NovelToon NovelToon
Stranger From Nowhere

Stranger From Nowhere

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Petualangan / Roh Supernatural / Horor / Dokter Genius / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:6.7M
Nilai: 4.9
Nama Author: juskelapa

(Buku ini sedang direvisi penulis untuk pengalaman membaca lebih baik)

*****

Shena yang baru ditinggal menikah oleh pacarnya pergi ke Afrika Selatan untuk bersafari menghibur diri. Dalam perjalanan, Shena satu pesawat dengan seorang dokter bedah tampan yang akan melamar pacarnya yang juga seorang dokter dan bekerja di Afrika.

Malangnya, pesawat yang mereka tumpangi mengalami kerusakan dan mendarat darurat di hutan belantara sesaat sebelum mereka tiba di Johannesburg.

Firza, sang dokter bedah berhasil membawa Shena keluar dari pesawat.

Dan di tengah kekacauan dan kesulitan mereka untuk bertahan hidup sambil menunggu bantuan, ternyata ada sosok makhluk yang mengintai mereka.

Akankah para penumpang yang selamat berhasil bertahan hidup?
Mampukah Shena bertahan dari makhluk hutan dan pesona Firza yang telah memiliki pacar?


Originally Story by juskelapa
Insta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon juskelapa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. Bangsa Pemangsa

Semua orang berdiri kaku, berusaha mencerna kata-kata Mike. Baru saja dia berteriak, semua mayat penumpang yang tertinggal di dalam pesawat menghilang.

Shena tercekat. Ia bahkan tidak tahu pasti berapa banyak mayat yang sebelumnya ada di sana, apalagi bagaimana kondisi mereka. Sejak tubuhnya diseret keluar oleh Firza, ia tak pernah lagi berani melangkah masuk ke dalam pesawat itu.

Mereka berhenti beberapa meter dari bangkai pesawat. Sudah lebih dari sehari mereka meninggalkannya, dan sejak itu tak ada lagi tanda-tanda ledakan susulan. Kesepakatan pun tercapai tanpa banyak kata—pesawat itu kini dianggap cukup aman untuk didekati.

“Kamu duduk di sini,” ujar Firza, menuntun Shena hingga bersandar pada batang pohon yang rimbun. Ia lalu menurunkan tas parasut dan tas tangan Shena yang sejak tadi dibawanya.

Dari saku celana, Firza mengeluarkan ponsel dan menatap layar dengan cemas—daya baterainya tinggal sedikit. Ia tahu, di tengah hutan belantara ini tak ada sinyal yang bisa diharapkan. Namun, diam-diam ia masih menggantungkan harapan: semoga perangkat itu tetap memancarkan sinyal radio, cukup untuk ditangkap oleh tim pencari.

“Ponsel kamu di tas, kan?” tanya Firza—meski tanpa menunggu jawaban. Ia langsung membuka tas Shena dan mencarinya sendiri.

Tak butuh waktu lama hingga benda itu ditemukan. Jari Firza segera mengetuk layar, memeriksa sisa daya baterai. Layar pun menyala, menampilkan wallpaper: foto Shena dan Ramon. Shena tampak bersandar manja, bibirnya dimonyongkan dengan ekspresi jenaka. Di sampingnya, Ramon tersenyum lebar—tampan, dan terlihat begitu bahagia.

Tanpa sadar, Shena tersenyum tipis saat menatap wallpaper ponselnya. Senyum itu lahir dari kenangan di balik foto tersebut; kenangan yang begitu lucu, begitu hangat, hingga dulu membuatnya merasa sangat bahagia.

Kini, untuk pertama kalinya sejak kejadian itu, ia kembali bisa mengingat wajah Ramon dengan jelas.

Mungkin, di luar sana, Ramon mengira ia menghilang tanpa kabar, menjauh atau sengaja menghindar. Padahal kenyataannya, Shena terjebak di tengah hutan, dalam keadaan terluka dan diliputi ketakutan.

