NovelToon NovelToon
Remember Today

Remember Today

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:62.4k
Nilai: 5
Nama Author: Tata Tetott

Lily terjebak dalam sebuah pernikahan yang tidak bahagia. Dante tidak pernah mencintainya. Dante menikahi Lily hanya untuk membayar hutang Budi orang tuanya kepada orang tua Lily.

Namun sebuah kecelakaan membuat keadaan berubah. Dante didiagnosa menderita cedera otak parah yang membuatnya kehilangan ingatan jangka pendek.

Dante hanya mengingat apa yang terjadi hari ini, lalu setelah dia tertidur dia akan melupakan semua. Begitu setiap harinya.

Inilah kesempatan bagi Lily untuk membuat suaminya bisa menerima dan mencintainya sepenuh hati.

Inilah kesempatan bagi Dante untuk memperbaiki kesalahan besar yang telah dia perbuat.

Namun, kehidupan tidak semudah itu untuk memberi mereka kebahagiaan.

berhasilkah mereka membangun Rumah tangga bahagia atau bahkan perceraian adalah jalan terbaik?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tata Tetott, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. Lily: Dating Again - 2

Sesi makan malam telah selesai, meja makan juga peralatan yang lain juga sudah selesai di bersihkan.

Mas Dante berbicara dengan kedua orang tuanya di ruang keluarga selagi aku dan Bi Aluh merapikan dan membersihkan sisa-sisa makan malam.

Pukul 10 malam, kedua mertuaku pulang. Aku mengantarkan Mas Dante yang masih menggunakan kursi roda ke kamarnya.

Kubantu Mas Dante pindah dari kursi rodanya untuk berbaring di kasur empuknya secara perlahan agar dia tidak merasa sakit.

"Pelan-pelan, Mas."

"Terima kasih," ucapnya ketia dia sudah berbaring dengannyaman di kasur empuknya.

Kuselimuti kakinya hingga batas dadanya. Memastikan kembali bantalnya cukup nyaman untuk menyangga kepalanya Yang masih cedera. Lalu ku sesuaikan suhu air conditioner agar dia merasa nyaman. Setelah memastikan semuanya pas, aku berjalan kearah pintu untuk keluar dari kamar Mas Dante.

"Lily, mau ke mana?" Suara Mas Dante seperti mencegatku mempuatku terkipik.

"Hhhmm ... ke kamarku," jawabku tidak yakin.

"Kamarmu?" tanya Mas Dante. "Kita tidur terpisah?" Dia lanjut bertanya.

Aku terdiam beberapa saat, memikirkan tentang apa apakah aku katakan saja Yang sebenarnya kalau selama ini kami tidur terpisah? Jika ku katakan demikian aku takut dia akan semakin binggung tentang status hubungan kami.

"Kurasa aku akan tidur di kamar lain selama masa penyembuhanmu." Akhirnya kalimat itu yang keluar dari mulutku.

"Kenapa begitu?" tanyanya bingung.

"Kupikir Mas perlu tidur yang berkualitas. Dengan aku tidur di samping Mas mungkin akan mengganggu, dan membuat tidur Mas tidak nyaman." Aku berusaha membuat Alibi yang masuk akal.

Apakah itu masuk akal?

"Maksudnya?" tanyanya agak bingung.

"Begini, hmm ... aku tidak bisa diam saat tertidur, maksudku, aku bisa menendang bahkan bisa berputar 180 derajat dari posisi tidur awal. Bukankah itu sangat mengganggu tidur Mas nantinya," jawabku tidak yakin. Iya aku tidak yakin apakah aku benar tidur begitu, aku rasa tidak.

Mas Dante sedikit terbahak.

"Benarkah?" tanyanya kemudian.

Ku balas hanya dengan sebuah anggukan kecil.

Jeda diam yang canggung beberapa detik sampai akhirnya ku putuskan untuk menarik gagang pintu kamar Mas Dante.

"Aku sunggungguh berharap kamu tidur di sisiku malam ini," ucap Mas Dante tiba-tiba sebelum sempat ku langkahkan kakiku.

Aku hanya bisa mematung di tempat aku berdiri.

"Please ku mohon."

Aku tetap diam.

"Aku yakin kau tidak akan menyakitiku," katanya.

Tentu. Tentu aku tidak akan menyakitimu, ucapku hanya dalam hati.

"Kau istriku, kan?"

Iya, aku istrimu, tapi kan-.

