Si Brondong manis merupakan sequel atau lanjutan dari novel Cinta Itu Budeg.
Bercerita tentang anak muda yang terobsesi mengejar cinta seorang wanita yang usianya terpaut jauh darinya.
Bagaimana kisahnya? Yuk simak disini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YuBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Abusive
Author POV
Tok tok tok
" Hanum..udah bangun?" Luna mengetuk pintu kamar Hanum beberapa kali sambil membawa mukena di tangannya. Dia bermaksud menyerahkannya pada Hanum barangkali dia memerlukannya untuk shalat subuh.
Tak ada jawaban, Luna jadi merasa khawatir. Akhirnya dia membuka pintu kamar tersebut dan ternyata tak dikunci.
" Num..kamu udah bangun?" panggil Luna lagi. Suasana kamar masih temaram, hanya lampu tidur yang menyala.
Tapi kemudian, Luna mendengar suara erangan Hanum di kamar mandi.
Tok Tok Tok
" Hanum..Hanum kamu gak apa-apa?" Luna mengetuk pintu kamar mandi sambil memanggil-manggil nama Hanum. Tapi tak ada jawaban, hanya suara erangan Hanum saja yang terdengar.
Dengan cepat Luna membuka pintu kamar mandi, betapa terkejutnya dia ketika mendapati Hanum sedang meringkuk lemas di dekat toilet. Sepertinya Hanum sudah muntah-muntah hebat. Keringat membasahi kaos tidur yang dipinjamkan Aluna padanya.
Luna langsung menekan tombol flush untuk membersihkan toilet dan membantu Hanum untuk berdiri. Tapi tubuh Hanum kembali merosot. Luna tak mampu menyangganya. Dia kemudian berteriak meminta tolong pada Galang dan Teduh yang masih berada di kamar masing-masing.
" Astaghfirullah, Teh..kenapa Mbak Hanum?" Teduh yang tiba lebih dulu langsung terkejut melihat Hanum tak sadarkan diri di kamar mandi. Kini luka-luka di tubuh Hanum makin jelas terlihat karena perutnya sedikit tersingkap.
Dengan sigap Teduh mengangkat tubuh Hanum dan membawanya ke tempat tidur kemudian membaringkannya.
" Kayaknya Hanum habis muntah terus pingsan. Hanum sakit kayaknya dek. Kumaha atuh?" tanya Luna pada adiknya yang terlihat sangat panik.
Galang yang masih sarungan sehabis shalat subuh langsung ikut masuk ke dalam kamar Hanum untuk melihat apa yang terjadi.
" Kenapa Yang? ada apa?" tanya Galang.
" Ini kang, Hanum pingsan di kamar mandi. Sakit kayaknya, dia tadi muntah-muntah dulu." jelas Luna.
" Sebentar teteh bawain dulu air hangat buat Hanum. Coba kamu ambil minyak angin, ada di kamar Nana." perintah Luna lagi kemudian menghambur pergi menuju dapur.
" Sekalian panggil dokter Aris juga dek, kamu punya nomornya kan?" perintah Galang pada Teduh. Dokter Aris adalah dokter pribadi yang dimiliki club renangnya. Salah satu sahabat Galang juga.
" Iya A, adek punya. Sebentar adek telepon." Teduh segera berlalu untuk menelepon dokter Aris dan mengambil minyak angin.
Setengah jam kemudian, dokter Aris datang kemudian segera memeriksa Hanum ditemani Luna. Hanum masih tak sadarkan diri saat itu.
" Luka-luka ini karena apa ya?" tanya dokter Aris merasa heran dengan semua luka yang ada di tubuh Hanum. Bahkan ada banyak tanda gigitan di sekitar dada Hanum seperti habis di perkosa.
Luna sampai membekap mulutnya karena melihat banyak lebam di tubuh putih Hanum.
" Teduh bilang karena dipukuli pacarnya, dok." jelas Luna dengan mata berkaca-kaca, masih tak percaya melihat begitu banyak lebam di tubuh Hanum yang mulus. Bahkan seperti ada luka bakar bekas sundutan rokok.
" Ini sih kayak luka habis dilecehkan, Bu. Coba di visum aja. Dan sepertinya ada beberapa bekas luka lama yang sudah sembuh. Bisa jadi Mbak ini adalah korban abuse. Kasihan kalau dibiarkan, bisa merusak kesehatan mentalnya." jelas dokter Aris.
