Sejak kecil Husnan hanya memiliki satu impian: membahagiakan ibunya. Demi adiknya, ia rela kehilangan segalanya, bahkan harus berpisah dengan keluarga yang dicintainya. Bertahun-tahun kemudian ia kembali sebagai pria sukses. Namun yang menunggunya bukanlah pelukan hangat, melainkan seorang adik yang telah menjadi anak durhaka dan seorang ibu yang telah terlalu lama menangis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cuek Tapi Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Telepon misterius
Keesokan paginya, Husnan kembali bersiap untuk berangkat ke sekolah.
Setelah selesai sarapan, ia mengambil tas yang sudah diletakkan di dekat tangga.
“Om, aku berangkat dulu.”
Hendra yang sedang duduk di ruang makan langsung menoleh.
“Iya, Hus. Hati-hati di jalan ya.”
Husnan mengangguk.
“Pak Bambang sudah siap?”
“Sudah menunggu di depan,om.”
Husnan kemudian berjalan keluar rumah.
Pak Bambang sudah berdiri di samping mobil.
“Ayo, Hus.”
“Iya, Pak.”
Husnan masuk ke dalam mobil.
Setelah Pak Bambang masuk dan menyalakan mesin, mobil perlahan meninggalkan halaman rumah.
Sepanjang perjalanan, Husnan lebih banyak diam.
Pak Bambang beberapa kali melihatnya melalui kaca spion.
“Hus.”
“Iya, Pak?”
“Kamu masih memikirkan yang kamu lihat kemarin?”
Husnan terdiam sebentar.
“Iya, pak”
“Yang mana?”
“Orang yang ada di dalam mobil itu.”
Pak Bambang langsung kembali melihat jalan.
“Kenapa?”
“Aku merasa pernah melihatnya.”
“Mungkin kamu salah lihat.”
“Enggak tahu, Pak.”
Husnan kemudian kembali melihat keluar jendela.
“Pak.”
“Iya?”
“Bapak benar-benar tidak mengenal bosnya Pak Arman?”
Pak Bambang terdiam.
“Kenapa kamu bertanya lagi?”
“Karena setiap kali aku bertanya tentang dia, semua orang seperti menghindar.”
Pak Bambang menarik napas.
“Tidak semua hal harus kamu pikirkan sekarang.”
“Tapi kalau memang tidak ada masalah, kenapa harus disembunyikan?,aku capek pak”
Pak Bambang tidak menjawab.
Husnan akhirnya memilih diam.
Beberapa menit kemudian, mobil sudah sampai di depan sekolah.
Pak Bambang menghentikan mobil.
“Sudah sampai.”
Husnan membuka pintu.
“Terima kasih, Pak.”
“Iya. Belajar yang rajin.”
Husnan turun dan berjalan menuju gerbang sekolah.
Sebelum masuk, ia sempat menoleh ke belakang.
Mobil Pak Bambang masih berada di sana.
Husnan kemudian masuk ke sekolah.
Sesampainya di dalam kelas, Fajar sudah ada disana yang sedang duduk di bangkunya.
Begitu melihat Husnan, ia langsung melambaikan tangan.
“Hus!”
Husnan menghampirinya.
“Pagi, Jar.”
“Pagi. Kamu kok cemberut mukanya?”
“Enggak apa-apa.”
Fajar memperhatikan wajah Husnan.
“Masih kepikiran kejadian kemarin?”
Husnan langsung menoleh.
“Kok kamu tahu?”
“ya tahu lah,kelihatan dari wajahmu.”
Husnan kemudian duduk.
“Jar.”
“Iya?”
“Menurutmu kalau seseorang sedang mencari keluarganya yang sudah lama hilang, kenapa dia sampai datang ke tempat orang lain?”
Fajar berpikir sebentar.
“Mungkin karena dia mendapatkan petunjuk.”
“Petunjuk?”
“Iya. Kalau enggak punya petunjuk, buat apa dia datang?”
Husnan terdiam.
Ucapan Fajar membuatnya kembali mengingat perkataan Arman.
Dia sedang mencari keluarganya.
Husnan kemudian bertanya,
“Kalau petunjuknya salah?”
“Ya berarti dia mencari orang yang salah.”
Ferdi yang sejak tadi mendengarkan tiba-tiba ikut menyahut.
“Kenapa kalian pagi-pagi begini sudah ribut?”
Fajar menoleh.
“Kita lagi ngomongin sesuatu yang sangat serius”
“Apaan sih?”
“Rahasia.”
Ferdi langsung mendekat.
“Wah, kalau rahasia aku harus tahu.”
Husnan tertawa kecil.
“Kepo banget kau nih”
Ferdi menatap Husnan dengan sekilas.
“Memangnya kenapa Kalau aku kepo.”
“Ya gak apa-apa.”
“Ya sudah aku mau tahu juga?”
Husnan tidak menjawab.
Tidak lama kemudian, Bu Guru masuk membawa beberapa buku.
“Selamat pagi, anak-anak.”
“Pagi, Bu.”
“Sudah siap belajar?”
“Siap, Bu.”
Pelajaran pun dimulai.
Husnan mencoba memperhatikan papan tulis.
Namun pikirannya masih tidak fokus.
Ia terus memikirkan satu hal yang membuatnya merasa ia yang dituju.
Siapa sebenarnya pria yang menjadi bosnya Arman?
Beberapa menit kemudian, Bu Guru meminta semua murid mengerjakan tugas.
Husnan membuka bukunya.
Husnan masih duduk di bangkunya sambil memperhatikan buku pelajaran.
Namun pikirannya masih tertuju pada kejadian kemarin pagi.
