Elza adalah seorang gadis berumur 27 tahun yang dijodohkan dengan pria yang lebih muda 3 tahun di darinya, karena paksaan dari kedua orang tua, Elza tak dapat menolak perjodohan tersebut.
"What?! Apa dia calon suamiku?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andi Putri Yasmin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemesraan
Malam pun tiba, aku dan Devan tidak melakukan apa-apa selain bersantai di rumah Mama Devan. Aku yang sibuk menonton kartun Spongebob dan dia sibuk dengan laptopnya. Mungkin dia mengecek perusahaannya.
"Assalamu'alaikum." Salam seseorang yang kuyakini adalah suara Ayah mertuaku. Langsung saja aku ke depan untuk menyambut beliau.
"Waalaikumsalam, Papa," jawabku dengan senyuman.
"Eh, ada Nak Elza. Sejak kapan di sini, Sayang?" tanya Papa sembari mengacak rambutku sekilas.
"Dari tadi siang, Pa," jawabku seadanya.
"Oh, kalau gitu Papa masuk dulu ya, mau bersihin diri," ujar Papa pamit yang kubalas dengan anggukan.
Setelahnya aku kembali lagi ke tempat semula aku menonton. Sedangkan Mama dia masih ada di dapur menyiapkan makan malam. Tadinya aku ingin membantu, tapi beliau melarang katanya sudah ada Bi Imah yang bantuin. Jadi, aku gak usah bantuin. Aku hanya mengangguk patuh mendengarnya. Memang sih, kalau di rumah, Mama juga ngelarang aku buat ke dapur, padahal aku jago masak lho terbukti aku punya resto, menu yang disajikannya gak main-main.
Kulirik Devan sekilas dia masih fokus pada pekerjaannya. Aku menghampiri Devan, aku mau mengganggunya, sapa suruh cuek banget.
"Ehem." Aku berdehem untuk menarik perhatiannya.
Kulihat Devan melirikku sekilas dan kembali fokus ke laptopnya. Hu, awas aja, cuek banget sih ni bocil.
"Cil, angkat tangan kamu bentar," pintaku padanya. Dia tampak heran, tapi tetap melaksanakannya.
"Kamu mau apa?" tanyanya bingung.
Aku hanya diam saja, kemudian mendekat ke tempat Devan dan langsung duduk di pangkuannya sembari memeluk leher Devan.
Mau bermesra-mesraan sama suami dulu.

"Kamu fokus aja kerjanya, cuman mau peluk aja," jawabku masih memeluknya.
Pada akhirnya Devan kembali fokus ke laptopnya entah apa yang ia kerjakan.
***
Saat aku sedang fokus pada laptopku, Elza kemudian menghampiri, dia menyuruhku untuk mengangkat kedua tanganku. Entah apa maksudnya aku tidak tahu, tapi tetap menuruti keinginannya. Ternyata dia duduk di pangkuan ku dan memeluk leherku. Aku sempat terkejut, tapi hanya sesaat karena kutahu dia mungkin sedang lelah jadi dia ingin memelukku. Aku kembali fokus lagi ke pekerjaanku saat dia menyuruhku. Aku sedang memeriksa berkas yang dikirim oleh sekertaris ku, ini sangat penting jadi aku harus menyelesaikannya sebelum kami pergi besok untuk liburan. Biarlah mengajaknya liburan lebih awal, karena besok juga bertepatan dengan orang tua istriku pergi ke luar negeri untuk mengurus perusahaan mereka juga.
"Devan, Elza, yuk makan malam, Sayang." Perhatian ku teralihkan saat Mama datang menghampiri kami untuk makan malam. Malam ini kami akan bermalam di sini.
"Oh, iya Ma, Mama deluan aja biar aku bareng Elza," jawabku sembari tersenyum kecil. Mama hanya mengangguk kemudian berlalu dia tidak terlalu memperhatikan jika, seorang anak gadis kecil sedang memelukku dengan mesranya, siapa lagi jika bukan Elza- istriku.
"Za, Sayang. Bangun yuk, Mama udah panggil buat makan malam," bisikku tepat di telinganya.
