Gaza Munarga adalah seorang ahli waris yang memegang kendali atas perusahaan Tirtama Group selama lima tahun semenjak kematian sang ayah.
Ia dikenal sebagai pria es yang mampu membekukan mental seseorang saat bertatapan dengannya.
Zara Maharani, seorang wanita yang hanya tinggal bersama kedua adiknya. Sebagai anak sulung, ia mesti rela berkorban membanting tulang mencari pundi-pundi nafkah demi kelangsungan hidup bersama kedua adiknya itu.
Kepribadian Zara yang polos. Namun, memiliki sifat di mana ia senang memarahi orang lain di saat ia sedang kesal.
Hingga dua insan ini dipertemukan dalam sebuah kecelakaan tanpa sengaja. Kekesalan yang berujung karma bagi Zara, hingga pada akhirnya Gaza menikahi Zara hanya bertujuan untuk membuat wanita ini bertekuk lutut padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marnii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berdebat
Winda menatap Zara dengan penuh kebencian, sesuatu yang ia perjuangkan, kini harus lenyap karena Zara telah menjadi istri dari lelaki yang ia sukai.
"Makanlah makananmu," ucap Gaza pada Zara.
Zara mengangguk dan melirik Winda sekilas, lalu menyuap makanan ke mulutnya. Astaga, makanan apa ini? Kenapa begitu enak? Tidak pernah kurasakan makanan seenak ini menyentuh lidahku, ternyata selama ini makanan yang kukira enak tidaklah sebanding dengan makanannya Tuan Gaza. Zara memejamkan mata menikmati setiap rasa dari makanan yang masuk ke mulutnya.
"Apa makanannya tidak sesuai dengan seleramu?" tanya Gaza ketika melihat Zara mengunyah begitu lambat.
"Ah, tidak. Ini sangat enak." Zara segera tersenyum canggung merasa tidak enak ketika tingkahnya diperhatikan oleh Gaza.
"Kau bisa meminta yang lain pada Pak Zang apa yang kau inginkan, tidak perlu memaksakan apa yang kau tidak suka," ujarnya lagi.
"Tidak, ini sudah sangat enak, aku menyukainya." Tanpa menghilangkan senyum di bibirnya.
Jangan tanyakan lagi bagaimana perasaan Winda, wanita ini benar-benar merasa terbakar melihat kepedulian Gaza pada Zara, tentu saja dia tidak terima dengan semua itu.
Melihat Gaza yang sudah selesai makan, Zara langsung terburu-buru menghabiskan makanannya.
"Makanlah perlahan, kau bisa naik setelah kau benar-benar kenyang," ucap Gaza lalu berdiri meninggalkan meja makan dengan tiga orang wanita yang saling bersikap tidak ramah satu sama lain.
"Hei, wanita miskin. Siapa kau? Beraninya kau menggoda Kak Gaza hingga ia mau menikahimu, kuperingatkan padamu sebaiknya menjauhlah dari Kak Gaza, atau kau tidak akan betah tinggal di sini." Winda segera menyulut amarahnya pada Zara selagi Gaza tidak ada, ingin membuat Zara takut padanya.
Sebaiknya kau katakan langsung saja pada Kak Gazamu itu, katakan padanya jika kau tak menyukai aku untuk menjadi istrinya, aku ingin lihat, apakah kau memiliki keberanian akan hal itu. Batin Zara.
"Maaf, aku menjadi istri Tuan Gaza bukan untuk berdebat dengamu, aku menikah dengannya karena itu adalah kemauan Tuan Gaza sendiri, silahkan kamu menginterupsinya jika tak senang dengan kehadiran aku di sini. Permisi." Zara pun beranjak ingin meninggalkan mereka, tetapi seketika Winda mencekal tangannya dengan kuat.
"Apa kamu tidak takut akan mendapat hukuman karena begitu lancang pada istrinya Tuan muda? Lihat, Pak Zang masih di sini, bukan tidak mungkin dia akan melaporkan perbuatanmu pada suamiku," ujar Zara dengan santai.
Winda berbalik menatap Pak Zang, Pak Zang tersenyum simpul padanya. Winda pun melepas tangan Zara dengan kesal.
"Hei, anak miskin, beraninya kau membantah apa yang Winda katakan, lalu kenapa jika kau menjadi istrinya Gaza? Aku adalah ibunya, Gaza selalu menuruti apa yang aku katakan, jadi bersiap-siap saja kau akan terdepak. dari rumah ini," sahut Bu Wiwin dengan tersulut.
"Silahkan jika memang Anda memiliki keberanian untuk bicara padanya, saya menantikan hal itu terjadi, Nyonya," jawab Zara sambil tersenyum mengejek pada mereka berdua.
Pak Zang lagi-lagi tersenyum mendengarnya, jarang-jarang ada yang berani melawan mereka, Zara adalah wanita yang unik menurutnya.
"Apa tidak ada lagi yang perlu kalian sampaikan padaku? Kalau begitu aku pamit undur diri, suami tercintaku sedang menunggu untuk dilayani, jika kalian penasaran bagaimana aktivitas kami selama di kamar, aku akan menceritakannya di lain hari, aku bersenang-senang dulu, semoga setelah ini kalian juga bisa bersenang-senang." Zara pun melangkah dengan angkuh, memperlihatkan senyum ledekannya pada mereka berdua.
