Cerita ini hanya fiksi semata, hanya halu author.
Cerita ini, terispirasi dari curhatan-curhatan seorang ibu yang merasa lukanya terabaikan, lelahnya tak terlihat, dan sakitnya yang dianggap sepele, diselingkuhin pula.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Illana Clr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melanjutkan Hidup
Sebulan berlalu.
Kehidupan Alana berangsur membaik.
Cia tumbuh ceria. Tawanya mengisi setiap sudut apartemen kecil mereka.
Tapi tetap saja, sesekali Cia mencari sosok ayahnya.
“papah... mah?” celoteh Cia sambil menunjuk pintu.
Alana langsung berjongkok, mengusap pipi anaknya.
“Papa lagi kerja, sayang. Cia sama Mama dulu ya. Nanti kita video call papa, mau?”
Cia mengangguk. Polos. Seolah mengerti. Lalu berlari lagi mengejar bolanya.
Sore itu, Alana memberanikan diri. Ia mengetik pesan untuk Johan.
*"Cia nyariin kamu. Kalau nggak sibuk, luangin waktu buat Cia ya."*
Pesan terkirim. Centang dua.
Tapi tidak ada balasan.
Alana menghela napas. Ia meletakkan ponselnya. Tidak berharap.
---
Sementara itu, di apartemen kecil yang berantakan.
Johan dan Safa masih terbaring di bawah selimut tebal, setelah melampiaskan hasrat yang menumpuk.
Semenjak Johan bercerai dengan Alana, Safa dan Johan tinggal bersama diapartement Safa.
Karir keduanya hancur, tabungan menipis tapi mereka seolah tidak peduli.
Johan mengusap rambut Safa.
“Gak ada yang bisa pisahin kita lagi, sayang.”
Safa tersenyum malas. “Kenapa nggak dari dulu kita begini ya?”
“Siapa yang tau, sayang. Hidup ke depan kita juga nggak ada yang tau,” jawab Johan pelan. “Kita bikin usaha kecil-kecilan aja ya. Buat nyambung hidup.”
Safa mengangguk, lalu memeluk Johan erat.
“Janji jangan ninggalin aku lagi.”
Ponsel Johan bergetar di atas meja. Nama “Alana” muncul di layar.
Tapi tak satu pun dari mereka peduli.
---
Di sisi lain kota, angin sore berhembus lembut.
Alana mendorong stroller.
“Wah, anak Mama cantik banget. Udah siap jalan-jalan?”
Cia tertawa, menendang-nendangkan kakinya semangat.
Di taman apartemen, Alana menurunkan Cia dari stroller. Membiarkan kaki kecil itu belajar melangkah di atas rumput.
Tidak ada Johan hanya ada Alana, Cia, dan matahari sore yang hangat.
Untuk pertama kalinya, Alana merasa... bebas.
---
Alana tersenyum melihat Cia yang sudah mulai lancar berjalan.
Meski masih oleng. Meski masih sering terjatuh.
“Gapapa Cia, nggak usah nangis. Ayo jalan lagi, sayang,” bujuk Alana sambil mengulurkan tangan.
Cia merengek. Hampir menangis.
Tiba-tiba matanya berbinar. Ia menunjuk ke arah depan.
“Pah... pah...”
Cia langsung merangkak cepat menghampiri seorang pria berkacamata dengan topi hitam yang sedang duduk di bangku taman.
Alana buru-buru mengejar.
“Cia, itu bukan papa, sayang.”
Tapi Cia tidak mendengar. Ia sudah sampai di depan pria itu dan mengulurkan tangan.
“Papa....”
Pria itu menoleh. Senyum tipisnya luruh saat melihat Cia.
Alana langsung menunduk, menahan malu.
“Maaf ya mas. Anak saya...”
Cia malah menangis histeris saat Alana menggendongnya menjauh.
Pria itu berdiri. Menghampiri mereka.
“Mbak, maaf. Boleh saya gendong adiknya?”
Cia langsung mengulurkan tangan. Tanpa ragu,
tanpa basa-basi, pria itu menggendong Cia dengan sangat hati-hati.
Alana salah tingkah.
“Maaf ya mas. Anak saya bikin risih.”
Pria itu menggeleng. Matanya melembut menatap Cia.
“Nggak apa-apa. Mungkin kalau anak saya masih hidup, seumuran adik ini juga.”
Dada Alana tercekat.
“Oh iya, nama saya Rafa. Nggak usah panggil mas. Kita seumuran kayaknya,” ujar pria itu sambil mengulurkan tangan.
Alana menyambutnya. Jabatannya hangat.
“Alana.”
“Adik ini namanya siapa?” tanya Rafa sambil mencubit gemas pipi Cia.
“Pricilla. Tapi panggil Cia aja.”
Rafa terdiam sebentar. Lalu menarik napas pelan.
“Istri saya meninggal tepat setelah melahirkan anak pertama kami. Dan tak lama... anaknya juga menyusul. Meninggalkan saya sendirian.”
Hening.
"Saya turut berduka cita mas". Dadanya ikut sesak.
Mereka pun mengobrol. Duduk di bangku taman.
Rafa menggendong Cia. Alana duduk di sampingnya.
Dari jauh mereka terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia.
Padahal masing-masing membawa luka. Masing-masing punya cerita.
Tapi sore itu, untuk sesaat... semuanya terasa ringan.
---