NovelToon NovelToon
Titik Nadir: Menyesal Setelah Kau Buang

Titik Nadir: Menyesal Setelah Kau Buang

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

Tiga tahun lamanya Andini mencurahkan seluruh pengabdiannya sebagai istri saleha, namun ia justru dihempaskan ke titik terendah dalam hidupnya. Ia diusir tanpa membawa uang sepeser pun oleh Reno, suaminya sendiri, yang lebih memilih Siska karena pengakuan kehamilannya. Setelah kenyang menerima hinaan sebagai perempuan mandul yang sekadar menumpang hidup, Andini bersumpah untuk bangkit dari puing-puing kehancurannya.

Saat Andini akhirnya berhasil bertransformasi menjadi sosok wanita karier yang mandiri, elegan, dan sulit digapai, Reno datang kembali sambil merangkak penuh penyesalan. Namun, sebuah map cokelat yang telah disiapkan Andini siap meruntuhkan sisa-sisa kesombongan pria itu. Sebuah rahasia medis yang mencengangkan akhirnya terungkap: Reno sebenarnya mandul, dan anak yang selama ini ia puja-puja hanyalah buah dari pengkhianatan Siska. Inilah saatnya karma instan mulai bekerja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: Ambisi yang Terselubung

Suasana pagi di kantor pusat Al-Fatih Group senantiasa berdenyut cepat, penuh dengan aura profesionalisme. Di lantai tiga puluh, Farhan tengah berkonsentrasi membedah laporan perkembangan proyek superblok bersama jajaran kepala divisi. Di tengah pemaparannya, ketukan pelan di pintu memecah keheningan ruang rapat.

Sarah, yang kini memegang peran sebagai asisten pribadi penghubung antara Farhan dan Andini, melangkah masuk dengan raut wajah yang tampak bimbang.

"Maaf mengganggu rapatnya, Pak Farhan. Ada tamu di luar yang mendesak ingin bertemu. Beliau membawa surat pengantar langsung dari Tante Sofia," bisik Sarah penuh kehati-hatian.

Farhan seketika mengernyit. "Siapa?"

"Nona Karina, Pak."

Farhan menghela napas pendek. Mengingat surat itu datang dari tantenya sendiri, ia tidak mungkin mengusirnya begitu saja demi menjaga etika keluarga. Farhan pun menoleh ke arah timnya. "Rapat kita tunda sepuluh menit. Tolong siapkan revisi data anggaran yang tadi."

Farhan kemudian melangkah menuju ruang tamu pribadinya. Di sana, Karina telah menunggu dengan gaya anggun di atas sofa kulit. Balutan setelan kerjanya yang modis dan formal memancarkan citra wanita karier lulusan luar negeri. Sebuah map berkas yang cukup tebal tergeletak di atas meja di hadapannya.

"Assalamualaikum, Farhan," sapa Karina dengan senyum manis yang dipoles begitu profesional. Ia bergegas berdiri menyambut kedatangan Farhan.

"Waalaikumsalam. Ada keperluan apa, Karina? Jadwal saya hari ini cukup padat," jawab Farhan lugas dan tegas, sembari menjaga jarak. Ia sengaja tidak duduk di sofa yang sama dengan Karina, melainkan memilih kursi tunggal di seberang meja.

Karina tidak menampakkan raut tersinggung. Dengan cekatan, ia justru membuka map tebalnya. "Aku tahu kamu sibuk, Farhan. Jadi, aku langsung ke intinya saja. Tante Sofia bercerita kalau Al-Fatih Group sedang mencari mitra untuk risk analysis lingkungan dan makroekonomi untuk proyek superblok baru. Ini adalah proposal analisis komparatif yang aku susun berdasarkan model yang lazim digunakan di Inggris. Aku rasa ini bisa membantu memangkas biaya operasional proyekmu hingga lima belas persen."

Farhan menerima dokumen tersebut, lalu membolak-balik halamannya secara acak. Sebagai pengusaha yang jeli, ia harus mengakui bahwa analisis buatan Karina memang sangat tajam, rapi, dan terstruktur. Gadis ini memang memiliki kapasitas otak yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

"Analisis yang bagus," puji Farhan objektif, namun suaranya tetap terdengar datar. "Saya akan menyerahkan berkas ini ke tim legal dan divisi perencanaan untuk dikaji lebih lanjut."

