Sebulan pernikahan sirinya, Jingga harus berhadapan dengan kenyataan baru yang menyakitkan. Aris, suami yang dicintainya menikah resmi dengan perempuan lain.
Menjadi yang pertama tapi serasa yang kedua. Pada akhirnya Jingga menyerah. Perceraian dengan Aris pun tak terelakkan.
Di saat bersamaan Rangga yang merupakan sahabat Aris juga bercerai dengan istrinya. Kesamaan kisah membuat mereka Rangga dan Jingga semakin dekat.
Aris kembali datang dengan kepastian dan perjuangan yang lebih nyata. Membuat Jingga goyah. Kembali pada cinta lama atau memulai cinta yang baru ?
Persahabatan Aris dan Rangga pun di pertanyakan.
Di hati manakah cinta Jingga akan berlabuh ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aris beraksi
" Bukan, punya temen " jawab Rangga datar.
" Owh... Aris ? " tanya Stefanie lagi.
" Istrinya Aris, Istrinya pingsan dan ternyata hamil. Aku bantu Aris bawa istrinya ke rumah sakit, jadi pakai mobil dia " jelas Rangga jujur.
" Aris sudah nikah ? kok nggak ngundang - ngundang ? " Stefanie yang juga mengenal Aris jadi terheran - heran.
" Ruwetttt.... Tapi setidaknya istrinya sudah hamil. Aris berhasil ngalahin aku. Setidaknya kelelakian Aris sudah tidak diragukan " ucap Rangga seperti sedang menyindir.
" Aku kangen Hon " Stefanie bergelayut manja di lengan Rangga, mengalihkan pembicaraan tentang anak yang selalu dia hindari.
" Aku gerah, aku mau mandi dulu " kata Rangga. Tangannya menurunkan tangan Stefanie dari lengannya.
" Mandi bareng yuk. Sudah lama sepertinya gak mandi berdua " Stefanie menarik tangan Rangga langsung ke kamar mandi tanpa menunggu persetujuan suaminya.
" Aku mandi sendiri Hon, aku capek " tolak Rangga.
Stefanie menatap heran pada suaminya, tidak biasanya Rangga menolak ajakannya. Tapi bukan Stefanie namanya kalau tidak bersikap bodo amat.
Aris menemui pengacara perusahaannya. Benar kata Rangga pikirannya harus waras kalau tidak ingin kehilangan Jingga.
" Apa om Andy tau kenapa perusahaan kita namanya Malino ? " tanya Aris pada pengacara berusia enam puluh tahunan itu.
" Karena itu nama kakek buyutmu Ris " jawab pengacara itu. Baru kali ini Aris menemuinya secara pribadi, sebelumnya semua urusan selalu diwakilkan pak Gunawan atau bu Laura.
" Om Andy menyimpan berkas perusahaan ini dari mulai berdiri sampai sekarang kan ? boleh saya minta salinannya ? " tanya Aris lagi.
Andy adalah pengacara yang sangat memegang sumpah dan kode etik. Selama ini dia tidak tergoyahkan sedikitpun kesetiaannya pada perusahaan Malino. Bahkan bisa dikatakan pak Gunawan dan bu Laura saja tidak berani menentang Andy. Hal yang dulu tidak pernah mengganggu pikiran Aris. Karena kondisi mendesak, Aris jadi ingin mengetahui lebih jauh. Aris hanya sedang menduga - duga dan mencari celah untuk mematahkan dominasi maminya.
" Om Andy pasti sudah tahu kalau saya sudah menikah. Apa saya bisa meminta tolong Om Andy untuk menyelidiki latar belakang dan asal usul istri saya ? " tanya Aris serius.
" Istri yang mana Ris ? " tanya Andy terkekeh.
" Om Andy tahu ? " tanya Aris heran.
" Tau Ris, aku tau semua apa yang kalian alami akhir - akhir ini. Kok baru sekarang kamu pinternya Ris, kemarin - kemarin kemana saja ? " Andy balik bertanya.
" Aris mau jadi ayah om, dari istri satu - satunya yang Aris anggap. Aris tidak mau kehilangan keduanya " jawab Aris serius.
" Ris... Ris... Agak terlambat langkahmu. Yah...Tapi daripada tidak sama sekali. Semoga masih bisa ketolong. Hati perempuan itu kalau sudah sakit, susah pulihnya Ris. Kamu meski agak ngoyo nantinya " kata Andy.
" Bisa kan Om ? " tanya Aris lagi.
" Kamu tanya asal usul perusahaan sudah bener, kamu minta aku nyari tau tentang latar belakang istrimu juga nggak salah. Terus apa hubungan keduanya Ris ? buka data perusahaan itu nggak sembarangan lho Ris. Aku harus punya alasan kuat untuk melanggar sumpahku " ucap Andy dengan gaya bicara jawanya yang medok.
" Aris kok jadi merasa Aris ini bukan anaknya mami papi ya om. Kalau jodohin itu kok kesannya maksa dan aneh banget. Ini nggak maksud menghina ya om, Irma tuh jauh sama Jingga. Fisikly, kepribadian sama semuanya deh. Aris baru kepikiran kok orangtuanya Irma nggak mendampingi Irma ya. Aneh kan om ? " tanya Aris, seperti anak kecil yang sedang meminta persetujuan orangtuanya untuk bermain.