Ah sudah lah, turuti saja. Sejujurnya aku pun sangat ingin tidur disebelahnya.

Aku melangkah dengan canggung ke tempat tidur, menaikinya dan berbaring di sampingnya.

Jantungku berdetak begitu cepat sampai aku merasa seakan sesak. Aku terbaring mematung layaknya mayat. Sukit sekali untuk bergerak karena rasanya seluruh tulang dan sendiku membeku.

Aku tidak berani menatap kesamping ke arah Mas Dante. Hanya memandang lurus ke langit-langit kamar yang kubisa.

Lebih parahnya, tangan mas dante tiba-tiba menyentuh punggung tanganku. Ku temukan diriku sepenuhnya merinding karena sensasi sentuhan itu.

Memberanikan diri berpaling kearah Mas Dante dan tersadar ternyata Mas Dante menatapku sedari tadi.

"Istriku cantik sekali," ucapnya.

Kurasakan hawa panas naik ke wajah, aku yakin sekarang pipi ini memerah karenanya. Tanpa aba-aba senyum mengembang begitu saja.

"Lihatlah betapa manisnya senyum itu," pujinya.

Aku yakin sepenuhnya saat ini pipiku benar-benar memerah.

"Dan ciuman kita tadi pagi saat di rumah sakit, aku masih ingat rasa manisnya." Dia tersenyum nakal ke arahku.

"Mas!"

Sama, aku juga masih mengingatnya, rasanya jejak bibir Mas Dante masih membekas di bibir ini. Aku masih merasakan manisnya ciuman pertamaku.

"Kenapa kau tersenyum, Dan kenapa juga pipi itu begitu merah." Suara Mas Dante menyadarkanku dari lamunanku.

Aku tidak bisa mengucapkan sepatah katapun, hanya bisa berusaha menyembunyikan senyum Dan wajah merah padamku.

"Boleh aku mendapatkannya lagi sebelum aku pergi tidur?" Tanyanya.

"Apa?" Aku balik bertanya.

"Ciuman dari bibir manismu." Dia tersenyum.

"Ciuman?" Tanyaku untuk memastikan bahwa aku tidak Salah dengar.

"Ya. Boleh, kan?"

Masih berusaha kusembunyikan senyum malu Dan wajah merah padamku, namun kali ini aku merasa kepalaku mengangguk pelan tanpa ku perintah, tanpa bisa ku tahan.

Mas Dante tersenyum sumringah sampai menampakkan giginya yang rapi serta putih itu.

"Kemari," katanya seraya mengulurkan tangan ke arahku dengan posisinya yang masih berbaring.

Aku mendekat kearahnya, sedikit mengangkat tubuhku lebih tinggi dari posisi berbaringnya. Kami bergadapn sekarang. Saling menatap, saling tersenyum.

Perlahan kuturunkan wajahku hingga memangkas jarak dengan wajah Mas Dante. Ku tempelkan bibirku di atas bibirnya kemudian mengecupnya dengan seluruh perasaan Cinta yang selama ini hanya terpendam dalam dadaku.

Dia mengecupku juga dengan lembut dan mesra, membuat seluruh saraf di tubuhku memegang dan menimbulkan sensasi gelitik di perut.

Sensasi yang ingin kurasakan selamanya, bukan hanya kali ini.

Kurasakan ada air yang menggenang di ujung netraku. Apakah aku menangis? Untuk apa aku menangis? Terbingung sejenak sebelum akhirnya aku menyadari mengapa netraku mulai basah.

Aku takut. Takut menghadapi kenyataan jikalau besok pagi dia terbangun bahkan tanpa mengingat siapa diriku apalagi tentang ciuman kami hari ini.

"Kenapa menangis?" Mas Dante melepaskan pagutan bibir kami. Meski begitu bibirkami masih tanpa jarak. Bisa kurasakan hembus nafasnya menerpa bibirku.

Aku tersenyum.

"Kenapa kau menagis, Lily?"

Airmataku jatuh di pipinya. Ku sapukan jari manisku di tempat bulir itu jatuh, kemudian ku sapu juga air di garis mataku.

"Aku mencintaimu, Mas." Hanya itu yang sanggup ku katakan. Tak sanggup rasanya mengatakan apa yang sebenarnya aku resahkan.

"Aku mencintaimu," Balasnya sebelum aku merasakan tangannya perlahan menyusup di balik pakaianku.

