Andra yang jatuh cinta pada pandangan pertama saat bertemu dengan Mila, perempuan yang telah bersuami itu mampu menggetarkan hatinya hingga membuat dia mencari tahu seperti apa kehidupan yang sedang di jalani Mila bersama suaminya. "Mila, kau tak pernah bahagia kan hidup bersama suamimu itu?" tanya Andra menatap serius Mila. "Bapak tidak perlu tahu urusan rumah tanggaku!" sentak Mila. "Ceraikan saja suamimu dan jadilah istriku, kau akan kujadikan ratu dalam hidupku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PandaMaiden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Surat
Bab 12
Surat
Malam itu bulan bersinar terang, cahayanya memantul di jendela kamar Arjun. Pria itu baru pulang nongkrong beberapa menit lalu. Dia menatap ke sekeliling kamar yang terasa hampa.
"Belum pulang kah?" Tanyanya pada diri sendiri.
Arjun melempar jaketnya ke kursi samping meja rias dan mendaratkan bokongnya di sana. Pria itu merogoh kantongnya untuk mencari ponsel dan kemudian menghubungi Mila.
Nomor Mila masih belum bisa dihubungi oleh Arjun. Pria itu mengulang kembali panggilannya hingga beberapa kali namun tetap saja panggilan itu tidak dapat tersambung.
"Apa dia ganti nomor ya, sial. Aku harus periksa ponselnya. Beraninya dia tidak pulang beberapa hari ini." Arjun melemparkan ponselnya ke atas kasur.
Setelah selesai dengan ritual mandi Arjun pergi ke ruang tengah dan menyalakan televisi. Bu Lisa yang malam ini akan menginap di sana memberikan sebuah amplop yang diantarkan oleh orang PLN siang tadi.
"Jun, ini ada surat dari PLN. Mama nggak buka." Bu Lisa menyerahkan amplop putih tersebut kepada Arjun.
"Dari PLN? Kenapa Ma?" Bingung pria itu.
Bu Lisa hanya mengedikkan bahu sebagai tanda bahwa dia pun tidak tahu. Arjun pun langsung membuka amplop tersebut dan membaca isi dari kertas tersebut yang ternyata adalah surat pemutusan instalasi listrik.
"Apa-apaan ini. Listrik kita akan di cabut besok kalau nggak bayar Ma," maki Arjun hingga dia melemparkan kertas itu ke lantai.
"Apa? Memangnya listrik di rumah ini belum dibayar sejak kemarin. Kan sudah dapat peringatan dua kali sebelumnya tapi surat itu yang menerima Mila waktu itu," terang Bu Lisa.
"Bagaimana ini Ma, tagihannya mencapai 4 juta rupiah bersamaan dengan dendanya!" Kesal Arjun dia ingin menelepon nomor Mila kembali tapi nomor wanita itu masih tidak bisa dihubungi olehnya.
"Bagaimana sih istri kamu itu nggak becus banget ngurus rumah tagihan listrik aja sampai nggak dibayar sama dia, buat apa kerja capek-capek tapi nggak peduli sama rumah!" Gerutu Bu Lisa.
Ibunya Arjun terlihat sangat kesal terhadap menantunya tersebut. Padahal selama ini mereka mendapatkan uang untuk kebutuhan sehari-hari pun dari Mila. Wanita yang bekerja banting tulang tapi selalu saja salah dimata ibu mertuanya bahkan di mata suaminya juga tidak dihargai sama sekali.
"Kalau rumah ini lampunya dicabut aku tinggal di rumah Mama aja ya, sampai Mila kembali ke rumah ini untuk membayar tagihan listriknya." Arjun membuat keputusan sepihak.
"Tapi rumah kamu ini lebih enak loh Jun, kamarnya ada AC sedangkan di rumah Mama kan nggak pakai AC." Sela bu Lisa.
"Buat sementara aja sih mah daripada gelap-gelapan di sini. Aku juga akan mencari Mila biar dia mau pulang ke rumah ini," ucap pria itu penuh keyakinan.
"Iya, kamu harus bisa membawa dia pulang kembali ke rumah ini. Enak sekali Dia mau lepas tanggung jawab sebagai istri di rumah ini."
"Oh ya, Ma, Vio mana kok nggak kelihatan dari tadi?" Arjun celingukan mencari sosok Vio yang biasanya akan nongol jika mereka sedang berdebat.