" Nggak aneh Ris, biasa aja " jawab Andy tetap dengan gaya santainya. " Namanya menantu pilihan ya pasti disayang, Orangtua Irma disimpen biar nggak kelihatan orang besannya orang biasa " tambah Andy.
" Kalau mereka punya pikiran begitu kan jauh lebih baik sama Jingga, biarpun bukan keluarga pengusaha tapi jelas ayahnya Jingga pensiunan direksi perusahaan BUMN " sahut Aris cepat.
" Nah, bisa mikir gitu kok baru sekarang Ris ? sudah nikah sah ? Kemarin pikiranmu kemana ? keenaken jadi pengantin baru ? kejar produksi makanya langsung jadi ? " ledek Andy.
" Om ayolah serius. Aris baru sekali ini minta bantuan om kan ? "
" Iya baru sekali, tapi langsung rumit. Kalau sudah menyangkut hati memang ruwet ya Ris " ledek Andy lagi dan lagi.
" Ayo Om...Aris pengen ngerasain nemenin istri nyidam. Kalau Aris nggak bisa lawan mami, Aris takut ditinggalin Om " Aris tidak putus asa untuk mengiba.
" Kamu bicara saja sama calon ibunya anakmu. Kamu jujur semua. Pastikan kamu nggak bakalan nidurin istri sahmu. Itu penting Ris, selain tidak mau berbagi hati, perempuan juga tidak mau berbagi tubuh suaminya dengan orang lain. Istri sirimu itu terlalu mandiri, tanpa kamu dia nggak jadi soal. Sedihnya paling cuman sesaat. Apalagi cantik begitu, jandanya pun banyak yang mau. Tugasmu membuat istrimu sedikit ketergantungan sama kamu. Hubungi dia lebih sering mesti nggak dianggep. Apapaun kegiatanmu diluar lapor ke dia, buat istrimu merasa kamu ada, meski kamu nggak di dekat dia. Sementara baik - baiklah sama mamimu sebelum kamu tau yang sebenarnya " ucap Andy, meski nadanya santai tapi yang diucapkannya serius.
" Paham om, Aris nggak mau kehilangan anak istri Aris. Apapun akan Aris lakukan sekarang " ucap Aris mendadak bersemangat.
Kehamilan Jingga membuat Aris langsung berfikir, Tuhan sudah berbaik hati padanya dengan memberi kepercayaan secepat ini. Bodoh kalau Aris larut dalam kebimbangan yang selama ini membuat buntu otaknya.
Rangga memegang dadanya. Dada yang sudah menjadi sandaran Jingga sesaat tadi. Rangga merasa pikirannya sedang tidak waras sekarang. Wajah Jingga terus berlarian di pikirannya.
Beberapa kali Rangga mengetik pesan lalu menghapusnya lagi. Mengetik lagi lalu menghapus kembali. Berkali - kali dan berulang - ulang. Hingga satu pesan terkirim.
...Berhenti menangis, makan dulu yang banyak. Sedih juga butuh tenaga....
Hanya terkirim, belum dibaca, juga tidak ada tanda - tanda Jingga sedang online.
Rangga terus melihat layar ponselnya, seperti abg yang sedang kasmaran.
" Hon, jalan - jalan berdua yuk ! ke puncak, besok kan weekend " Stefanie mengalungkan kedua tangannya di leher Rangga dengan posisi Rangga duduk membelakinya.
" Aku nggak bisa Hon, besok aku ada jamuan dengan relasi. Lain kali " lagi - lagi Rangga menolak keinginan Stefanie.
" Kalau begitu aku ikut temenku saja ya Hon, kita mau ke bali rame - rame " ucap Stefanie, terlihat malah senang dengan penolakan Rangga.
" Terserah " jawab Rangga, sudah biasa seperti ini. Baru datang lalu pergi lagi, tidak jauh berbeda dengan sikap Aris pada Jingga.
" Transferin lagi ya Hon, Nipis nih saldoku. Kemarin baru beli tas baru " pinta Stefanie dengan entengnya.
" Hemmmm " jawab Rangga dengan malas.
Rangga kembali melihat layar ponselnya. Belum terbaca juga. Rangga membuka aplikasi supermarket online, membeli beberapa barang lalu memesannya untuk di kirim ke alamat Jingga.
" Kok belum ditransfer Hon ? " suara stefanie lagi - lagi mengganggu moodnya.
mereka merasa bersalah pada pria lain tapi sama sekali tidak merasa bersalah pasa suaminya
dan lucu sikap kayak gini dibenarkan oleh novel ini
coba author bayangkan suaki author merasa bersalah pada wanita lain tapi tidak peduli dengan perasaan author yang tidak suka dan cemburu???
saran sebelum mengatang cerita banyak pada diri author dulu itu baik atau tidak
lihat juga dari sudut pandang lain, sudut pandang pemeran utama pria jangan hanya karena author wanita author hanya lihat dari sudut pandang pemeran utama wanita
coba author menila sesuatu pake penilaian dari diri author baik tidak yang dilakukan jingga hanya karena rasa bersalah dan menjaga perasaan pria lain dia mengabaikan perasaan cemas, sakit hati karena cemburu suaminya sendiri
Gak ada surat nikah juga... kasihan anakmu nanti.