NovelToon NovelToon
Pacarku Polos

Pacarku Polos

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Contest / Tamat
Popularitas:121.5k
Nilai: 5
Nama Author: nurdahlia Awani hrp

Azara Amora adalah gadis cantik berambut panjang dan bertubuh pendek
Bryan Jason Willy, cowok tampan, bertubuh tinggi,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurdahlia Awani hrp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

part 11

Happy Reading💚

Pelukan Ara mulai longgar, ia hampir terjatuh ke lantai, segera ku tangkap tubuh mungilnya.

Bujubusyett!

"Ni anak nyusahin bett! Kok bisa ya ni cewek langsung tidur?" Aku mengangkat tubuh Ara seperti bridal stayle lalu membaringkannya di ranjangku, malas saja untuk membawanya kekamarnya.

Setelah membaringkan tubuhnya, aku segera berjalan menuju sofa. Namun, Ara menahan tanganku.

"Pangeran jangan pergi," lirihnya yang kemudian kembali mendengkur. Ara menarik tanganku, hingga aku terbaring disampingnya, Ara memelukku erat.

"Peluk aku pangeran," setelah melontarkan perkataannya, Ara kemudian tertidur pulas dengan dengkuran khasnya. Sekarang aku merasa seperti suaminya, tidur berdua? Oh tidak! Aku harus pergi.

Lampu tiba-tiba padam, beserta dengan kilat yang menyambar. Dug dah dig, jantungku berdetak kencang. Jujur saja, aku takut dengan kegelapan, mengingat tentang hantu di film-film membuatku bergidik ngeri. Tiada pilihan lain lagi selain diam ditempat dengan posisi dipeluk Ara.

Mami tolong!

.

"Astagfirullah, Bryan!" Aku langsung terbangun tatkala mendengar teriakan yang amat keras.

"Kamu apain si Ara? Astagfirullahalazim. Sekarang! Ikut Mami! Kalian harus segera dinikahkan!" Aku membukatkan mata sempurna, menikah? Dengan Ara?

Kulirik Ara yang tertunduk, kenapa dia tidak berbicara apa-apa? Ayolah jelaskan! Mami menarik tanganku.

"Bryan nggak salah!" ucapku bersikeras.

"Udah jelas-jelas kamu salah! Sekarang kalian ikut Mami, kalian harus menikah sekarang juga!" Mami menarik tanganku.

"Tidak!"

Napasku tak beraturan, kulirik Ara yang masih tertidur pulas, ku tepuk pipi. Apa tadi cuman mimpi? Ah syukurlah.

"Terima kasih, ya Allah," ucapku bersyukur sehat walafiat, eh.

Segera ku bangunkan Ara yang sedang tertidur pulas. Gara-gara dia, aku harus bermimpi buruk, bukan buruk sih tapi belum siap aja dikasih mimpi kek gitu.

.

Aku terdiam sambil menyantap makanan, kali ini aku benar-benar terdiam.

"Yan, kesambet apaan kamu? Kok diem-diem bae?" tanya Mami, sambil menyantap makanannya.

"Tumben amat? Biasanya lo yang paling ribut kek jangkrik," sahut Anissa. Ah, mimpi itu terngiang-ngiang bergentayangan di pikiranku.

"Abang kalau tidur lucu kek beruang!" sontak semua anggota keluarga menatap kearah Ara yang sedang menyantap makanannya.

Vangke.

Aku menelan salivaku. Apa mereka curiga? Ingin rasanya ku tenggelamkan Ara di lautan biru.

Hening! Tapi, tak lama kemudian, semuanya kembali menyantap makanan, Mami menatapku dengan tajam.

Kumenangiss ... membayangkan betapa kejamnya dirimu atas diriku.

"Gimana kalau kita ke pantai?" ucap Ari tiba-tiba. Anissa dan Ara melompat-lompat senang.

"Sekuylah! Gue juga udah lama nggak kepantai," sahut Anissa. Untuk hari libur ini, aku berniat untuk rebahan saja dikamar, dan main game. Biasalah, kaum rebahan gitu, hehehe.

