Bijaklah dalam memilih bacaan dan dalam berkomentar. Semua hanya fiksi, tapi maaf jika mengundang banyak emosi.
Happy reading!
Bertahan demi anak, adalah sebuah kata yang mudah di ucapkan, tapi begitu sulit untuk dilakukan. Sakit, dan perih, namun harus berusaha kuat dan tetap tersenyum di depan buah hati mereka. Apalagi, ketika terpaksa harus terus tinggal bersama.
Isti wulandari, seorang wanita karier dengan seorang anak perempuan berusia Sepuluh tahun. Dengan semua kesuksesan, kecantikan, dan bahkan kekayaan yang Ia miliki, nyatanya tak menjadikan sebuah jaminan untuk sang suami agar tetap setia. Suaminya kepergok selingkuh, dengan seorang wanita yang Dua belas tahun lebih muda darinya. Dan parahnya lagi, sang suami kekeuh menolak untuk diajak bercerai, dengan alasan anak mereka.
Berhasil mempertahankan rumah tangga, atau akhirnya Isti akan menyerah dan menjelaskan pada sang anak akan permasalahan ini meski harus sakit dengan keadaan yang ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perubahan Isti
Senja telah tiba. Isti kini sedang menemani Zalfa mengerjakan semua Pr nya, dan Bu Laksmi sedang memasak untuk makan malam. Isti sempat mengatakan, jika Ia akan makan di luar, sehingga Bu Laksmu hanya perlu menyiapkan untuk Rani dan Zalfa saja.
"Karena acaranya malam, Zalfa tinggal di rumah aja, kan besok sekolah." bujuk Isti, yang dibalas anggukan Zalfa.
"Assalamualaikum..." ucap Rani yang baru pulanh dari kampusnya.
"Waalaikumsalam, kik malem, Ran?"
"Iya, maaf. Rani ke rumah temen dulu soalany, banyak refisi." jawab Rani, ynag masuk dengan muka begitu lelahnya.
Setelah Rani masuk, Fikri pun menyusul dengan wajah tak kalah lelah. Mengucap salam, lalu langsung menghampiri dan mengecup kening Zalfa yang tengah duduk santai di sofanya.
"Jam berapa perginya, Is? Tanya Fikri.
"Jam Tujuh. Masih ada waktu buat Mas istirahat sebentar." jawab Isti, yang matanya fokus ke Tv.
Fikri pun masuk ke kamarnya, membersihkan diri dan merebahkan tubuh sejenak. Saat ini begitu hampa rasanya, ketika seluruh isi rumah mendiamkan dirinya. Hanya Zalfa yang masih bersikap biasa, karena memang tak mengetahui masalah yang terjadi.
"Bahkan, Ibu dan adik kandungku saja, menganggapku sebagai penjahat saat ini." gumamnya.
Ia memejamkan mata sejenak, tak tidur, hanya memijat-mijat dahinya yang terasa berat. Biasanya, Isti yang langsung responsif dan menggantikan Fikri untuk melakukannya. Tapi sekarang, jangankan memijat, melayani kebutuhan biologispun Isti begitu enggan.
"Jangan katakan dosa padaku, hanya untuk membahas syahwatmu. Karena ketika kau bicara dosa, maka akan ku berikan sebuah kaca yang begitu besar, agar kau bisa membicarakan dirimu sendiri disana." ucap Isti, ketika Fikri menceramahinya untuk meminta hak sebagai suami.
Lima belas menit terpejam, akhirnya Isti membangunkannya lagi. Kali ini, Isti telah berdandan dan siap berangkat ke acara undangannya. Dengan make up yang sedikit tebal, dan tajam diarea mata. Isti tampak semakin mempesona, apalagi di tambah dress nya yang glamour, berlengan panjang dan sebatas lutut.
"Is... Kamu kok cantik banget?" tanya Fikri.
"Iya, aku sekarang santai karena ada yang membantuku mengurusimu. Aku bisa perawatan, aku bisa memanjakan diriku sendiri. Apalagi, ada Ibu dan Rani disini, jadi semua aman." jawab Rani, melenggang keluar dengan santai. Tapi, tangannta ditarik Fikri untuk kembali masuk kedalam.
"Hey, apa-apaan kamu Mas? "sergah Isti yang melepaskan genggaman Fikri.
"Kamu yang apa-apaan? Kamu sekama ini ngga pernah dandan seperti ini, kenapa sekarang jadi begini?"
"Loh, kenapa? Suka-suka aku lah. Istri barumu aja, jadi SPG biasanya dandan dan pakaian ****, kenapa aku engga? Aku nyaman."
"Is, ganti Is. Kamu ngga boleh berpenampilan seperti ini, memancing pandangan laki-laki lain buat ngelirik kamu, aku ngga suka." hardik Fikri.
"Ada kalanya aku menuruti semua yang kamu mau, Mas. Apapun itu, dan bagaimanapun itu, meski aku sendiri tak nyaman. Tapi, hal itu masih saja tak kamu hargai, Mas. Kamu masih mencari yang lain, dengan alasan dia lebih menurut dan lebih manja daripada aku. Maka sekarang, aku akan menjadi diriku sendiri."
