COVER FROM PINTEREST
"Perjanjian? Perjanjian apa?” tanya Jasmine tak menyangka kalau pernikahan yang sangat ingin dia lakukan seumur hidup sekali ini harus serumit ini.
“Aku sudah membuat semua keinginanku. Jadi, giliranmu untuk membuatnya. Kalau sudah selesai, segera berikan padaku. Kau boleh menulis apapun yang kau mau dalam 5 poin saja dan itu pun tidak boleh bertentangan dengan poin yang sudah aku buat untuk dirimu. Silakan pikirkan dulu baik-baik. Jika sudah, mari kita sepakati bersama dan tanda tangani. Jika salah satu dari kita melanggar, maka ada hukumannya.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzieraHill, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Jordan Tidak Pulang
Waktu Jasmine kembali ke apartemen setelah mengambil barang-barangnya dibantu Anthonio. Jasmine tak kunjung menemukan suaminya pulang ke apartemen. Bahkan ini sudah hampir seminggu Jasmine tak bertemu dengan Jordan dan itu membuat Jasmine sangat khawatir. Dia sudah mencoba menghubungi nomer Jordan, tapi Jordan benar-benar seolah mengabaikannya. Teleponnya, pesannya dan semua note voice yang dia kirimkan. Sungguh tidak Jordan gubris.
Bahkan Jasmine sudah meminta Endra untuk membantunya, tapi Endra pun sama sekali tak mendapatkan jawabannya. Sebenarnya Jasmine ingin sekali bertanya pada mertuanya, tapi Jasmine yakin ini akan menjadi masalah. Terlebih Jordan memang tak mencintainya. Greta pasti akan lebih menyalahkan Jordan dan Jordan akan mempermasalahkannya pada Jasmine.
Jasmine meremas tangannya di depan cermin riasnya. Apa yang salah dengannya? Apa suaminya pergi karena dia menggodanya, tapi itu kan tugas istri. Memenuhi kebutuhan biologis sang suami adalah tugas istri. Jasmine ingin menjadi istri seutuhnya. Kalau saja bercinta dengan suami adalah pahala. Mengapa Jasmine tak bisa melakukannya. Mengapa Jasmine tak diizinkan? Apakah poin yang Jordan berikan padanya sungguh berarti untuk Jordan.
Jasmine tak mengerti kenapa dia harus terlibat dengan 5 poin sialan itu. Terutama dari semua poin itu sungguh berisikan hal-hal yang menurutnya penting. Dari yang awal saja. Mengapa mereka tak bisa berhubungan ****, padahal mereka suami istri? Mengapa Jasmine tidak bisa satu kamar dengannya padahal mereka sudah sah menikah? Mengapa Jasmine tidak boleh tahu kemana suaminya pergi? Mengapa Jasmine tidak boleh memasuki wilayah suaminya sendiri dan mengapa Jasmine tidak boleh mengurusi masalah suaminya yang padahal dia bisa saja membantunya, bukan?
Memang Jasmine ini hanya patung penghias apartemennya. Sampai-sampai tidak ada satu pun sesuatu yang boleh Jasmine campuri. Jasmine ini kan seorang istri. Dia punya banyak tugas yang harus dia lakukan di dalam sebuah rumah tangga. Ah percuma bicara panjang lebar. Toh, Jasmine memang tak bisa melakukan apa-apa.
Jasmine pun keluar dari apartemen. Hari ini dia ingin pergi ke café. Memang Endra sudah memerintahkannya untuk keluar, tapi Jasmine kira, dia hanya bisa membuang semua penatnya ke café itu. Lagi pula, Anthonio bekerja tak jauh dari sana. Jadi, dia bisa menemani makan siang Anthonio.
[…]
To: Anthonio
Aku ada di meja luar dekat kaca dan dekat pintu masuk.
Jasmine mengirimkan pesan pada Anthonio dan bergantian menaruh HP-nya lalu menyuruput kopi hangatnya.
“Jasmine?” Suara seseorang membuat Jasmine menolehkan kepalanya. Siapa lagi kalau bukan pemilik kafé ini.
“Aku sudah lama tak melihatmu. Aku mengirimmu pesan, tapi tak kau balas,” ucap Mike seraya mengambil posisinya, tapi Jasmine seperti melihat hal yang aneh di wajah Mike. Mike seperti memiliki kantung mata di bawah matanya. Sungguh sangat tak biasa.
