NovelToon NovelToon
Ketika Kisah Kita Ternyata Abadi

Ketika Kisah Kita Ternyata Abadi

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Cintapertama / Supernatural / Contest / Romansa-Percintaan bebas / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:137.7k
Nilai: 5
Nama Author: Isnasari Sulfia Handriyani

Sebuah kisah tentang hubungan antara dua anak manusia. Melibatkan dunia mistis dan sebuah mesteri yang belum terpecahkan.

Kakek
Aku tak ingin cucuku tersakiti karena kesalahan yang dulu pernah kubuat.

Aldo
Aku ingin melepasmu, tapi aku mencintaimu.

Pria
Dirimu adalah magnet bagiku, magnet yang menarikku mendekat setiap kali kita bertemu, karena aku tak memiliki kuasa atas diriku ketika itu berhubungan dengan pesonamu.

Gadhis
Apa yang kau sembunyikan dariku mas, tetapi apapun itu aku harap itu bukanlah sebuah penghianatan.

Bagaimana kisah Gadhis dan Pria selanjutnya ketika ada lelaki lain yang juga mencintainya…
Jadilah saksi dari perjalanan kisah Gadhis dan Pria dalam “Ketika Kisah Kita ternyata Abadi”. Dibumbui dengan kisah cinta segi tiga, penghianatan, pengorbanan. tangis, dan tawa. Buktikan bahwa setiap kisah akan indah pada waktunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isnasari Sulfia Handriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Tuhan

Memasuki tahun ke 3 masa perkuliahan, mahasiswa fakultas keguruan mulai disibukkan dengan praktek mengajar. Mereka akan langsung terjun mengajar mempraktekkan semua teori pembelajaran yang diperoleh selama masa perkuliahan. Menghadapi siswa yang sesungguhnya pasti beda rasanya ketika mereka praktek mengajar di kampus bersama teman sejawat.

Sebagai calon guru, mahasiswa harus faham benar dimana posisinya ketika dia berada ditengah-tengah siswa selama kegiatan belajar mengajar berlangsung. Guru tidak cukup hanya menguasai materi pelajaran saja agar tujuan pelajaran yang diharapkan bisa tercapai. Dibutuhkan metode, model, dan strategi pembelajaran yang tepat agar semua materi tersampaikan dengan baik kepada siswa.

Seorang guru harus sadar bahwa siswa bukanlah wadah kosong yang bisa seenaknya saja diisi sesuai dengan keinginan. Setiap peserta didik adalah pribadi yang unik yang memiliki keinginan, kemampuan, bakat dan minat yang berbeda, karena itu pemilihan cara belajar yang tepat sangat mempengaruhi keberhasilan dari proses belajar itu sendiri.

“Santet,” teriak Gadhis ketika melihat sahabatnya berjalan tergesa menuju ruang sekretariat.

Santi sepertinya tidak mendengar panggilan suara Gadhis, dia tetap meneruskan langkahnya tanpa menoleh ke belakang. Gadhis mempercepat langkahnya setengah berlari untuk memangkas jarak antara keduanya.

“Santet,” teriak Gadhis tepat ditelinga Santi ketika mereka sudah berjalan beriringan.

“Eh…copot…copot…copot,” jingkat Santi mengeluarkan semua mantra ajaib dari mulut saktinya.

“Ih…cantik-cantik latah, malu aku punya sahabat seperti kamu, memang kenapa sih terburu-buru jalannya?” tanya Gadhis.

“Pengumumannya sudah keluar, aku ingin tahu kebagian sekolah mana untuk praktek ngajar kita minggu depan.”

“Bener sudah keluar? semoga kita kebagian satu sekolah ya, jadi nanti bisa berangkat barengan.”

“Ya iya lah, aku wajib ikut kamu kalau kamunya diantar Mas Aldo, lumayan dapat gratisan transportasi.”