Ia mencoba membayangkan jika Ramon berada di sisinya sekarang … dan pikiran itu terasa janggal. Sepanjang hubungan mereka, Shena dan Ramon hampir tak pernah benar-benar diuji keadaan. Kisah mereka dulu tampak seperti impian banyak gadis; seorang kekasih tampan, kaya, dan baik hati. Tidak pelit, romantis … namun, entah bagaimana, sering kali juga tak benar-benar peka.

Shena segera menepis pikirannya, lalu mengalihkan perhatian pada pria di sampingnya. Firza tengah menatap layar ponselnya, mengecek sisa daya baterai—namun tatapannya sempat tertahan pada wallpaper yang terpampang.

Seolah tersadar akan apa yang sedang ia lakukan, Firza cepat-cepat mematikan layar itu, lalu memasukkan kembali ponsel Shena ke tasnya.

“Maaf … bukan bermaksud lancang. Aku cuma perlu memastikan ponsel kita bisa dipakai bergantian sebagai senter kalau darurat. Sebisa mungkin kita harus menghemat baterai.” Nada Firza terdengar canggung.

Dengan gerakan kaku seperti anak kecil yang ketahuan mencuri permen. Ia merapikan tali tas Shena yang sebenarnya sudah rapi.

Shena menahan geli. Sejak mereka bersama, Firza nyaris seperti asisten pribadi yang setia menjepit tas perempuan di lengannya. Anehnya, tubuhnya yang maskulin tampak begitu biasa saja membawa tas itu tanpa sedikit pun rasa risi. Di mata Shena, pria itu justru terlihat … menggemaskan.

“Enggak apa-apa. Lagian, kita sudah berbagi pakai tas itu sejak awal sampai di hutan ini,” ujar Shena, senyumnya nyaris berubah menjadi tawa kecil.

Firza ikut terkekeh pelan. Lalu, ia menepuk tas yang masih dipegangnya sebelum bertanya, “Pacar kamu?”

Kini ia jelas merujuk pada wallpaper di ponsel Shena.

Shena menjawab santai, “Tadinya dia pacarku. Sekarang udah nggak lagi. Aku belum sempat ganti wallpaper ponsel.” Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada ringan yang dipaksakan. “Aku yang diputusin. Dia dijodohin ibunya, dan bilang nggak mungkin nerusin hubungan kami karena nggak mau jadi anak durhaka. Keputusannya memang … nggak salah. Kita nggak mungkin milih jadi anak yang durhaka. Cuma … dari awal dia memang seperti nggak benar-benar berusaha memperjuangkan kami.” Shena tertawa pelan—kering, nyaris tanpa bunyi. “Maklum, cinta beda kasta.”

Firza menangkap perubahan suasana itu. Ada jeda tipis yang terasa janggal di antara mereka, membuatnya sedikit menyesal telah bertanya. Shena menyadarinya, lalu buru-buru menambahkan, “Aku enggak apa-apa, kok. Malah bagus kamu nanya, jadi aku ada teman cerita.” Ia menarik napas pendek. “Sekarang aku udah baik-baik aja. Memang hampir tiga tahun masa mudaku habis di situ, tapi aku nggak menyesal. Setidaknya aku pernah bahagia sama dia.”

Pandangan Shena menerawang, sebelum kembali pada Firza yang masih sibuk memainkan tali tasnya.

“Walau aku harus resign dari kantor yang kebetulan milik keluarganya,” lanjut Shena, lebih pelan, “walau sempat dicap macam-macam … aku tetap baik-baik saja. Aku bahkan pergi traveling sendirian. Pengen melakukan hal-hal yang dulu nggak bisa kulakukan waktu masih sama dia.”

Firza mengangguk kecil, tapi dalam hati ia tahu kalimat “aku enggak apa-apa” jarang benar-benar berarti demikian.

“Kamu suka banget, ya, sama tas aku?” ujar Shena tiba-tiba, mengalihkan suasana. “Nanti kalau kita udah keluar dari sini, kamu ambil saja, deh.”

Firza tersadar. Ia menatap tangannya sendiri yang sejak tadi tak berhenti merapikan tali tas itu. Sesaat kemudian, pandangan mereka bertemu … dan tanpa perlu alasan yang jelas, keduanya tertawa.

