Erina Hutomo, single mom yang harus berjuang sendiri mengatasi kekacauan hidup--anak sulung yang beranjak remaja dan banyak ulah, anak bungsu yang autis, tetangga yang selalu nyinyir karena dia janda--hingga tumpukan pekerjaan yang terus menghantuinya di kantor.
Sampai suatu ketika, petir terbesar menyambarnya--Erina divonis mengidap kanker otak, dan usianya tak akan lama.
Di tengah badai, Erina tak sempat menangis. Garis akhir itu seperti bom waktu. Dan ia memilih mati-matian mempersiapkan segalanya, terutama untuk buah hati yang paling dicintainya. Ia hanya ingin anak-anaknya hidup layak dan bahagia--bahkan setelah ia tak ada lagi di dunia.
Termasuk, memberi mereka sosok ayah yang bisa menjaga dan menyayangi mereka seperti darah daging sendiri, sampai akhir.
Berhasilkah Erina menuntaskan misi dan harapan terakhirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. GAS GRATIS
"Bu Erina, saya tidak bisa mengizinkan Ibu pulang malam ini."
Sang dokter menolak tegas.
Rasa sakit dan mual hebat kembali melanda Erina, membuatnya sesaat sulit bicara dan hanya bisa memejamkan mata.
"Lihat sendiri kan kondisi Ibu... jangankan berjalan, bangun dari bed ini saja sulit," Dokter itu menggeleng. "Saya sarankan Ibu menginap di sini minimal 24 jam untuk diobservasi. Tolong jangan memaksakan diri, atau kondisi Bu Erina bisa lebih parah lagi. Sekarang saya suntikkan obat untuk meredakan nyeri dan mual ya, supaya Bu Erina merasa lebih enakan."
Dokter itu menyuntikkan sesuatu melalui infus Erina, yang hanya bisa terbaring sembari menatap sang dokter dengan hampa.
"Dok..."
"Ya, Bu?"
"Saya nggak mau bakso...," ulang Erina lirih.
"Jika maksud Ibu glioma atau tumor itu, tentu masih bisa disembuhkan, Bu. Setidaknya Ibu harus menjalani MRI dan konsultasi dengan dokter spesialis syaraf dan bedah syaraf sebelum--"
"Nggak mau...," kedua mata Erina setengah terpejam sekarang, bibirnya mencebik, seakan menahan pedih dan tangis. "Maunya rendang... pulang..."
Sang dokter kembali bernapas panjang, seakan setiap tarikan oksigen mampu membuat tangki kesabarannya terisi ulang.
"Iya, Bu Erina istirahat dulu, ya. Biar besok bisa pulang dan makan rendang seperti yang Ibu mau."
Erina memejamkan mata--air matanya pun tumpah.
Sudah lama ia tidak menangis seperti ini. Rasanya sungguh aneh dan asing. Tetapi Erina sungguh tak mampu menahan embun matanya tidak pecah dan membulir. Perpaduan rasa sakit, letih, dan shock akibat informasi yang baru saja diterimanya membuat benteng pertahanan emosinya runtuh tak bersisa.
Kenapa harus ada bakso nyangkut di kepalaku, sih...? Aku punya dosa apa sama tukang bakso...? Kenapa nggak Jungkook aja yang nyangkut di situ...? Gini amat hidup jadi manusia di Bumi... kenapa aku nggak jadi amoeba aja sih...? Atau jadi batu di Mars kek...
Sakit, ya Allah...
Eh...
Nggak begitu sakit lagi, ding...
Entah karena "bakso" di otaknya, atau mekanisme berpikir dan suara hatinya memang telanjur berbeda dari sananya--terutama saat memproses luka dan lara yang dirasakannya--racauan Erina tetap berlanjut meski hanya dalam hati.
Namun seiring detik menitik, perlahan kepalanya yang berisik pun berubah hening. Obat pemberian dokter mulai menunjukkan efeknya.
Tanpa sadar, Erina pun jatuh tertidur, begitu lelap, tanpa mimpi.
***
Menjelang siang, Erina bangun secara alami dari tidurnya.
Entah karena efek obat atau tidur nyenyak yang panjang, Erina merasa kondisi tubuhnya jauh lebih baik.
Kepalanya memang masih agak berat--namun itu adalah sensasi yang sudah biasa dirasakannya sejak lama, sehingga tak lagi begitu mengganggu. Nyeri hebat dan mualnya hilang. Pandangan dan pendengarannya kembali jernih. Bahkan ia bisa bangun, meraih tasnya di nakas sebelah bed, dan mengutak-atik ponselnya tanpa hambatan sama sekali.