Isti melenggang keluar dari kamar, dan berjalan menuju mobilnya yang terparkir di halaman. Fikri mengusap wajahnya kasar, begitu gusar dengan semua perlawanan Isti selama ini.
Fikri melihat pakaiannya telah tertata rapi di ranjangnya. Demi menghormati para sahabat Isti dan direktur Rumah sakit yang mengundangnya, akhirnya Ia berganti pakaian dan menyusul Isti keluar.
"Sudah siap?" tanya Isti, dan Fikri hanya mengangguk pasrah.
Isti memberikan kunci mobilnya pada Fikri, Ia tak mau lagi menaiki mobil Fikri yang telah berkali-kali di tumpangi Naya. Sebelum itu, Ia merapikan Jas dan dasi Fikri agar terlihat lebih tampan seperti biasanya.
"Sepertinya, memiliki Dua istri membuatmu pusing. Kau kumal, lecek, seperti orang tak terurus. Padahal, harusnya kau lebih tampan dari biasanya." ucap Isti pada Fikri.
Kini mereka telah benar-benar siap, dan memulai perjalanan mereka ke tempat perjamuan dilaksanakan.
*
*
*
Tiba di sebuah hotel bintang Lima, Isti menggandeng Fikri untuk masuk ke dalam, dan mencari tempat dimana para tamu telah berkumpul. Malam ini, Isti merasa menjadi orang yang paling munafik diseluruh dunia, karena masih bisa tersenyum dan mesra pada Fikri, sedangkan di hati menangisinya.
"Selamat malam, Nyonya. Apakah anda tamu undangan Pak Roy?" tanya Seorang pelayan.
"Iya, ini undangannya." jawab Isti dengan begitu ramah.
Sang pelayanpun mempersilahkan Isti agar mengikutinya dari belakang, dan memasuki tempat yang memang sudah begitu ramai dengan tamunya.
"Ini dia, pasangan paling perfect yanh menjadi contoh untuk para juniornya." sambut Pak Roy pada Isti.
"Sempurna? Kesempurnaan itu telah hancur sejak beberapa minggu lalu. Dan kini hanya tersisa puing-puing yang entah bagaimana caranya dikumpulkan, dan di satukan kembali. Meski tak akan pernah sesempurna sebelumnya." batin Isti, yang begitu menyesali keadaannya.
Isti dan Fikri, mengulas senyum mereka pada seluruh tamu yang ada, yang juga menyambut dengan senyum bangga mereka pada kedua insan itu. Berjalan menemui semua rekan dan sahabat untuk saling tegur sapa, apalagi Fikri yang memang sudah begitu jarang mereka temui beberapa waktu ini.
"Agaknya, Mas Fikri sudah mulai sukses. Nyatanya, sudah makin jarang ditemui, dan tak lagi mengantar jemput Mba Is sekarang." goda salah satu rekan mereka, dengan memberi segelas minuman pada Fikri.
"Alhamdulillah, semua berkat doa kalian juga. Insyaallah, saya akan di promosikan sebagai kepala cabang pabrik yang ada di luar kota. Itu kalau jadi." jawab Fikri.
"Ah, Mas Fikri memang suka merendah." sahut yang lain.
"Tapi inget loh, Mas. Kata pepatah itu, perempuan akan di uji, ketika Pria tak memiliki apa-apa. Dan Pria akan diuji, ketika Ia memiliki segalanya. Mba Isti udah lolos karena mampu menemani Mas dalam titik terendah sekalipun. Tinggal Mas lagi, gimna ketika naik nanti."
Mereka kini semakin menggoda Fikri dengan segala ucapan mereka yang menggelitik. Karena faktanya, sebelum merangkak naik pun Fikri sudah berani menduakan Isti dan menikah diam-diam dengan wanita simpanannya. Secara tak langsung, mereka sedang menghina Fikri habis-habisan saat ini.
.
.
.
Tamu utama datang. Seorang dokter muda dengan gelar Spesialis bedah sudah bergabung bersama mereka saat ini. Ialah dokter Firman, berusia Dua puluh sembilan tahun dan masih lajang sampai sekarang.
Parasnya yang tampan, berkulit putih, berambut belah pinggi yang begitu tertata rapi, dan tinggi yang badan yang sempurna untuk seorang pria. Membuat mata para wanita yang melihatnya terbelalak takjub hingga tak berkedip. Termasuk Isti, yang dipercaya untuk memakaikan kalung bunga untuk penyambutan itu.
Tatapan mereka begitu intens, baik Firman maupun Isti, saling melempar senyum dan sanjungan untuk keduanya.
"Shiiit! Apa yang dia lakukan? Menggoda istriku? Tak tahukah, jika Wanita di depannya itu telah bersuami?" gerutu Fikri, yang menatap mereka dengan wajah penuh cemburu.
cb klo aq ogah lah.
lbih baik sendiri jga ank drpd mkn ati doang tiap hari liat wajahnya