Sejenak, mereka seperti melupakan riuh yang mengelilingi. Padahal sejak tadi, tiga pemuda sudah bergantian keluar-masuk bangkai pesawat, memastikan kebenaran ucapan Mike. Setiap kali keluar, wajah mereka berubah—tegang, pucat, dan menyisakan sesuatu yang tak ingin diucapkan. Tak satu pun membuka mulut. Mereka hanya saling bertukar pandang sebelum akhirnya berkumpul di dekat Saida, berbisik pelan, seolah takut suara mereka sendiri akan memancing sesuatu.

Kini, mereka jadi satu kelompok. Saida tampak sudah menemukan tempatnya—bersandar pada kehadiran tiga pemuda itu, yang juga terlihat tak keberatan menerimanya di antara mereka.

Sementara itu, yang lain mulai mengambil posisi masing-masing. Mencari sudut ternyaman versi mereka sendiri, menaruh barang-barang di tempat yang mudah dijangkau—seperti orang-orang yang diam-diam bersiap kalau sesuatu terjadi lagi.

Shena dan Firza duduk menghadap langsung ke arah pesawat. Di sisi kanan mereka, tiga pemuda dan Saida masih saling merapat dalam lingkaran kecil. Di sisi kiri, dua pria asing duduk menyamping, tubuh mereka setengah menghadap pesawat, setengah lagi seperti ingin menjauh. Tak jauh dari sana, sepasang suami-istri tampak sibuk dengan dunia mereka sendiri—si suami merapikan alas duduk, memastikan istrinya nyaman, sementara percakapan pelan dalam bahasa Mandarin sesekali terdengar seperti bisikan yang tak bisa dipahami siapa pun.

Firza memperhatikan sekeliling sebentar, lalu berdiri. Tanpa banyak kata, ia melangkah mendekati kelompok tiga pemuda itu. Dibanding dua pria asing di sisi lain, wajah-wajah ini terasa sedikit lebih familiar—atau mungkin hanya karena mereka terlihat lebih … manusiawi untuk diajak bicara.

“Apa yang terjadi di dalam?” tanya Firza, kepalanya sedikit miring ke arah bangkai pesawat.

Hilmi mendekat, suaranya diturunkan.
 “Tidak ada jenazah sama sekali. Benar-benar tidak ada. Hanya potongan tubuh penumpang yang masih terjepit—kaki, tangan…” Ia berhenti sejenak, menelan ludah.

“Semuanya terlihat seperti dipotong dengan rapi. Seolah ada yang sengaja memisahkan bagian-bagian itu, lalu membawa pergi bagian tubuh yang bisa diambil.”

Saida yang mendengar langsung menutup mulutnya, wajahnya memucat.

Chris mengangguk, lalu menimpali, “Ya, ini jelas perbuatan seseorang … bukan sesuatu. Kita tidak tahu berapa banyak mereka sampai bisa mengangkut semua tubuh itu. Aku bahkan hampir muntah saat melihatnya.” Ia mengusap wajahnya berkali-kali, seakan ingin menghapus bayangan mengerikan yang masih melekat di kepalanya.

Firza terdiam sejenak, rahangnya mengeras.
 “Makhluk gila apa yang tinggal di hutan ini,” gumamnya pelan. “Tapi kemarin waktu kita dikejar, mereka berhenti pas kita hampir sampai ke sini. Kenapa mereka berhenti?” Ia mengangkat pandangannya. “Yang jelas … mereka tidak sendirian. Ada beberapa.”

Hilmi dan Chris saling pandang, lalu mengangguk setuju.

Tiba-tiba Adly seperti tersentak.
 “Api. Semalam saya menyalakan api dari ranting pohon. Bisa jadi mereka takut api…atau mungkin karena kita banyak?”

Firza langsung menggeleng pelan.
 “Kalau soal api, masuk akal,” katanya. “Tapi kalau karena kita ramai…aku nggak yakin. Mereka juga banyak. Dan kita?” Ia melirik sekeliling—orang-orang terluka, lelah, tak siap melawan. “Kita bukan ancaman buat mereka.”

Suasana kembali hening, lebih berat dari sebelumnya.

“Malam ini api nggak boleh mati,” lanjut Firza. “Korek ada berapa?"

