarkan tiga buah kantong. “Ini silakan pilih salah satu dari tiga kalung ini.”
“Biru,merah dan putih yang mana harus aku pilih.”
“Bagaimana dengan Warna merah, Kalung ini sangat cantik.” Perempuan mencoba membantu Arthur dalam memilih
“Tidak, Kulitnya putih akan terlalu mencolok jika memakai warna merah.” Arthur merasa kalung bewarna merah tidak akan cocok untuk di gunakan Clara, Karena Clara memiliki kulit yang putih.
“Jika begitu ambil saja yang warnah putih, Aku pikir itu akan cocok untuknya.”
“Tapi tuan Putri.”
Perempuan itu langsung menatap pria tersebut dengan tajam.
“Ada apa.” Arthur melihat ke arah perempuan tersebut.
“Tidak ada apa-apa, Apa kamu sudah punya pilihan.”
“Baiklah aku ingin kalung ini, Berapa harganya.” Setelah memikirkannya Arthur mengambil kalung berwarna putih tersebut.
“Tidak perlu, Aku akan memberikan kalung itu sebagai hadiah pertemuan kita.”
“Jika seperti itu, Aku juga akan memberikan kamu ini.” Arthur mengeluarkan sebuah kantong.
“Walaupun harganya murah aku harap kamu menyukainya.”
“Terima kasih, Aku sangat menyukainya.” Kantong tersebut berisi sebuah gelang yang di belinya Arthur karena tidak menemukan sebuah kalung yang cocok untuk Clara.
“Aku yang seharusnya berterimakasih kepadamu, Sekarang aku harus segera pulang.”
Arthur berjalan menjauh sambil melihat bayangan perempuan tersebut degan tersenyum.
“Aku hampir lupa, Siapa namamu.” Ucap perempuan tersebut dengan kencang karena Arthur sudah sangat jauh.
“Kamu bisa memanggilku Arthur.” Arthur lanjut berjalan tanpa menanyakan identitas Perempuan tersebut.
Seseorang pria tua keluar dari bayangan Perempuan tersebut. “Tuan putri, Sebaiknya anda menjauhi laki-laki itu.”
“Kenapa aku harus menjauhinya Paman Amir.” Tanya perempuan tersebut dengan penasaran.
“Laki-laki yang bernama Arthur itu mengetahui saya bersembunyi di bayangan tuan Putri.”
“Bagaimana mungkin.” Perempuan terkejut karena tidak menyangka Hal tersebut terjadi.
“Saya pikir, laki-laki yang bernama Arthur sangat berbahaya, lebih baik Tuan putri menjauhinya di masa depan."
“Setelah Paman berbicara seperti itu, Aku jadi tambah penasaran dengannya.”
“Arthur, Aku menunggu pertemuan kita berdua.” Ucap perempuan tersebut sambil memandang langit yang mulai tenggelam.
BERI LIKE DAN COMMENT