cinta itu butuh pengorbanan..
ya, semua tahu itu..
tapi.. apa kita benar-benar harus menutup mata jika hati ini terus di khianati..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rniehamizan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 12
Anisa merasakan perutnya yang terkoyak dan rasa panas yang menjalari pinggulnya. keringatnya bercucuran.
"aahhh...." teriaknya menahan sakit. tubuhnya sangat sulit untuk bangun dari ranjang karena sakit yang begitu hebat.
"kenapa sih, pagi buta sudah teriak-teriak." Sasa menutup kuping nya karena merasa tertidur nya terganggu.
Erick bangun lalu masuk kekamar Anisa dengan marah.
"berisik." bentaknya.
"Erick..perutku sakit." rintih Anisa. Erick langsung menghampiri nya.
"kau kenapa?" Erick panik saat melihat darah dari balik baju tidur Anisa.
"Erick bayinya.." rintih Anisa. tanpa pikir panjang erick mengangkat tubuh Anisa. membawanya masuk kedalam mobil lalu bergegas ke rumah sakit. dia takut terjadi apa-apa dengan bayinya.
"kakak..." teriak Sasa saat bangun langsung disuguhi Erik yang menggendong Anisa.
"cih.. aku harap kau mati saat melahirkan." rutuknya.
Anisa langsung ditangani oleh dokter begitu sampai. Erick berjalan mondar mandir, hatinya gelisah. baru kali ini dia merasakan khawatir yang begitu berlebihan.
"aaahhhh....Erick.." terdengar jeritan Anisa yang begitu menyayat hatinya. Erick semakin tak karuan di buatnya.
seorang perawat keluar. Erick segera bertanya dengan cepat.
"bagaimana suster..anak ku..apa dia baik-baik saja."
"iya pak. bayi nya terlahir dengan normal dan sehat selamat ya pak." ucap suster itu. Erick bernapas lega. dia ingin menanyakan Anisa tapi hatinya terlalu gengsi.
"tapi ibunya terlalu banyak mengeluarkan darah.. pasien tak sadar kan diri." ujar perawat itu membuat Erick serasa tersambar petir. kenapa dia merasa takut kehilangan bukannya dia ingin melihat Anisa mati.
2 jam Erick duduk di samping ranjang Anisa dengan bayi di gendongan nya. bayi itu sangat tampan, hidung dan bibirnya sangat mirip dengannya.
Anisa masih belum sadarkan diri.
"hum.. mulai saat ini anak ini milikku. kau hanya boleh melihat nya tapi jangan pernah menyentuh nya."
"kakak.. "Sasa masuk dengan buru-buru.
"wah.. lucunya." Sasa mengelus pipi bayi itu dengan hati-hati. dia melirik Anisa yang masih terbaring dengan pandangan tak suka.
"kak, ayo kita bawa pulang bayi ini. aku akan merawatnya seperti anak ku sendiri."
mereka dengan teganya membawa bayi itu meninggalkan Anisa yang masih terbaring lemah. anisa sudah tersadar sejak tadi, hanya saja ia tak mau berdebat lagi karena terlalu lemah. dia hanya bisa menangis melihat Erick membawa bayinya begitu saja.
Alpin menatap Erick dan Sasa dengan pandangan mencemooh. mereka tak sengaja bertemu di lorong rumah sakit. Alpin melihat bayi yang di gendong Sasa. dia bisa menebak bayi siapa itu.
"seperti nya..kau tidak hanya ingin merebut posisinya sebagai istri..tapi.. kau juga menginginkan hak asuhnya sebagai wanita."
"apa maksud mu? jangan campuri urusan kami." Erick menarik Sasa menjauhi alpin. dia tak mau ribut di depan umum.
"saat semuanya terbongkar.. kau akan menyesali semuanya karena anisa mungkin saja saat itu sudah ada di pelukanku." ucap Alpin lalu pergi.
sepanjang perjalanan Erick masih saja terpikir oleh ucapan Alpin. apa yang dia rencanakan saat ini , rahasia apa yang akan terbongkar dan membuat hatinya menyesal.
"oek..ooek.." tangisan bayinya begitu kencang. Sasa kewalahan di buatnya.
"kak, bagaimana ini?"
"mungkin dia haus. kita ke supermarket dulu beli susu."
Sasa begitu kesal di buatnya. jika saja bayi ini bukan anak Erick sudah dia lempar keluar dari mobil.
Anisa menjijikkan!!!
oon tingkat tinggi
istri bodoh..pantes disakiti
tapi pada Anisa...
ada ya istri yg oon begitu