Hi teman, ini adalah karya pertama aku di noveltoon.
Disini saya hanya belajar menulis, dan saya hanya ingin sedikit bercerita, tentang perjalanan kehidupan, seorang Aditya Koesdiansyah.
Seorang pemuda tampan, yang menjadi tulang punggung keluarganya, setelah Dokter memvonis Ayahnya sakit.
Bagaimana kelanjutanya, tetep mampir di karya Author yang baru ini.
Karena insya Alloh Author akan rajin Update tiap hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GANTENG KALEM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERNYATA DIA
Di dalam ruangan CEO, terlihat seorang wanita berparas cantik dengan penampilan yang terlihat elegan, sedang berbincang dengan seseorang di dalam ponselnya.
"I ya, Papi. Nanti aku ke ruangan Papi sebentar lagi." Wanita cantik tersebut mengakhiri panggilan teleponnya.
Dia berdiri dari duduk dan merapikan kembali penampilan, sebelum ia meninggalkan ruanganya.
Setelah rapih, wanita cantik tersebut kini melangkah keluar dari ruanganya.
"O ya, Ratna. Nanti kalau Ada tamu, terus ganteng orangnya. Kamu suruh masuk aja ya, biar dia nunggu di dalam saja." titah Wanita cantik tersebut pada Ratna.
"I ya, siap Bos. Tapi....," wajah kepo memancar dari wajah Ratna pada wanita tersebut.
"Sudah, ah. Aku udah di tungguin Papi di ruanganya." wanita cantik tersebut berlalu meninggalkan sekretarisnya.
Di depan pintu ruangan Bos besar, CEO cantik tersebut menghentikan langkah dan mengeluarkan handphone dari jasnya.
Ia membuka menu chat WA.
Aku minta tolong ya rat, nanti kalau tamunya sudah datang, kamu suruh duduk aja di dalam. Terus, kamu kasih aja formulir penerimaan karyawan biar dia mengisinya.
CEO cantik mengirim pesan tersebut pada Ratna. Dan setelah selesai dia segera memasukan kembali ponsel pada saku jasnya.
Tok.. Tok.. Tok..
"Masuk." Seru Bos besar dari dalam ruanganya.
Ceo cantik membuka pintu dan memasuki ruangan Bos besarnya.
"Ada apa Papi?, tumben sampai panggil aku kesini." tanya Ceo cantik yang baru saja mendudukan dirinya.
"Dengarkan Papi, sayang. Hari ini Papi akan melakukan perjalanan bisnis ke eropa, dan Papi tidak tahu kapan Papi akan kembali." Alfonso memberitahu Ceo tersebut.
"Bukanya Papi biasa seperti itu." ucap CEO cantik yang merasa jenuh dengan kebiasaan ayahnya yang selalu sibuk dengan bisnisnya.
"Ayolah sayang, jangan seperti itu. Di usia Papi yang sudah tidak muda ini, Papi ingin setelah Papi kembali kau sudah siap bertunangan dengan David.
Ceo cantik itu memutar bola matanya dengan malas.
Sial David.. David.. dan selalu David di mata Papi. Aku harus bisa membuktikan jika David itu seorang bajingan pada Papi.
"Bagaimana, apa kau bisa sayang?" Baron Alfonso tersenyum meminta kepastian pada anaknya.
CEO cantik tersebut bangun dari duduk, dan melangkah menuju pintu keluar ruangan Alfonso.
Namun ketika memegang handle pintu CEO tersebut berhenti dan memandang Alfonso.
"Aku masih butuh waktu, Pi." CEO cantik tersebut membuka pintu dan keluar dari ruangan Alfonso.
Sementara, Baron Alfonso masih terlihat bingung dengan kelanjutan hubungan antara putri semata wayang dengan anak rekan bisnisnya, yang entah mau di bawa kemana nantinya.
Dengan rasa kesal Ceo cantik tersebut melangkah keluar dari ruangan Alfonso menuju kembali ke ruangan kerjanya.
Sementara, di dalam ruangan CEO terlihat Adit yanh sudah duduk manis sambil mengisi formulir penerimaan karyawan baru, yang memang sebenarnya itu hanya sebuah formalitas saja untuk si CEO.
Dengan hati hati dan seksama Adit membaca pertanyaan di dalam formulir tersebut sebelum mengisinya.
Adit mengisi semua pertanyaan yang terlampir di formulir penerimaan karyawan tersebut dari mulai nama, alamat jelas, status, dan gaji yang ia inginkan selama bekerja nanti.
"Ratna, Sudah?" tanya CEO cantik dengan mata yang memandang Ratna dan beralih ke dalam ruanganya.
