NovelToon NovelToon
Devil Dosen

Devil Dosen

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Misteri / Tamat
Popularitas:967.8k
Nilai: 4.8
Nama Author: Rainawjy

Secepatnya bakal direvisiz supaya tidak mengandung plot hole

Mereka bilang, itu nasib baik bila bertemu dengan Dosen tampan. Tapi, bagi Nara, itu tidak!

Kehidupan bebas menjadi penuh kekangan, misteri, tragedi, dan tangisan. Sempat dia tahu Nara melarikan diri, jangan salahkan dia memberikan hukuman setimpal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rainawjy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13: Perasaan Ini

Mereka sudah sampai di depan rumah. Semua anak buah yang ada di rumah Nara, kini bubar. Pria itu sedang berdiri di hadapan Nara. Nara menatapnya dengan bingung.

"Hari ini, kau sendiri di rumah. Aku sudah mengubah sandi pintu rumahmu seperti semula. Jaga dirimu baik-baik dan nikmati malam indahmu," kata pria itu. Dalam hati Nara, tertawa begitu bahagia.

"Sampai jumpa," kata pria itu. Dia mengecup kening Nara sejenak, lalu masuk ke dalam mobil sedannya.

Nara bergegas membuka pintunya. Di dalam rumah, senyuman Nara bermekaran. Dia qmembuka speaker dengan volume keras dan mendengarkan alunan musik menyenangkan. Dia bisa bebas hari ini tanpa pria menyebalkan itu dan bisa lari begitu saja dari rumah.

"BEBAS! AH! BEBAS!" seru Nara. Nara menyiapkan barang-barangnya ke dalam satu koper besar. "Sultan mah BEBAS!"

Dia mencari-cari ponselnya, namun tidak ada di lemari maupun raknya. Dia melihat sekeliling ruang kamarnya, lalu teringat pada pria itu. Saat itu, Nara mengintip ketika Nara sedang pura-pura tidur. Pria itu sedang memainkan ponsel Nara, lalu dimasukkan ke dalam jasnya. Setelah itu, pria itu bangkit dan Nara bergegas merapatkan matanya.

"Ah, Sial!" pekik Nara frustrasi. Nara duduk di tepi kasurnya. Kedua siku di pahanya dan tangannya menopang dagunya. Pikirannya berkelana ke pria itu. Seandainya kejadian ini tak terjadi, Nara sudah bisa keluar bersama dengan Arna dan Malvin.

Tapi, pria itu aneh di pikiran Nara. Dia tidak kenal sama sekali dengan pria itu, namun pria itu tahu namanya saat pertama sekali pertemuan. Banyak wanita yang lebih cantik dibandingnya, kenapa harus memilih Nara bukan yang lain? Ini adalah malapetaka bertemu dengan pria sepertinya. Seluk beluk pria itu tidak jelas. Di mana ia tinggal, Nara saja tidak tahu. Nara tidak ingin menikah dengannya. Nara ingin bebas, tak peduli nikah. Namun, impian selama ini, hancur mendadak hanya karena pria itu. Gelar sarjana tidak ada. Pria itu mungkin punya martabat tinggi, tapi kenapa di berani menghentikan kuliah seseorang?

Tampaknya pikiran pria itu belum matang. Lalu, ini bagaimana? Di akhir semester terlalu banyak absen. Nara sudah ketinggalan, namun jika pada saat ujian-ujian, Nara usahakan hadir. Tapi dengan satu syarat, pria itu tidak tahu Nara akan pergi ke kampus.

-oOo-

Sebelum pria itu menemui Nara.

"Tuan, aku ada kabar," kata seorang anak buah kepercayaannya, Tony, datang dengan terburu-buru. Pria itu sedang menandatangani surat-surat penting. Dia masih berada di rumah Nara.

"Mereka telah bangun dan untung saja mereka tidak mencurigai apa-apa. Namun masalahnya, Malvin tidak terima Arna," kata Tony tergesa-gesa. Pria itu mendongak dan tersenyum padanya.

"Bagus," jawab pria itu tanpa beban di hati. Tony tampak bingung kenapa Tuannya tidak marah sedikit pun. "Lama-lama, mereka akan bersama juga karena Arna yakin bahwa mereka telah melakukan hubungan badan. Di mana Nara?"

"Tuan, aku mendapat kabar bahwa Nara telah membeli tiket pesawat ke London jam 3 pagi di toko travel dekat sini," jawab Tony. Dia cemas saat melihst senyuman pria itu pudar. Pria itu memicingkan matanya.

"Wanita itu cari masalah," gumamnya. Dia mencampakkan pennya begitu saja.