“Hei, Mike. Maaf aku sedikit malas memeriksa pesan masuk. Sesekali aku hanya menerima telepon dan juga hanya mengrimkan pesan penting,” ucap Jasmine tak sadar membuat Mike sedikit terluka karena dari kata-katanya jelas kalau Mike tak sebegitu penting untuknya.
“Tapi Mike…, ngomong-ngoomong ada apa dengan matamu?” tanya Jasmine dan Mike terlihat tengah menghela nafasnya. “Kau mau bercerita?” tanya Jasmine lagi.
Jasmine pun menatap Mike yang nampak ragu, tapi Jasmine seperti yakin kalau Mike pasti ingin bercerita dengannya tentang seuatu yang membuatnya sedikit berantakan.
“Sebenarnya…, Gebi adalah mantanku. Kami sudah berpisah cukup lama, karena dia memilih pria lain, tapi dia kembali.” Jasmine menutup mulutnya tak menyangka atas apa yang dia dengar. Pantas saja, dia terkadang memiliki perasaan kalau Gebi dan Mike ini seperti tak baik-baik saja kalau sedang bersama.
“Lalu?”
“Dia kembali dan memberikan alasannya kenapa waktu itu dia memilih pria lain dibanding aku. Memang waktu itu kami masih sangat remaja dan aku tak memiliki apa-apa. Ya, sebelum akhirnya aku punya bisnis ini.” Cerita Mike lalu dia menghela nafasnya lagi seraya menatap Jasmine.
“Ibunya Gebi sakit dan dia membutuhkan uang. Dia memilih pria itu karena pria itu berjanji akan membiayai pengobatannya, tapi beberapa tahun kemudian, ibunya meninggal. Sekarang Gebi bebas dari pria itu dan tinggal sendiri, tapi aku tak mau mendengarkannya. Aku masih membenci keputusannya ketika dia meninggalkanku dan sekarang dia kembali seolah kami tak pernah memiliki masalah.”
“Kau salah Mike. Dia wanita yang berani meminta maaf, tapi kau yang menyurutkan keberaniannya. Buktinya, dia tetap ingin bekerja di sini meskipun kau marahi berkali-kali.”
“Aku menyesal, Jasmine. Aku pikir, aku jatuh cinta padamu dan sudah bisa melupakan Gebi, tapi ternyata hatiku tak bisa bohong. Aku masih mencintainya, tapi sekarang dia sudah pergi. Sudah hampir 3 hari ini aku mencarinya, tapi aku tak juga menemukannya bahkan di tempat favorit kami dulu.”
Jasmine jadi merasa kasihan pada Mike. Seumur-umur dia bersama Mike. Dia tak pernah melihat Mike seberantakan ini.
“Coba kau cari di mana tempat tinggal asal orangtuanya dan mungkin Gebi ke makam ibunya,” ucap Jasmine memberikan ide yang cemerlang membuat Mike langsung membuka matanya lebar-lebar.
Pria itu nampak langsung meninggalkan tempat duduknya dengan terburu-buru mengabaikan Jasmine dan langsung pergi ke arah parkiran. Tentu saja, Mike belum ke sana bukan? Jelas sekali kalau Jasmine bisa membantu masalah orang lain, tapi kenapa suaminya tak mau mempercayainya. Ah suaminya lagi yang dia pikirkan.
“Hai,” suara lain mengintrupsi Jasmine.
“Anthonio, duduklah,” ucap Jasmine mempersilakan sepupunya itu duduk di depannya.
“Kita pesan apa?” Tanya Anthonio seraya membuka menu makanan yang ternyata isinya tak begitu berat.
“Aku mau fetochini saja.” Ucap Jasmine dan Anthoni mengembangkan senyumnya.
“Selalu saja,” ucap Anthonio sangat hafal kalau Jasmine memang sangat menyukai makanan itu.
Jasmine pun mengembangkan senyumnya, tapi saat dia melemparkan pandangannya kea rah lain di seberang café ini. Jasmine melihat di seberang jalan sana ada siluet seseorang yang dia kenal.
“Kak Jordan,” lirihnya melihat suaminya dengan wanita lain dan saling melemparkan senyuman.
Jelas Jasmine ingin marah, tapi kakinya berasa bergetar kuat dan dia ingin sekali menangis.
“Jasmine, kau tak mendengarkanku?” Tanya Anthonio tiba-tiba menyentuh pundaknya dan Jasmine mengalihkan pandangannya pada Anthonio.
“Eh iya, apa?” Tanya Jasmine pada Anthonio.
“Fetochininya sudah habis.”
