NovelToon NovelToon
Penyesalan Kalian Sudah Terlambat!

Penyesalan Kalian Sudah Terlambat!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:31.7k
Nilai: 5
Nama Author: Widia ayu Amelia

Aira dan Airin adalah kembar yang tak pernah serupa. Airin adalah "Permata Maheswari"—cantik, cerdas, dan dicintai. Sementara Aira hanyalah "Cacat Produksi"—kusam, bodoh, dan terbuang di gudang belakang karena tak mampu bersaing dengan standar keluarga yang gila gelar.

Satu-satunya cahaya dalam hidup Aira adalah ingatan tentang Alvaro, bocah laki-laki kumal yang dulu ia selamatkan dan ia beri seluruh hatinya. Namun, ketika Alvaro kembali sebagai pewaris tunggal konglomerat yang tampan dan berkuasa, takdir mempermainkan Aira dengan kejam.

Alvaro salah mengenali "Ai" sahabat kecilnya. Berkat kelicikan dan nama mereka yang hampir mirip, Airin dengan mudah mencuri identitas Aira. Kini, pria yang paling dicintai Aira justru menjadi orang yang paling rajin menghina dan merundungnya demi membela sang kembaran palsu.

Di tengah luka yang menganga, muncul Bara—sang bad boy penguasa sekolah yang menolak tunduk pada siapa pun. Bara berjanji akan memberikan dunia pada Aira.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12

"Loker siapa ini?! Berani-beraninya nyimpen bangkai di sini!"

Suara melengking Shinta membelah hiruk-pikuk koridor kelas dua belas, seperti silet yang mengiris kain sutra. Suara itu memancing puluhan siswa yang tadinya sibuk bersenda gurau untuk segera berkerumun, menciptakan barikade manusia yang menyesakkan. Aku, yang baru saja tiba dengan napas memburu dan peluh yang membasahi pelipis karena harus berlari dari gerbang sekolah agar tidak terlambat, mendadak terpaku. Langkahku terkunci tepat di depan kerumunan yang melingkar rapat di depan loker nomor 142. Loketku.

"Buka aja! Biar semua orang tahu siapa pelakunya! Biar nggak ada yang berani sok polos lagi di sekolah ini!" teriak suara lain dari barisan belakang.

Brak!

Suara hantaman pintu besi yang dipaksa terbuka itu bergema di sepanjang koridor, menyisakan derit tajam yang memilukan. Isinya berhamburan layaknya sampah yang tak berharga. Buku-buku catatanku yang kusam, yang sudut-sudutnya sudah melengkung dan penuh coretan sketsa tersembunyi, jatuh berserakan di atas lantai marmer yang dingin. Namun, bukan buku-buku itu yang menarik perhatian semua orang. Bukan pula kotak pensilku yang sudah pudar warnanya.

Di atas tumpukan kain percaku—sisa-sisa kain yang kukumpulkan dengan susah payah untuk belajar menjahit—tergeletak sepasang sepatu hak tinggi berwarna perak metalik. Kilau mewahnya tampak kontras dengan debu di dalam lokerku. Namun, sepatu itu tidak lagi indah. Haknya patah mengenaskan, kulit premiumnya tergores dalam seolah dipaksa bergesekan dengan aspal kasar, dan hiasan kristal di ujungnya hancur berkeping-keping.

"Aira... kamu benar-benar setega itu sama aku?"

Suara itu lirih, bergetar hebat, dan sarat akan luka yang dibuat-buat. Airin berdiri di barisan paling depan. Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan yang gemetar, sementara matanya yang besar kini mulai digenangi air mata yang siap tumpah kapan saja. Cahaya lampu koridor memantul di wajahnya yang pucat, membuatnya tampak begitu rapuh, begitu suci, dan begitu hancur di saat yang bersamaan.

"Rin, aku baru sampai. Aku bahkan belum menyentuh loker itu sejak kemarin sore. Aku nggak tahu kenapa sepatu itu bisa ada di sana—"

"Nggak tahu? Kamu pikir kami bodoh?" Shinta merangsek maju. Tanpa peringatan, ia mendorong bahuku dengan telapak tangannya sampai punggungku menghantam pintu besi loker dengan suara dug yang keras. Perih menjalar di tulang belikatku, tapi itu tak sebanding dengan rasa sesak yang mulai menghimpit paru-paruku. "Tadi pagi cuma kamu yang masuk gedung sekolah paling awal, Aira! Penjaga sekolah lihat kamu! Jangan sok polos dengan kacamata tebalmu itu. Kamu iri, kan? Kamu iri karena Alvaro kasih sepatu limited edition ini buat Airin sebagai hadiah ulang tahun, sementara kamu cuma punya sepatu butut yang baunya saja bikin mual?"