Ruang kesekretariatan terlihat lengang. Kedua perempuan muda itu langsung mendatangi divisi akademik untuk menanyakan pembagian praktek kerja yang harus mereka jalani. Tak perlu waktu lama keduanya sudah memegang masing-masing surat rekomendasi mengajar yang menjadi petunjuk kerja praktek mereka minggu depan.

“Dapat sekolah mana?” Gadhis membuka percakapan sambil berjalan menuju ruang kelas mata kuliah berikutnya. Keduanya masih berjalan dengan langkah cepat karena dosen berikutnya dikenal sangat tepat waktu.

“Di SD Negeri perbatasan kota, jauh juga dari tempat kos aku Dhis.”

“Aku lihat,” Gadhis mengambil surat yang dipegang Santi, kebetulan nama sekolah yang tertera disana sama dengan nama sekolah yang tertulis di surat miliknya.

“Alhamdulillah kita dapat sekolah yang sama San.”

“Aku dengar setiap sekolah menerima beberapa mahasiswa dengan prodi yang berbeda Dhis.”

“Mmm.”

“Dan setiap prodi menempatkan 2 mahasiswa di satu sekolah yang sama, kita lihat saja nanti kita bareng sama anak jurusan apa.”

Percakapan itu berhenti karena mereka sudah sampai di kelas untuk mengikuti mata kuliah selanjutnya. Banyak persiapan yang harus dilakukan sebelum mereka melaksanakan tugas praktek minggu depan, jadi sekarang mereka melakukan multitasking, sambil mengikuti pelajaran sambil mencorat-coret rencana kerja untuk persiapan praktek mengajar.

Hari itu semua rencana disusun matang. Paling tidak Santi dan Gadhis harus mengetahui letak lokasi sekolahnya lebih dulu. Mereka sudah berencana untuk mencari kamar kos, atau menginap di rumah salah satu penduduk jika diperlukan, bila letak sekolahnya jauh. Tidak lupa mereka juga membuat checklist barang apa saja yang perlu disiapkan dan wajib ada selama berada di sana nanti.

“Aku nggak yakin Mas Aldo punya waktu buat ngantar kita San, akhir-akhir ini dia sibuk sekali dengan pengembangan usaha perusahaan kami.”

“Kamu tanya dulu gih, nggak enak kalau misalnya kamu pergi tanpa memberitahu calon suami, ya kan?”

Gadhis hanya diam. Tetapi Santi tahu ada yang terjadi antara Gadhis dan Aldo yang belum diceritakan padanya. Santi mendekati Gadhis dan melingkarkan tangan di pundak sahabatnya , sambil tersenyum Santi berkata, “Sudah…jangan terlalu dipikirkan, aku tahu kalian ada masalah. Untuk sekarang kita fokus sama kuliah dan Mas Aldo biar fokus sama kerjaannya.”

Gadhis menanggapi kalimat Santi dengan anggukan kepala dan sebuah senyum yang dipaksakan. Santi benar, kadang-kadang sahabatnya itu bisa bersikap dewasa meskipun dia lebih sering menunjukkan sikap konyolnya.

Sabtu pagi Gadhis sudah siap berangkat dengan tampilan yang santai tetapi segar. Pakaian kasual sudah melekat ditubuhnya, sepatu kets, celana dan jaket denim melengkapi tampilan Gadhis pagi itu. Rambutnya yang ikal panjang menambah kecantikan Gadhis dengan diikat tinggi gaya ekor kuda. Sedangkan Santi yang menunggu di ruang tamu melengkapi tampilannya dengan kaos, celana dan topi yang semuanya berwarna senada hitam-hitam. Benar-benar pemuja warna hitam sejati.

“Mataku sepet lihat pakaianmu, memangnya satu almari bajumu warnanya hitam semua apa?”

Santi hanya tertawa mendengar kalimat sahabatnya, “aku ingin menjadi teman yang baik buatmu, sebaik warna hitam ini. Warna hitam itu warna yang baik hati, dia membiarkan semua warna yang lain bersinar dan membiarkan dirinya sendiri tenggelam dalam gelap. Seperti aku padamu, aku akan membiarkanmu bersinar meskipun aku lebih cantik secara fisik.”

