Erika yang merupakan gadis cantik dan baik, harus menikah kontrak dengan pria yang sudah merebut kesuciannya.
Perjanjian mereka hanya sampai Erika melahirkan seorang anak untuk Bima.
Tanpa di duga Erika melahirkan bayi kembar, tapi Erika tapi dia merahasiakan dirinya mengandung bayi kembar. Dan setelah lahir, Erika mengambil salah satu dari bayinya, dan satunya lagi di ambil oleh Bima.
Akankah Erika bisa bertemu lagi dengan bayi kembarnya yang bersama Bima, dan apakah Bima dan Erika bisa menjadi keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AngelKiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perintah dari Kakek
Hari sudah mulai menjelang malam, kini matahari pun sudah mulai menyembunyikan cahaya terangnya.
Erika yang sedang duduk terdiam di tepi ranjang pun di kaget kan dengan suara pintu kamar mandi yang terbuka.
Menampilkan sesosok pria yang hanya menggunakan sehelai handuk, tubuh atletisnya terlihat jelas, dan tangannya yang kekar pun menjadi sebuah tontonan yang menarik untuk kaum hawa.
"Apa sudah puas kau melihatku?"
Erika pun langsung tersadar dari lamunannya, entah kenapa matanya bisa terus melihat ke arah Bima.
Bima berjalan ke arah Erika, dengan keadaan tubuh yang masih setengah telanjang. "Keringkan rambut ku." Bima memberikan sebuah handuk baru untuk mengeringkan rambutnya.
Erika hanya bisa menuruti ucapan Bima, Erika mulai mengeringkan rambut milik Bima menggunakan handuk tersebut. Tercium aroma sampo yang Bima gunakan saat dia mandi.
Saat Erika sedang mengeringkan rambut milik Bim, Bima secara tiba-tiba memegang tangan Erika.
"A..da apa?"
Erika bertanya dengan nada gagap, entah kenapa wajah tampan milik Bima membuatnya takut dan juga terpesona.
Bima langsung menarik tangan Erika dan juga pinggangnya, kini tak ada jarak antara tubuh Erika dan juga Bima.
Hembusan nafas milik Bima terdengar jelas, begitu juga dengan detak jantung Erika. Jantungnya berdetak sangat kencang seakan jantungnya hendak meloncat keluar dari tempatnya.
"Kenapa kau gugup?" Bima bertanya pada Erika sambil membelai wajah manis milik Erika.
"Sa..ya tak gugup." Jawaban Erika sangat berbeda dengan gaya bicara dan juga ekspresi wajahnya.
"Kau bukan tipe orang yang mudah berbohong."
Deg.. Deg.. Deg..
Jantung Erika kembali berdetak dengan keras, lalu Erika langsung memalingkan wajahnya ke arah lain. Dia tak mau semakin lama mereka saling bertatapan semakin merah juga wajahnya.
Perlahan Erika mulai menjauhkan tubuhnya dari tubuh Bima, dengan wajah menunduk Erika hanya bisa menggenggam tangannya sendiri.
Tok, tok, tok...
Terdengar suara ketukan di pintu kamar.
"Buka pintunya."
"Ba..ik."
Erika berjalan cepat ke arah pintu, dengan perlahan dia membuka pintu kamar yang cukup besar itu.
"Maaf tuan, saya mengganggu waktu tidur anda."
"Ada apa?"
Bima menatap malas pria tua yang bekerja sebagai kepala pelayan di Villa nya itu.
"Tuan besar, dia telah mengetahui jika tuan muda membawa seorang gadis ke Villa."
"Lantas, apa urusannya dengan pria tua itu."
"Katanya dia ingin bertemu dengan tuan muda dan juga nona Erika."
"Bilang padanya aku sedang sibuk."
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi."
Setelah menyampaikan hal itu, kepala pelayan itu pun langsung keluar dari dalam kamar.
Setelah mendengar hal itu Bima langsung memasang wajah kesal, dia sangat kesal kepada kakeknya itu. Karena orang tua itu pasti akan mendesaknya untuk segera menikah.
"Kau tidurlah duluan.."
Bima segera bangkit dari ranjang dan dia pun keluar dari dalam kamar. Erika hanya diam sambil menghela nafas panjang, dia sangat bersyukur setidaknya hari ini Bima tak memaksanya untuk melakukan hal yang gila lagi.
...
Brak...
Suara pintu kamar tiba-tiba di buka dengan kasar, Erika yang sedang tertidur pun langsung terbangun dari tidurnya.