"Aku nggak iri! Itu lokerku, tapi aku bersumpah demi nyawaku, aku nggak pernah menaruh barang itu di sana!" teriakku. Suaraku pecah, beradu dengan dengung bisikan jahat dari siswa-siswa di sekelilingku. Aku menatap mata Airin, mencari setitik saja kejujuran di sana. Namun, di balik genangan air matanya, aku melihat kilatan kepuasan yang sangat tipis. Sebuah seringai kemenangan yang hanya bisa kulihat karena aku mengenalnya seumur hidupku.

"Ada apa ini?"

Suasana yang tadinya bising mendadak hening, seolah oksigen di koridor itu tersedot habis. Kerumunan itu terbelah dengan sendirinya, memberikan jalan bagi sosok yang paling dihindari sekaligus dipuja di sekolah ini. Alvaro melangkah masuk dengan aura yang begitu mendominasi, dingin, dan menusuk. Seragamnya yang rapi tanpa cela dan tatapan matanya yang setajam elang membuat siapa pun menunduk.

Wajahnya yang biasanya tenang tanpa ekspresi kini mengeras saat melihat Airin yang nyaris tumbang di pelukan Shinta. Pandangannya beralih ke sepatu perak yang hancur di lantai—sepatu yang ia pilih sendiri dengan penuh perhatian—lalu perlahan, pandangan itu berakhir padaku.

Tatapan itu... aku lebih memilih ditampar seribu kali atau dihujani makian daripada harus ditatap dengan kejijikan semurni itu olehnya. Di matanya, aku bukan lagi teman masa kecilnya. Aku hanya kotoran yang mengganggu pemandangan.

"Varo... sepatunya rusak," Airin terisak, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Alvaro. Tangisnya pecah, menyayat hati siapa pun yang mendengarnya—kecuali aku yang tahu betapa tajamnya taring di balik tangisan itu. "Aku nggak punya sepatu untuk dipakai di acara gala sekolah nanti malam. Aku... aku nggak tahu salahku apa sampai Aira benci banget sama aku. Apa aku nggak berhak bahagia sedikit saja?"

Alvaro tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru melingkarkan lengannya di bahu Airin, mendekapnya dengan gerakan yang sangat lembut, seolah ingin melindungi permata paling berharga itu dari monster paling jahat sedunia. Namun, saat ia menatapku kembali, kelembutan itu menguap, digantikan oleh kobaran kebencian yang dingin. Ia membungkuk, memungut salah satu sepatu yang patah itu dengan ujung jarinya seolah benda itu adalah bangkai virus yang menjijikkan.

"Gue nggak nyangka lo sepicik ini, Aira," suara Alvaro rendah, namun volumenya sanggup membungkam seluruh koridor. "Aku nggak nyangka kamu sepicik ini, Aira. Kamu mau Airin malu karena nggak punya sepatu saat acara sekolah? Dasar rendah."

"Bukan aku, Varo! Tolong, sekali ini saja, dengerin aku! Aku dijebak! Airin yang menaruhnya di sana!" Aku berusaha meraih lengannya, memohon sepercik keadilan dari pria yang dulu berjanji akan selalu menjagaku.

Namun, Alvaro menepis tanganku dengan gerakan kasar hingga aku terhuyung dan hampir jatuh. "Mau denger apa lagi? Buktinya ada di loker lo! Nama lo tertulis jelas di sana! Lo mau Airin malu? Lo mau ngerusak momen dia yang berharga hanya karena lo merasa tidak dianggap?" Alvaro menarik napas panjang, rahangnya mengeras sampai urat di lehernya menonjol. "Mulai detik ini, anggap cewek ini nggak pernah ada. Siapa pun yang berani bicara, menyapa, atau bantu dia dalam hal apa pun, berarti berurusan langsung sama gue. Paham?!"

Seluruh koridor sunyi senyap. Tidak ada yang berani bersuara. Tidak ada yang berani membela "sampah" sepertiku di depan sang pangeran keluarga Pratama. Aku bisa melihat teman-teman sekelasku yang dulu pernah kubantu tugasnya, kini membuang muka dengan ekspresi jijik.

"Dan sebagai ganti rugi," Alvaro menatap ke bawah, ke arah kakiku yang terbungkus sepatu sekolah butut yang warnanya sudah memudar menjadi abu-abu kusam, dengan sol yang mulai menganga di bagian depan karena sudah dipakai bertahun-tahun. "Lepas sepatu lo. Sekarang."

Aku mematung. Kepalaku berdenging hebat, seolah ada ribuan lebah yang mengamuk di dalamnya. "Apa? Varo, jangan..."