"Tony," dia melihat Tony lagi, "sekarang, siapkan pesawat pribadiku di sana. Bayar berapa pun yang mereka mau, jika diperas sampai jutaan dollar, biar aku menemui mereka. Pergilah."

"Baik, Tuan." Tony pergi meninggalkan ruangan.

-oOo-

Nara sudah sampai di bandara dn melakukn check-in. Kini dia mulai mencari pesawat yang harus didudukinya. Di lapangan seluas itu, terdapat 5 pesawat yang sedang diparkirkan. Kini, ia berjalan mendekati satu pesawat, namun seorang pria paruh baya dengan setelan jas, memberhentikannya.

"Maaf, Nyonya, pesawat yang harus anda naiki adalah pesawat di sana," kata pria itu sambil menunjuk sesuatu yang di belakangnya. Nara menoleh, melihat pesawat dengan tulisan "Lense" di tubuh pesawat itu. Nara melihat tiketnya. Lense, itu benar.

Nara melihat pria itu kembali. "Terima kasih."

Nara berjalan ke pesawat itu sambil membawa kopernya. Dia tersenyum tipis. Saat sudah sampai dalam pesawat, semuanya berubah total. Pesawat ini seperti pesawat pribadi, bukan pesawat seperti biasanya. Nara berjalan lebih dalam lagi, terlihat meja bar dan terakhirnya seorang pria. Pria itu duduk di sofa merah maron, menyilangkan kaki, dan menatapnya. Pria itu tersenyum miring, kemudian melihat keluar jendela.

Nara membalikkan badannya, dia hendak pergi, namun tubuhnya menubruk dua pria tegap dan lebih tinggi darinya.

"Biarkan aku pergi!" Nara mendorong tubuh mereka, membiarkan kopernya jatuh di belakang sana. Berulang kali Nara mendorong, namun tak ada hasil.

"Diam!" pekikan itu membuat Nara mematung. "Bawa dia kemari."

Anak buahnya menggiring Nara ke sofa yang ditempati pria itu. Nara duduk di samping pria itu. Pria itu langsung memeluknya erat-erat.

"Pergilah," titahnya kepada 2 anak buahnya. Mereka meninggalkan ruangan tak lupa membawa koper Nara juga. Kemudian, pintu ditengah-tengah otomatis tertutup. Nara mendorong tangan pria itu, tapi tetap tak bisa lepas.

"Aku sudah bilang berapa kali, Nara? Takkan bisa kau lari dariku," katanya. Nara tak peduli, tetap saja Nara meronta.

"PERGILAH! Pergilah dariku! Lenyaplah!" pekik Nara. Pria itu langsung membungkam bibir Nara. Dengan penuh paksaan membuat Nara harus terdiam dan menikmati lumatan itu. Pipi Nara langsung panas begitu juga tubuhnya.

"Aku bisa memakanmu, Nara. Jangan coba-coba," katanya. Dia melihat pipi Nara yang benar-benar merah. Kemudian, ia melihat jendela oval yang menandakan bahwa pesawat pribadinya sudah mulai jalan.

"Sampai kapan?" tanyanya tanpa melihat Nara. "Sampai kapan perasaanku tidak dikhianati? Kadang, aku benci karena aku begitu posesif, cemburuan, dan iri hati. Semuanya... semuanya yang tak kau sukai ada dalam diriku."

Nara terdiam, mendengar suara itu perlahan-lahan menggubris pikirannya. Selama ini, pria itu tak menyakitinya, namun menyanyanginya dengan cara yang cukup salah. Nara menggerakkan tangannya, pria itu langsung memeluk Nara lebih erat lagi.

"Kenapa?" Pria itu langsung melihat Nara. Tatapan hangat itu membuat Nara luluh seketika. "Kau benci diriku sampai menempel di tulangmu? Kenapa aku mencintaimu sampai menempel pada tulangku? Kenapa semua ini terbalik? Kenapa kau tak pernah mengatakan bahwa kau menginginkanku di sisimu? Kenapa?"

Nara menunduk. "Katakan, apa yang kau tak suka dariku? Apakah sikapku terhadapmu? Aku bisa mengubah segalanya. Kau bisa beri saran kepadaku. Ayolah...," pria itu mengelus pipi Nara dengan punggung tangannya. "Ayo, cepat, katakan."

Dia masih menunggu suara emas Nara. Dia tahu bahwa Nara amat takut jika berbicara dengannya. "Kau tidak punya mulut atau kau takut berbicara denganku?" tanyanya. "Jangan sampai aku melakukannya sekali lagi."

