NovelToon NovelToon
Kembalinya Gea

Kembalinya Gea

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Tamat
Popularitas:408.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Delita Shira

Gea keluar dari taksi dan mulai melangkahkan kakinya menuju ke kamar kosannya. Gea melihat ada sepatu Sarah sahabatnya sekaligus teman 1 kamarnya. Apa Rendy ada di dalam?, sepatunya ada di sini juga. Gea bicara di hatinya.

Gea mendorong sedikit pintunya yang tidak dikunci, mendengar desahan Sarah sedang berhubungan intim Gea menarik kembali pintunya dan berniat untuk pergi.

Sarah memang sudah biasa melakukan itu dengan pacarnya. Tiba-tiba langkah Gea terhenti ketika mendengar suara pria tersebut tidak asing baginya.

Tubuh Gea gemetaran terlintas di pikirannya takut kalau yang dia dengar barusan itu adalah pacarnya.

Gak mungkin Rendy dan Sarah memiliki hubungan di belakangnya.
Perlahan-lahan Gea membuka pintunya, dan matanya terbelalak terkejut melihat pacar dan sahabat sedang hubungan intim di sofa ruang tamu.

Dada Gea terasa sakit, dan napasnya merasa sesak, hatinya sangat hancur tidak sanggup menerima kenyataan yang di lihatnya langsung.

"Apa yang kalian lakukan hah!!" teriaknya sambil menahan tubuhnya agar tidak jatuh ke lantai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delita Shira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sinar Hangat Di Dua Hati

Keesokan harinya, suasana di kediaman mewah itu terasa sedikit berbeda. Gea sudah berdiri tegak di depan pintu kamar Bara sejak pagi buta, menunggu pria itu keluar dengan senyuman lebar yang menghiasi wajah cantiknya.

Begitu pintu terbuka, Bara tertegun mendapati Gea yang sudah rapi. "Ngapain kamu berdiri di sini?" tanya Bara dengan nada ketus yang menjadi ciri khasnya.

Gea tidak gentar. Senyumnya justru makin melebar. "Saya sedang menunggu Anda, Tuan. Hari ini kita harus sarapan bersama," jawab Gea riang. Tanpa ragu, ia meraih tangan Bara dan menuntun pria itu menuju ruang makan.

Anehnya, Bara tidak menolak ataupun marah. Pria dingin itu menurut saja saat Gea mengarahkannya untuk duduk di kursi utama. Dengan telaten, Gea melayani Bara seperti seorang istri yang berbakti—mengambilkan nasi, menyendokkan lauk, hingga menuangkan air minum ke gelas suaminya.

"Anda harus makan yang banyak, Tuan, supaya nanti saat bekerja tidak mudah lelah," cerocos Gea tanpa henti. Gadis itu terus berbicara, menceritakan hal-hal ringan yang membuat suasana pagi yang biasanya sunyi menjadi begitu hidup. Bara bahkan tidak diberikan celah sedikit pun untuk menyela.

Adam yang baru saja tiba di ruang makan seketika menghentikan langkahnya. Matanya membelalak tak percaya saat melihat sudut bibir Bara terangkat, bahkan pria itu sempat tertawa kecil mendengar salah satu gurauan Gea.

Apa saya tidak salah lihat? Tuan Bara bisa tertawa secepat ini setelah patah hati semalam? Nona Gea benar-benar pintar mengambil hati Tuan, batin Adam dengan perasaan lega yang luar biasa.

Gea terlalu asyik mengobrol sampai-sampai ia tidak menyadari bahwa Bara sudah menyelesaikan sarapannya, sementara piring milik Gea sendiri masih bersih tak tersentuh. Bara menyeka mulutnya dengan tisu, lalu berdiri dari kursinya sembari menatap Gea dengan pandangan geli.

"Kalau saya tidak segera pergi kerja, mungkin kamu tidak akan pernah menyentuh sarapanmu karena sibuk bicara," sindir Bara pelan.

Gea melongo. Ia melihat ke arah piringnya sendiri yang memang masih utuh. Reflek, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan wajah merona malu.