"Lepas. Berikan pada Airin sebagai ganti rugi sementara di depan semua orang," perintah Alvaro tanpa emosi sedikit pun. Matanya sedingin es di kutub utara. "Karena lo udah ngerusak sepatunya dengan sengaja, sekarang lo yang harus ngerasain gimana rasanya jalan tanpa alas kaki di sekolah ini sampai acara nanti malam selesai. Biar otak lo yang sakit itu bisa mikir, bahwa setiap perbuatan ada harganya."

"Varo, kamu keterlaluan! Lantai ini kotor dan..." aku mencoba memprotes, namun suaraku hilang ditelan isak tangis.

"LEPAS!" bentak Alvaro. Suaranya menggelegar, memantul di dinding-dinding koridor dan membuatku tersentak hebat hingga jantungku terasa berhenti berdetak.

Dengan tangan yang gemetar hebat, saking gemetarnya hingga aku kesulitan melepas ikatan talinya, aku membungkuk. Aku bisa merasakan tatapan ratusan pasang mata yang menonton pertunjukan ini dengan penuh kepuasan. Aku melepas sepatuku satu per satu. Saat kulit kaus kakiku yang tipis—yang juga sudah berlubang di bagian jempolnya—menyentuh ubin marmer yang dingin, rasanya seperti ribuan jarum menusuk telapak kakiku.

Hening. Hanya ada suara napas beratku dan isak tangis Airin yang kini mulai mereda. Aku berdiri dengan kepala tertunduk dalam, mencoba menyembunyikan wajahku di balik rambut yang kusut. Rasa dingin lantai koridor mulai merambat naik ke betis, seiring dengan hancurnya harga diriku yang paling dasar. Aku merasa telanjang di depan semua orang.

Aku menyodorkan sepasang sepatu butut itu dengan tangan yang tak berhenti bergetar. "Ini..." bisikku, nyaris tak terdengar.

Alvaro mengambil sepatu itu dengan pandangan yang sangat jijik, seolah-olah ia sedang memegang sampah medis yang terkontaminasi. Ia kemudian berbalik dan menyerahkannya pada Airin.

"Pakai ini, Ai," ucap Alvaro lembut, suaranya berubah 180 derajat saat berbicara pada kembaranku. "Setidaknya ini cukup buat bikin dia sadar di mana tempatnya yang sebenarnya. Dia nggak berhak memakai alas kaki di tempat di mana dia sudah mengotori kebaikan orang lain."

Airin menerima sepatuku. Untuk sesaat, mata kami bertemu. Di balik bahu Alvaro, ia memberikan tatapan yang sangat tajam, sebuah senyum kemenangan yang dingin dan mematikan. Ia kemudian memakai sepatuku yang kebesaran itu dengan gaya yang seolah-olah ia adalah martir yang sedang berkorban.

"Terima kasih, Varo..." bisik Airin pelan.

Alvaro merangkulnya dan membimbingnya pergi melewati kerumunan. Saat mereka berjalan menjauh, Alvaro sempat menoleh sedikit, menatapku yang masih berdiri mematung tanpa alas kaki di tengah koridor.

"Jangan pernah pakai sepatu apa pun sampai matahari terbenam hari ini, Aira. Jika aku melihatmu memakai alas kaki sedikit saja, aku akan memastikan kamu dikeluarkan dari sekolah ini secara tidak hormat."

Mereka pergi. Kerumunan mulai bubar, namun cacian dan tawa kecil masih tertinggal di udara. Aku berdiri sendirian, menatap bayanganku di lantai marmer yang mengkilap. Kakiku terasa beku, hatiku terasa mati. Aku melihat buku-bukuku yang terinjak-injak, namun aku tidak punya kekuatan lagi untuk memungutnya. Di sinilah aku, di tempat yang seharusnya menjadi rumah kedua, namun kini berubah menjadi neraka yang paling dingin. Dan yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa pria yang kucintai adalah orang yang menyalakan apinya.

