NovelToon NovelToon
Cleaning The Thorne'S Empire

Cleaning The Thorne'S Empire

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Penyesalan Suami / Action
Popularitas:721
Nilai: 5
Nama Author: Chi Chi chantika

Alistair Thorne, bos mafia London yang kaku dan perfeksionis, bertemu dengan Sloane Sterling, gadis jalanan galak yang ahli bersih-bersih tapi ceroboh luar biasa. Pertemuan mereka terjadi di tengah baku tembak, di mana Sloane justru memarahi Alistair karena mengotori lantai yang baru ia pel.

Terpikat oleh keberaniannya, Alistair membawa Sloane pulang sebagai asisten rumah tangga. Hidup sang bos dingin pun berubah jadi kacau: ia terus diteriaki karena menaruh jaket sembarangan dan terpaksa turun tangan ke dapur setiap kali Sloane hampir membakar rumah saat memasak. Di antara desingan peluru dan omelan sehari-hari, dimulailah kisah cinta yang lucu, kaku, dan penuh aksi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chi Chi chantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mawar jalanan

Suasana di ruang makan utama mansion Thorne terasa lebih mencekam daripada ruang interogasi markas The Obsidian Order. Lady Eleanor duduk dengan tegak, punggungnya tidak menyentuh sandaran kursi, sementara Beatrice terus-menerus mengelap ujung jari telunjuknya dengan tisu basah seolah-olah udara di rumah kakaknya baru saja tercemar.

Alistair duduk di kepala meja, kemeja putihnya tampak sangat kontras dengan wajahnya yang pucat. Di depannya, Sloane berdiri tegak dengan tangan terlipat di depan dada, masih mengenakan celemek berkerut dan sepatu taktis putihnya yang kini sedikit ternoda debu akibat aksi "pengejaran kriminal" tadi.

"Jadi," Lady Eleanor memulai, suaranya halus namun tajam seperti sembilu. "Gadis ini... Sloane, jika aku tidak salah dengar—adalah asisten rumah tangga barumu? Alistair, kau tahu benar keluarga Thorne selalu menggunakan staf dari agensi resmi di Swiss. Bukan... dari pinggiran jalan."

Sloane baru saja akan membuka mulutnya untuk membalas, tapi Alistair memberikan isyarat tangan agar ia diam.

"Ibu, Sloane memiliki kualifikasi yang tidak dimiliki staf Swiss manapun," Alistair menjawab, suaranya kaku dan sangat formal. "Dia memiliki dedikasi terhadap sterilisasi area yang... melampaui logika manusia biasa."

"Kualifikasi?" Beatrice mendengus, menatap Sloane dengan jijik. "Dia bahkan tidak tahu cara menyambut tamu dengan benar. Dia menyebut kita pencuri! Alistair, lihat dia! Dia bahkan tidak bisa berdiri dengan anggun. Bagaimana jika kolega bisnismu melihatnya?"

Sloane tidak bisa menahan diri lagi. Ia melangkah maju, tangannya menghantam meja marmer dengan bunyi BRAK! yang membuat cangkir teh porselen di atasnya bergetar.

"Dengar ya, Nona Kacamata Besar!" Sloane menatap Beatrice tepat di matanya. "Aku mungkin tidak berdiri dengan 'anggun' versi kalian, tapi aku bisa menjamin tidak ada satu pun kuman yang berani menempel di kursi yang kalian duduki sekarang! Dan soal pencuri... siapa pun yang masuk tanpa mengetuk dan langsung menghina penghuni rumah, bagiku adalah ancaman keamanan! Itu namanya harga diri!"

Lady Eleanor menutup matanya sejenak, seolah-olah suara Sloane adalah polusi suara yang menyakitkan. "Alistair, dia sangat berisik. Kepalaku sakit."

"Saya akan menyiapkan teh," Alistair segera berdiri, merasa ini adalah cara terbaik untuk meredakan situasi.

"Tidak! Biar gadis ini yang menyiapkannya!" perintah Lady Eleanor. "Aku ingin melihat apakah dia setidaknya bisa melakukan satu hal dasar sebagai pelayan. Teh Earl Grey, suhu 85 derajat, tanpa gula, dengan sedikit lemon yang diiris tipis secara vertikal."

Sloane mengerjap. "Iris vertikal? Kau pikir lemon itu sedang menjalani operasi jantung?"

"Nona Sterling, tolong... lakukan saja," bisik Alistair, matanya memberikan tatapan memohon yang sangat jarang ia tunjukkan.

Sloane menghela napas kasar. "Baik! Teh Earl Grey vertikal atau apa pun itu! Akan kubuatkan!"

Sloane melangkah menuju dapur dengan langkah kaki yang sengaja dihentakkan keras. Di dapur, ia mulai bergelut dengan teko listrik dan kotak teh. Ia sangat gugup karena diperhatikan oleh Alistair dari kejauhan, dan seperti biasa, kecerobohannya mulai mengambil alih.

PRANG!

Sloane menjatuhkan toples gula kristal karena tangannya tersangkut kabel teko.

"Astaga! Kenapa toples ini licin sekali?!" Sloane mengomel sambil mencoba memungut pecahan kaca.

Alistair segera berlari ke dapur. Ia melihat Sloane yang sedang panik dan butiran gula yang berserakan di lantai. "Nona Sterling, biarkan saya—"

"Jangan sentuh! Aku bisa sendiri!" Sloane menepis tangan Alistair, tapi ia justru hampir terpeleset butiran gula.

Alistair dengan sigap menangkap pinggang Sloane, menariknya mendekat agar tidak jatuh ke pecahan kaca. Mereka terdiam sejenak. Alistair bisa merasakan napas Sloane yang memburu karena marah dan malu.