Tapi matanya langsung membulat saat melihat Karin berada di pintu kamar sambil menatap tajam ke arahnya.
"Dasar wanita j*lang..."
Karin berteriak memaki Erika, dengan langkah cepat Karin menghampiri Erika sambil menjambak rambut panjang milik Erika.
"Jangan karena Lo sudah tidur dengan kakak gue, Lo ngerasa menjadi nyonya di rumah ini.."
Erika berusaha melepaskan tangan Karin yang menjambak rambutnya, tapi dia tak bisa cengkeraman tangan Karin terlalu kuat. Karin dengan kasarnya menarik Erika dari ranjang sehingga membuatnya terjatuh ke lantai.
"Ada apa ini..."
Bima tiba-tiba datang karena mendengar keributan dari kamar tempat Erika berada.
"Kakak..."
Karin langsung menghampiri kakaknya dengan raut wajah menangis.
"Ada apa Karin, kenapa kau membaut keributan pagi-pagi buta seperti ini."
"Kenapa kakak memperlakukan dengan istimewa, lihat dia. Sekarang dia berlaga seperti nyonya di sini.."
"Itu urusan ku Karin, mau memperlakukan dia seperti apa pun.."
"Tapi kak, dia udah ngerusak kebahagiaan aku."
"Iya kakak tahu, tapi lihat. Sekarang aku sudah merusak kebahagiaan. Dia sudah tak bersama Rasya, dan kini tinggal kau yang harus mencari cara agar Rasya mau bersama mu."
Karin pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. "Uh, tapi kak. Aku mendengar jika Kakak akan menikah dengan wanita itu."
"Siapa yang mengatakannya?"
"Kakek, dia mengatakan hal itu saat makan malam."
Bima hanya bisa menepuk jidatnya, kakek tua itu sudah membuat ulah lagi.
"Sekarang kakak, akan pergi ke rumah kakek. Kamu tunggu di bawah."
Bima segera pergi meninggalkan Karin, terlihat Karin memberikan tatapan menghina kepada Erika.
"Heh, miskin. Meski Lo nge layanin kakak gue dengan hebat, tapi orang miskin kaya Lo gak bakalan naik tingkat jadi Kaya. Inget status Lo, miskin tetap miskin. Jangan ngimpi..."
Setelah mengatakan hal itu Karin pun pergi meninggalkan Erika, Erika hanya bisa menangis sambil menahan sakit di kepalanya akibat jambakan dari Karin.
...
Di Sebuah rumah mewah bernuansa Eropa dengan taman yang di hiasi bunga mawar, terlihat seorang pria tua tengah duduk sambil menikmati secangkir teh miliknya.
"Tuan."
"Hemm.."
"Tuan muda, sudah datang."
"Dengan siapa dia datang?"
"Dia datang dengan Nona Karin."
"Suruh Bima kemari."
"Baik Tuan."
Tak berselang sampai lima menit Bima sudah berada di depan Kakek sekaligus Kepala keluarga Baskara. Tengku Haryadi Baskara.
"Kenapa kau mengatakan hal yang tak masuk akal lagi.." Bukannya menyapa, Bima malah memaki-maki pria tua yang berstatus kakeknya itu.
"Apa kau tak bisa basa-basi sedikit dengan pria tua di depan mu ini."
"Aku tak suka basa-basi. Kenapa?"
"Apanya yang kenapa? Bukannya sudah jelas kau membawa wanita itu.".
"Tapi dia bukan calon istri ku. Aku belum mau menikah."
"Mau sampai kapan kau tak ingin menikah, aku sudah tua. Dan mungkin tak lama lagi aku akan mati, jadi aku ingin melihat cucu ku menikah dan memberikan cicit kecil untuk ku."
"Cih.."
Bima hanya bisa menatap jengkel pria tua di depannya itu, ini sudah ke sekian kalinya pria itu mengumumkan dirinya akan menikah.
"Jadi kapan kau membawa wanita itu kemari? Aku ingin melihat bagaimana wajah cucu menantu ku itu."
"Tak ada namanya cucu menantu."
"Hais.. Mau sampai kapan kau bersikap kekanak-kanakan seperti itu, Bima."
"Aku tak bersikap kekanak-kanakan."
"Kalau begitu, aku tak mau tahu. Seminggu lagi aku harus melihat mu menikah. Mau dengan siapa pun wanita itu, yang penting kau menikah.."
"Aku tak mau."
"Ini perintah dari ku, sebagai kepala keluarga Baskara. Bukan sebagai kakek mu. Dan kau tak bisa membantahnya.."