Ia mengecek daftar panggilan tak terjawab dan pesan WA dengan hati berdebar. Yang berbau pekerjaan sementara ia abaikan. Fokusnya hanya tertuju pada dua nama di kontaknya: Sagara My Love dan Harum Slebor.
Saga sempat meneleponnya berkali-kali. Pesannya pun berderet masuk sejak semalam--dan Erina baru membacanya kini.
Ma, pulang jam berapa? 🤔
Mama lembur, ya? 😒
Ma, kok nggak diangkat teleponnya? 😡
Maa! 😤
Kata Tante Harum, ada stock opname mendadak ya jadi Mama harus lembur dan nginap di kantor? 🙄
Rendangnya udah Saga angetin. 🥱
Nala nanyain Mama lho! 😑
Mama pulang kapan? 😤
Kabarin Saga kek Ma! 😡
Mamaaaaa! 😡
Erina merasa bersalah, sedih, sekaligus terharu membaca semua pesan itu. Jemarinya pun dengan cepat mengetik balasan.
Iya Mama lembur dan harus nginap di kantor karena banyak banget kerjaan. Maaf ya baru buka hp jadi baru bisa balas WA kamu. Sekali lagi, maafin Mama... 🙏😭
Makasih yaa udah diangetin rendangnya. 😘
Mama pulang sore ini, Sayang. Tunggu Mama di rumah yaa. Nanti Mama bawain martabak kesukaan kamu dan Nala. 😋
Love you. ❤️
Erina pun mengirim semua pesan itu. Ia tak bisa menelepon Saga karena takut latar suara-suara di rumah sakit akan terdengar putranya sehingga menghancurkan dusta yang sudah dibangunnya bersama Harum.
Pesan-pesannya seketika dibaca, dan dibalas Saga.
Saga bete! Rendangnya udah Saga abisin! Sukurin Mama gak kebagian! 😡
BAWAIN TERANG BULAN JUGA! YANG RED VELVET, CHOCO, & CREAM CHEESE! SATU BOX BESAR SENDIRI BUAT SAGA! WAJIB! AWAS AJA KALAU NGGAK, MAMA NGGAK BOLEH MASUK RUMAH! ⛔️
Erina tertawa membacanya. Kemarahan Saga yang kekanakan entah mengapa justru membuatnya merasa sangat hangat dan bahagia.
"Rin!"
Harum menyibak tirai pembatas dan muncul, ekspresinya tampak cemas.
"Rum!" Erina hampir melonjak dari bed saking kaget dan senangnya. "Aku baru aja mau buka dan balas WA-mu..."
"Kamu ini--beneran bikin aku cemas setengah mati!" Harum tanpa ragu memeluk Erina, nyaris histeris. "Semalam aku dikabari Pak Alvin kalau kamu kecelakaan dan masuk rumah sakit... tapi aku nggak bisa langsung ke sini karena kemarin Mamaku juga lagi operasi di rumah sakit lain..."
"Mamamu operasi? Sakit apa? Gimana kondisinya sekarang?" tanya Erina kaget sekaligus cemas.
"Usus buntu," dengus Harum masam. "Kondisinya udah mendingan. Makanya bisa kutinggal buat jenguk kamu sekarang..."
"Syukurlah kalau udah mendingan," gumam Erina lega. "Tapi kamu harusnya tetap jagain Mamamu... nggak perlu repot ke sini..."
"Mamaku banyak yang jagain--ada Papa dan lainnya. Kamu tuh nggak ada yang jagain...!" Harum mendorong pelan bahu Erina dengan telunjuknya yang lentik."Gimana kondisimu sekarang? Kok bisa sih sampe keserempet motor gitu?"
"Aku udah mendingan kok, nggak ada luka parah, kamu bisa lihat sendiri kan...," Erina merentangkan kedua lengannya dan tersenyum. "Yah kemarin lagi apes aja... aku kurang hati-hati..."
Harum menghela napas lega.
"Syukurlah kamu nggak apa-apa. Lain kali hati-hati dong! Untung Pak Alvin lihat kejadiannya dan cepat bawa kamu ke rumah sakit. Kalau nggak..."
Mendengar nama Alvin, Erina seketika teringat kondisi sang atasan yang tetiba muntah-muntah semalam dan dibawa pergi perawat.
"Nurse! Pak Alvin--bos saya yang membawa saya ke sini kemarin, yang muntah-muntah di IGD, gimana kondisinya? Di mana dia sekarang?"