"Eum," dehemnya pelan. Namun, dia tak bergerak sedikitpun.
"Kamu gak lapar?" tanyaku lembut sembari mengusap kepalanya pelan.
"Lapar," jawabnya lirih.
"Gendong, aku gak bisa jalan," tuturnya manja. Aku hanya mampu menggeleng. Ternyata di balik sikap galaknya dia juga manja.
Aku kemudian menggendongnya ala bridal style menuju ke meja makan. Elza menyembunyikan wajahnya di ceruk leherku jadi aku tak bisa melihat bagaimana ekspresinya sekarang ini.
Bi Imah dan beberapa pelayan hanya tersenyum simpul melihat aku yang menggendong Elza.
Setelah sampai di meja makan aku mendudukkan Elza di kursi kosong.
"Hy, Ma, Pa," sapa Elza dengan mata sedikit tertutup.
"Hy, Sayang. Sepertinya kamu sangat kelelahan ya?" tanya Papa sembari tersenyum aneh.
"Iya, Pa. Ini semua gara-gara Devan," jawab istriku yang membuat orang berpikiran lain terhadap kami. Dia masih berusaha tetap terjaga. Aku yakin dia sangat mengantuk.
Aku hanya diam saja, jika aku menyahut pasti mereka akan berpikiran lain lagi. Aku kemudian mengambilkan Elza makanan dan aku mengambilkan untuk diriku sendiri.
"Oh, seperti itu, Sayang. Kalau gitu sekarang kamu makan ya, sudah makan baru pergi istirahat," ujar Papa lagi dengan senyumannya.
"Iya, Pa," jawab Elza tersenyum. Sepertinya dia mulai sadar.
"Devan, kamu suapin istrimu. Sepertinya dia sangat lelah," pinta Mama kepadaku.
"Iya, aku capek banget. Kamu suapin ya, biar romantis gitu," sambungnya tidak tahu malu sembari menaik turun kan alisnya. Aku hanya memutar bola mata melihat ekspresinya dan tetap menjalankan perintah Mama.
Mama dan Papa hanya tersenyum saat melihat kemesraan kami, begitu mungkin menurut mereka. Mesrah. Mereka belum tahu saja jika istriku ini mempunyai kepribadian ganda, korban sinetron, parnoan. Untung aku bisa tahan dengan sikapnya, tapi dia adalah sosok yang penyayang dan perhatian. Tanpa aku sadari aku tersenyum tipis ke arahnya yang membuat istriku itu juga ikut tersenyum.
"Ian, sekarang giliran aku yang suapin kamu, aku udah kenyang," ujarnya tiba-tiba. Aku menaikkan alisku tanda tidak percaya. Apa dia ingin pamer kemesraan di depan Mama dan Papa?
"Duh, Pa. Mama gak sabar nhi mau punya cucu, kapan ya rumah ini dipenuhi dengan suara tangisan bayi," tutur Mama sembari melirik kami dengan pandangan menggoda.
"InsyaAllah secepatnya, Ma," jawabku enteng. Aku lihat Elza melotot ke arahku, dia seperti ingin melayangkan protes, tapi tidak bisa karena masih ada Mama dan Papa.
"Syukurlah," ujar mereka serempak.
"Iya, Ma. Kami bakalan kasih kalian cucu yang imut-imut," tambah istriku seraya tersenyum misterius entah hal aneh apalagi yang ia pikirkan.
"Baguslah, sekarang kalian makanlah," timpal Papa tersenyum cemerlang.
***
Setelah semalam packing keperluan yang akan kami bawa ke Bali nanti. Satu minggu lamanya kami akan liburan di sana. Karena aku hanya mampu mengambil cuti satu minggu, aku tidak bisa meninggalkan perusahaan ku begitu lama. Jadi, menurut ku ini waktu yang pas.
Hari ini, aku mengantarkan istriku ke rumahnya untuk bertemu dengan Mama dan Ayahnya. Aku sempat sedih juga, sewaktu istriku menangis karena dia tak akan melihat orang tuanya lagi dalam jangka waktu yang tidak di tentukan.