Seketika aku bereaksi dengan sebuah gedikan. Belum sempat aku mengucapkan sepatah kata, tangan Mas dante yang lain menariku semakin mendekat ke wajahnya lalu dia mencium bibirku. Lagi.

Kali ini ciumannya lebih dalam dam intens. Aku tidak tahu harus membendung yang mana sementara tangan Mas Dante terus merangsek di balik bajuku menjelajah pinggang, perut hingga dadaku.

Apakah ini saatnya.

Apakah kami akan berhubungan badan untuk pertama kalinya malam ini?

"Stop!" Aku mendorong diriku dari Mas Dante hingga posisiku yang sebelumnya berbaring di atasnya menjadi duduk di sampingnya.

"Jangan sekarang," ucapku dengan nafas memburu.

"Kenapa? Kau lelah?"

Aku menggeleng.

"Kau tidak menginginkannya?"

Aku menginginkannya, sungguh aku menginginkannya. Tapi tidak dengan cara seperti ini. Aku tidak bisa. Aku tidak ingin melakukan sesuatu yang sangat sakral bagiku hanya untuk dilupakan esok harinya. Tidak. Aku tidak bisa. Itu terlalu menyakitkan.

Ah, sayangnya kalimat itu hanya terucap dalam hati tak sampai mengeluarkan dari pita suaraku.

"Kau belun terlalu kuat untuk itu, Mas," ucapku akhirnya.

"Apa? Kau meragukanku?"

"Bukan begitu, Mas Dante masih dalam masa penyembuhan, tidak seharusnya Mas melakukan aktivitas berat. Itu kan aktifitas berat." Alasan macam apa ini?bagaimana aku tahu itu aktivitas berat atau bukan, aku saja tidak pernah melakukannya. Tapi hanya itu alasan yang masuk akal, kan?

"Apakah aku harus menunggu sampi benar-benar sembuh?"

"Kurasa begitu."

"Menyebalkan."

"Lagipula bukankah ini kecan pertama kita? Aku tidak mau melakukan itu di kencan pertama. Aku harus jual mahal." Apa barusan yang kukatakan?

Tanpa menunggu respon Mas Dante, aku mengambil posisi berbaring kembali dengan kepala menoleh kearah berlawanan.

Kudengar tawa kecil mas dante sebelum tangannya menggenggam tanganku.

Tapi aku tidak berani lagi untuk menatapnya.

~Bersambung~

1
Annisa Rahma
kak sehat2 kah?
al juna kai ruby azzam
Give up...🥀
Juwita Sisamhadhi
ditunggu kak
Anonymous
duh....pliss thor jangan gantung ya.....berharap cerita ini sampe tamat
Annisa Rahma
alhamdulillah akhirnya up juga... selalu ditunggu kak lanjutannya ❤❤❤❤❤❤❤❤
Wahidah Wahidah
Akhirnya Dante-Lily kembali,mksh Thor, 👍
Wahidah Wahidah
tahun telah berganti tp Dante dan Lili belum muncul jg ?????
Anonymous
desember akan segera berakhir....lili ma dante blom nongol2......
Siti Jamrah
Dantenya kemana? udah ditungguin nih 😄
Annisa Rahma
kak udah awal Desember dante sama. lily nya mana kak? 🤭🤭🤭
Wahidah Wahidah
tetap ditunggu Author, smg ketulusan lili bisa menyadarkan Dante, dari manusia jahat, jd manusia yg tahu pengorbanan pasangannya. berharap ada part Dante yg mengejar cintanya pd Lili, tetap bahagia lili-Dante 🙏🙏🙏
Annisa Rahma
whoooaaa kaget pas lihat notif ada up dari mas dante dan lily... selalu ditungguin kak updatenya... semangat selalu ya kak... ❤❤❤❤❤❤❤❤
Aqua Star: betul banget kaget juga
total 1 replies
Annisa Rahma
kak kangen mas dante🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Anonymous
wah mana nih mas dante.....katanya mau sering2 up date dan udah janji mau sampe tamat nih thor...
Annisa Rahma
kak belum up ya!
Wahidah Wahidah
lama tdk up...
Anonymous
semakin kesini.semakin romantis tapi kok jd deg2an....gmn kl ingatan dante kembali ya....
Aqua Star
yuhuuu Lily Dante Miss youu
Wahidah Wahidah
Alhamdulillah, up, terima kasih Thor... smg Lily dan Dante selalu bahagia
punya nama
semangat thor, semoga gk ketularan tetangga seberang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!