"Sampai jumpa," ucap Bara singkat sebelum melangkah pergi.

"Hati-hati di jalan, Tuan!" seru Gea sambil melepas kepergian suaminya dengan senyum manis. Setelah punggung Bara menghilang di balik pintu, Gea menatap piringnya sambil membatin, Karena Anda sudah menolong saya dari lubang penderitaan, saya berjanji akan membantu Anda menyembuhkan luka hati itu, Tuan. Semoga kelak Anda mendapatkan wanita yang jauh lebih baik.

Di dalam mobil perjalanan menuju kantor, Bara tidak bisa menyembunyikan perubahan suasana hatinya. Sepanjang jalan, ia senyum-senyum sendiri setiap kali bayangan ketulusan Gea tadi pagi melintas di benaknya. Tembok es di hatinya perlahan-lahan mulai retak.

Sementara itu, di sudut kota yang lain, mendung hitam seolah menggelayuti kediaman Karisa. Sudah dua hari lamanya model cantik itu mengurung diri di dalam kamar. Ia masih belum bisa menerima kenyataan pahit bahwa Aksan hanya menganggapnya sebagai seorang adik. Matanya bengkak karena terlalu banyak menangis, dan wajahnya tampak lesu tak bertenaga.

Bahkan setelah keributan di pesta itu, dia sama sekali tidak datang ke rumah untuk menghiburku, ratap Karisa dalam hati dengan perasaan hancur.

Mendengar ketukan di pintu, Karisa menoleh cepat dengan secercah harapan bahwa Aksan-lah yang datang. Namun, harapannya pupus saat melihat Mia, asisten pribadinya, yang melangkah masuk.

"Nona Karisa, siang ini ada jadwal pemotretan penting. Apakah Anda bersedia hadir?" tanya Mia hati-hati.

Karisa terdiam sejenak. Otaknya berpikir cepat; pemotretan itu adalah proyek bersama. Ini berarti ia memiliki kesempatan untuk bertemu dan berbicara dengan Aksan. "Oke, siapkan mobil. Saya akan mandi sekarang," jawab Karisa dengan sisa-sisa kekuatannya.

Di studio pemotretan, Aksan duduk di sofa sembari memandangi layar ponselnya. Pikirannya sama sekali tidak fokus pada pekerjaan. Sejak kejadian semalam, bayangan Gea terus berputar di kepalanya. Ia merasa sangat merindukan kepolosan gadis itu.

Karena penasaran, Aksan mulai menelusuri akun sosial media milik Gea yang baru ia ikuti. Ia tersenyum melihat foto-foto Gea yang tampak lucu dan menggemaskan. Namun, gerakan jarinya terhenti pada dua buah unggahan lama. Aksan membaca takarir (caption) yang tertulis di sana—sebuah ungkapan kerinduan Gea yang mendalam atas kematian kedua orang tuanya.

Jantung Aksan mencelos. Ada rasa iba yang mendalam menjalar di dadanya. Gadis semalang ini harus berjuang menjalani kerasnya hidup seorang diri di kota ini... batin Aksan, membuat keinginannya untuk melindungi Gea semakin kuat.

"Tuan Aksan, Nona Karisa sudah tiba," lapor salah satu kru studio.

Aksan segera menutup ponselnya dan berdiri. Dari kejauhan, ia melihat Karisa berjalan ke arahnya dengan wajah datar. Hubungan mereka yang dulunya sangat dekat kini mendadak terasa begitu canggung dan berjarak.

"Hai, Risa. Apa kamu sudah lama datang?" sapa Aksan ramah. Ia melangkah maju dan merentangkan kedua tangannya, berniat untuk memberikan pelukan hangat seperti biasanya. Namun, Karisa dengan dingin menghindar dan melangkah melewatinya begitu saja.

"Tidak, baru saja," jawab Karisa ketus, lalu langsung berjalan menuju ruang ganti tanpa menoleh lagi.

