NovelToon NovelToon
Kembalikan Anakku, Adinata

Kembalikan Anakku, Adinata

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: doubleareya

Copyright ©2026, Kembalikan Anakku, Adinata oleh Doubleareya.

Adinata Hardiyanto menikah dengan Nadine Ayunda bukan akibat perjodohan, accident atau kontrak semata, tapi karena rasa cinta untuk memiliki. Dari awal menikah orang tuanya selalu ikut campur dan tidak memberi akses untuk dirinya bisa memimpin keluarga kecilnya sendiri. Adinata tetap bersabar sampai ia harus kehilangan sang istri—Nadine Ayunda.

Nadine Ayunda memilih berpisah dengan sang suami—Adinata Hardiyanto yang hidupnya selalu disetir oleh sang mertua. Nadine pergi dengan membawa sang buah hati yang dikandung di perutnya.

Tapi jika memang sudah digariskan oleh takdir, sejauh apapun langkah membawa, ia pasti akan kembali menjadi satu lagi. Untuk kembali artinya perlu dijemput, apakah Adinata bisa menjemput istrinya kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon doubleareya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. Di pinggir sungai kecil

“Nad, kemarin aku tidak sempat bertanya denganmu.”

Nadine menatap Andin yang berjalan di sebelahnya. “Sekarang kamu boleh bertanya, An.” Nadine memberi tawa kecil di akhir ucapannya.

“Kamu benar-benar percaya dengan ucapan dokter kemarin, Nad?” tanya Andin. “Kata kamu ‘kan dia sahabat Adinata. Apa iya dia benar-benar membantumu?”

Nadine menghembuskan napasnya. “Seharusnya dia benar-benar membantuku, tapi entahlah kalau dia tidak benar-benar membantuku. Lagipula apa yang akan Adinata lakukan kalau dia tahu bahwa aku hamil, An.”

“Bisa saja dia datang kesini dan menjemputmu, Nad.”

Nadine menggelengkan kepalanya. “Aku bercerai dengannya ‘kan karena aku ingin melindungi anakku dari keluarganya yang toxic, An.”

Nadine tertawa kecil. “Susah payah aku keluar dari rumah itu, gila saja kalau aku harus kembali masuk ke dalam sana.”

Andin memegang lengan Nadine dan mengajaknya bergabung dengan beberapa anak yang sedang mandi di sungai kecil di tengah persawahan yang tidak jauh dari rumah Andin.

“Duduk di pinggir sini, Nad. Kebetulan airnya masih bersih dan segar.” Andin tersenyum lebar.

Andin duduk terlebih dahulu dan Nadine menyusul duduk di sebelah Andin.

“Masukkan kakimu ke dalam air, Nad. Seperti kakiku.”

Nadine menatap Andin. “Tidak apa-apa kah?”

Andin tertawa. “Tidak apa-apa, Nadine. Lihat anak-anak itu. Mereka bahkan berenang di air ini. Kalau saja kamu tidak sedang hamil, aku akan mengajakmu bergabung dengan mereka.”

Nadine memberi tawa kecil sebagai balasan. “Banyak persawahan, ya. Lingkungannya asri. Tidak banyak polusi juga.”

“Udara disini memang masih asri, Nad, tapi kalau kamu bergeser sedikit ke kota sebelah. Kamu akan kembali terkejut.”

Nadine menganggukkan kepalanya. “Iya. Disana ‘kan kota yang penuh kesibukan, An. Semua orang berlomba-lomba memiliki kegiatan dan membawa kendaraan pribadi mereka.”

“Jujur lebih enak memakai kendaraan pribadi, Nad.” Andin meringis. Pandangannya berganti menatap air sungai yang bergerak dengan tenang di depan matanya.

Nadine tertawa. “Memang iya, An. Aku juga tidak munafik mengakuinya. Kekurangannya memang hanya di kemacetan dan bahan bakar yang mahal saja.”

“Kalau bagi kamu, dulu pasti tidak terlalu membuatmu rugi ‘kan, Nad,” goda Andin. “Semua ‘kan sudah Adinata yang mengurusnya. Kamu tinggal terima selesainya saja.”

Nadine tertawa kecil. “Iya, An. Aku memang sengaja meminta Adinata yang memegang urusan kendaraan, tapi berbeda lagi kalau urusan kebutuhan bulanan, An. Aku tidak selalu mendapat uang yang cukup. Bukan dari Adinata yang perhitungan kepadaku, tapi dari ibunya yang sengaja memangkas uang belanja untuk kebutuhan dapur, jadi aku yang menambahi dengan nominal yang cukup banyak dari uang bulananku sendiri.”