Wajah pria yang berada di dalam mobil itu terus muncul di pikirannya.
“Aku yakin pernah melihatnya,” gumam Husnan pelan.
“Hus.”
Husnan langsung menoleh.
Fajar berdiri di samping mejanya.
“Kenapa?”
“Kamu dari tadi bengong terus.”
“Enggak apa-apa, Jar.”
“Masih mikirin orang yang kemarin?”
Husnan mengangguk pelan.
“Iya.”
Sebelum Fajar melanjutkan pertanyaan, Bu Guru yang sedang duduk di depan kelas tiba-tiba memanggil.
“Husnan.”
Husnan langsung menoleh.
“Iya, Bu?”
“Tolong ikut Ibu ke ruang guru sebentar.”
“Sekarang, Bu?”
“Iya.”
Husnan berdiri dari kursinya.
Fajar langsung melihatnya dengan penasaran.
“Emangnya kamu dipanggil kenapa?”
“Aku juga enggak tahu.”
Husnan kemudian mengikuti Bu Guru keluar dari kelas.
Mereka berjalan melewati lorong sekolah menuju ke ruang guru.
Sesampainya di depan pintu, Bu Guru membukanya.
“Masuk, Hus.”
Husnan masuk dan melihat beberapa guru sedang sibuk dengan pekerjaan mereka.
Bu Guru kemudian mengambil sebuah buku dari atas meja.
“Ibu mau memastikan sesuatu.”
“Apa, Bu?”
“Ibu tadi menerima telepon dari seseorang.”
Husnan mengerutkan dahi.
“Telepon siapa?”
“Orang yang mengaku pernah merawatmu saat kecil”
Husnan langsung terdiam.
“Orangnya laki laki atau perempuan?”
“laki laki.”
Bu Guru membuka buku catatannya.
“Orang itu tidak menyebutkan banyak hal. Dia hanya bertanya apakah benar kamu sekolah di sini.”
Husnan semakin bingung.
“Terus Ibu jawab apa?”
“Ibu bilang iya, tetapi Ibu tidak memberikan informasi lain.”
Husnan mengangguk.
“Orangnya siapa, Bu?”
“Ibu tidak tahu. Nomornya juga tidak tersimpan.”
Husnan terdiam.
Sekarang pikirannya kembali kepada pria di dalam mobil.
“Bu.”
“Iya?”
“Teleponnya tadi pagi?”
“Bukan. Sekitar sebelum jam pelajaran dimulai.”
Husnan semakin penasaran.
“Dia bilang apa lagi?”
“Tidak banyak. Hanya bilang ada urusan keluarga yang berkaitan denganmu.”
Husnan langsung mengerutkan dahinya.
“Urusan keluarga?”
“Iya.”
Bu Guru kemudian menatap Husnan.
“Kamu tahu siapa orangnya?”
Husnan menggeleng.
“Enggak, Bu.”
“Kalau begitu jangan dipikirkan terlalu jauh. Kalau ada orang yang ingin bertemu denganmu, sebaiknya melalui pihak sekolah dan orang dewasa yang bertanggung jawab atasmu.”
“Iya, Bu.”
Husnan kemudian berdiri.
“Kalau begitu saya kembali ke kelas?”
“Iya. Dan Husnan...”
Husnan berhenti di depan pintu.
“Kalau ada orang asing yang mencari kamu di sekolah, jangan langsung pergi bersamanya. Laporkan ke guru.”
Husnan mengangguk.
“Baik, Bu.”
Ia keluar dari ruang guru.
Namun baru beberapa langkah berjalan, Husnan berhenti.
“Urusan keluarga...”
Ia mulai mengingat perkataan Arman kemarin.
Bosnya sedang mencari keluarganya.
Kemudian ia teringat pria yang berada di dalam mobil.
“Jangan-jangan...”
Husnan tidak melanjutkan pikirannya.
Ia segera kembali menuju kelas.
Di dalam kelas, Fajar langsung bertanya.
“Dipanggil karena apa?”
Husnan duduk di kursinya.
“Ada orang yang menelepon sekolah.”
“Siapa?”
“Enggak tahu.”
“Ngomong apa?”
Husnan menatap Fajar.
“Dia menanyakan tentang aku.”
Fajar langsung terdiam.
Ferdi yang sedang duduk di belakang mereka ikut mendengar.
“Serius?”
Husnan mengangguk.
“Katanya urusannya berkaitan dengan keluarga.”
Suasana mereka langsung berubah.
Naura ikut menoleh.
“Keluarga kamu?”
Husnan tidak menjawab.
Ia hanya menatap buku di depannya.
Namun dalam pikirannya, sebuah dugaan mulai muncul.
Orang yang berada di dalam mobil kemarin pagi mungkin tidak datang secara kebetulan.
Dan kalau benar begitu, berarti seseorang sudah mulai mencari Husnan dari jauh.
Yang belum Husnan ketahui, telepon ke sekolah tadi bukan dilakukan oleh pria yang berada di dalam mobil.
Melainkan oleh seseorang yang selama ini bekerja untuknya.
Dan orang itu baru saja menerima satu pesan.
“Jangan hubungi sekolah lagi. Sekarang cukup pantau Husnan.”
Pria itu membaca pesan tersebut beberapa kali.
Kemudian ia membalas singkat.
“Baik, Pak.”
Di tempat lain, sebuah mobil masih terparkir jauh dari sekolah.
Seseorang duduk di dalamnya sambil memperhatikan gerbang sekolah.
Ia tidak berniat masuk.
Ia hanya menunggu.
Karena untuk saat ini, melihat Husnan dari kejauhan sudah cukup.