"Apa Mama mendengarnya? Bagaimana mungkin Kak Gaza bisa menikahi wanita yang tidak tahu malu seperti itu? Bicara apa dia barusan, menjijikkan sekali." Winda terus menggerutu dengan kesalnya.
Bu Wiwin hanya bisa menghela nafas dengan kasar, ia sendiri bahkan tak dapat melakukan apa pun, bahkan untuk bicara pada Gaza saja dia harus memiliki keberanian yang ekstra, tidak ada yang bisa ia lakukan selama Gaza menginginkannya.
"Bahka Mama tak memiliki kekuatan apa pun. Ck, menyebalkan." Winda menghentakkan kaki meninggalkan Bu Wiwin dengan raut wajah yang begitu masam.
Zara kembali masuk ke kamar menghampiri Gaza. Namun, lelaki yang ia cari tidak sedang di kamar. Ke mana dia pergi? Benak Zara.
Zara pun keluar dan menghampiri Pak Zang. "Hai, Pak Zang. Sedang kerja apa?" tanya Zahra seakan sedang bicara pada seorang teman.
"Nona muda, sedang apa Anda di sini? Mohon jangan ke sini Nona, Tuan muda akan marah jika tahu Anda pergi ke dapur, ini bukanlah tempat yang mesti Anda datangi, di sini hanya dihuni oleh para pelayan," ucap Pak Zang dengan panik ketika Zara telah berada di sampingnya.
"Pak Zang tenang saja, saya sudah terbiasa berada di dapur, dapur ini bersih, lalu kenapa begitu takut saya masuk ke sini?" tanya Zara tak mengerti.
"Nona muda, ini bukan masalah bersih atau tidaknya, cuma dapur adalah tempatnya para pelayan, Anda adalah majikan kami, tidak pantas jika Anda berbaur dengan para pelayan di dapur." Pak Zang terus menjelaskan sesuatu yang semakin membuat Zara tak mengerti.
"Lupakan soal itu, ke mana pelayan yang lain? kenapa dapur begitu sepi?" tanya Zara sambil melihat-lihat ke dalam.
"Mereka semua melakukan tugas masing-masing, mereka akan berkumpul ketika akan masak untuk Tuan muda," jawab Pak Zang dengan sopan.
"Oh, Ya. Aku hampir lupa. Pak Zang, bolehkan Anda memberitahuku resep semua makanan yang di meja makan tadi? Rasanya sangat enak, baru pertama kali aku merasakan makanan yang seenak itu." Sambil tersenyum lebar.
Pak Zang ikut tersenyum, merasa tersanjung dengan pujian yang Zara ucapkan. "Saya bisa memasakkan untuk Anda setiap hari, Nona. Tidak perlu menanyakan resepnya, Tuan muda tidak akan mengizinkan Anda masak selama tinggal di sini."
"Baiklah, anggap saja aku tidak bertanya." Zara menekuk bibirnya cemberut.
"Susu itu buat siapa, Pak?" tanyanya penasaran saat melihat Pak Zang mengaduk segelas susu.
"Untuk Tuan muda, Nona. Apakah Anda juga ingin?" tanya Pak Zang.
"Ah, tidak usah, Pak. Saya akan membuatnya sendiri jika ingin."
Berapa umur Tuan Gaza? Bahkan dia masih minum susu sebelum tidur, jika mau dihitung-hitung, sejak kapan terakhir kali aku minum susu saat tidur? Rasanya aku tidak pernah minum susu lagi semejak usia tujuh tahun. Benaknya.
"Ya sudah, Pak. Aku kembali ke kamar dulu, semangat bekerja ya." Zara pun mengangkat tangannya memberi semangat.
Pak Zang tersenyum, sangat jarang ada anak muda yang begitu rendah hati seperti Zara, bersikap begitu sopan pada seorang pelayan, apalagi sekarang dia adalah seorang majikan, tetapi ia tetap memperlakukan semua orang dengan sama.
Beberapa saat Zara berada di kamar ingin bersiap-siap tidur, tiba-tiba saja pintu diketuk. Terpaksa ia kembali bangun meski begitu malas.
"Maaf, mengganggu, Nona. Tuan muda memanggil Anda ke ruang kerjanya," ucap Pak Zang dengan sopan.
"Baiklah, Pak. Saya akan segera ke sana." Ia pun keluar dan menuju ke ruang kerja Gaza dengan diantar oleh Pak Zang.
Beberapa kali ia mengetuk pintu hingga Gaza menyuruhnya masuk. "Permisi, Tuan," ucap Zara.
"Kemari," panggil Gaza.
mereka akan melaknat lekaki kayak ferdi yang sok baik pada istri orang dan membuat rumah tangga orang hancur
pola pikir wanita jablay
Ferdy adalah lelaki baik, jadi boleh peluk sana ini
pola pikir wanita setia
suami pelukan dengan wanita lain itu salah begitu juga istri pelukan dengan lelaki lain itu salah
pola pikir wanita egois
suami pelukan dengan wanita itu salah tapi istri pelukan dengan lelaki lain itu bukan kesalahan karena hanya sahabat
fakta
sebuah novel adalah hasil pola pikir novelisnya yang artinya sebuah novel menggambarkan karakter novelisnya