" Oh ya satu lagi, kita harus bawa ke dokter kandungan juga. Saya curiga kalau mbak ini sedang hamil." lanjut dokter Aris.
Luna sampai kaget mendengar semua penjelasan dokter Aris. Dia sama sekali tak menyangka bahwa Hanum tengah berada dalam situasi yang menakutkan dan tanpa ada seorangpun yang membantunya.
Setelah meresepkan obat untuk Hanum, dokter Aris pun pamit pulang. Luna langsung menceritakan semuanya pada Galang bagaimana keadaan Hanum yang sebenarnya. Kemudian memanggil Teduh untuk menyampaikan ini semua.
" Dek..coba kamu beli obat yang diresepkan dokter Aris untuk Hanum. Sama..hemm..beli testpack." ucap Luna hati-hati.
" Test pack buat siapa teh? Teteh hamil lagi?" tanya Teduh kaget sambil memandang kedua kakaknya bergantian.
" Bukan buat Teteh, buat Hanum." Teduh makin shock mendengar jawaban kakaknya.
" Maksud teteh, Mbak Hanum hamil anak si kingkong??" tanya Teduh, matanya sampai membulat lebar saking kagetnya.
" Kata dokter Aris, ada kemungkinan Hanum dilecehkan sama pacarnya. Soalnya banyak luka lebam dan gigitan di sekitar dadanya. Banyak hemm..cup*ang juga dek." jelas Luna dengan ragu-ragu.
" SI ANJING!!! BRENGSEK BANGET TUH COWOK! SETAN EMANG SI KUDANIL TUH, UDAH DISIKSA DIPERKOSA JUGA???!!! BANGS*T!!!" Teduh terus saja memaki-maki, tangannya sampai terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
" Ssstt..jangan berisik, dek. Nanti Hanum dan Nana denger. Tahan emosi kamu, nanti kalau Hanum udah lebih stabil kesadarannya baru kita tanyain. Barangkali aja pelakunya bukan si Daniel." perintah A Galang sambil menepuk pundak adik iparnya.
" Mun lain si kudanil nya saha deui atuh A. Kamari oge Mbak Hanum nepika di gugusur siga ka munding wae! Adek lihat sendiri..pasti si eta pelaku na. Emang psycho jelema teh! Sinting..!"
( Kalau bukan si kudanil siapa lagi A? kemarin aja aku lihat Mbak Hanum di seret-seret kayak kerbau aja!! Adek lihat sendiri, pasti dia pelakunya. Emang psycho tuh orang! Sinting..!)
" Tapi masalah gini mah kita gak boleh gegabah dek, jangan sampai kepancing emosi. Nanti bisa bahaya kalau salah langkah. Apalagi mau nggak mau, kita udah masuk terbawa dalam pusaran masalah ini. Cuma masalahnya mereka berdua itu pasangan, jadi kalau ternyata mereka melakukannya atas dasar suka sama suka, ya kita gak bisa apa-apa." jelas Galang lagi.
Teduh makin emosi, dia sampai menonjok dinding beberapa kali untuk melampiaskan amarahnya.
" Goblog dasar si Daniel..!!" umpat Teduh lagi, kemudian menjambak rambutnya dengan frustasi. Ada gumpalan besar amarah dalam hatinya.
" Udah atuh dek, sok sekarang mah mending adek beli obat dulu buat Hanum, sama test pack juga. Biar Hanum cepet sembuh. Kasihan teteh mah lihatnya juga." Luna mengelus punggung adik semata wayangnya dengan sayang. Dia baru menyadari bahwa perasaan Teduh begitu tulus terhadap Hanum.
Mungkin dia jauh lebih muda dari Hanum, tapi rasa sayangnya begitu besar, terlihat dari semua kecemasan dan amarah yang ditunjukkan adiknya ketika mengetahui Hanum telah disiksa baik mental maupun fisik oleh Daniel.
Teduh langsung pergi ke apotik untuk membeli semua obat yang sudah diresepkan dokter Aris, serta membeli test pack yang diminta kakaknya. Hatinya dipenuhi amarah yang memuncak terhadap Daniel. Ingin rasanya dia memukuli Daniel hingga babak belur biar dia juga bisa merasakan bagaimana sakitnya menjadi Hanum.