Erina lekas menanyakan tentang Alvin begitu seorang perawat masuk dan mengecek kondisinya.
"Pak Alvin sudah ditangani dokter semalam--beliau didiagnosa gastritis, lalu dipindahkan ke kamar rawat inap VVIP untuk mendapat perawatan selanjutnya," jawab perawat itu datar.
"Pak Alvin sakit?" Harum menekap mulutnya, kaget.
"Sakit... apa tadi, Nurse? Gas gratis? Apa itu?" tanya Erina, sejenak pikiran dan pandangannya kosong.
"Gastritis--bukan gas gratis," koreksi si perawat sabar. "Alias radang selaput lambung. Beliau sudah mendapat penanganan dan perawatan, jadi tak perlu khawatir. Bu Erina sendiri bagaimana--masih ada gejala tertentu yang dirasakan?"
"Saya sudah sehat," sahut Erina cepat. "Saya boleh pulang sekarang, kan?"
"Soal itu, tunggu dokter dulu ya, Bu."
Seorang dokter--kali ini lebih muda, pendek, tampan--tak lama kemudian muncul dan memeriksa Erina, sekaligus memberitahu tahapan medis selanjutnya.
"Meski gejalanya sudah membaik, Bu Erina sebaiknya tetap menjalani MRI dan--"
"Dok!" sela Erina cepat. "Semalam saya dijanjikan boleh pulang dan makan rendang hari ini sama dokter satunya. Saya sudah baikan sekarang--jadi izinkan saya pulang!"
Dokter itu mengerjap.
"Bu, Anda tahu kan kalau Anda--"
"Iya, saya tahu--nggak perlu dibahas dua kali juga!" semprot Erina. "Karena saya sudah membaik--dan saya sudah dijanjikan pulang--maka izinkan saya pulang, sekarang!"
"Bu Erina..."
Dokter itu mencoba berargumen, namun setiap ia hendak melontar kalimat, Erina langsung memotongnya dan berkali menegaskan keinginannya untuk pulang.
"POKOKNYA SAYA MAU PULANG! TITIK!"
Jangankan Harum, Dokter, Perawat--cicak yang sedang menempel di sudut atas tembok saja sampai terpeleset dan jatuh terbalik saking kagetnya mendengar teriakan Erina yang seperti bom pemecah gedung.
"Baiklah, Bu Erina boleh pulang."
Dokter itu mengalah--daripada ia harus mengobati banyak pasien baru akibat gendang telinga mendadak pecah, termasuk dirinya sendiri.
"Tetapi Ibu wajib MRI minggu ini juga," tegas Dokter. "Wajib kontrol ke dokter spesialis syaraf. Wajib didampingi keluarga. Sebentar kami berikan surat kontrolnya."
Harum masih mengorek-ngorek kupingnya sendiri saat menemani Erina meninggalkan bangsal perawatan, yang dagunya terangkat tinggi dan langkahnya petantang-petenteng seakan ingin menunjukkan ke semua orang bahwa fisiknya sudah sehat betul--meski cara berpikirnya tetap error.
"Kita jenguk Pak Alvin dulu, kan?" celetuk Harum setelah Erina menyelesaikan administrasi di kasir--untungnya semua biaya perawatan ditanggung asuransi kantor, sehingga saldo tabungan dan ginjal Erina tetap aman di tempatnya.
"Ya," angguk Erina.
Kedua sahabat itu berjalan menyusuri lorong menuju area perawatan VVIP--yang dekorasi dan atmosfernya seketika berubah, begitu mewah dan wangi orang-orang kaya.
Mereka tiba di depan pintu kayu ek berpelitur indah dengan plakat kuning keemasan bertuliskan "Kamar Alexandrite"--yang menurut informasi dari perawat jaga adalah kamar tempat Alvin Hermawan dirawat.
Jemari Erina nyaris menyentuh pintu--saat pintu mendadak terbuka, dan seorang lelaki bertubuh tinggi dan tegap dalam balutan jas hitam mahal dan wangi, berahang persegi kuat dan berhidung mancung, dengan netra cokelat indah dan rambut hitam sangat rapi--tak kalah tampan dari Alvin, muncul di hadapannya.
"Siapa kalian?"
Lelaki itu bertanya seperti inspektur polisi menangkap dan menginterogasi pembunuh bayaran--begitu tajam, dingin, menusuk.
Tiba-tiba, suara seorang wanita--tak kalah beku dan mengintimidasi--terdengar dari dalam kamar.
"Ada apa, Adrian? Apa ada tamu?"
***