Sebenarnya malam sekali rasanya untuk keluar rumah, tapi, Anissa terus saja membujukku.

Diluar sudah terlihat Vino, Argian, dan Karell yang sedang menunggu. Setelah bersiap-siap, kami pun berangkat menuju pantai.

Aku, Anissa, Ara, dan Ari menaiki mobil sport milikku. Tapi, bukan aku yang menyetir, melainkan Ari, malas guys! Jadinya, aku hanya melihat-lihat keluar, sesekali menguap.

Karena perjalanannya cukup jauh, aku segera mengambil ponsel. Buka WA, buka Facebook, dan IG, semuanya sepi kek hati yang lagi baca, ye kan? Eits tapi boong, sebenarnya sangat ramai, di penuhi pesan dari para ciwi-ciwi.

[Yan, gimana kabar lo? Gue kangen]

Aku membulatkan mata sempurna, tanganku bergetar hebat, kulihat foto propil dari orang yang mengirimkan pesan.

"Nggak mungkin," aku masih tak percaya, kutepuk pipi beberapa kali. Apakah ini mimpi? Bukan! Tapi kenapa ini nyata?

"Apanya yang nggak mungkin?" Aku menggeleng, ketika Anissa bertanya.

Tanganku bergetar, kemudian mengetik untuk membalas pesan tersebut.

[Lo siapa? Lea kah?]

Send. Centang dua abu-abu.

Lea? Gadis itu? Seseorang yang sudah membuatku mengenal kekecewaan. Gadis yang sudah menyakitiku hingga sekarang, gadis yang sampai saat ini tak bisa kulupakan akan kehadirannya, sudah lama ia pergi meninggalkanku. Dan aku benci itu!

Sudah lama, namun aku tak mendapat balasannya, hingga kami semua pun sampai di tempat tujuan.

"Ayo, Abang!" Ara menarik tanganku, ia berlari-lari seperti anak kecil.

"Hari ini, Abang traktir Ara kan?" Aku menyerinyitkan dahi, traktir apa? Maksudnya?

"Traktir apaan?" tanyaku.

"Ish! Kan kemarin, Abang janji mau traktirin Ara, apapun yang Ara mau!" Ara mengerucutkan bibirnya lima senti. Aku menepuk jidatku, ternyata dia ingat, bisa habis uang jajanku sekarang.

'Ya Allah, tolong hambamu ini!' ucapku dalam batin.

"Iya iya. Yaudah, lo mau ap-"

Belum selesai aku berbicara, Ara sudah menarik tanganku ke penjual es krim. Suasana pantai cukup ramai, banyak yang bermain-main.

"Ara pengen dua aja. Satu untuk Ara, satunya lagi untuk Abang." Ara memberikanku satu ice krim rasa setrawbery.

"Kalian cocok banget yah," ucap penjual ice krim tersebut, seraya tersenyum kearah kami. Cocok sih, tapi hati kami yang belum cocok guys!

"Khem, berduaan mulu. Ketiganya setan lho," ucap Karell menggodaku.

"Dan setannya itu, lu!" Karell melototkan matanya, mendengar ucapanku. Rasain lu!

"Mata lu sipit Junedi! Nggak bisa melotot!" Karell mengerucutkan bibirnya lima senti, menatapku dengan geram. Segera kuberlari menjauhinya.

Ku berlari, kejar mimpi. Eh malah nyanyi sepatu super.

"Awas lu ya, Marjuki! Gue dapet lu, retak ginjal lu!" Karell mengejarku, sepertinya dia sudah kesal.

"Ampun bang jago!" Aku hanya terkekeh melihat sahabatku yang satu ini.

"Lari yang kenceng, hehe!" Ara terlihat senang melihat kejar-kejaran antara aku dan Karell, sampai-sampai Ara memegang perutnya sambil tertawa.

"Kevin, awas!"

BRUK!

Aku terjatuh, bersamaan dengan Vino yang di depanku. Pinggangku remuk sekarang.

"Sakit woy!" Vino menjitak kepalaku.

"Hah, hah ... mau kemana lu?" tanya Karell dengan napas yang tak beraturan, akibat mengejarku.

