Seaaon 1 tentang Jill dan Jeff (couple J).
Season 2 tentang Shanum dan Salman (couple S).
Jill kabur dari rumah untuk menghindari perjodohan, ia kemudian bekerja di sebuah perusahaan dan justru bertemu cowok tampan, mapan, dan menawan yang ternyata adalah bosnya.
Shanum terpaksa menggantikan kakaknya menikahi Salman, pria cacat yang tiba-tiba menjelma menjadi pria paling kuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Shu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benjol
Jill menatap cara Jeff berjalan, langkahnya menjamin, gerakannya tegas, dan sorot matanya pasti. Tubuhnya yang tinggi dibalut kemeja putih.
Jill masih terpaku ketika lelaki beralis tebal itu berdiri di hadapannya. Wangi tubuh Jeff menusuk hidungnya, menyengat hingga merasuk ke rongga pernapasan.
“Kau memanggilku?”
Jill membeku. Nyalinya tiba-tiba menciut. Kok gini amat efek ditatap pria bermata tajam itu? Padahal Jeff baru bicara sepenggal. Kenapa dia bisa melumpuhkan lawan bicara hanya dengan tatapannya saja?
Huh, udah tau nanya. Apa salahnya ngebantuin mungutin kertas. Bukankah dia yang baru aja nendang kertas-kertasku sampe-sampe jadi berantakan begini?
“Halo, kau dengar aku?” tegas Jeff lagi membuat Jill tergagap.
“Tidak, Pak,” jawab Jill.
“Tidak apa maksudnya?”
“Saya tidak memanggil Bapak.” Tubuh Jill menunduk dan memungut kertas-kertas yang berserak akibat sekali tendangan kaki Jeff.
“Hm.”
Jill mengangkat kepala, Jeff sudah pergi tanpa sepatah kata. Sepatunya yang mengilap mengetuk-ngetuk lantai koridor kantor. Jill menatap kepergian Jeff hingga hilang saat berbelok.
Setelah menarik napas beberapa kali untuk menenangkan diri, Jill berjalan menuju ruangan kantor IC. Kantor itu dibangun terpisah dari kantor central perkebunan sekitar lima ratus meter karena IC adalah sebuah unit yang berdiri sendiri.
***
Jeff melenggang melewati sepanjang koridor, pandangan orang-orang yang dilintasi menjurus ke arahnya. Ia sedikit menganggukkan kepala saat berpapasan dengan karyawan yang membungkukkan badan tanda hormat.
Jeff memasuki ruangannya, melepas jas dan meletakkannya di sandaran kursi. Sejenak pandangannya menyapu atas meja. Kertas-kertas yang menumpuk, mouse, laptop, printer, semuanya tersusun rapi.
Jeff, pria yang terkenal tegas itu memang menyukai kerapian, kebersihan dan kedisiplinan. Bila bawahannya melanggar salah satu diantaranya, maka dia akan memuntahkan amarah, tak perduli di depan umum sekalipun. Dia tidak banyak bicara, penuh wibawa dan sering dibilang killer.
Jeff balik badan dan kembali ke pintu saat ingat telah melupakan sesuatu, tangannya menjulur untuk meraih handle pintu. Belum sempat menarik handlenya, pintu sudah terdorong dari luar.
Dueszh!
“Aw!” Jeff menyentuh keningnya.
Pintu yang baru saja didorong oleh Jill justru mengetuk keras kening Jeff.
Jill terbelalak dan hanya bisa mematung menatap lelaki di hadapannya itu merintih. Ini kan cowok yang nginjek kertas laporan gue tadi. Pikir Jill sembari memperhatikan wajah Jeff.
Jeff mengusap-usap kening yang mendadak benjol hanya dalam hitungan detik. Efek terlalu semangat Jill membuka pintu, ayunannya begitu kencang hingga menghasilkan hantaman yang sangat kuat. Sampai jidat Jeff langsung benjol begitu.
“Ma Maaf..” ucap Jill gugup.
Jill langsung menunduk, siap menerima umpatan. Beberapa detik ia menunduk, tidak ada kata-kata yang Jeff lontarkan untuknya.
Nggak salah nih? Kok, diem aja?
Suhu tubuh Jill mendadak dingin saat ia sedikit mengangkat wajah dan tatapan matanya beradu dengan Jeff. Hanya ditatap saja, rasanya seperti ditikam begini. Hati cenat cenut, jantungnya seperti ditusuk-tusuk.
Bisa nggak sih kalau menatap jangan sesadis itu? mata tajammu membuatku jadi gugup tauk. Bos yang satu ini benar-benar lebih mengerikan dari serigala. Ugh..
Jill buru-buru menunjukkan setumpuk kertas di tangannya dan berkata, “In ini saya mau... Mau minta tanda tangan Bapak. Laporan saya sudah selesai.”
Tanpa komentar, Jeff balik badan lalu berjalan menuju mejanya. Ia duduk di kursi putar yang tinggi sandarannya melebihi kepalanya.
TBC