“Huh…lebih cantik, dari mana-mana masih lebih cantik aku kali San.”

Santi tertawa lebar karena berhasil menggoda sahabatnya, “Iya-iya, lebih cantik kamu kemana-mana. Omong-omong kamu sudah bilang mas Aldo belum kalau kita mau survei hari ini.”

“Sudah semalam, katanya sih mau antar kita juga.”

“Kalian sudah ketemu?”

“Belum, semalam mas Aldo telepon aku.”

Marta keluar dari ruang tengah sambil membawa beberapa tas yang berisi jajanan, snack dan bekal untuk dimakan selama perjalanan katanya. Dia tak ingin Gadhis jajan sembarangan dijalan.

“Santi, bagaimana kabarnya, sudah lama juga kamu tidak main ke sini,” sapa Marta ketika melihat Santi sudah menunggu di ruang tamu.

“Baik tante Alhamdulillah, jarang main karena sibuk sih tante. Bagaimana kabar Tante Marta dan Om Sas?”

“Baik juga Alhamdulillah. Papanya Gadhis sedang luar kota, kalian tunggu Aldo saja. Katanya sebentar lagi sampai, barusan tante terima telepon dari Aldo.”

“Iya tante siap,” jawab Marta tersenyum. *Lumayan dapat tumpangan gratis* – batinnya.

“Oh iya, nanti jangan biarkan Gadhis jajan sembarangan ya, kamu kan tahu dia mudah sakit perut.”

“Iya tante siap,” Gadhis yang mendengar jawaban Santi hanya bisa menyembunyikan senyum kecutnya.

Sedang asik-asiknya mereka berbincang terdengar klakson mobil berbunyi di depan pagar rumah. Gadhis langsung berdiri melangkah ke depan membukakan pintu pagar agar Aldo bisa masuk membawa mobilnya. Setelah memarkirkan mobilnya dengan benar dengan tergesa dia turun dan segera memeluk Gadhis erat.

“Kangen,” bisik Aldo mesra. Pelukannya yang erat menenangkan hati Gadhis. Semua gundah dan keraguan yang selama ini menggelayut dalam hati seperti menguap ke udara dan tak berbekas.

“Aku juga.”

Pelukan itu rasanya tak ingin terurai, tetapi selama ada Santi di tempat yang sama jangan berharap bisa beradegan mesra dengan puas. Sambil membawa banyak barang milik gadhis yang disiapkan Marta dan membawa tas punggung miliknya sendiri, Santi melintas melewati dua makhluk yang saling merindu itu dengan kalimat yang merusak suasana.

“Kangen sih kangen…boleh melepas rindu. Ada orang lain juga disini jangan digaringin. Aku bukan rengginang yang dijemur dan nggak bisa lihat adegan mesra kalian. Benar-benar merusak kesucian mataku kalian berdua ini. Bukain pintunya…capek,” omelnya sambil membanting tas milik Santi ke bawah.

“Iya…iya, nggak nyadar bener jadi teman. Beri beberapa menit kek buat kita melepas rindu.”

Santi menanggapi kalimat Gadhis dengan memajukan bibirnya beberapa senti. Selalu, setiap kali dua sahabat itu bertemu mampu menghibur suasana hati Aldo yang beberapa hari ini suntuk karena memikirkan masalah pekerjaan. Belum lagi kesibukannya bersama Kristin, rasanya semakin sulit saja untuk menjauhi sekretarisnya itu.

Perjalanan menuju tempat tujuan membutuhkan waktu kurang lebih satu setengah jam menggunakan transportasi pribadi. Sepertinya memang harus mencari tempat menginap di sekitar situ untuk memudahkan pergerakan Santi dan Gadhis. Tidak mungkin bagi keduanya untuk pulang pergi dari dan menuju rumah.