"Terima kasih, Farhan. Tapi... jika diizinkan, aku ingin terlibat langsung dalam tim khusus proyek ini. Bukan sebagai asisten biasa, melainkan sebagai independent consultant. Aku ingin membuktikan kepada Tante Sofia dan keluargamu bahwa aku ke sini murni untuk bekerja secara profesional," ujar Karina. Sepasang matanya menatap Farhan dengan binar ambisi yang terselubung rapi di balik kata profesional.

Farhan membalas tatapan Karina dengan lurus. "Di perusahaan ini, semua proses perekrutan harus melewati prosedur komite direksi, Karina. Tidak ada jalur khusus, sekalipun membawa nama Tante Sofia. Jika proposalmu lolos kurasi tim ahli, mereka yang akan menghubungimu."

Farhan pun berdiri, memberikan isyarat halus bahwa pertemuan mereka telah usai. "Sekarang, saya harus kembali ke ruang rapat. Terima kasih atas proposalnya."

Karina ikut bangkit, mengulas senyum yang sulit diartikan. "Tentu, aku akan menunggu kabar baiknya, Farhan. Oh ya, sampaikan salamku untuk Kak Andini. Kuharap dia tidak keberatan jika ke depannya kita mungkin akan sering berinteraksi di dunia kerja."

Sore harinya, di kediaman mereka, suasana terasa jauh lebih menenteramkan. Andini baru saja selesai memandikan Baby Nadir yang kini sudah harum dan tampak segar dalam balutan bedongnya. Farhan yang baru tiba di rumah langsung meletakkan tasnya, melangkah mendekat untuk mengecup pipi sang buah hati, lalu mendaratkan kecupan penuh kasih di kening Andini.

"Bagaimana pekerjaan hari ini, Mas?" tanya Andini sembari menyodorkan secangkir teh hangat yang baru saja ia seduh.

Farhan menyesap tehnya, lalu menatap Andini dengan pandangan jujur tanpa ada yang ditutup-tupi. Sejak awal menikah, Farhan sudah berkomitmen untuk selalu terbuka mengenai apa pun, terutama hal-hal yang berisiko memicu kesalahpahaman.

"Hari ini Karina datang ke kantor, Ndin," ujar Farhan tenang. "Dia membawa proposal analisis bisnis atas rekomendasi Tante Sofia."

Gerakan tangan Andini yang tengah merapikan selimut bayinya sempat terhenti sejenak. Namun, ia segera menguasai diri dan berbalik dengan senyuman teduh. "Lalu, bagaimana keputusanmu, Mas?"

Farhan menarik tangan Andini, mengajak istrinya itu duduk bersisian di sofa kamar. "Secara profesional, proposal yang dia buat memang bagus dan punya potensi menguntungkan perusahaan. Namun, aku sadar ada maksud lain di balik kedatangannya. Aku sudah menyerahkan berkasnya ke tim kurasi. Aku tidak akan memberinya celah untuk berada di dekatku secara personal, Ndin. Aku ingin kamu tahu itu."

Andini menatap mata suaminya yang sarat akan ketulusan. Rasa hangat seketika menjalar di dalam dadanya. Ia pun menggenggam balik tangan Farhan.

"Terima kasih karena selalu jujur kepadaku, Mas," bisik Andini tulus. "Jika secara profesional dia memang bisa membawa kebaikan untuk Al-Fatih Group, aku tidak akan melarangmu bekerja sama. Aku percaya penuh padamu, Mas. Benteng rumah tangga kita tidak dibangun dari rasa curiga, melainkan dari rasa saling percaya dan rida Allah."

Andini menoleh ke arah Baby Nadir yang mulai mendengkur halus di dalam boks bayinya. "Namun, jika dia atau Tante Sofia mencoba menggunakan urusan bisnis ini hanya untuk mengusik ketenangan keluarga kita... aku sendiri yang akan berdiri di depan untuk menghadapi mereka."

Binar mata Andini memancarkan ketegasan yang mutlak. Pada titik ini, Andini paham bahwa mengalah bukanlah pilihan. Ia akan membuktikan kepada Karina dan Tante Sofia bahwa seorang wanita muslimah yang lembut sekalipun bisa berubah menjadi batu karang yang kokoh saat kehormatan rumah tangganya mulai diuji.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!