1
Sonya Nada Atika
paling sebel kl bc novel udah mulai kembali klr LG antgonis...mirip tersanjung....mulek males jadinya
Yuli Yulianti
ayo bara jgn bodoh cari tau jgn sampai kamu kehilangan Aira gara gara salah paham
Allea
duhhh kamu mulai ngetik kebodohan mereka ka ga kelar2 dong 😁😁😁
Aletheia: harus masuk akal kak, bagaimana mungkin ada anak yg ditampung keluarga Dirgantara yg mana di buang keluarganya sendiri tanpa dukungan apa2,pastinya banyak orang2 yg akan iri sama hubungan mereka,dan ini masuk akal ya setiap hubungan pasti ada rintangan 🙏
total 1 replies
Ma Em
Wah pak Prasetya ditantang Aira untuk melakukan tes DNA malah kabur , berarti benar Aira bkn anaknya pak Prasetya .
Allea
kalo lo ga bongkar kebusukan si airin trus kpn bales kebusukannya ,enak si airin dong aman2 bae 😁
Salwa Blora
kak lantoot semangat kak😁😁
M ipan
semangat ya💪
Aletheia: thanks, atas komen dan like nya kak👍
total 1 replies
Ma Em
Prasetya , Ratna dan Airin kenapa selalu jadi duri dlm setiap ada kegiatan atau acara yg Aira adakan , kapan Prasetya , Ratna juga Airin akan dapat karmanya dan membiarkan Aira hdp bahagia tanpa diganggu ketiga iblis berbentuk manusia ini , semoga kebohongan Airin segera diketahui Alvaro bahwa anak yg dikandung Airin bkn darah daging Alvaro tapi benih dari tuan Burhan .
Aletheia: terimakasih kak atas komennya,bisa tulis di rating ya kak terus kesan novelnya di disana🤭
total 1 replies
Tetii Riiani
ceritanya seru n gak bertele tele
Aletheia: thanks kak atas ratingnya, semoga sehat selalu dan lancar rejekinya 🙏
total 1 replies
Rinrin Novani
sangat bagus
Aletheia: terimakasih kak atas ratingnya semoga sehat selalu dan lancar rejekinya 🙏
total 1 replies
andi tahang
lanjutyy
Ma Em
Semoga secepatnya Aira menikah dgn Bara jgn ditunggu lama lagi karena terlalu banyak orang yg akan menghancurkan Aira .
Ma Em
Aira kamu berani melawan dan hilangkan rasa trauma kamu Aira dan jgn sampai kamu tertipu oleh bapakmu , ibumu juga Airin yg licik itu mereka hanya mau memanfaatkan kamu Aira , Aira jgn terlalu senang dulu dgn modal yg diberikan pak Darmawan karena ada Alvaro yg sdh mengincar dan akan membuat usaha Aira gagal , Aira hrs hati hati jgn sampai lengah .
Aletheia: thanks ya kak udah komen,minta ratingnya karena besok mau up banyak
total 1 replies
Allea
sebenarnya Aira itu tangguh ga sih 😁
Ma Em
Ada hubungan rahasia antara Prasetya dgn tuan Galaksi tentang Aira yg selalu dikurung didalam gudang bawah tanah , apakah Aira bkn anak kandung pak Prasetya , tapi aku agak kecewa pada Aira sepertinya Aira msh suka pada Alvaro setelah Alvaro menyakiti dan selalu menghina Aira tetapi Aira diam saja saat dipeluk Alvaro , hati2 Aira kamu jgn mengecewakan Bara karena Bara yg sdh menolong mu dan mengangkat derajatmu sehingga jadi desainer yg hebat jadi lupakan Alvaro itu cuma masa lalu yg menyakitkan Aira jgn luluh dgn Alvaro .
Yeni Astriani
Alvaro sungguh pria tidak tahu malu dan gak punya harga diri sama sekali
Ma Em
Aira lawan jgn takut lagi sama Airin juga ibumu kasih pelajaran untuk Airin juga ibumu agar kapok dan tdk akan mengganggu Aira lagi , masa Aira sdh jauh2 belajar di Milan msh bisa ditekan dan diancam sama Airin .
Ma Em
Bagus Aira kamu jgn lupakan pengorbanan Bara yg sdh menolong dan menjadikan Aira designer yg handal , biarkan Alvaro menyesal karena kebodohan nya , mau tau juga bagaimana nasibnya Airin juga bapak dan ibunya , manusia sombong dan pilih kasih pada anak sendiri bagaimana kehidupan nya sekarang setelah ditinggalkan Aira .
Ma Em
Aira lupakan Alvaro masa kamu msh mau menerima Alvaro lelaki yg selalu menghina dan merendahkan kamu , ingat Aira kamu sdh diangkat derajatmu sama Bara dan sekarang sdh jadi designer yg hebat disekolahkan di Milan ingat itu Aira jgn melupakan jasa Bara hanya karena lelaki teman masa kecilmu yg sdh melupakanmu Aira , jgn sampai jadi manusia yg tdk bisa balas budi .
partini
dah ada filing akan macam ini ,, teringat novel th 2018 tapi luka karya siapa gitu di NT
si cewe ending nya sama yg lama yg baru hempas
Aletheia: haha,tunggu aja ya kak🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!