Adly mengeluarkan korek api gas sederhana. Cairannya masih tampak cukup. “Hanya satu.”

Firza mengangguk, tatapannya tajam.
 “Jangan sampai basah. Apalagi hilang. Hidup kita sekarang…bergantung sama benda kecil itu."

Adly mengangguk serius sebelum menyimpannya kembali dengan hati-hati.

Seolah tak ingin terus membahas kemungkinan buruk yang menunggu malam nanti, mereka mulai mengeluarkan jatah roti masing-masing. Roti itu sudah mengeras, tapi masih bisa dimakan.

Hilmi berdiri, membagikan roti yang ia bawa kepada pasangan suami-istri dan dua pria asing. Kedua pria itu menolak halus—mereka masih memiliki persediaan sendiri. Sementara pasangan suami-istri itu menerima secukupnya, dengan anggukan kecil penuh terima kasih.

Ada kesepakatan yang lahir tanpa perlu diucapkan; mereka harus menghemat persediaan makanan dan air. Firza dan Shena pun menolak roti yang ditawarkan Hilmi; mereka masih punya simpanan sendiri.

Pria dari pasangan yang sedang berbulan madu itu berdiri lebih dulu, mengumpulkan ranting-ranting kering di sekitarnya, lalu menumpuknya di tengah lingkaran. Satu per satu, yang lain ikut bergerak. Firza termasuk di antaranya. Tanpa banyak kata, mereka bekerja dalam ritme yang sama seolah naluri bertahan hidup menyatukan mereka lebih cepat daripada rasa saling percaya.

Dalam diam, Firza memanjatkan doa. Semoga mereka tidak perlu melewati banyak malam di tempat ini.

Pagi datang cepat. Dan anehnya, di balik ancaman makhluk tak dikenal yang mungkin mengintai di antara pepohonan, hutan itu tampak … tenang. Terlalu tenang. Tanahnya lembap tanpa terasa basah, udara dingin membelai kulit tanpa menyakitkan.

Pepohonan menjulang tinggi dengan batang ramping, tumbuh berjauhan seolah memberi ruang bagi cahaya untuk turun perlahan ke tanah. Di sela-sela itu, suara burung terdengar sayup, indah, hampir menenangkan … sampai sesekali nada mereka berubah, memantul dalam sunyi, dan terasa ganjil. Seperti peringatan yang tak sepenuhnya bisa dipahami.

*****

Sementara itu, tim pencari dari pemerintah setempat mulai memasuki kawasan hutan. Mereka bergerak dalam delapan kelompok, menyebar dari berbagai arah yang telah ditentukan. Setiap kelompok berisi lima orang, dipimpin oleh anggota paling senior di antara mereka.

Dengan perlengkapan lengkap dan rencana yang tersusun rapi, mereka menyusuri jalur yang membentuk lingkaran luas perlahan menutup ruang di sekitar titik jatuhnya pesawat. Seperti sebuah kepungan yang senyap namun pasti, langkah-langkah mereka membawa satu tujuan yang sama: menemukan apa yang tersisa … sebelum sesuatu yang lain menemukannya lebih dulu.

*****

Firza duduk di samping Shena, matanya terpejam sambil memijat bahunya yang terasa pegal. Jarak mereka cukup dekat—cukup untuk membuatnya mendengar suara halus dari perut Shena yang seperti sedang protes pelan.

Ia menoleh.
“Kamu masih lapar?”

Shena nyengir tipis.
“Nggak laper, cuma kangen nasi.”

Firza memperhatikannya beberapa detik. Gerakan kaki Shena yang sejak tadi gelisah, bergantian menekuk, tak luput dari perhatiannya. “Kamu kenapa?” alisnya terangkat sedikit. “Kebelet?”

Shena langsung menoleh tajam, hampir kesal.
“Peka banget, sih kamu,” gumamnya pelan, lalu menghela napas. “Iya…aku kebelet pipis. Tapi malu kalau kamu yang nemenin. Pergi sendiri juga takut."

Nada suaranya terdengar memelas, membuat Firza tak bisa menahan senyum kecil. “Udah, nggak apa-apa. Aku nggak bakal lihat,” katanya ringan. “Dan lebih bahaya kalau kamu sendirian.”