"Anda ceroboh," bisik Alistair di dekat telinga Sloane, nadanya tidak dingin, melainkan terdengar seperti peringatan yang lembut. "Dan keluarga saya... mereka memang sulit. Tapi saya ada di sini."

Sloane menengadah, menatap wajah kaku Alistair. "Kenapa kau tidak memecatku saja? Mereka benar, aku hanya gadis jalanan yang berisik."

Alistair menatap mata Sloane, tangannya masih di pinggang gadis itu. "Karena secara administratif... rumah ini akan menjadi tempat yang sangat membosankan tanpa omelan Anda soal jaket saya."

Sloane baru saja akan tersenyum kecil ketika suara Lady Eleanor berteriak dari ruang makan. "ALISTAIR! Kenapa lama sekali?! Apa gadis itu sedang mencoba menanam daun tehnya sendiri?!"

Alistair segera melepaskan Sloane, berdeham kaku. "Saya akan membantu Anda menyiapkan tehnya. Anggap ini... kolaborasi taktis."

Beberapa menit kemudian, Alistair dan Sloane kembali ke ruang makan. Sloane membawa nampan dengan gerakan yang sangat hati-hati—terlalu hati-hati hingga ia terlihat seperti robot yang kekurangan oli. Ia meletakkan cangkir teh di depan Lady Eleanor dan Beatrice.

"Ini tehnya. Diminum selagi panas, supaya kuman di tenggorokan kalian mati," kata Sloane dengan nada yang dipaksakan manis.

Beatrice menyesap tehnya, lalu langsung menyemburkannya kembali ke dalam cangkir. "Ugh! Apa ini?! Kenapa rasanya seperti... sabun?!"

Sloane membelalakkan mata. "Sabun?! Oh... tadi aku mencuci cangkirnya dengan cairan disinfektan ekstra kuat supaya steril! Mungkin aku lupa membilasnya tujuh kali!"

Lady Eleanor meletakkan cangkirnya dengan wajah pucat. "Alistair... dia mencoba meracuni kita."

"Saya tidak meracuni kalian! Aku hanya ingin kalian bersih luar dalam!" teriak Sloane, kembali ke mode galaknya.

Beatrice berdiri, menunjuk pakaian Sloane. "Lihat kakinya! Dia memakai sepatu lari di dalam rumah mewah! Benar-benar tidak beradab! Alistair, bawa dia keluar dari sini atau kami yang pergi!"

Alistair Thorne berdiri tegak. Ia merapikan jasnya, lalu berjalan mendekat ke arah Sloane. Ia meletakkan tangannya di bahu Sloane, menunjukkan posisi perlindungannya secara terang-terangan.

"Ibu, Beatrice," suara Alistair kembali ke nada pemimpin gangster yang paling ditakuti. Dingin, tajam, dan mutlak. "Sepatu yang ia kenakan adalah 'Alas Kaki Taktis' yang saya beli khusus untuknya agar ia tidak terluka di rumah ini. Dan soal teh itu... itu adalah kesalahan teknis yang bisa dimaafkan."

"Kesalahan teknis?! Dia memberi kami sabun!" Beatrice berteriak.

"Sloane tetap di sini," lanjut Alistair, mengabaikan teriakan adiknya. "Dia bukan hanya asisten rumah tangga. Dia adalah orang yang memastikan saya tetap 'manusia' di rumah ini. Jika kalian tidak bisa menghormati aturannya—termasuk aturan dilarang masuk tanpa mengetuk—maka saya rasa kunjungan ini harus diakhiri secara administratif."

Lady Eleanor dan Beatrice ternganga. Alistair, putra mereka yang biasanya patuh pada protokol keluarga, baru saja mengusir mereka demi seorang gadis yang membawa sapu.

"Alistair... kau akan menyesali ini," Lady Eleanor berdiri dengan anggun meskipun wajahnya penuh kemarahan. Ia menyambar tasnya. "Ayo Beatrice, kita pergi dari tempat yang berbau sabun murah ini."

Begitu pintu mansion tertutup dengan bantingan keras, suasana mendadak sunyi. Sloane menoleh ke arah Alistair, ia tampak sedikit merasa bersalah.

"Alistair... kau benar-benar mengusir mereka demi aku?" tanya Sloane pelan.

Alistair tidak menjawab secara langsung. Ia berjalan menuju sofa, lalu dengan sengaja—sangat sengaja—ia melepas jaket jasnya dan meletakkannya di atas meja makan.

Sloane terdiam sejenak, menatap jaket itu, lalu menatap Alistair.

"ALISTAIR THORNE! MEJA MAKAN BUKAN TEMPAT JAS! KAU PIKIR AKU BARU SAJA BERTARUNG DENGAN IBUMU HANYA UNTUK MELIHATMU JADI JOROK LAGI?!" teriakan Sloane menggema, lebih keras dari biasanya.

Alistair Thorne menutup wajahnya dengan tangan, tapi kali ini, ia tidak bisa menahan tawanya. Sebuah tawa yang tulus dan keras keluar dari mulut sang bos mafia dingin itu.

"Maaf," kata Alistair di sela tawanya. "Saya hanya... ingin memastikan Anda masih galak seperti biasanya."

Sloane mendengus, menyambar jas itu dan menggantungnya dengan gerakan kasar, tapi sudut bibirnya tidak bisa menyembunyikan senyum kemenangan. Ia tahu, di dunia yang penuh dengan orang-orang "berkelas" yang palsu, Alistair telah memilih mawar jalanan yang penuh duri seperti dirinya.

To be continued.....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!