***
" Hanum makan dulu ya.." pinta Luna sambil terduduk di bibir ranjang. Tubuh Hanum masih begitu lemas. Dia memaksakan duduk kemudian menyandarkan punggungnya di headboard tempat tidur.
" Sok dimakan ya, biar bisa minum obat." bujuk Luna lagi. Hanum memaksakan tersenyum.
" Makasih banyak ya teh. Aku gak apa-apa kan manggil teteh dan Aa juga, kayak Teduh manggil kalian?" tanya Hanum lagi.
" Ya gak apa-apa atuh. Meuni harus ijin segala manggil gitu juga. Bebas mau manggil nama juga boleh. Kita kan cuma beda beberapa tahun aja." jawab Luna sambil menyerahkan sepiring nasi beserta lauk-pauknya.
" Makasih ya teh, kalian udah beberapa kali bantu Hanum. Hanum banyak berhutang budi sama keluarga teteh dan A Galang."
Luna hanya tersenyum mendengar penjelasan Hanum.
" Gak usah dipikirin, yang penting kamu sembuh dulu aja. Ayo cepet dimakan, nanti keburu dingin."
Dengan pelan Hanum mulai memakan nasi dan sop ayam yang dihidangkan Luna. Lumayan banyak yang dimakannya. Luna merasa lega melihat Hanum makan dengan lahap.
Setelah selesai, Hanum kembali menyandarkan dirinya di headboard. Wajahnya sudah tidak sepucat tadi pagi.
" Teteh boleh tanya sesuatu gak?" tanya Luna kemudian setelah melihat Hanum jauh lebih rileks.
Hanum mengangguk kecil diiringi senyum yang tampak terpaksa. Dia tahu akan bermuara kemana pembicaraan ini.
" Tadi pagi waktu dokter periksa Hanum, teteh lihat ada banyak luka di badan kamu. Bahkan ada luka yang udah lama sembuh tapi masih berbekas. Terus, maaf..teteh juga lihat ada banyak sekali merah-merah dan seperti bekas gigitan di dada Hanum. Itu..kenapa?" tanya Luna ragu-ragu.
Hanum terdiam, kepalanya tertunduk dalam, lama kelamaan pundaknya bergetar, dia menangis. Bahkan suara tangisnya semakin pilu manakala Luna memeluknya dengan erat dan ikut menangis bersama.
Tanpa mendengar penjelasan apapun, dia tahu apa yang sudah dialami oleh Hanum. Entah harus bagaimana Luna memberikan penghiburan dan kekuatan padanya, yang jelas hati Luna ikut merasa sakit melihat Hanum begitu terluka seperti sekarang.
*
*
*
*
*
Maaf ya reader..untuk beberapa chapter ke depan, ceritanya akan sedih-sedih terus. Tapi tenang aja, gak akan lama kok. Nanti juga menuju bodor lagi. Disimak aja terus yaa..
hehe😅
semangat dan sehat selalu untukmu
terhibur banget banget membaca karya2 author
semoga diberikan selalu rejeki yang tak berkesudahan , kebahagiaan dan kenikmatan selalu dr Yang Maha Besar
kangen iihh....😭😭😭
sehat sll ya Thor....
di tunggu update_tan nya....
buat semua²nya jg shat² ya....🤲🏻
smga kita sLLu dlm lingungan-NYA
gmna kabar nya?
semoga sehat2 terus ya ka.
ka kapan mulai nulis lagi?
kangen bgt cerita ini lanjut,
semoga bisa secepat nya up lagi ya ka😇🤗
semoga sehat selalu dan semoga bahagia ..😍😍😍
thor aku rindu karya mu... 😍😍😍😘😘😘
yang sabar dan selalu kuat,aku tetap menunggu karyamu ...
aku doain athor cepet pulih bangkit dari keterpurukan,tetep tabah dan sabar,semangat 💪 lagi
aku bakal tetep nungguin sampe kamu mau😄
semangat💪💪
di lingkungan aku jg ada kejadian seperti kudanil dan Hanum,,bedanya si perempuan ini memilih bertahan meski udah jd samsak hidup.