Tanpa banyak bicara lagi, Firza membantu Shena berdiri, menopang tubuhnya dengan hati-hati. Lengan Shena melingkar di pinggangnya, dan tanpa sadar perempuan itu malah teringat kalimatnya barusan—aku nggak bakal lihat—yang entah kenapa terasa sedikit menggelitik.

Mereka berjalan menjauh dari kelompok, pelan dan tertatih. Firza membawanya ke bagian belakang pesawat, cukup jauh dari pandangan yang lain. Setelah itu, ia melepaskan Shena dan melangkah menjauh, memunggunginya.

“Jangan lama-lama ya,” ucapnya, matanya menghadap ke depan, memberi ruang sepenuhnya.

Shena bergerak cepat, menuntaskan rasa tak nyaman yang sudah ditahannya sejak malam. Begitu selesai dan merapikan kembali pakaiannya, ia baru saja hendak memanggil Firza ketika—

Langkah kaki.

Dari arah belakangnya.

Pelan. Jelas. Bukan langkah Firza.

Shena membeku. Napasnya tertahan. Hanya sekilas tapi cukup untuk menangkap bayangan seseorang lewat di antara pepohonan. Pakaian itu … terasa familiar.

“Fir…,” bisiknya cepat, nyaris tanpa suara. “Firza.”

Firza langsung menoleh dan mendekat.

Shena menunjuk ke arah itu, matanya melebar.
 “Itu…Hana. Itu kayak baju Hana. Ayo kita lihat.”

Tanpa menunggu jawaban, Shena menarik tangan Firza, langkahnya terpincang tapi dipenuhi dorongan yang tiba-tiba mengalahkan rasa takutnya. Mereka mendekat perlahan.

Di depan sana, sosok itu tidak sendiri.

Ia berdiri…bersama seseorang. Dan mereka tampak sedang berbicara.

Beberapa langkah lagi—dan semuanya akan terlihat jelas.

Lalu … Shena dan Firza sama-sama membeku dengan mata terbelalak, napas tertahan di tenggorokan. Refleks, Firza menarik Shena ke balik batang pohon, menutup tubuh perempuan itu dengan tubuhnya.

Sosok yang mereka lihat bukan Hana.


Itu hanya ... makhluk yang terlihat seperti seorang perempuan yang mengenakan pakaian Hana.

Rambut perempuan itu terjalin kusut, dipilin dengan akar-akar pohon seperti anyaman liar yang tak pernah disentuh tangan manusia. Di sampingnya berdiri dua sosok lain dengan tubuh yang lebih besar, pakaian compang-camping, dari bentuknya jelas laki-laki.

Keduanya menggenggam senjata; tajam, kasar, seperti dibuat dari sesuatu yang tidak seharusnya dijadikan senjata.

Mata mereka membuat napas Shena tercekat. Selaput putih mendominasi, hampir tak menyisakan warna hitam. Kulit mereka gelap, namun pucat dengan cara yang tak wajar. Dan ketika mereka membuka mulut untuk berbicara bahasa yang keluar terdengar asing, terputus-putus, seperti suara yang belum selesai menjadi kata.

Shena mencoba memaksa matanya tetap terbuka. Tapi detik berikutnya, tubuhnya bergetar.

Di tangan salah satu dari mereka—sebuah kaki manusia.

Terpotong dari pangkal paha.

Ukuran itu … jelas milik seorang pria.

Dunia seperti runtuh di sekelilingnya. Air mata Shena jatuh tanpa suara, lututnya melemah. Rasa mual naik begitu cepat, menyesakkan dada.

Kakinya mundur selangkah—refleks, tanpa sadar.

Krak.

Ranting kering patah di bawah telapak kakinya.

Suara itu terlalu keras.

Terlalu jelas.

Perempuan berambut akar itu langsung menoleh. Tatapannya mengarah lurus ke pohon tempat mereka bersembunyi.

Firza tak berpikir dua kali. Ia menarik Shena lebih dekat, memeluknya erat, menempelkan tubuh perempuan itu ke dadanya seolah ingin menyatukannya dengan dirinya.