Aksan hanya bisa tersenyum tipis, memaklumi kemarahan sahabatnya itu. Proses pemotretan berjalan dengan profesional, meski tidak ada lagi candaan di antara mereka seperti dulu. Begitu kilatan kamera terakhir selesai, Karisa langsung menyambar tasnya dan pergi terburu-buru.

Karisa berharap Aksan akan mengejarnya, menahannya, atau setidaknya membujuknya seperti yang biasa pria itu lakukan setiap kali ia merajuk. Namun, Aksan hanya diam menatap punggungnya yang menjauh. Karisa masuk ke dalam mobilnya dengan air mata yang kembali merebak, lalu melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan.

Aksan sengaja melakukan itu. Ia menghela napas panjang. Maafkan aku, Risa. Aku harus bersikap dingin seperti ini agar kamu tidak terus-menerus menaruh harapan yang salah kepadaku.

Setelah menenangkan diri, Aksan mengambil ponselnya dan langsung menghubungi nomor Gea.

"Halo?" suara lembut Gea terdengar di seberang telepon, membuat senyum Aksan langsung merekah.

"Hai, Gea. Lagi ngapain? Apa aku mengganggu waktumu?" tanya Aksan dengan nada suara yang melembut.

"Tidak kok, Aksan. Saya hanya sedang bersantai di kamar sambil membaca buku," jawab Gea jujur.

"Apakah kamu ada waktu luang hari ini? Aku ingin mengajakmu keluar," tawar Aksan penuh harap.

Gea terdiam sejenak sebelum menjawab dengan nada menyesal, "Maaf sekali, Aksan. Hari ini saya benar-benar tidak bisa pergi ke mana-mana. Bagaimana kalau besok saja?"

Mendengar penolakan halus itu, Aksan tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya, namun ia tetap berusaha terdengar ceria. "Oh, begitu ya? Baik jikalau begitu, aku akan menunggu kabar darimu besok pagi. Jangan lupa ya?"

"Iya, Aksan. See you," ucap Gea manis sebelum memutus sambungan telepon.

Aksan menurunkan ponselnya dari telinga lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan helaan napas berat. Keinginannya untuk bertemu Gea hari ini terpaksa harus tertahan, membuat malamnya terasa akan berjalan sangat panjang.

BERSAMBUNG.

1
Leni Setiamuni
kayanya aku lebih setuju Gea sama bara..
Rizky Sandy
tunangannya kurang keren,,,
Forta Wahyuni
jd males bacanya, trakhir ujung2 nya balik lagi sama bara. itu namanya wanita bodoh krn cinta mata hati tertutup dan gk pnya harga diri. mending sama aksan yg mencintai dgn tulus dan tdk menyakiti, tdk plin plan dan tegas. buat aja bara nyesal lihat gea bahagia..
Dwi Sumartini
bara gengsi
shin chan
hmmmm mcm jln cerita full house...🤔
Rizky Sandy
kyk Kisan cinta anak SMA ya,,,,
Rizky Sandy
ceritanya jln ditempat,,,, muter2 diaitu2 aja,,,,,
Rizky Sandy
karakter Karisa macam anak umur 10 th ya,,,, terlalu kekanak2an,,,,,
Indriyani Pkl
ehm...kirain sm bara
Rahmi Rahmi
gea denga aksan thor buatlah mereka menikah
Endang Anwar Rahmawati
hay thor kasih part 2 bikin bara dan gea balikan kayaknya tambah seru
Kazama Ren
Baik tk payah bagi bintang
Kazama Ren
Bodoh punya cerita ni novel berputar2 tk faham langsug
Maya Kurnia
hubungan yg ga jelas
Fitria Ningsih
good
Ray Aza
gimana sih kok ga nyambung gini? alure mawut
Ar Syaina Syaina
karma ut bara n karisa jgn lupa ya thoor
Ar Syaina Syaina
koq blum ktahuan dalang yg jahatin gea,,,ayo thoor buka kebusukan karisa
Ar Syaina Syaina
karisa maruk,,maunya dua2nya
Fitri Nur Indah Sari
ngelu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!