“Sekalian saja cari tempat menginap, kalian berdua tunggu disini aku mau tanya penduduk sekitar dulu,” akhirnya Aldo memutuskan sekalian mencarikan tempat menginap untuk Gadhis dan Santi.

Setelah menunggu beberapa saat Aldo kembali dan mengajak kedua perempuan itu ke sebuah rumah yang dekat balai desa.

“Monggo mbak guru nanti nginapnya disini mulai hari senin ya…,” ternyata di tempat itu sudah menunggu seorang bapak dan ibu yang menyambut dan menunjukkan tempat untuk mereka menginap, “kemarin juga ada mahasiswa lain yang datang buat lihat-lihat,” lanjut bapak itu memberi penjelasan.

“Nggih pak terimakasih, mohon bantu kami nanti selama tinggal disini ya,” sahut Gadhis dengan hormat karena merasa sudah diterima dengan baik.

“Tadi juga ada mahasiswa laki-laki tanya, sepertinya belum berpamitan pulang. Tapi ndak tahu kemana, kok ndak kelihatan.”

“Kalau begitu kami berpamitan dulu pak, banyak yang harus disiapkan biar besok bisa kembali kesini. Oh iya, saya calon suaminya Gadhis, itu yang rambutnya dikepang. Saya titip-titip calon istri saya ya pak selama disini.”

Santi yang mendengar kalimat Aldo tertawa terbahak dalam hati. *Lagaknya seperti yang bakal kehilangan saja. Segala dititipin anak perawan*. Gadhis hanya menundukkan kepalanya malu, kalau bisa dia ingin menenggelamkan kepalanya ke dasar bumi.

Sementara itu di depan pagar sekolah tidak jauh dari tempat orang-orang itu berbincang. Pria berdiri memperhatikan Gadhis dari jauh. Pria tak ingin bergabung dengan mereka, dia beralih memandang sekolah didepannya dan membayangkan semua hal menarik yang akan dia lakukan bersama muridnya minggu

depan.

*Seberapapun jarak yang sengaja kita buat untuk saling menjauh. Tuhan selalu meletakkan kita segaris lebih dekat dalam setiap rencananya*.

Klik like and vote kalau habis dibaca ya...hehehe

Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca.

1
Yovianti Yudo
next
Ish_2021
ugh...
Sekar Milenia
ceritany bagus lohh...
Rini Farah
keren Thor
Rini Farah
👍🏽👍🏽👍🏽👍🏽👍🏽👍🏽👍🏽👍🏽👍🏽👍🏽
Rini Farah
bagus ceritanya
Pangeran Matahari
hai kk aku mmpir ni ma.pir juga y kecucu manja oma
Mike
ngakak aku Thor bacanya 😂
Mike
Ini bener udah tamat KA?
Ish_2021: terimakasih sudah di apresiasi ❤️ ya...
total 2 replies
Rini Haryati
sukses
semangat
lanjut
Rina Avriliasunshine
tetap semangat berkarya author
Rina Avriliasunshine
aku juga setia kok thor meskipun nemunya pas udah end
Ish_2021
terimakasih doanya aamiin
Rina Avriliasunshine
aku doain mba othor novelmu ini nanti banyak yang baca..
aku suka ceritanya
Rina Avriliasunshine
aku masih setia
Pangeran Matahari: mmipir y kk kecucu manja oma
total 1 replies
Rina Avriliasunshine
ceritanya bagus tapi sayangnya kok sepi
Rina Avriliasunshine
cerita yang bagus pasti tidak banyak yang baca..
Pangeran Matahari: mmpir y kk ke cucu manja oma
total 3 replies
Ish_2021
ahhh...
Ish_2021
akhirnya perjuanganku usai
Pangeran Matahari: mmpir juga y kk ke cucu manja oma
total 1 replies
Ish_2021
ketika mendekati akhir rasanya tak ingin berpisah dengan Gadhis dan Pria
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!