Shena gemetar dalam pelukan Firza. Air matanya mengalir, bibirnya bergetar tak terkendali.

Dan Firza … menciumnya.

Ciuman itu datang tiba-tiba … panjang, dalam, seperti sesuatu yang lahir dari ketakutan yang tak lagi bisa ditahan. Ia menahan Shena di sana, dalam pelukannya, dalam ciumannya seolah dunia di luar mereka berhenti ada.

Ia bahkan tak berani menoleh. Tak berani memastikan apakah tiga makhluk itu sudah melihat mereka … atau sedang berjalan mendekat.

Napas Shena memburu di dadanya. Tubuh perempuan itu bergetar, tapi perlahan membalas. Tangan Shena melingkar di tubuhnya, jemarinya mencengkeram punggungnya, naik ke leher, ke pipinya…seolah ia adalah satu-satunya hal nyata yang tersisa.

Dalam kepalanya, Firza berbisik seperti doa yang dipaksakan untuk tetap hidup.

Kalau ini benar-benar akhir…aku nggak akan nyesel.
Aku ketemu kamu di sini.
Rasa takut ini… waktu yang kita lewatin bareng bakal jadi sesuatu yang nggak akan hilang.
Semoga kita masih dikasih waktu, Shen ….
Semoga suatu hari aku bisa bilang kalau dokter yang dulu nemenin kamu di lorong rumah sakit, waktu ayah kamu pergi … itu aku.

Langkah kaki.

Pelan.

Mendekat.

Tanah berderak halus di bawah pijakan mereka.

Firza memperdalam ciumannya, seolah itu satu-satunya cara untuk menahan dunia agar tidak runtuh saat itu juga. Napas mereka saling berburu, bercampur dalam jarak yang nyaris tak ada.

Di luar sana … bahaya semakin dekat.

Dan di balik pohon itu—mereka memilih menutup mata.

To Be Continued

1
Tami Andriani
belum kerasa kehilangan tu bang pirja
Tami Andriani
hh... rindu emang gelap
Tami Andriani
risa terlalu seloww
Tami Andriani
sedihhhh
Tami Andriani
sabar mb shen
Tami Andriani
part sedih menurut q
Tami Andriani
selalu luar biasa karya kak njus... debest pokoknya
baca ini sudah ke 3 kalinya 😍😍
Tami Andriani
💪
kusgrisela
baru selesai baca yg kedua kalinya ,tapi kangen mereka dan pingin baca tambahan part nya
kusgrisela
aku baca ulang sudah yg ke 3 ini ,,,,gara" liat story' IG nya Njus jadi terlope lope sama kang pirja dan teh Shena lagi 😍😄
𝙌𝙤𝙧𝙞𝙨𝙮𝙖
bagus banget cerita nya,,bikin degdegan🤭
𝙌𝙤𝙧𝙞𝙨𝙮𝙖
tegang banget baca nya🤭
Alesha Binara
ini baca yang kesekian kian kian kali .. kakkk .. novel kakak ini . walaupun serem , komedi , romantis tetap aja bikin pembaca "kebawa"
sri wahyuni
sangat menarik
kejora
aku tuh dah baca Shena&Firza berkali-kali, tapi pas baca part ini mesti tetep nangis😭😭😭
kusgrisela
setelah sekian lama akhirnya baca lagi novel ini kangen sama seina dan mas farzah 😍
Chrisentia Irene
baca ke2xnya..njusss
Puti Suparni
Bagussss sekaliiii, Syukaaaa dg Karakter Abang Firza dan Shenaaa..k
ceritanya kerennn💜💜
Puti Suparni
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜 Abang Firza
M.W wulan
wah keren pake banget ,,cerita2 dr author kak juskelapa emang gak ada lawan ...
feel nyaa dapet ,,disegala adegan suasana dan kondisi tuh ngena ,,komedi nya juga wih bikin ngakak .padahal cuman celetukan tapi gong banget ,,romance nyaa dapet meski gak segamblang novel 21+ lain tp manis nya tuh kebangetan .alurnya gak bertele2,,konfliknya berdamage gak menye2
udah pokok nya TOP BGT ,,kalo d jabarin kepanjangan 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!