“Baiklah. Aku cukup kopi ini saja,” ucap Jasmine seraya memberitahu bahwa kopinya masih ada setengahnya.
Namun Jasmine tak bisa bohong kalau mood-nya sungguh menghilang ketika dia melihat suaminya berjalan dan tersenyum dengan wanita lain. Siap wanita itu? Dia lebih cantik dari Jasmine ataupun Laura. Jadi, suaminya pergi seminggu karena wanita itu. Rasanya hati Jasmine seperti teremas-remas.
[…]
Jasmine berusaha menepis semua gundahnya. Dia masih mempercayai suaminya, kalau wanita tadi pasti bukanlah sebab Jordan tidak pulang seminggu. Karena itu, Jasmine mencoba untuk memasak sesuatu di apartemen. Takut-takut kalau suaminya pulang di apartemen tidak ada makanan apapun yang bisa Jordan santap.
Jasmine menaruh semua makanan di piring. Tepat sekali dia selesai menatanya di atas meja makan. Dia mendengar suara pintu apartemen dibuka. Pastilah itu suaminya. Jasmine setengah berlari terburu-buru menuju depan. Entah ini kebetulan atau memang ini feeling seorang istri. Ternyata suaminya sungguh pulang malam ini.
“Mas,” panggil Jasmine membuat Jordan mengernyitkan alisnya begitu dia sedang melepas sepatunya dan mendapat panggilan itu. Bahkan dia kaget begitu Jasmine langsung mengambil tas kerjanya.
“Mas?” ulang Jordan begitu tak suka dengan panggilan yang baru saja dia dengar, tapi Jasmine masih berusaha untuk tersenyum. Dia tetap ingin tenang di depan suaminya ini.
“Aku baru saja memikirkan untuk memanggilmu dengan kata Mas. Sepertinya itu lebih cocok untuk orang yang sudah menikah dan belum memiliki anak.”
Kali ini Jordan berdiri di hadapan Jasmine lalu menghela nafasnya. “Terserah kau saja,” ucap Jordan lalu berjalan ingin menuju kamarnya seraya merenggangkan dasinya, tapi Jasmine menghadangnya.
“Aku memasak makan malam untukmu, Mas. Pasti Mas lapar. Ayo kita makan dulu,” ucap Jasmine meraih tangan Jordan, tapi Jordan menahannya dan menatap tangannya yang digenggam Jasmine.
Tak mau menatap lama tangannya yang digenggam oleh Jasmine. Jordan pun kembali memperhatikan Jasmine yang masih mengembangkan senyumannya. “Kau tidak lihat kalau aku lelah?” Tanya Jordan membuat Jasmine perlahan melepas genggamannya.
Namun Jasmine masih mempertahankan senyumannya. “Baiklah, aku akan menyiapkan air hangat,” ucap Jasmine seraya membalikkan tubuhnya, tapi…
Duk! Bruk!
Lutut Jasmine terkantuk sofa dan kini dia terjatuh menyebabkan rasa malu dan juga sakit yang membuatnya menghela nafasnya. Namun Jasmine menolehkan kepalanya ke arah Jordan yang memperhatikannya masih dengan wajah kerasnya.
“Aku…, aku tidak apa-apa,” ucap Jasmine seraya tersenyum berusaha untuk bangun, tapi kakinya tak kuat dan kembali terjatuh di atas lantai membuat helaan nafas dari bibir Jordan terdengar.
“Kau berusaha menarik perhatianku?! Atau apa?!” tanya Jordan sungguh melukai hati Jasmine. Jasmine tak tahu kalau lisan suaminya akan melukai hatinya.
Tak terasa air mata Jasmine pun keluar. Dia dengar kaki Jordan melangkah menuju kamarnya membuat Jasmine semakin terluka. Suaminya tak menolongnya atau bahkan mengkhawatirkannya. Apa mungkin wanita tadi sungguh sebuah alasan suaminya tidak pulang selama seminggu?
“Makanlah ketika kau lapar,” ucap Jasmine sungguh terdengar sendu membuat Jordan yang baru saja akan menekan engsel kamarnya terdiam sejenak. Namun dia tak menanggapi perkataan istrinya dan melanjutkan niatnya yang akan masuk ke dalam kamar.
[…]
beda banget arti engsel & handle🙏🙏
Kan endra mmg sengaja ngajak Laura utk dioerkenalkan ama Jordan spy dia bisa bebas Dari Laura 🤔
udh lama nunggu nya😭😭