"Loh, dia kan dari pagi tadi pergi belum pulang sampai malam ini. Coba kamu telepon dia suruh pulang sekarang udah jam berapa," rutuk bu Lisa.
Saat Arjun akan menelepon adiknya pintu ruang depan terbuka dan muncullah wajah Vio di sana. Ekspresi wajah gadis itu terlihat sangat kelelahan.
"Aduh mah aku capek banget," keluh Vio sembari meletakkan tasnya di sisi sofa.
"Kamu ini dari mana aja jam segini baru pulang," omel bu Lisa.
"Ya dari kampus dong Ma, emangnya dari mana lagi." Jawab Vio dengan sewot.
"Aku capek mau ke kamar dulu ya, bye semua," pamit Vio begitu saja.
"Dasar anak ini," geram bu Lisa.
"Udah biarin aja dia istirahat Ma, pasti capek habis dari kampus mungkin dia banyak kegiatan juga," bela Arjun.
*
Keesokan paginya, Arjun sudah bersiap untuk mendatangi kantor Mila kembali. Membawa amplop dari PLN yang akan dia tunjukkan pada sang istri nanti.
"Maaf, Pak. Bapak di larang masuk," cegah pak satpam.
"Kenapa tidak boleh. Saya ini suami Mila. Saya sudah janjian dengannya," karang Arjun.
"Tapi maaf Pak, kami di perintahkan agar melarang anda masuk ke dalam."
Arjun berusaha melepaskan cengkraman dari pak satpam yang menahannya. Pria itu memaksa ingin masuk karena harus bertemu dengan Mila pagi ini juga.
Setelah berusaha keras tapi tetap tenaga Arjun tak sebanding dengan dua security yang berjaga tersebut.
Karena tak terima di larang, Arjun akhirnya berteriak memanggil nama Mila, sehingga menimbulkan tatapan aneh dari staf yang lewat atau pun sedang bertugas.
Sementara di ruangan Mila, ada yang mengetuk pintu.
Begitu mendengar sahutan dari dalam, seorang OB memberitahu Mila bahwa ada orang yang mencari dirinya dan malah membuat onar.
"Bu Mila, ada orang yang bikin onar di bawah Bu. Katanya dia suami Ibu,"
Mila hanya mengangguk lalu ob itu pergi. Begitu pintu tertutup Mila memijat pelipisnya yang terasa pening. Rasanya baru beberapa hari dia merasa agak sedikit tenang, tapi kedatangan Arjun membuat konsentrasinya buyar.
Saat tiba di lantai bawah Mila melihat Arjun yang sedang di tahan oleh pak satpam.
"Nah itu istri saya sudah turun. Lepaskan!" Arjun menghempaskan dua sosok pria berseragam tersebut.
Dengan senyum lebar Arjun bergegas menghampiri Mila sembari menggenggam kertas yang sudah lecek akibat terlalu kencang memegang.
"Mau apa lagi datang ke sini. Apa yang kemarin belum cukup?" Cegah Mila.
"Tidak, Mila. Ini gawat, sangat gawat dan genting," jawab Arjun yang napasnya terengah karena berlari barusan.
"Aku sedang sibuk, tolong pergi sana!" Usir Mila.
"Please, Mila aku mau ngomong," pekik Arjun.
Namun Mila terus melangkah masuk untuk kembali ke ruangannya. Tapi siapa sangka, tenaga Arjun jadi lebih kuat dan berlari mengejar Mila.
Arjun menahan tangan Mila saat wanita itu hendak masuk ke dalam lift.
"Mil, ini sangat penting. Listrik di rumah belum di bayar. Kamu tolong transfer uangnya ya. Kalau tidak hari ini lampunya akan di cabut."
"Terus, kenapa kamu malah mencari ku. Bukannya kamu bayar," ketus Mila.
"Kan yang biasa bayar listrik kamu, Mila. Aku mana punya uang, apalagi total tagihannya sampai 4 juta."jelas Arjun. Dia menyodorkan surat PLN ke hadapan Mila.
Mila melengos dan dia tidak ingin peduli lagi terhadap rumahnya yang lama.
Wanita itu menyentak cengkraman tangan Arjun lalu segera masuk ke dalam lift. Dia tidak ingin membuat drama baru di pagi hari yang cerah ini.
"Huft..." Keluh Mila.
Dia pikir hari ini bisa lebih tenang dari kemarin, menampilkan senyum lebar. Namun, kenyataan berkata lain.