NovelToon NovelToon
UNDYING

UNDYING

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mengubah Takdir / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:253
Nilai: 5
Nama Author: yersya

"I am cursed with an undying soul... forced to return, again and again. And in every life, in every death, it is always you my heart remembers."

"Aku dikutuk dengan jiwa yang tak bisa mati... dipaksa untuk kembali, lagi dan lagi. Dan di setiap kehidupan, di setiap kematian, hanya kamu yang selalu diingat hatiku."

"I cannot follow you beyond death, I cannot chase you through eternity... so I will stay here, loving you with an undying heart in every lifetime I'm given-until time finally takes me away from you."

"Aku tak bisa mengikutimu melewati kematian, tak bisa mengejarmu dalam keabadian... jadi aku akan tetap di sini, mencintaimu dengan hati yang tak pernah mati di setiap kehidupan yang diberikan padaku-sampai waktu akhirnya merenggutku darimu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yersya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12

Senin, 29 Maret 2021.

​Dua hari setelah liburan yang menyenangkan di pantai, kami kembali masuk sekolah seperti biasanya. Suasana kelas tampak jauh lebih hidup daripada hari-hari sebelumnya. Sudut-sudut ruangan bising oleh anak-anak yang kembali bercerita tentang kejadian seru, tawa meledek, hingga drama kekecewaan akibat penolakan cinta di bawah langit senja kemarin.

​Mungkin sudah terlambat untuk mengatakannya, tapi pergi liburan heboh hanya karena menyelesaikan satu ulangan harian rasanya agak terlalu berlebihan. Itu bahkan bukan UTS, apalagi UAS.

​Yah, tapi yang penting semuanya senang.

​“Luna!”

​Siti berjalan tergesa-gesa menghampiri tempat dudukku. Langkahnya tidak se-tenang biasanya. “Apa kamu dapat kabar dari Rani?”

​“Tidak,” jawabku sambil meletakkan buku cetak ke atas meja. “Mungkin dia ketiduran, seperti biasa.” Aku mencoba berpikiran positif, mengingat kembali kebiasaan Rania yang sering kebablasan tidur dan berakhir bolos sekolah seperti hari ini.

​“Itu memang mungkin. Tapi Rani sama sekali tidak mengangkat teleponku sejak kemarin sore,” ujar Siti dengan raut wajah murung. Alisnya bertaut, membuatku mulai merasa bingung.

​“Bukankah itu sudah biasa? Rani akan tidur seharian setelah kelelahan liburan, lalu dia baru terbangun pada dini hari, tidak bisa tidur lagi, melanjutkannya dengan bermain game sampai subuh, lalu ketiduran lagi sebelum berangkat sekolah. Itu sudah semacam ritual tetap baginya, kan?” jelasku sambil tersenyum tipis, mencoba mencairkan ketegangan Siti.

​“Tapi… dia juga tidak membalas chat-ku meskipun dia membacanya.”

​Aku mengernyitkan dahi sejenak, lalu menebak, “Layar obrolanmu mungkin sedang dibuka olehnya, dan dia ketiduran dalam keadaan handphone masih menyala di tangannya.”

​Siti menggeleng kuat-kuat, menolak teoriku. “Aku memang berpikir seperti itu awalnya. Sebelum tidur semalam, aku mengirim pesan, dan ketika aku melihatnya di pagi hari, dia sudah membacanya. Karena tidak ada balasan, jadi aku coba meneleponnya, tapi tidak diangkat. Aku kembali mengirim pesan beberapa jam kemudian. Awalnya dia tidak membaca, tapi sekitar lima menit setelahnya, statusnya berubah menjadi terbaca. Tentu saja aku langsung meneleponnya saat itu juga, tapi tetap tidak diangkat. Karena itu aku spam pesan menanyakan kabarnya, tapi dia hanya melihatnya saja sampai sekarang.”

​Siti menjelaskan rentetan kejadian itu dengan raut wajah yang semakin cemas. Napasnya agak memburu.

​Wajahku yang semula terlihat santai kini perlahan-lahan ikut mengeras. Rasa khawatir mulai merayap naik ke dadaku. Rania memang sering ceroboh dan lambat membuka ponsel, tapi begitu dia sudah membaca sebuah pesan, dia adalah tipe orang yang akan langsung membalasnya detik itu juga—lengkap dengan rentetan emoji hebohnya. Tapi sekarang, bahkan setelah di-spam habis-habisan oleh Siti, Rania bergeming. Dia hanya membacanya dalam keheningan.

​“Apa mungkin... dia sakit?” gumamku, mencoba mencari kemungkinan lain. “Jika dia demam tinggi, maka tidak heran kalau dia tidak punya energi untuk mengetik balasan. Tapi…”

​“Tapi tidak mungkin dia tidak bisa menekan tombol hijau untuk mengangkat telepon,” sambung Siti, memotong kalimatku dengan cepat. “Bagaimana ini, Lun? Aku... aku khawatir banget sama Rani. Perasaanku nggak enak.”

​Melihat kepanikan Siti yang mulai menular ke sekitar, aku segera menggenggam pundaknya. “Tenanglah, Siti! Kita tahu sendiri seberapa ceroboh dan absurdnya Rani itu. Semuanya pasti baik-baik saja. Setelah bel pulang sekolah berbunyi, kita langsung mengunjungi rumahnya bersama-sama, oke?”

​Aku berusaha sekuat tenaga menenangkan Siti, meskipun di dalam hati, aku sendiri tidak bisa tenang. Firasat buruk—sesuatu yang selalu terasah tajam akibat kutukan maut yang membayangi hidupku—mendadak berdenyut pelan di belakang kepalaku.

​Siti hanya mengangguk pasrah, lalu berjalan kembali ke bangkunya dengan langkah gontai.

Bagi orang lain yang melihat, Siti mungkin terdengar bereaksi terlalu berlebihan hanya karena sebuah pesan yang tidak dibalas. Namun, yang sedang kami bicarakan saat ini adalah Rania. Rania yang selalu fast respon setiap kali membaca pesan, atau setidaknya langsung menelepon balik begitu melihat panggilan tak terjawab. Melihatnya bertingkah begitu berbeda sekarang, mustahil bagi kami untuk tidak merasa cemas.

Semoga saja, tidak ada hal buruk yang terjadi.

1
Sarah
For real. 😂
Sarah
Unik sekali, konflik bab 1: Mencari Paman. 😂😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!