"Sudah donk, Bos cantik. Ngomong ngomong, itu cowok yang dulu kamu... itu kan?" Ratna memperagakan mobil dengan tanganya.
CEO cantik tersebut tersenyum lucu pada Ratna.
"Ya sudah, aku masuk dulu ya." si CEO cantik membuka pintu dan memasuki Ruanganya.
Ratna mengangguk sambil mengangkat kedua jempol tanganya pada CEO cantik tersebut. Jiwa keponya yang meronta memaksa dirinya menempelkan telinga di lubang pintu ruangan CEOnya.
Adit yang terlalu fokus dalam mengisi formulir dengan kepala yang menunduk, dirinya tak menyadari akan kedatangan CEO cantik yang kini telah duduk di hadapanya.
"Akhirnya selesai juga." Adit mendongak dan memandang wanita cantik yang duduk di hadapanya.
"Non, Luna." Adit mematung dengan mulut ternganga melihat sosok asli Luna yang cantik dan berwibawa di matanya.
"I ya, kenapa?, kaget?" Luna mengangguk dan tersenyum. Seraya bangun dari tempat duduk dan menutup mulut Adit yang ternganga dengan telunjuknya.
"Maaf, Non. Adit tidak tahu, tapi bukanya Non Luna pernah bilang kalau Non Luna itu kuliah?" tanya Adit yang membuat Luna makin terpingkal tertawa.
Maha suci Tuhan, cantik sekali ciptaanmu ini.
Adit menelan salivanya memandang Luna yang terlihat cantik dan aduhai di matanya.
Luna berangsur menghentikan tawanya, dan kembali fokus memandang Adit.
"Memangnya kapan aku pernah bilang, kalau aku kuliah?" tanya Luna yang meminta Adit untuk mengingat kembali.
"Di terminal, Non. Adit masih ingat kalau Non Luna bilang 'Dosen killer' ketika Adit tanya kenapa Non luna gak kuliah." Adit mengulang kembali ingatanya dengan ucapan.
"Adit," Panggil Luna yang merasa gemas.
"I ya, Non." jawab Adit.
"Aku cuma jawab 'Dosen killer', dan aku gak bilang kalau aku masih kuliah, i ya, kan?" Luna membenarkan ucapannya.
"Ohhh, i ya. Adit Galfok Non." Adit menggaruk kepalanya yang tidaka gatal.
"Ya sudah, mana formulirnya?, Aku pengen lihat." pinta Luna, dan Adit langsung menyerahkan formulir tersebut.
Luna mengecek formulir yang di telah selesai di isi oleh, Adit. Terlihat mata Luna yang membulat dengan pipi yang tiba tiba menggelembung menahan tawa.
Luna berdiri dan berbalik membelakangi Adit sambil tertawa puas.
Apakah aku salah mengisi formulirnya? , kok Non Luna sampai tertawa gitu ya?.
Adit menghela nafas memperhatikan Luna yang masih tertawa puas di hadapanya.
Luna berbalik memandang Adit, dirinya melangkah menghampiri Adit.
"Ada yang salah ya, non?" Adit yang masih bingung dengan letak kesalahanya.
Luna yang mendekati Adit dari arah belakang, dan secara tidak sadar menopang dagunya ke pundak Adit, dengan tangan melingkar di leher memperlihatkan formulir yang telah di isi Adit.
"Kamu lihat, masa gaji pokok yang di inginkan kamu isi satu juta setengah, yang bener saja." ucap Luna yang belum menyadari pipinya telah bertahutan dengan Pipi Adit karena saking dekatnya.
Adit menunduk malu, harum nafas aroma mint keluar dari Luna menyentuh wajahnya.
Luna merasakan panas di bagian pipinya, dia terhenyak kaget dan segera menjauhkan diri dan kembali duduk di kursinya.
Suasana mendadak menjadi canggung. Adit menunduk dan Luna berpaling. Tapi Luna tak mau terlihat salah tingkah di depan Adit.
"Tunggu disini sebentar." Luna berlalu membawa formulir yang telah di isi Adit menuju Sekretarisnya.
Dan tak berselang lama, Luna kembali datang dengan formulir baru yang sudah terisi dan menyuruh Adit menanda tanganinya.
Adit tak berpikir panjang lagi, ia langsung menerima dan membubuhkan tanda tanganya. Dan setelah selesai Adit merasa penasaran dan mencoba mengeceknya.
"Hahhh, 27 juta/ bulan?" adit mengucap apa yang tertera dan sudah tertulis di formulir tersebut.
"I ya, kenapa, kekecilan?" tanya Luna meminta kepastian.
Adit menggeleng gelengkan kepalanya di depan Luna.
semanhat bang😊😊😊