Sekali lagi, tidak ada jawaban dari Nara. Emosinya memuncak. Dia meraih dagu Nara dan memaksanya mendongak. Dengan cepat, dia membungkam bibir Nara dan menikmatinya. Nara memukul bidang dadanya dengan sangat keras hingga dia melepaskan kecupan sialan itu. Mereka berdua saling menatap.

"Baiklah, kau tak ingin jawab," dia tersenyum penuh. "Aku takkan memaksa lagi."

Pria itu melihat keluar jendela lagi. Kali ini, dia akan mencoba membuat Nara tertarik padanya hanya dengan satu jalan jitu, yaitu menjelaskan kehidupannya.

"Nara, apakah kau pernah melihat awan-awan yang awalnya putih menjadi hitam pucat?" dia mulai bercerita. "Itu saatnya di mana aku benar-benar terpuruk akan hidupku."

Nara mulai jatuh dalam suasana ceritanya walaupun itu baru saja di awal cerita.

"Apakah kau pernah melihat foto masa kecilmu yang tersenyum tanpa beban di wajahmu ketika kau sudah dewasa? Kadang, aku iri melihat diriku yang dulu lebih bahagia dibanding sekarang. Tawanya tanpa beban, namun sekarang, berbeda."

Nara teringat saat-saat dia sendiri di rumah, melihat foto-foto kenangan tentang orang tuanya dan keluarganya yang kini entah berada di mana. Foto-foto masa kecilnya, membuat dia merasa bahwa dulu dia sangat bahagia bersama ayah dan ibunya, sepupunya, bibinya, dan keluarga lainnya.

"Dulu, aku hanya sebatang kara. Dikhianati oleh keluarga sendiri, penyiksaan, pembunuhan, kekejian. Itu hidupku yang dulu. Aku masih ingat benar kejadian pada saat ayah dan ibuku dibunuh di depan mata kepalaku. Keji. Keji sekali."

Nara melihat wajah pria itu. Di ujung matanya terdapat setitik air mata, kemudian mengalir. Disusul dengan air mata selanjutnya. Nara dengan ikhlas menghapus air matanya. Inilah momen terindah yang ditunggu pria itu. Kelam, masa lalu pria itu begitu kelam, kata hati Nara.

"Nara, aku hanya ingin melindungimu. Aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu. Makanya, aku begitu protektif terhadapmu," dia berpaling pada Nara, "hanya untukmu."

Pria itu tersenyum. Nara luluh sejenak. "Bicaralah padaku seperti biasa, jangan takut. Aku tidak akan memakanmu. Aku juga manusia. Tapi, kau harus ingat, aku tidak suka kau berbicara dengan pria lain," katanya. "Jangan takut lagi padaku. Aku tidak suka hal itu."

Nara mengangguk.

-oOo-

Selamat membaca :)

1
Mxxnlight._
terbaikk
Nurul Hofa
kurang suka sama visual lorence
Nisa Larasati
aq benci pada mu lorent ingin rasanya membunuh mu saat kau tertidur 😈🗡🪓
Nisa Larasati
maafin aq kk tapi aq beneran trauma baca nya tapi aq juga selalu penasaran sama cerita nya 😭
Nisa Larasati
HAH sumpah aq bisa mati klo jumpa sama cowok yg modelannya begini 🤬 lagi pula si nara di ksih kebebasan walau hanya 15 menit kenapa gx lari ke dapur aja sih ambil pisau bunuh diri aja 😂 atau bunuh si adam nya aja 😂 canda bunuh diri 😂
n a n a
devan deh kek nya
Yenny Rachman
thor.. ini sudah tamat kah😅😅😅
ak sukaaa cerita muuuu😍😍😍😍
Yenny Rachman
lanjut thor😅😅😅🥰🥰😍...
ak sukaaa cerita muuuu👏👏👏
paulaa
seru
Yesika novel03
lanjut donk udh nunggu lama nie
Hesti Sagita
Akhirnya Nara sampe ke tahap itu
kasian aja klu Adam cuma pura'' suka ke Nara
Hesti Sagita
stress
Hesti Sagita
mengunci diri di dlm kamar mandi
ahh hasil nya sama aja
Hesti Sagita
Adam kah
Hesti Sagita
penasaran awal mula Adam suka ke Nara
Hesti Sagita
kasian si Nara
Hesti Sagita
cinta dan obsesi
Hesti Sagita
mamapir baca kak.
berawal dr WP
lucia de lamendoza
lorence itu adam ?
lucia de lamendoza
kynya adam atasan nya gk sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!