"Mama, Elza antar ke Bandara ya," tutur istriku dengan mata yang berkaca-kaca. Hidungnya sudah memerah karena habis menangis.
"Iya, Sayang. Ayo, kita ke Bandara," tutur Mama Sinta- Ibu mertuaku.
"Devan, jaga anak Ayah sama Mama ya, jangan biarkan dia menangis saat kami tidak ada," petuah Ayah padaku sembari menepuk bahu ini.
Kami pun bertolak ke Bandara Soekarno-Hatta untuk mengantarkan Mama dan Ayah mertuaku. Aku mengendarai mobilku dengan kecepatan sedang. Sedangkan Elza- istriku berada di jok belakang seraya memeluk Mama Sinta, sementara Ayah dia duduk di samping kemudi. Aku tahu, beliau juga berat untuk meninggalkan putri semata wayangnya, tapi hal penting tak bisa ia tunda. Walaupun beliau selalu bersikap tenang, tapi aku tahu beliau sedang bersedih.
Butuh waktu lima belas menit agar sampai di Bandara. Aku membantu mengeluarkan koper Mama dan Ayah. Mereka tersenyum padaku.
"Ma, hati-hati ya di sana, jangan lupa kabarin kalau udah sampai," ujar istriku sembari memeluk Mama Sinta.
"Iya, Sayang," jawab Mama Sinta sembari balas memeluk Elza.
Kini giliran Ayah yang ia peluk. Tangisnya teredam karena Elza menyembunyikan kepalanya di balik dada bidang sang Ayah.
Aku tidak ingin mengganggu kebersamaan mereka. Jadi, aku hanya mengamati interaksi istriku dan juga kedua orang tuanya yang terakhir kali, bukan untuk selamanya ya, mereka akan bertemu lagi setelah orang tua istriku kembali dari urusan mereka.
"Devan, sini, kamu gak mau peluk, Mama gitu," panggil Mama Sinta yang membuatku tersadar dari lamunan sesaat.
"Iya, Ma," jawabku sembari menghampiri ketiganya.
Mama memelukku sembari membisikkan untuk menjaga putri kecilnya yang kubalas anggukan mantap.
"Devan, Ayah dan Mama titip Elza ya, kamu harus sabar dengan sikapnya yang agak aneh dan sulit ditebak," ujar Ayah memberi petuah padaku. Kulihat Elza cemberut disebut aneh.
"Ayah kok buka aib sih?" tanyanya sedikit kesal.
"Ha ha, gak, Sayang. Supaya Devan tahu kekurangan dan kelebihan mu agar kalian dapat saling memahami," jawab Ayah bijak sembari terkekeh pelan.
Terdengar suara pengumuman dari salah satu pramugari, bahwa pesawat Indonesia-Newzeland akan segera berangkat.
"Sepertinya waktunya sudah tiba, kalau begitu kami pamit dulu, Sayang. Assalamu'alaikum. Jadi, istri yang baik ya," ujar Mama yang diangguki oleh ku dan juga Elza.
"Waalaikumsalam."
Elza melambai seiring perginya orang tuanya. Aku hanya tersenyum ketika untuk yang terakhir kali kedua mertuaku melambai.
"Za, ayo pulang. Kita mau siap-siap juga. Bukannya kamu mau ke Bali," ajakku padanya.
Dia hanya mengangguk lesuh sembari mengikuti langkahku. Aku terus menggenggam tangannya erat agar dia tidak hilang. Mungkin saja dia hilang dalam keadaannya yang seperti.
***
"Mbak, jangan ngaku-ngaku jadi istrinya Devan, Dia itu udah punya pacar cantik. Namanya laras."
Ya, Allah. Laras siapa lagi ini? Devan, aku membencimu. Tidak, Nindy, Amel, sekarang Laras lagi? Siapa shi Laras itu.
bisa gk sih torr critnya agk sdikit dipersingkt gtu gk diulang" jdi kurang seru gitu thorr critanya itu biar ringkas padat dan berisi gtu lho,,😊🙏
cepet temukan Elza dan Devan kak