“Benar-benar mertua lampir!” kesal Andin. “Kamu juga kenapa tidak bicara ke Adinata?!”

Nadine terdiam. “Aku kadang takut kalau mengadu ke Adinata. Aku takut Adinata marah ke ibunya. Ibunya itu pandai bersilat lidah. Pasti akan dengan mudah membalikkan keadaan dan menyalahkan aku.”

“Dia benar-benar tidak membelamu, Nadine? Dia ‘kan cinta denganmu. Tega sekali membiarkan kamu ditindas oleh keluarganya.”

“Dia selalu membelaku, tapi tidak ketika berada di depan ibu dan keluarganya.”

“Dia tidak gentleman,” decih Andin. “Membela istrinya tidak membuatnya menjadi bodoh. Bagaimana bisa dia hanya diam saja di depan ibunya? Padahal dengan jelas, ibunya menindas istrinya sendiri! Adinata bodoh.”

Wajah Andin tidak berbohong jika ia benar-benar kesal. Ia sangat menyayangkan sikap Adinata. Setahu dirinya Adinata adalah lelaki yang tepat untuk Nadine—sepupu dan sahabat yang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri. Adinata benar-benar menunjukkan cintanya yang begitu besar kepada Nadine. Dan karena itulah, keluarganya menerima Adinata untuk menikah dengan Nadine.

Nadine lebih dulu memperkenalkan Adinata ke keluarganya, bukan ke keluarga kandung Nadine. Mereka dikenalkan dengan Adinata ketika Adinata datang membawa keluarganya untuk melamar Nadine. Mereka jugalah yang licik dan tidak tahu diri selalu merepotkan Adinata dan Nadine. Padahal mereka tidak memperlakukan Nadine dengan baik.

“Om Pramudya dan tante Anggita tidak meneleponmu, Nad?”

Nadine menolehkan kepalanya sekilas, lalu kembali menatap kakinya yang sengaja digerakkan agar tercipta oleh air. “Tidak ada. Aku juga tidak terbiasa memberi kabar ke mereka. Mereka ‘kan tidak peduli kepadaku. Mereka hanya akan meminta bantuan dengan nominal banyak ketika menelponku.”

Andin tertawa kecil. “Mereka akan benar-benar marah ketika mereka tahu kamu sudah bercerai dengan Adinata, Nad. Kita ‘kan tahu sendiri kalau orang tuamu dan abangmu juga, benar-benar gila harta.”

Nadine mengangkat bahunya. “Aku biarkan saja. Marah, ya marah saja. Aku sudah capek bersabar atas keluargaku. Tapi sepertinya Adinata tidak memberitahu keluargaku, An.”

“Ya baguslah, Nad. Dia ‘kan tahu bagaimana keluargamu memperlakukan kamu.”

Nadine tampak berpikir. “Entahlah. Mungkin dia lupa atau mungkin saja dia masih berada di kesibukan, tapi aku yakin, cepat atau lambat dia akan memberitahu keluargaku, An.” Nadine tertawa miris.

“Mereka pasti akan menyalahkanku lebih banyak lagi,” lanjut Nadine.

Andin menggenggam tangan Nadine. “Tidak usah takut, ya, Nad. Ada aku, ayah dan bunda yang siap melindungi kamu dari orang-orang jahat.”

Nadine menaruh telapak tangan lainnya ke atas genggaman tangan Andin. “Terima kasih, ya, An. Kamu sudah menganggap aku seperti saudaramu sendiri. Kamu juga tidak keberatan membayar kasih sayang dari orang tuamu kepadaku.”

Andin mengibaskan tangannya ke udara. “Biasa saja, Nad. Tidak usah sungkan denganku. Sama-sama, Nad.”

“Semoga selalu dikelilingi kebaikan, An.”

1
doubleareya
Halo, teman-teman 👋🏻👋🏻 Terima kasih sudah membaca cerita Adinata - Nadine yaaa, aku mau minta tolong kepada teman-teman untuk memberi dukungan cerita ini dengan suka dan komentar yaaa 🤍 🤍 Aku sangat terbuka dengan saran dan kritik yang baik untuk cerita ini yaa 😙💛
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!