"Abang, kena. Huhuyy!" Ara berlari kearaku, sambil berjoget-joget. Apa gadis ini gila?

.

Aku capek, setelah menemani Ara membeli makanan, aku hanya duduk di tepi pantai, merasakan air lautan yang mengenai kakiku. Ara, Anissa, dan trio buaya tersebut bermain-main dengan ria.

"Nih, minum." Ari menyodorkanku minuman, yang kemudian segera ku ambil dan meminumnya. Ari duduk di sampingku, sambil meminum minumannya.

"Gue mau nanya. Kenapa gue nggak pernah lihat orang tua kalian? Ketika Ara di rumah sakit, gue juga nggak pernah lihat orang tua kalian. Bukannya, kalau anak yang lagi sakit, harus di temenin orang tuanya? Dan, kenapa bisa Ara bersikap seperti takut untuk kembali kerumahnya?" tiba-tiba saja pertanyaan itu keluar dari mulutku. Sudah lama aku penasaran tentang kedua orang tua Ara. Wajah Ari seketika berubah murung, ia menatapku lalu tersenyum.

"Huft ... sebenarnya, sejak kecil gue sama Ara hanya tinggal bersama Om dan Tante gue, kedua orang tua gue nggak pernah peduli sama gue, bahkan untuk berbicara langsung pun sangat jarang. Seperti tidak ada kasih sayang untuk kami berdua, gue sedih harus ngelihat Ara yang selalu kena imbas ketika mereka bertengkar. Gue sendiri juga bingung, kenapa mereka bisa setega itu dengan kami berdua. Dan ...," Ari menggantung ucapannya.

"Dan, kemarin mereka sempat bertengkar, Ara yang tak tahan mendengar teriakan dan pukulan pun, coba untuk hentikan pertengkaran mereka. Hingga Ara yang mendapat pukulan dari Ayah sampai kepalanya berdarah dan pingsan di tempat. Saat itu gue lagi nggak ada dirumah, gue nggak bisa lindungin dia dari pertengkaran itu." Suara Ari terdengar bergetar hebat. Ternyata, di balik wajah ceria Ara, ia juga menyimpan luka yang bahkan lebih sakit dariku. Tapi kenapa?

1
Fadila Fani
season 2 dong kak..
anak" bryan kak gimana ketemu sama anak sabahat papanya😁😁
Widia Citra
menarik kaka,,,,,
jangan lupa mapir di KARYA ku yaaa🙏❤️🖤
Chauli Maulidiah
begitu mudahnya terjebak dgn sebuah kata janji.. jika dia sdh berubah, dan tdk membawa manfaat dan kebaikan pd diri kita. untuk apa pula bertahan dgn sebuah kata janji... BODOH!!
Deby rafika Fika
suka banget sama cerita nya ...
Dira Safitri
season 2 dong thor
Farihah husna
next
Neno
syukur deh dah ketemu Ara x
Putu Rahayu
ku kira yg kecelakaan bryan atau ara
Kirey Salsabila Balqis Mutmainnah
semangat thorr jangan lama up nya🙂🥺
Kirey Salsabila Balqis Mutmainnah
ngakak🤣🤣
Dira Safitri
dih kok kesel ya😏
Neno
aduh...pinter banget si syela bikin skenario.
awas az klo Bryan sampe luluh
Ardzz
belum paham sama part ini😌
Ririn Dwi
seru
Ririn Dwi
suka deh.
lucu
Ardzz
huuuuufffffft..... mulai bermunculan rubah pengganggu😑
semangat thor lanjutin up nya. di tunggu epsd selanjutnya, aku suka dengan ceritanya, menarik😍
Marmott🐻
sampe nangis tau ku kira itu kenyataannya........😢😢😢
Dedydedot
mbak lea tipu tipu yaaa.. mana ada laki laki tanpa kesadaran bisa nglakuin kek gitu.. mas bry juga bodoh banget sih
Dedydedot
pilih satu doong bang. Kalo dua dua nya mau diembat namanya serakahh
Dedydedot
tunjukan pesonamu babang briyan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!